"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Salahku?" ulangku sambil berbalik menatap Belinda. "Jadi, sekarang kamu ingin menyalahkanku atas perselingkuhanmu?"
Belinda mengusap air matanya, lalu menggeleng pelan. Namun, bukannya menarik kembali perkataannya, dia justru mulai mengungkapkan semua kekecewaan yang selama ini dipendamnya.
"Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik untukmu, Danu. Sejak kita pacaran, aku selalu mengikuti keinginanmu. Kamu menolak setiap kali aku ingin kita lebih dekat karena kamu ingin menunggu sampai menikah. Aku menuruti itu semua karena aku pikir setelah menjadi istrimu, hubungan kita akan berubah." Dia menarik napas sebelum melanjutkan, "Tapi kenyataannya, bahkan setelah menikah, kamu tetap tidak pernah menyentuhku. Apa kamu tahu bagaimana rasanya menjadi istri yang tidak pernah diinginkan oleh suaminya sendiri?"
Aku mendengarkan perkataannya tanpa menyela. Aku tidak akan menyangkal bahwa aku memiliki kekurangan dalam pernikahan ini. Aku memang menolak melakukan hubungan suami istri sebelum menikah, tetapi setelah akad, aku tetap tidak mampu menyentuh Belinda. Ada sesuatu dalam diriku yang membuatku selalu menghindar setiap kali dia mencoba mendekat.
Namun, aku tidak pernah memberinya alasan untuk mengkhianatiku.
"Aku mengakui kesalahanku sebagai suami," jawabku tegas. "Aku tidak pernah menjanjikan bahwa aku sempurna. Tapi, Belinda, sejak kapan kekuranganku memberimu hak untuk tidur dengan lelaki lain?"
"Aku tidak pernah bermaksud seperti itu!" Belinda langsung membantah. "Aku hanya merasa kesepian. Aku membutuhkan perhatian yang tidak pernah kamu berikan. Roger ada ketika aku membutuhkan seseorang untuk mendengarkanku."
"Jadi, kamu merasa kesepian, lalu memutuskan untuk menjadikan lelaki lain sebagai tempat pelarian?" Aku tertawa pendek tanpa sedikit pun menunjukkan kegembiraan. "Kamu punya mulut untuk bicara denganku, Belinda. Kamu punya kesempatan untuk mengatakan apa yang kamu rasakan. Tapi, kamu justru memilih menyembunyikan hubungan itu dariku."
"Aku takut kamu akan marah!"
"Dan sekarang kamu pikir aku tidak akan marah setelah mengetahui semuanya?"
Belinda kembali terdiam. Aku melangkah mendekatinya, membuatnya spontan mundur ketika melihat ekspresiku yang semakin dingin.
"Dengar baik-baik. Aku tidak akan mengulang perkataanku untuk kedua kalinya. Apa pun masalah yang terjadi dalam pernikahan kita, perselingkuhan tetap menjadi pilihanmu. Jangan pernah mencoba melemparkan tanggung jawab itu kepadaku."
"Aku tahu aku salah, Danu." Dia kembali meraih lenganku. "Aku benar-benar menyesal. Aku akan meninggalkan Roger dan tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
Aku menepis tangannya sebelum dia sempat menggenggam lenganku.
"Jangan sentuh aku!"
Belinda langsung menarik tangannya. Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca, seolah sikapku barusan jauh lebih menyakitkan daripada semua perkataanku.
"Danu, aku istrimu."
"Jangan gunakan status itu untuk memaksaku menerima perbuatanmu."
"Tapi aku mencintaimu!"
"Kalau begitu, seharusnya kamu menjaga kepercayaan yang kuberikan padamu."
Aku tidak berteriak, tetapi setiap kata yang keluar dari mulutku cukup untuk membuat Belinda menghentikan pembelaannya. Aku sudah terlalu lelah menghadapi caranya mengalihkan kesalahan. Selama ini, aku selalu mempercayainya, bahkan ketika dia menyalahkan Dinda atas berbagai masalah yang terjadi. Sekarang, setelah mengetahui siapa Belinda sebenarnya, aku tidak berniat kembali menjadi lelaki yang mudah dibutakan oleh perkataannya.
"Aku bisa berubah, Danu. Aku akan menjadi istri yang kamu inginkan. Aku akan bersabar sampai kamu siap menjalani kehidupan rumah tangga kita sepenuhnya."
Aku menatapnya tajam. "Kamu terlambat menyadari semua itu."
"Belum terlambat! Kita masih bisa memperbaikinya!"
"Bagiku, keputusan ini sudah selesai."
Aku mengambil ponsel dari saku dan menghubungi Dimas. Belinda langsung terdiam ketika menyadari aku tidak lagi berniat meladeni permohonannya.
"Dimas, siapkan dokumen yang diperlukan untuk proses perceraian saya dengan Belinda. Saya ingin semuanya segera ditindaklanjuti sesuai prosedur. Jangan biarkan masalah ini berlarut-larut."
"Baik, Pak. Saya akan segera mengurusnya."
"Laporkan perkembangannya langsung pada saya."
"Siap, Pak."
Aku memutus panggilan, lalu memasukkan ponsel ke saku. Tidak ada alasan untuk menunda keputusan ini hanya karena Belinda baru menunjukkan penyesalannya setelah semua kebohongannya terbongkar.
"Danu, kamu benar-benar akan menceraikanku?" tanyanya dengan suara nyaris tidak terdengar.
Aku menatapnya sekilas. "Apa aku perlu mengatakannya sekali lagi?"
Belinda menggeleng cepat. "Tidak, tapi ... kamu tidak bisa memutuskan semuanya sendiri. Aku juga berhak bicara. Aku juga berhak memperjuangkan pernikahan kita."
"Kamu sudah mendapatkan kesempatan untuk bicara, dan aku sudah mendengar semuanya." Aku menunjuk foto-foto yang masih berserakan di lantai. "Kalau kamu ingin memperjuangkan pernikahan ini, seharusnya kamu memikirkannya sebelum melakukan semua itu. Bukan setelah aku mengetahui hubunganmu dengan Roger."
"Aku tidak ingin kehilanganmu!" serunya. "Apa kamu tidak bisa memikirkan semua yang sudah kita lalui bersama?"
Aku mengembuskan napas kasar. "Aku tidak akan mengubah keputusan hanya karena kamu takut kehilangan kehidupan yang selama ini kamu nikmati bersamaku."
Belinda tampak tersentak. Dia kembali mencoba mendekat, tetapi aku mengangkat tangan untuk menghentikannya.
"Cukup. Aku tidak ingin mendengar pembelaanmu lagi malam ini."
"Tapi, Danu ..."
"Aku bilang cukup!"
Suaraku yang meninggi membuatnya langsung menghentikan perkataan. Aku jarang membiarkan orang lain membantah keputusanku berulang kali, terlebih ketika aku sudah memberikan penjelasan yang cukup. Belinda seharusnya memahami bahwa tangisannya tidak akan membuatku menarik kembali keputusan yang telah kuambil.
"Kamu boleh menyesali perbuatanmu, kamu boleh memperbaiki dirimu, tetapi jangan berharap aku akan mempertahankan pernikahan ini hanya karena kamu berjanji tidak akan mengulanginya." Aku mengambil kunci mobil dari atas meja. "Mulai sekarang, biarkan Dimas menangani urusan perceraian kita. Apa pun yang ingin kamu sampaikan, sampaikan melalui dia."
"Dan satu lagi, segera kemasi barangmu, pergi dari sini!"
Belinda menggeleng sambil menangis. "Kamu tega sekali padaku, Danu."
Aku berhenti di depan pintu dan menoleh ke arahnya.
"Tega?" Aku mengulang kata itu dengan nada dingin. "Kamu mengkhianatiku, lalu masih berharap aku akan menghiburmu setelah semuanya terbongkar?"
Tak lama kemudian, aku mendengar tawa mengejek Belinda.
"Kamu masih tertawa?" tanyaku dengan nada tajam.
"Kamu menjadikan perselingkuhanku sebagai alasan untuk menceraikanku dan kembali menjalin hubungan dengan Dinda, kan?"
Aku terdiam sesaat. Tuduhan itu membuatku mengernyit, bukan karena aku merasa perlu membela diri di hadapannya, melainkan karena Belinda kembali membawa nama Dinda ke dalam masalah yang seharusnya menjadi urusan kami berdua.
"Danu, aku katakan padamu, Dinda tidak akan kembali padamu. Terbukti dia pergi tanpa pamit. Apa kamu tahu hatinya sudah kamu lukai begitu dalam sampai dia tidak mau menoleh lagi ke arahmu?"
"Jadi, kamu sudah tahu Dinda pergi?"
Belinda terdiam sejenak, tetapi kemudian kembali tersenyum sinis. "Memangnya kenapa? Apa aku salah bicara?"
"Jawab pertanyaanku, Belinda!" tegasku. "Sejak kapan kamu tahu Dinda pergi?"
"Memangnya apa bedanya? Kamu sudah tahu dia pergi ke Ujung Kulon, bukan? Lalu, untuk apa kamu masih memikirkannya?"
Aku mengepalkan tangan. Bukannya menjawab pertanyaanku, Belinda justru mencoba mengatur arah pembicaraan sesuka hatinya.
"Aku tidak menyuruhmu menilai apa yang kulakukan. Aku bertanya sejak kapan kamu tahu Dinda pergi."
Belinda terdiam, kali ini tanpa tawa mengejeknya. Aku melangkah mendekatinya, memastikan dia memahami bahwa aku tidak akan membiarkannya menghindari pertanyaanku.
"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, Belinda. Masalah perceraian kita sudah kuputuskan. Kamu tidak perlu lagi menggunakan nama Dinda untuk memancing emosiku."
"Kalau begitu, kenapa kamu terlihat begitu marah ketika aku mengatakan dia tidak akan kembali padamu?" balasnya. "Kamu sendiri yang menyakitinya. Sekarang kamu baru sadar setelah dia pergi."
Aku tidak langsung menjawab. Perkataan Belinda memang menyentuh sesuatu yang selama ini berusaha kuhindari, tetapi aku tidak akan membiarkannya menggunakan hal itu untuk mengendalikan percakapan kami.
"Itu bukan urusanmu," jawabku tegas. "Jangan merasa kamu bisa membaca pikiranku hanya karena kamu tahu aku pernah menyakitinya."
Aku kembali berbalik menuju pintu. Bagiku, percakapan ini sudah cukup. Belinda boleh terus berusaha menyalahkanku, tetapi keputusanku untuk mengakhiri pernikahan kami tidak akan berubah.
mantan suami pecundang🙄🙄
km selalu mnyudutkn dan mnyalahkn dinda.... atas smua yg trjadi... pdahal dinda gak melakukn ksalahan....
krna smuanya demi perempuan trcintamu....🙄🙄🙄
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...