Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai dan Uluran Tangan
Pukul dua dini hari, ketenangan Desa Kenanga koyak oleh suara menderu yang mengerikan. Langit seolah robek saat angin puting beliung menerjang, menghantam apa pun yang dilaluinya. Di dalam rumah barunya yang kokoh, Azura terjaga, mendekap Rafa yang ketakutan.
Angin menderu dengan suara mengerikan yang belum pernah didengar warga sebelumnya. Puting beliung menerjang perbatasan desa.
Azura dan keluarganya berkumpul di ruang tengah rumah baru mereka yang kokoh. Di luar, suara atap seng yang terbang dan pohon tumbang terdengar bersahutan. Saat badai mereda, kabar duka sampai ke telinga Azura: dua belas rumah warga rusak parah, dan yang paling mengenaskan adalah gubuk milik Bu Hana.
Bu Hana adalah janda yang senasib dengan Azura dibuang suaminya yang memilih menikah lagi dengan wanita kaya di kota. Ia berjuang sendirian menghidupi Ayu (16 tahun) yang duduk di bangku SMA dan Dani (7 tahun). Malam itu, gubuk reot mereka rata dengan tanah. Beruntung, Bu Hana berhasil mendekap kedua anaknya di sudut ruangan yang masih terlindungi reruntuhan kayu.
Keesokan paginya, Pak hadi, mas Farhan dan Azura tidak tinggal diam. Mereka segera turun tangan memimpin pemberian bantuan. Sebanyak 12 kepala keluarga yang terdampak mendapatkan paket sembako lengkap dan uang tunai sebesar 3 juta rupiah untuk biaya perbaikan rumah. Dan juga bantuan dari kabupaten tanggap bencana juga menyalurkan bantuan.
Azura berjalan menghampiri Bu Hana yang sedang terduduk lesu di depan reruntuhan gubuknya. Ayu dan Dani tampak menggigil ketakutan.
"Bu Hana..." panggil Azura pelan.
Bu Hana mendongak, matanya sembab. "Mbak Azura... semuanya habis. Saya tidak tahu harus berteduh di mana lagi."
Azura berlutut, memegang tangan Bu Hana yang kasar. "Jangan menangis lagi, Bu. Mulai hari ini, Ibu tidak perlu memikirkan rumah ini. Bawa Ayu dan Dani ke rumah saya. Tinggallah di sana. Saya butuh orang yang bisa saya percaya untuk menjaga Rafa, dan Ibu adalah orang yang tepat."
Bu Hana terpaku. "Tapi Mbak... saya tidak punya apa-apa untuk membalasnya."
"Ibu sudah membalasnya dengan tetap bertahan hidup demi anak-anak Ibu," ucap Azura tulus. "Ayu bisa lanjut sekolah, dan Dani bisa bermain dengan Rafa. Ayo, Bu. Keluarga saya menunggu di rumah."
Malam itu, Bu Hana dan kedua anaknya menempati rumah pavilium belakang yang luas dan nyaman di rumah Azura. Dani tampak girang bisa makan enak, sementara Ayu menatap Azura dengan penuh kekaguman, berjanji dalam hati akan belajar rajin demi membalas kebaikan wanita itu.
satu Bulan Kemudian: Simfoni di Ruang Produksi
Suara mesin jahit dan aroma serat eceng gondok kering memenuhi bengkel kerja Azelena Craft. Suasana di sana tidak seperti pabrik yang kaku, melainkan lebih mirip ruang keluarga yang besar.
"Aduh, Mbak Arumi! Itu anyamannya jangan melamun begitu, nanti tasnya jadi miring sebelah seperti perasaanmu yang sedang galau," goda Ibu Sulastri sambil berkeliling memeriksa hasil kerja para ibu-ibu.
Gelak tawa pecah di ruang produksi. Arumi, yang sedang asyik menganyam, langsung tersipu malu. "Ibu ini bisa saja. Saya tidak galau, Bu, saya cuma sedang membayangkan gaji bulan ini mau saya belikan baju baru buat anak saya."
"Beli baju boleh, asal jangan beli suami baru yang malas, ya!" timpal Ibu Jumi, salah satu karyawan senior, yang disambut tawa makin riuh dari 60 karyawan lainnya.
Ibu Sulastri tertawa renyah, ia menepuk bahu Arumi. "Tenang saja, yang penting kerjamu rapi. Kalau rapi, Mbak Azura pasti kasih bonus. Tapi kalau miring begini, nanti tasnya cuma laku dijual ke orang yang jalannya miring juga!"
"Ibu Sulastri ini galak-galak tapi bikin kangen," bisik salah satu karyawan baru sambil tersenyum. Memang benar, di bawah pengawasan Ibu Sulastri, kualitas tetap nomor satu, tapi kesejahteraan tetap yang utama. Jam empat sore, semua harus pulang untuk mengurus keluarga.
Kejutan di Ruang Tengah
Sore harinya, saat istirahat, Azura mengumpulkan Pak Hadi dan Farhan. Alya juga hadir, wajahnya sumringah karena baru saja menyelesaikan live streaming yang sukses besar.
"pak , Mas, ada sesuatu yang masuk ke rekening," ucap Azura sambil menunjukkan layar ponselnya.
Pak Hadi memakai kacamatanya, matanya membelalak. "Satu... satu miliar, Ra? Ini uang apa lagi?"
"Ini bonus dari teman Azura di kota, pak. Proposal bisnis yang Azura susun kemarin tembus tender besar. Mereka mengirimkan ini sebagai tanda terima kasih," jawab Azura tenang.
"Satu miliar..." Farhan menggelengkan kepala tak percaya. "Ra, uang sebanyak ini kalau dibelikan kerupuk, Desa Kenanga bisa tenggelam dalam kerupuk!"
Tawa pecah di ruang tamu. Azura ikut tertawa mendengar candaan kakaknya. "Bukan untuk kerupuk, Mas. Aku sudah bicara dengan Mas Andi. Uang ini akan kita pakai untuk aspal jalan desa yang rusak di depan dan pasang lampu jalan tenaga surya sampai ke ujung perbatasan."
Pak Hadi terdiam, matanya berkaca-kaca menatap angka satu miliar di ponsel Azura. "Kamu benar-benar ingin mengabdi untuk desa ini, Nak?"
"Azura ingin saat orang lewat di sini malam-malam, mereka tidak lagi takut gelap, Yah. Azura ingin Desa Kenanga dikenal sebagai desa paling terang dan maju," ucap Azura tulus.
kejutan malam itu belum berakhir. Azura kembali membuka email di laptopnya, membacanya sejenak, lalu tersenyum tipis ke arah keluarganya.
"Satu lagi, Pak, Mas... Ada rumah produksi film dari Jakarta yang baru saja mengirim kontrak. Mereka mau mengangkat novel perdana yang Azura tulis secara anonim ke layar lebar. Nilai kontrak dan royaltinya... tiga miliar rupiah."
Keheningan seketika menyergap ruang tamu itu. Pak Hadi sampai harus berpegangan pada sandaran kursi, sementara Farhan nyaris tersedak air tehnya. "Tiga... tiga miliar, Ra? Berarti total malam ini ada empat miliar masuk?"
"Wah, wah! Gila sih! Kayaknya otak Kakakku sekarang encer banget ya, nggak kayak dulu," goda Alya sambil tertawa cekikikan.
Azura mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Iya, dulu kan otak Kak Azura kayaknya beku gara-gara cinta buta sama si 'D' itu! Sampai mau-maunya disuruh masak tiap hari di rumah mewah tapi nggak dikasih uang jajan," celetuk Alya tanpa dosa. "Sekarang begitu cintanya dibuang ke tempat sampah, otaknya langsung cair, mengalir deras sampai jadi miliaran rupiah!"
Farhan meledak dalam tawa mendengar ucapan blak-blakan adiknya. "Alya, Alya! Kamu kalau ngomong suka bener!"
Azura sempat tertegun, lalu ikut tertawa lepas sambil mencubit gemas pipi Alya. "Kamu ini ya! Bisa-bisanya meledek Kakaknya sendiri."
"Tapi bener kan, Kak? Lihat nih, sekarang Kak Azura jauh lebih cantik, lebih kaya, dan lebih pinter. Kalau si 'D' itu tahu Kak Azura punya empat miliar dalam semalam, mungkin dia bakal sujud-sujud minta proposal bisnis lagi!" Alya menjulurkan lidahnya, membuat suasana malam itu semakin hangat dan penuh tawa.
Di balik tawa itu, Azura merasakan kemenangan yang sesungguhnya. Bukan hanya karena uang miliaran di rekeningnya, tapi karena ia berhasil membuktikan pada dirinya sendiri dan pada adiknya bahwa tidak ada kata terlambat untuk mencairkan "otak yang beku" dan bangkit menjadi wanita yang tak tertandingi.
tiba - tiba di tengah keriuhan itu, sebuah pesan masuk dari Sari yang sedang ada di kota jaya metro : [Ra, hati-hati. Dimas sepertinya mulai bertanya-tanya siapa pemilik Azelena Craft yang viral itu. Namamu mulai disebut-sebut di kalangan pengusaha.]
Azura menutup laptopnya perlahan. Matanya menatap lampu jalan yang bersinar terang dari balik jendela. "Biarkan saja dia mencari, Sari. Biar dia tahu kalau 'pelayan rumah tangga' yang dia buang dulu, sekarang sudah punya kerajaan sendiri."
Iya dalam waktu lima bulan Azura bisa merubah ke adaannya sekarang dengan dukungan keluarganya. Sekarang Azura sudah dikenal banyak orang diminta mengisi acara sebagai narasumber pegiat UMKM bekerjasama dengan pemerintah daerah. Dan melatih beberapa desa yang ada potensi kerajinan anyaman eceng gondok