NovelToon NovelToon
Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Wanita perkasa / Selingkuh / Sekretaris / Office Romance / Tamat
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Beatriz novaes

Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.

Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.

Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.

Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.

Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.

Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.

Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

MARCO D'AMATO

Seharusnya aku tak sekesal ini.

Pertemuan itu sederhana. Cepat. Rutin.

Sebuah pertemuan diam-diam di kafe itu untuk membahas angka, tenggat, dan sebuah kesepakatan yang praktis sudah rampung.

Tak ada yang menuntut lebih dari separuh perhatianku.

Tapi aku tak bisa mendengar apa pun.

Pria di hadapanku terus bicara... bicara... bicara... Aku melihat bibirnya bergerak, jari-jarinya mengetuk pelan meja dan setumpuk berkas. Namun tetap saja, satu-satunya yang bisa kulihat adalah wajah perempuan itu.

Mata yang tegas.

Nada suara yang terkendali.

Cara ia menyeruput kopi di hadapanku dan tak menundukkan kepala sedikit pun.

"Marco?" panggilnya, hati-hati.

Aku mengerjap perlahan dan membetulkan posisi dudukku.

"Lanjutkan," jawabku, datar.

Ia kembali menjelaskan, tapi sia-sia.

"Kau mengira uang itu sama dengan wewenang."

Kalimat itu bergema di benakku dengan kejernihan yang menjengkelkan dan tak tertahankan.

Kukatupkan rahang.

Bukan apa yang ia ucapkan.

Melainkan cara ia mengucapkannya.

Tanpa takut...

Tanpa ragu...

Tanpa berusaha menyenangkanku...

Perempuan biasanya bereaksi dalam tiga cara ketika mengenaliku: tertarik, waspada, atau tunduk yang disamarkan.

Ia tak menunjukkan satu pun dari ketiga reaksi itu. Sebaliknya.

Ia menantangku seolah aku hanyalah satu lagi pria menyebalkan yang memakan terlalu banyak tempat.

"Soal persentase akhirnya..." pria itu masih meneruskan.

Aku mengangguk otomatis, sekalipun tak mencerna satu kata pun.

Aku memutar ulang adegan itu sampai ke detailnya. Cara ia bangkit berdiri. Ketenangan yang nyaris memancing. Tatapan lurus, tanpa berpaling, nada rendah yang terkendali namun tetap membekas.

"Tidak semua bidak mau digerakkan."

Jariku menekan cangkir kopi dengan tenaga berlebih.

Siapa sebenarnya dia mengira dirinya?

Dan, yang lebih penting...

Kenapa ini memengaruhiku?

Kenapa ini mengambil tempat di kepalaku?

"Marco, apa ini sudah oke buatmu, atau kau mau aku ubah sesuatu?" tanya pria itu lagi, kini jelas gelisah.

Aku mengangkat pandangan, benar-benar menatapnya untuk pertama kalinya sejak perempuan itu pergi.

"Sudah begini saja," jawabku pendek. "Kirimkan kontraknya ke kantorku."

Ia tampak terlalu lega saat menyetujuinya, membereskan berkas-berkas, dan buru-buru berdiri.

"Suatu kehormatan berbisnis dengan Anda, Tuan D'Amato."

Aku mengangguk tanpa menjawab.

Ketika tinggal sendirian, keheningan kafe itu mengusikku. Kupandangi kursi kosong di hadapanku.

Kursi yang tak ia duduki, karena ia tak sudi berbagi tempat denganku. Kusapukan pandangan ke seluruh ruangan.

Aku melepaskan tawa rendah, tanpa humor.

Ini sama sekali tak masuk akal.

Aku terbiasa dihormati. Ditakuti. Atau, paling tidak, dikenali. Bukan ditantang dan nyaris dipermalukan oleh seorang perempuan asing di sebuah kafe sembarangan.

Kuusap wajahku dan menyandarkan tubuh ke belakang, menarik napas dalam-dalam.

Ia bukan orang Rusia. Logatnya jelas. Menunjukkan bahwa ia orang asing dan baru sebentar berada di sini. Ia sendirian. Namun tetap saja... terlalu percaya diri...

Terlalu menarik.

Terlalu menjengkelkan.

Kuambil ponsel dan membuka agenda, mencoba fokus pada sisa hariku. Rapat. Panggilan. Keputusan-keputusan penting.

Pertemuanku berikutnya adalah makan siang bisnis di sebuah restoran tak jauh dari sini.

Kukirim pesan ke sopirku, lalu kubereskan barang-barangku dan meninggalkan kafe.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!