NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8 - Say Something

Setelah Henry berangkat bekerja, aku kembali tiduran sambil menonton drama Korea bergenre thriller. Aku berharap, tontonan itu bisa menghapus pikiranku tentang Henry—tentang pikiran gilaku sendiri terhadapnya.

Mencium Henry?

Itu benar-benar gila.

Bagaimana bisa aku sempat membayangkan hal seperti itu?

Apakah perasaan yang selama bertahun-tahun kupendam akhirnya jenuh, lalu memanas dan ingin keluar dari persembunyiannya?

Aku tak tahu.

Aku bingung.

Aku mencoba fokus pada layar TV. Namun bahkan wajah si psikopat tampan dalam drama itu pun tak cukup untuk mengusir bayangan Henry dari kepalaku.

Aku terus menonton sampai mataku terasa sangat berat dan akhirnya... gelap.

Ketika membuka mata, betapa terkejutnya aku. Henry ada di depanku. Jarak wajah kami begitu dekat. Ruangan di sekitarku tampak sama persis seperti tadi pagi: drama yang masih berjalan, dua piring nasi goreng di meja, bahkan baju yang dikenakan Henry pun sama.

Tiba-tiba, Henry mendekatkan wajahnya semakin dekat padaku.

“Lili, aku mencintaimu.” ucapnya pelan.

Aku terperanjat. Dan tanpa aba-aba, bibirnya menyentuh bibirku.

Mataku membelalak saking terkejutnya. Apa yang sedang terjadi? Kenapa begini?

Namun Henry terus menciumku. Ciumannya lembut, hangat, penuh rasa. Ada gerakan kecil seolah meminta balasan dariku. Aku masih bingung, tapi tubuhku bergerak sendiri. Bibirku membalas ciumannya, tanganku melingkar ke lehernya, dan aku menutup mata.

Ini benar-benar gila.

Tapi tak lama kemudian, aku mendengar suara yang familiar.

“Lili… Lili…”

Aku langsung membuka mata.

Henry kini berdiri di sampingku.

Aku menoleh sekeliling. TV masih memutar drama thriller. Semuanya normal.

Apa tadi hanya mimpi?

“Lili…” panggil Henry lagi.

“Hah?” ucapku gugup.

“Kenapa kamu malah bengong?”

“Kenapa kamu di sini? Apa udah jam pulang?” tanyaku sambil buru-buru bangun dan duduk.

“Belum. Ini masih jam makan siang. Aku bawain makanan buat kamu.” jawab Henry.

“Makan siang buat aku?”

“Iya. Aku nggak mau kamu masak lagi, apalagi kakimu masih luka.”

Perhatian Henry seperti ini hanya membuatku semakin ingin berharap. Tapi aku tidak boleh. Aku tidak boleh berharap padanya.

“Kak, kamu nggak seharusnya repot-repot demi aku.” ucapku lirih.

“Tapi aku memang mau repot demi kamu.” jawab Henry tenang.

“Hah?” aku refleks menoleh padanya.

“Udah, ayo makan.”

“Kamu balik ke sini cuma demi bisa makan siang bareng aku?” tanyaku tak percaya.

Henry mengangguk.

“Kak…” aku tercekat.

“Udah, jangan banyak bicara. Ayo makan.” potong Henry.

Aku akhirnya duduk di sampingnya. Henry membuka kantong plastik yang ia bawa.

“Jjajangmyeon? Kenapa kamu beli ini?” tanyaku terkejut.

“Karena aku tahu kamu suka ini.” jawabnya sederhana.

“Oke… tapi kenapa ada dua? Kamu juga mau makan?”

“Iya. Aku juga pengen coba jjajangmyeon.”

Tanpa berpikir lebih jauh, aku mulai makan sambil menatap layar TV yang masih menampilkan adegan menyeramkan.

“Ini thriller, kan? Kenapa kamu nonton beginian?” tanya Henry.

Deg! Aku tak mungkin jujur kalau alasannya untuk melupakan pikiranku tentang dirinya.

“Pengen aja. Soalnya bingung mau nonton apa.” jawabku asal.

“Emang nggak ada drama romance? Bukannya biasanya cewek suka romance?”

“Hari ini aku lagi pengen nonton thriller.” sahutku cepat.

“Kamu nggak takut? Psikopatnya kejam banget, lho.”

“Nggak. Itu kan cuma drama. Lagian psikopatnya juga ganteng.” ucapku tanpa sadar.

“Apa? Bisa-bisanya kamu bahas wajah psikopatnya. Walaupun ganteng, tetap aja dia psikopat.” protes Henry.

“Ya nggak apa-apa. Kan cuma di drama ini.”

“Berarti kalau di dunia nyata kamu ketemu psikopat ganteng, kamu nggak takut?”

“Ya takutlah.”

“Tadi katanya ganteng.” Henry menatapku tak percaya.

“Ya itu kan di drama. Kalau di dunia nyata, tetap aja aku takut.” jelasku.

Henry mendengus. “Aneh banget deh kamu.”

“Biarin.” sahutku cuek.

Aku melanjutkan makanku. Tiba-tiba, tangan Henry menyentuh pinggir bibirku.

“Kak!” seruku kaget.

“Diam, ada saus hitam di bibirmu.” ucap Henry tenang.

Aku membeku.

“Kak… jangan terlalu perhatian sama aku. Aku bakal jadi adik iparmu, lho.” ucapku cepat.

Henry menatapku tajam. “Aku nggak mau kamu jadi adik iparku.”

Jantungku berhenti berdetak sejenak.

“Mau nggak mau, orang tua kita udah tentuin itu.” jawabku, menunduk.

“Aku nggak ngerti sama mereka. Padahal mereka nikah sama orang yang mereka cintai, kenapa malah jodohin aku sama orang yang nggak aku cintai?” ucap Henry, nadanya getir.

Benar juga.

Mama dan Papa bertemu saat kuliah, lalu jatuh cinta dan akhirnya menikah. Orang tua Henry pun bertemu lewat sebuah kesalahpahaman ala drama Korea, tapi kisah itu berakhir manis.

Sementara aku, Henry, dan Ana… entah bagaimana akhir cinta kami.

Aku yang memendam rasa untuk Henry bertahun-tahun akhirnya tahu perasaanku berbalas. Tapi dia ditakdirkan menjadi suami Ana. Sedangkan Ana, meski hatinya pada Julian, harus menikah dengan Henry.

Setelah jjajangmyeon habis, Henry kembali ke kantor meninggalkanku sendirian di apartemennya. Aku hanya bisa terdiam menatap layar TV, padahal pikiranku sudah melayang entah ke mana.

Bisakah aku bersama Henry?

Ataukah pada akhirnya aku hanya akan berakhir menjadi adik iparnya?

Saat malam tiba, hujan turun deras, menampar kaca jendela dengan ritme tak beraturan, disertai kilatan petir yang sesekali membelah langit. Tubuhku merinding. Aku benar-benar takut.

“Lili, malam ini aku tidur di sofa aja.” ucap Henry sambil merapikan bantal di ruang TV saat aku hendak masuk kamar.

Entah kenapa kata-katanya membuat dadaku terasa berat. Seolah ada jarak yang kembali ditegaskan.

“Ya.” jawabku singkat, lalu masuk ke kamar dan menutup pintu.

Aku merebahkan tubuh di tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi leher.

Jeder!

“Ah!” teriakku spontan, lalu buru-buru menutup seluruh tubuh dengan selimut.

Pintu kamar mendadak terbuka.

“Ada apa, Lili?” suara Henry terdengar khawatir.

Aku mengintip dari balik selimut, hanya menampakkan wajahku. “Kak, aku takut...” ucapku pelan.

Jeder!

“Ah!” aku kembali menutup diriku rapat-rapat.

Beberapa detik kemudian terdengar suara pintu tertutup. Hatiku ciut. Apa Henry meninggalkanku begitu saja?

Namun tiba-tiba, kurasakan tempat tidur terasa sedikit bergoyang. Selimutku tersingkap perlahan. Aku menoleh—dan mendapati Henry ikut naik ke tempat tidur, lalu masuk ke bawah selimut bersamaku.

“Kak…” ucapku kaget.

“Tenang. Aku nggak akan ngapa-ngapain. Aku cuma mau nemenin kamu, biar kamu nggak takut.” suaranya tenang, hangat.

Aku terdiam, tak kuasa menolak. Henry menarik tubuhku ke pelukannya. Kepalaku terjatuh tepat di dadanya, dan dari sana kudengar detak jantungnya—keras, cepat, tak beraturan.

Aku ingin bertanya, tapi—

Jeder!

“Ah!” aku spontan memeluk Henry erat-erat.

“Tenang, Lili. Aku ada di sini.” ucapnya pelan, menepuk lembut punggungku.

Perlahan aku mengangkat wajah, menatapnya. Jarak kami begitu dekat.

“Kak…”

“Ya?”

“Kenapa... kenapa jantung Kakak berdetak cepat sekali?” tanyaku ragu.

Henry tersenyum kecil, lalu menunduk. “Ehm… itu karena kamu, Lili.”

“Apa?” suaraku tercekat.

“Udah lama jantungku berdebar setiap kali aku sama kamu.”

Aku menatapnya tak percaya. “Sejak kapan?”

“Entahlah… mungkin sejak aku pulang dari luar negeri. Atau sejak kamu mulai kerja di perusahaanku, dan kita jadi sering bersama. Aku juga nggak tahu persis.”

“Berarti… udah lama ya?” suaraku nyaris berbisik.

“Iya. Udah lama banget aku menyukaimu, Lili. Bukan sebagai seorang kakak. Tapi sebagai pria.”

Dadaku sesak. Mataku panas. Rasanya aku ingin menangis karena kalimat itu adalah hal yang selalu kuimpikan.

“Lili…” panggil Henry lembut.

Aku hanya diam, tenggorokanku tercekat.

“Apakah kamu nggak punya perasaan yang sama kayak aku?” tanyanya pelan, seolah takut dengan jawabanku.

Deg!

Oh tidak. Kenapa Henry harus menanyakan itu?

“Nggak.” jawabku cepat, terlalu singkat. Padahal hatiku menjerit sebaliknya. Aku terpaksa berbohong. Karena aku tahu, sekalipun aku jujur, keadaan tidak akan berubah. Aku tetap akan menjadi adik iparnya.

“Sedikit pun nggak?” Henry mencoba meyakinkan, menatapku penuh harap.

“Iya. Bagiku kamu hanya seorang kakak.” kebohongan kedua yang terasa seperti belati di dadaku sendiri.

Henry menarik napas panjang, lalu tersenyum getir. “Baiklah. Kalau begitu… kayaknya memang aku harus jadi kakakmu. Kakak iparmu.”

Aku terdiam, lidahku kelu. Tapi hatiku sakit. Teramat sakit.

Jika benar Henry akan menjadi kakak iparku, maka aku tak akan pernah menikah seumur hidupku. Aku tidak mau menikah dengan siapa pun… kecuali dengan orang yang benar-benar kucintai.

Dan itu adalah Henry.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!