Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Arga menatap deretan kursi plastik berwarna merah menyala di depannya dengan tatapan tidak percaya. Udara di bawah kolong jembatan proyek ini terasa panas, bercampur dengan aroma gorengan, asap knalpot, dan suara bising klakson kendaraan yang terjebak macet.
"Kamu serius mengajak saya makan di sini?" tanya Arga, masih berdiri kaku sementara helm proyeknya ia jinjing dengan canggung.
Ayu yang sudah duduk manis sambil mengelap sendok dengan tisu, mendongak. "Seriuslah, Pak Arga. Ini namanya Warung Bu Siti. Ayam penyetnya paling juara se-Jakarta Selatan. Kalau Bapak belum coba, berarti Bapak belum sah jadi orang proyek."
"Saya punya standar kebersihan, Ayu. Dan tempat ini... tidak masuk dalam kriteria tersebut," Arga melirik lalat yang melintas dengan wajah jijik.
Ayu tertawa, suaranya renyah mengalahkan kebisingan jalanan. "Tenang, perut Bapak nggak bakal meledak cuma karena makan di sini. Ayo duduk! Gengsinya taruh dulu di bagasi mobil, berat tahu dibawa-bawa terus."
Dengan perasaan campur aduk dan wajah yang ditekuk, Arga akhirnya duduk. Kursi plastik itu berderit pelan saat menopang beban tubuhnya yang tegap, membuat Arga was-was kalau-kalau ia akan berakhir jatuh ke lantai semen yang retak.
"Bu Siti! Biasa ya, dua! Yang satu cabainya dikit aja, buat Bos Besar yang perutnya manja!" teriak Ayu tanpa malu.
Arga memejamkan mata sejenak, menahan malu karena semua orang di warung itu,yang mayoritas adalah pekerja proyeknya sendiri,sekarang menatap ke arahnya. "Bisa tidak, jangan berteriak?" desis Arga.
"Nggak bisa, Pak. Di sini kalau nggak teriak, nggak bakal kedengaran. Hidup itu harus berisik biar seru," jawab Ayu santai sambil memberikan segelas teh tawar hangat pada Arga.
Tak butuh waktu lama, dua piring ayam penyet dengan asap yang masih mengepul tersaji di depan mereka. Aroma terasi dan sambal yang tajam langsung menusuk indra penciuman Arga. Perutnya yang sejak pagi hanya diisi kopi dan muffin tiba-tiba berbunyi dengan sangat tidak sopan.
"Makan, Pak. Jangan dilihatin aja, ayamnya nggak bakal minta maaf karena udah bikin Bapak laper," goda Ayu yang sudah mulai makan dengan lahap, bahkan menggunakan tangan kosong.
Arga ragu sejenak, lalu ia mulai mencicipi sedikit daging ayam tersebut. Matanya perlahan membelalak. Rasa gurih, pedas, dan bumbu yang meresap sempurna meledak di lidahnya. Ini jauh lebih enak daripada menu fine dining yang biasa ia santap di hotel mewah.
"Gimana? Enak, kan?" Ayu bertanya dengan mulut yang masih mengunyah sedikit nasi.
"Lumayan," jawab Arga singkat, meski tangannya kini bergerak lebih cepat menyuap nasi.
Di sela-sela makan, Ayu terus bercerita. Tentang hobinya memotret orang-orang di jalanan, tentang mimpinya ingin pameran foto, hingga tentang ibunya yang jualan kue. Arga lebih banyak diam, mendengarkan dengan saksama. Entah kenapa, ocehan Ayu tidak lagi terasa mengganggu. Justru, keceriaan gadis itu seolah mengisi kekosongan yang selama ini menghimpitnya.
"Kenapa Bapak selalu kelihatan sendirian?" tanya Ayu tiba-tiba, membuat Arga berhenti mengunyah.
"Saya punya banyak karyawan, orang tua saya juga ada. Saya tidak sendirian," jawab Arga datar.
Ayu menggeleng pelan. "Maksudku bukan itu. Bapak punya semuanya, tapi matanya kayak orang yang lagi tersesat di tengah keramaian. Kayak ada sesuatu yang Bapak cari, tapi Bapak sendiri nggak tahu itu apa."
Arga terpaku. Ia menatap Ayu yang kini menatapnya dengan pandangan yang dalam, seolah bisa melihat langsung ke balik dinding es yang ia bangun. Untuk pertama kalinya, Arga merasa "telanjang" di depan seseorang.
"Jangan sok tahu tentang saya, Ayu. Selesaikan makanmu," Arga mengalihkan pembicaraan, menyembunyikan getaran aneh di suaranya.
Selesai makan, Ayu menolak saat Arga ingin membayar. "Eits, kan aku yang ajak. Jadi aku yang traktir. Pak Arga simpan aja uangnya buat beli sabun cuci tangan yang mahal habis ini," ucap Ayu sambil mengedipkan mata.
Saat mereka berjalan kembali menuju parkiran motor. Arga memperhatikan langkah gadis itu yang riang. Tiba-tiba, seorang anak kecil penjual tisu berlari mendekat dan tersandung di depan mereka. Dengan sigap, Ayu berjongkok, menolong anak itu, dan memborong semua tisunya meski tasnya sudah penuh.
Arga memperhatikan adegan itu dari belakang. Ia melihat ketulusan yang tidak dibuat-buat. Di dunia Arga, semua orang bergerak karena kepentingan. Tapi Ayu .. gadis ini bergerak karena hati.
"Pak Arga! Sampai ketemu besok di kantor untuk penyerahan file foto ya!" teriak Ayu sambil menaiki scooter-nya. "Jangan lupa senyum! Biar nggak dikira patung proyek!"
Arga berdiri di pinggir jalan, menatap punggung Ayu yang perlahan menghilang di antara kerumunan kendaraan. Ia merogoh saku kemejanya, menyentuh bungkusan tisu yang tadi sempat Ayu selipkan di tangannya sebelum pergi.
Senyum tipis muncul di wajah Arga. Bukan senyum sinis atau dingin, tapi senyum tulus yang selama bertahun-tahun seolah hilang dari wajahnya.
"Gadis yang sangat aneh," bisiknya pada angin.
Malam itu, di kamarnya, Arga tidak bisa fokus pada laporan progres proyek. Pikirannya terus kembali pada ucapan Ayu di warung tadi. Tersesat di tengah keramaian.
Ia berjalan menuju meja kerjanya, lalu membuka laci paling bawah. Ia mengambil sebuah benda yang selama ini ia hindari untuk dilihat. Sebuah kamera tua yang sudah berdebu. Kamera miliknya dulu, sebelum ia memutuskan untuk mengubur semua hobinya dan menjadi "robot" yang diinginkan ayahnya.
Arga mengusap kamera itu. Pikirannya melayang pada Ayu. Gadis itu tidak hanya merusak batas privasinya, tapi juga mulai mengusik bagian dari diri Arga yang sudah lama ia matikan.
Tanpa sadar, Arga mengarahkan kamera itu ke arah jendela, membidik lampu kota, dan... cekrek.
Satu momen berhasil ia tangkap. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga merasa ia baru saja menemukan jalan,setelah sekian lama tersesat
Bersambung...
Untuk yang penasaran kenapa Arga bisa sedingin ini? Bisa baca di buku Mendadak jadi istri kakak iparku ya.
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it