Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.
Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.
Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.
Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Tidur Bersama
Tama langsung beranjak setelah Pak Rudi membaca berita kecelakaan di Tol XX. Dia naik ke lantai dua, menuja kamar Kara.
Firasat buruk yang dirasakan Kara ternyata tentang kecelakaan itu. Jika Kara tidak menahannya, mungkin saja saat ini dia sudah menjadi salah satu korbannya.
Jika dia tidak selamat, siapa yang akan menjaga Kara? Untung saja, dia memilih untuk tidak pergi, dia juga tidak perlu ganti rugi karena melanggar kontrak.
Tama berdiri di depan pintu kamar Kara, dia merasa bersalah karena sudah berpikir negatif, belum lagi dia membentaknya.
***
Semenjak masuk kamar, Kara hanya duduk termenung. Dia bingung, apalagi yang harus dia lakukan, agar Tama mau mempercayainya, bahwa dirinya sudah benar-benar berubah.
"Huft.. Raf semoga kamu tidak ke luar Kota!" gumam Kara.
Untuk masalah dibentak, tidak dia permasalahkan. Meski sakit, tapi itu bisa dikatakan karma.
Kara mengambil ponsel dan membuka media sosial. Karena berita seperti itu lebih cepat beredar di sana, dan kejadian itu terulang kembali.
"Raf, kamu tidak di sanakan?" tangan Kara gemetar melihat jumlah korban.
Di masa lalu, Rafa memang jadi salah satu korban, tapi dia beruntung karena masih bisa diselamatkan. Tapi, dia harus duduk di kursi roda.
Kara tidak bisa membayangkan, betapa terguncangnya Tama saat itu. Sudah tidak bisa melihat, dan ditambah dengan kakinya yang lumpuh.
Apa Kara peduli? Jawabannya tidak. Saat mengetahui Tama dinyatakan lumpuh dia malah meminta bercerai, tapi Tama tetap menolak.
Tama baru menandatangani surat perceraian setelah lima tahun pernikahan mereka. Dia pergi, dia menghilang dari kehidupan Kara, dan baru muncul saat di detik-detik Kematian Kara.
"Raf jangan sampai itu terulang lagi!" kata Kara dengan suara parau. Dia begitu heran, Kenapa dia bisa sejahat itu?
Tok Tok Tok
Mendengar ketukan pintu, Kara mengusap air matanya. Dia berpikir yang datang seorang pelayan untuk mengambil pakaian kotor.
"Masuk!"
Kara mendongak, dia begitu terkejut melihat Tama yang masuk dalam kamarnya. Kara beranjak, dan berlari memeluk Tama, dia begitu bahagia melihatnya baik-baik saja.
"Maaf!" bisik Tama.
Kara menggeleng lalu berkata. "Kamu tidak salah, jangan minta maaf!"
"Aku sudah membentakmu, aku juga sudah salah paham!" ujarnya.
Kara melepas pelukannya. "Jangan bahas itu lagi, yang penting sekarang kamu baik-baik saja!"
"Ya. Terima kasih karena sudah menahanku!" ucap Tama. Tangannya tanpa sadar terangkat untuk membelai kepala Kara.
Tapi dia mengurungkannya, takut Kara tidak suka kepalanya disentuh. Namun Kara langsung menggenggam tangannya, dan meletakkan di pipinya.
"Aku Istrimu, jangan ragu-ragu untuk menyentuhku." ucap Kara yang masih menggenggam tangan Tama yang ada di pipinya.
Tama tertegun mendengar kalimat 'Aku Istrimu" rasanya ada sengatan listrik mengenai tubuhnya.
Dengan ragu, Tama mengambil inisiatif untuk memeluk Kara terlebih dahulu. Apa Kara benar-benar ingin berubah seperti yang dia katakan?
Tama memeluk Kara dengan erat, "Ya, kamu Istriku, Karamel Dametha!" suaranya sedikit bergetar.
Kara hanya tersenyum sambil membalas pelukan Tama. Dia begitu bahagia, karena dia berhasil mencegah Tama tidak mengalami kelumpuhan, tapi untuk kecelakaan itu harus tetap diselidiki.
"Ayo kita turun! Kata Pak Rudi kamu belum sarapan!" ajak Tama setelah melepas pelukannya.
Kara langsung setuju, dia adalah orang yang tidak bisa menunda yang namanya sarapan. Keduanya turun ke bawah dengan Kara yang menggandeng lengan Tama.
Hal itu membuat semua orang sangat lega, karena mereka mengira Kara akan berubah dan membenci Tama lagi, padahal mereka sangat serasi jika hidup dengan normal.
Dika yang masih di rumah Tama dibuat melongo, beberapa hari yang lalu Tama sempat mengatakan kepadanya kalau sikap Kara tiba-tiba berubah, tapi dia tidak peduli, karena Kara memang seperti itu.
Dia segera menarik Pak Rudi, dia tidak boleh ketinggalan berita. Setelah mendengar penjelasannya, Dika terdiam, dia juga merasa aneh dengan perubahan sikap Kara yang tiba-tiba.
Karena banyak pekerjaan di kantor, akhirnya dia berpamitan dengan banyak pertanyaan di benaknya.
...----------------...
Di malam hari, Kara mencari Tama di ruang kerjanya. Ternyata dia belum memberi tahu , ke mana dia pergi kemarin.
"Kenapa belum tidur?" tanya Tama setelah menutup laptopnya.
"Aku ingin tidur denganmu!" Kata Kara dengan serius. Dia sudah berjanji untuk jadi istri yang baik, berarti mereka seharusnya tidur bersama.
"Kamu sadar dengan ucapanmu?" tanya Tama. Hal seperti ini tidak bisa dijadikan candaan.
"Aku sadar, dan aku serius. Mulai malam ini, aku akan tidur di kamarmu. Kamu mau kan?"
"Kamu mau sekamar denganku?" Tama bertanya balik.
"Ya. Besok suruh orang untuk memindahkan barang-barangku!" ujar Kara.
"Hmm, jadi kamu datang cuman untuk itu? Apa kamu ingin makan sesuatu?" Tama berpikir, Kara kelaparan di tengah malam seperti sebelumnya.
"Aku tidak lapar! Aku ingin cerita, ke mana aku pergi kemarin!"
Tama tak bergeming, tapi dia begitu penasaran dengan pria asing itu. Akhirnya dia meminta Kara untuk bercerita.
Kara menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir. Bagaimana wajah Arka saat mengetahui tiba-tiba harus bayar utang.
Kara juga menceritakan tentang Detektif yang dia sewa, dan menjelaskan semua apa yang sudah dia temukan.
Tangan Tama terkepal erat, ternyata kecelakaan itu disebabkan oleh seseorang. "Maaf, seharusnya aku meminta seseorang untuk menyelidikinya lebih teliti!"
Karena dia menghentikan penyelidikannya yang ke tiga kalinya, seandainya dia tidak menyerah, mungkin orang itu sudah di dalam penjara, dan tidak mengganggu pernikahannya.
"Bukan kamu yang bersalah! Aku, aku yang membuat mereka celaka! Raf,, Aku sudah membunuh orang tuaku!"
Tama menarik Kara ke dalam pelukannya, dia memang tidak setuju dengan sikap Kara waktu itu. Tapi apa yang harus dia lakukan? "Jika kamu merasa bersalah, kirim doa dan minta maaf pada mereka! Aku yakin, Ayah dan Bunda tidak pernah menyalahkanmu!"
Kara tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya kembali menangis dipelukan Tama, sampai akhirnya dia lelah sendiri.
Tama menggendong Kara yang tertidur dalam pelukannya. Di ruang kerjanya ada tempat tidur, jadi memilih untuk tidur di situ.
Tama meletakkan Kara di kasur dengan pelan, lalu dia ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Tidak perlu ganti baju, karena dari awal dia sudah menggunakan Piyama.
"Kamu tidak marahkan jika besok pagi melihatku tidur di sampingmu?"
"Tidur di sampingmu adalah hal yang selalu aku inginkan, tapi itu tidak mungkin, jadi aku hanya diam-diam masuk ke kamarmu!"
Tama merebahkan tubuhnya di samping Kara, dia menarik ke dalam pelukannya, dan mengusap kepalanya dengan lembut.
Rasanya dia tidak ingin tidur, Tama merasa momen itu sangat berharga, dan berharap waktu berjalan dengan lambat.
"Semoga kamu tidak menyesalinya! Selamat tidur Istriku!" Ucapnya dengan pelan sambil mengecup kening Kara.
.
.
.
Sebelum UP sdah dibaca berulang-ulang kok. Tapi masih ada juga yang lolos dari pandangan..😭
sering2 yaa kalau ada typo😍😍