Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”
Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memasuki Gerbang Awan Azure
Bonus gambar karakter:
...----------------...
Alun-alun batu giok di kaki gunung itu dipenuhi oleh lautan manusia. Udara dipenuhi dengan obrolan gugup, tangisan perpisahan, dan tawa angkuh dari anak-anak bangsawan yang merasa dunia berada di bawah telapak kaki mereka. Di tengah kerumunan yang bising itu, Li Fan melangkah dengan gaya yang begitu mencolok, seolah-olah ia adalah kaisar muda yang sedang menginspeksi rakyat jelatanya.
Kipas lipat di tangannya berayun perlahan. Wajahnya memancarkan aura arogansi yang begitu kental sehingga orang-orang di sekitarnya secara tidak sadar mundur beberapa langkah untuk memberinya jalan. Di belakangnya, Guan Lao Da memancarkan tekanan energi dalam dari seorang Pendekar Menengah, membuat siapapun yang berniat mencari masalah segera mengurungkan niat. Sementara itu, Jin Tianyu berjalan menunduk, memanggul bungkusan dengan postur seorang pelayan yang patuh.
Mereka tiba di paviliun pendaftaran yang dijaga ketat oleh murid-murid berseragam biru langit. Di tengah paviliun, duduk seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih di bagian pelipisnya. Pria itu memancarkan fluktuasi Qi yang samar namun tajam, menandakan bahwa ia bukanlah manusia fana, melainkan seorang kultivator sejati di tahap Qi Gathering tingkat akhir.
Guan Lao Da melangkah maju dan membungkuk hormat, lalu menyerahkan sebuah gulungan perkamen yang disegel dengan lilin emas bergambar harimau awan.
“Tetua yang terhormat, ini adalah surat rekomendasi dari Pemimpin Klan Ma di Provinsi Hebei. Ini adalah putranya, Tuan Muda Ma Liang, yang datang untuk mengikuti Upacara Penerimaan Murid,” lapor Guan Lao Da dengan nada formal.
Pria paruh baya itu, Tetua Zhao, menerima gulungan tersebut. Ia membuka segelnya dan membaca isinya sekilas, lalu tatapannya beralih menatap Li Fan. Mata Tetua Zhao menyipit, mencoba menembus pertahanan mental anak di hadapannya. Namun, yang ia lihat hanyalah seorang anak manja yang membalas tatapannya dengan dagu terangkat dan sorot mata meremehkan.
“Ma Liang dari Klan Ma. Akar spiritual terdeteksi. Usia sepuluh tahun. Surat rekomendasi valid,” ucap Tetua Zhao dengan suara datar yang menggema dengan kekuatan Qi. Ia kemudian menatap ke arah Jin Tianyu yang berdiri di belakang Li Fan. “Namun, surat ini hanya berlaku untuk satu orang. Pelayanmu harus menunggu di luar atau kembali ke Hebei. Tempat ini bukan penampungan anak jalanan.”
Mendengar hal itu, Li Fan mendengus keras. Ia melipat kipasnya dengan bunyi plak yang tajam dan melangkah maju, memangkas jarak dengan meja pendaftaran.
“Lelucon macam apa ini?” ucap Li Fan dengan nada berat yang dipenuhi keangkuhan absolut. “Dia adalah anjing peliharaanku. Ke mana pun tuan muda ini pergi, anjingnya harus selalu ikut! Apakah Sekte Awan Azure begitu miskin hingga tidak sanggup menampung satu pelayan tambahan untuk diuji? Ataukah kalian meremehkan sumbangan tahunan yang diberikan Klan Ma kepada sekte ini?”
Beberapa murid penjaga di paviliun itu langsung menghunus separuh pedang mereka, marah atas penghinaan yang keluar dari mulut seorang anak ingusan. Namun, Tetua Zhao mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar mereka tenang. Ia sudah terlalu sering melihat anak-anak bangsawan bodoh yang tidak tahu ketinggian langit dan ketebalan bumi.
“Sekte Awan Azure tidak kekurangan tempat, Tuan Muda Ma,” kata Tetua Zhao dengan nada dingin. “Namun, Upacara Penerimaan Murid bukanlah taman bermain untuk memamerkan kekuasaan klanmu. Tanpa persiapan fisik, pil penahan rasa sakit, dan mental yang kuat, pelayanmu ini memiliki kemungkinan sembilan persepuluh untuk mati dengan tubuh meledak atau berdarah di tangga ujian. Bahkan tulang-tulangnya mungkin tidak akan utuh.”
Li Fan tertawa arogan, tawanya melengking dan terdengar sangat menyebalkan di telinga siapa pun yang mendengarnya. “Hahaha! Nyawa seekor anjing, jika dia mati maka biarkan saja dia mati! Jika dia tidak bisa melewati ujian, itu berarti dia memang tidak berguna bagiku. Daftarkan dia sekarang, atau aku akan melaporkan pelayanan buruk ini kepada ayahku!”
Jin Tianyu yang menunduk di belakangnya sedikit gemetar. Ia tahu bahwa Li Fan sedang berakting, namun kata-kata tajam itu tetap saja terdengar sangat nyata. Di dalam hatinya, Jin Tianyu merasa sangat bersyukur. Li Fan mengambil risiko besar dengan bersikap kurang ajar demi memberinya kesempatan untuk masuk ke dalam sekte.
Tetua Zhao menghela napas panjang. Mengingat Klan Ma memang salah satu penyumbang sumber daya yang lumayan besar untuk murid luar sekte, ia akhirnya mengangguk.
“Terserah kau saja. Jika dia mati, sekte tidak akan bertanggung jawab untuk memungut mayatnya,” ucap Tetua Zhao sembari melemparkan dua token kayu bertuliskan nama mereka berdua. “Ambil ini dan berkumpullah dengan kelompok di sana.”
Guan Lao Da dan Lu Lao San saling berpandangan. Misi mereka telah selesai dengan sempurna. Guan Lao Da melangkah mundur dan menangkupkan kedua tangannya.
“Tuan Muda, tugas kami hanya sampai di sini. Mereka yang tidak memiliki urusan tidak diizinkan melangkah melewati gerbang batu ini. Kami akan kembali ke Hebei dan melapor kepada Pemimpin Klan bahwa Anda telah selamat sampai tujuan,” kata Guan Lao Da.
Li Fan mengibaskan tangannya tanpa menoleh, seolah sedang mengusir sekawanan lalat yang mengganggu. “Pergilah. Jangan lupa sampaikan pada orang tua itu bahwa aku tidak akan mengecewakannya. Dan ingat, tutup mulut kalian rapat-rapat tentang perjalananku.”
Makna ganda dari kalimat terakhir Li Fan membuat Guan Lao Da dan Lu Lao San menelan ludah. Mereka mengangguk serempak, lalu berbalik dan menghilang ke dalam lautan kerumunan. Mulai detik ini, takdir mereka telah terputus. Li Fan resmi menggunakan identitas Ma Liang di dunia kultivasi.
Setelah kerumunan peserta dari kloter tersebut terkumpul sekitar lima puluh orang, Tetua Zhao berdiri dari tempat duduknya. Ia mengibaskan lengan jubah birunya, dan seketika hembusan angin yang sejuk menyapu seluruh peserta, membuat mereka terdiam seketika.
“Ikuti aku,” perintah Tetua Zhao singkat.
Ia berbalik dan mulai menaiki ribuan anak tangga batu giok putih yang membentang menembus lautan awan. Anak-anak muda itu bergegas mengikutinya, termasuk Li Fan dan Jin Tianyu yang berada di barisan tengah.
Saat mereka mulai mendaki, Tetua Zhao berbicara tanpa menoleh ke belakang. Namun anehnya, suaranya terdengar sangat jelas di telinga setiap peserta, seolah ia berbisik tepat di samping mereka. Itu adalah teknik dasar penyaluran suara menggunakan Qi spiritual.
“Kalian sekarang menginjakkan kaki di Tangga Awan Surgawi,” suara Tetua Zhao menggema. “Sekte Awan Azure didirikan tiga ribu tahun yang lalu oleh Leluhur Awan Azure, seorang kultivator hebat yang telah mencapai tahap puncak Nascent Soul. Beliau menebas puncak gunung ini dengan satu ayunan pedang, membentuk fondasi tempat kita berdiri sekarang.”
Li Fan yang berjalan dengan tenang hanya mendengus dalam hati.
‘Nascent Soul puncak? Di alam dewa, bahkan iblis penjaga gerbang rumahku memiliki tingkat kultivasi yang lebih tinggi dari itu. Mengukir gunung dengan pedang hanyalah permainan anak-anak bagi seorang dewa bumi tingkat rendah. Tapi untuk ukuran dunia fana, sejarah ini mungkin terdengar cukup megah,’ batin Li Fan menganalisa dengan kritis.
“Sekte kita terbagi menjadi lima puncak utama,” lanjut Tetua Zhao, langkah kakinya seolah tidak menyentuh tanah. “Pertama adalah Puncak Pedang Surgawi, tempat di mana sekte master kita berada. Di sana berkumpul para jenius pedang yang mampu membelah udara dengan niat pedang mereka. Kedua adalah Puncak Alkimia, pusat pembuatan pil spiritual yang menjadi urat nadi kehidupan sekte. Ketiga adalah Puncak Formasi, tempat para master ilusi dan pelindung sekte merangkai rune pertahanan.”
Tetua Zhao menunjuk ke arah dua bayangan gunung lain yang tertutup kabut di kejauhan. “Keempat adalah Puncak Binatang Roh, tempat penjinakan monster dan hewan tunggangan. Dan yang kelima adalah Puncak Hukum, tempat para penegak aturan sekte berdiam. Tidak ada yang berani melanggar aturan di bawah pengawasan Puncak Hukum.”
Beberapa anak muda di barisan depan ternganga kagum mendengar kebesaran sekte yang akan mereka masuki. Namun, kata-kata Tetua Zhao selanjutnya langsung menyiramkan air dingin ke harapan mereka.
“Tapi jangan bermimpi terlalu tinggi terlebih dahulu,” ucap Tetua Zhao dengan nada memperingatkan. “Sebagai murid baru, jika kalian selamat dari Upacara Penerimaan Murid, kalian tidak akan masuk ke salah satu dari lima puncak itu. Kalian terlebih dahulu akan ditempatkan di Lembah Luar. Di sana, kalian harus memotong kayu spiritual, menimba air dari mata air beku, menanam ramuan, dan membersihkan kotoran binatang roh.”
Langkah kaki beberapa anak bangsawan mulai terasa berat, namun mereka tidak berani mengeluh.
“Kalian akan hidup berkultivasi dan melakukan tugas-tugas sekte di Lembah Luar. Hanya mereka yang mampu menarik perhatian para Tetua atau Master Puncak yang berhak melangkah ke Puncak Dalam untuk menjadi murid sejati. Sisanya? Kalian akan menjadi pelayan sekte seumur hidup kalian, atau mati sebagai tulang belulang tak bernama di sudut lembah ini.”
Seiring dengan penjelasan Tetua Zhao yang semakin panjang, anak-anak itu mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Kaki mereka terasa seperti diikat dengan batu seberat puluhan kilogram. Napas mereka menjadi memburu, dan keringat dingin mulai membanjiri dahi.
Jin Tianyu yang berjalan di belakang Li Fan mulai terengah-engah. Wajahnya pucat pasi, namun ia menggertakkan giginya untuk terus melangkah.
Li Fan juga merasakan tekanan itu. Ini bukan sekadar kelelahan fisik biasa. Tangga batu giok putih ini telah diukir dengan formasi penekan spiritual tingkat rendah. Semakin tinggi mereka melangkah, semakin kuat tekanan gravitasi dan energi yang menghantam tubuh mereka.
Ujian penerimaan murid sebenarnya telah dimulai sejak langkah pertama mereka di tangga ini. Tanpa disadari oleh banyak orang, seleksi alam sedang berlangsung. Mereka yang memiliki tekad lemah akan pingsan dan tersingkir bahkan sebelum mereka mencapai puncak gerbang.
“Bertahanlah, Tianyu,” bisik Li Fan perlahan, cukup pelan agar tidak terdengar oleh peserta lain. “Atur napasmu menjadi satu tarikan panjang dan dua hembusan pendek. Jangan melawan tekanannya, biarkan tubuhmu mengalir bersamanya.”
Jin Tianyu mengangguk pelan, mencoba mengikuti instruksi aneh dari Li Fan. Secara ajaib, tekanan di dadanya sedikit berkurang. Ia menatap punggung Li Fan dengan penuh kekaguman dan tanda tanya.
Cerdas...
Lucu...