NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Pertemuan Callen Dengan Rafan Dan Fany

Jumat malam di Pontianak selalu memiliki denyut nadinya sendiri.

Langit malam yang gelap dihiasi lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Jalan Gajah Mada macet seperti biasa, dipenuhi warga yang mencari makan malam atau sekadar ngopi.

Aku memacu motor matic hitamku membelah keramaian, menuju salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota ini: Grand Mall Pontianak.

Penampilanku malam ini sengaja kubuat sebiasa mungkin agar tidak menarik perhatian. Kemeja flanel hitam lengan panjang yang kancingnya kubiarkan terbuka di bagian atas, celana jeans denim gelap, dan tas selempang kecil. Rambutku kembali ke mode "sekolah"—turun menutupi dahi, sedikit berantakan tertiup angin. Tanpa kacamata, aku harus membiasakan diri menyipitkan mata sesekali untuk melihat rambu jalan.

Aku memarkir motor di basement, lalu naik ke lantai dasar.

Suasana mall cukup ramai. Anak-anak muda bergerombol, keluarga yang membawa balita, dan pasangan yang bergandengan tangan. Aku berjalan santai, melewati etalase toko-toko branded.

Namun, tujuan pertamaku bukan tempat pertemuan. Perutku butuh asupan gula sebelum otak dipaksa bekerja keras.

Aku berhenti di sebuah stand penjual roti bakar di lantai 2. Aroma mentega dan cokelat panggang langsung menyergap hidung.

"Roti bakar cokelat keju satu, Bang. Cokelatnya yang banyak," pesanku.

Sambil menunggu pesanan, aku mengecek ponsel. Rafan sudah mengirim lokasi.

Rafan: Lantai 3. Garden Cafe. Pojok kanan.

Setelah mendapatkan roti bakarku yang masih hangat di dalam kantong kertas, aku menaiki eskalator menuju lantai 3. Lantai ini lebih tenang, didominasi oleh kafe-kafe estetik dan toko buku.

Tidak jauh dari eskalator, terlihat sebuah kafe mini dengan konsep taman indoor. Pagar kayu putih rendah mengelilingi area duduk, dan banyak pot bunga artifisial berwarna-warni yang menghiasi setiap sudut.

Mataku langsung menangkap target.

Di meja bundar paling pojok, di bawah lampu gantung rotan yang remang-remang, duduk sepasang remaja. Si pria mengenakan kaos polo putih yang rapi, sementara si wanita mengenakan dress kasual berwarna peach.

Mereka duduk berhadapan, tertawa pelan sambil sesekali tangan si pria menyentuh tangan si wanita di atas meja.

Itu Rafan. Dan Fany.

Aku berjalan mendekat tanpa suara.

Fany adalah Wakil Ketua Kelas X-A. Gadis yang cukup populer, berwajah manis dengan rambut sebahu, tegas saat mengatur piket kelas, tapi ternyata punya sisi lembut jika sedang bersama pacarnya. Ya, aku sudah tahu sejak lama. Rafan menembaknya saat hari terakhir MPLS di belakang gedung aula, dan sejak itu mereka pacaran backstreet (diam-diam) demi menjaga profesionalitas di kelas.

Rafan menoleh saat menyadari bayangan seseorang mendekat. Senyumnya merekah lebar. Dia melambaikan tangan.

"Yo, Cal! Sini!" panggilnya santai, sama sekali tidak terlihat panik meski tertangkap basah sedang berduaan.

Aku menarik kursi kosong di sebelah Rafan, meletakkan bungkusan roti bakarku di meja.

"Sori ganggu kencan kalian," ucapku datar, suaraku rendah dan tenang. "Tapi ada hal penting yang harus kita bahas. Makanya aku minta ketemuan sekarang."

Fany tampak sedikit kaget melihatku. Dia membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak, berusaha terlihat wibawa kembali sebagai Wakil Ketua Kelas.

"Nggak nyangka kamu bakal dateng beneran, Cal," kata Fany, menatapku lekat. "Biasanya kamu paling anti keluar malem kalau diajak anak-anak kelas."

"Ini pengecualian," jawabku sambil membuka bungkus roti bakar, mengambil sepotong.

Rafan terkekeh, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Santai aja, Cal. Kita juga baru nyampe kok. Ngomong-ngomong..." Rafan melirikku jahil. "Bukannya kamu udah punya gandengan sendiri? Si Zea primadona itu?"

Fany langsung menyambar topik itu dengan antusias. Naluri wanitanya keluar. "Nah, itu dia! Aku juga penasaran banget, Cal. Kok bisa sih Zea nempel banget sama kamu? Jujur aja ya, Zea itu seleranya tinggi. Kevin aja ditolak. Apa kamu... pake pelet? Atau kamu maksa dia buat suka sama kamu?"

Pertanyaan Fany terdengar bercanda, tapi ada nada selidik yang tajam di sana. Dia tipe yang protektif terhadap teman-teman perempuannya.

Rafan buru-buru menyela sebelum aku sempat menjawab. "Eh, sembarangan kalau ngomong. Itu nggak bener, Fan. Hal itu nggak mungkin..."

Rafan menatapku sambil tersenyum bangga. "...Callen ini emang 'pemikat' kalau dia mau. Zea cuma korban pesonanya aja."

Fany mengerutkan kening, menatapku lagi. Kali ini dia memperhatikan wajahku yang tanpa kacamata lebih teliti. Dia melihat rahang tegas, hidung mancung, dan mata tajam yang biasanya tersembunyi.

"Hmm... oke," gumam Fany akhirnya, mengangguk mengakui. "Kalau dilihat dari deket tanpa kacamata, kamu emang ganteng sih. Cuma ketutup rambut lepek itu aja. Pantesan Zea luluh."

Aku mengunyah roti bakarku cepat, lalu menelan kasar.

"Cukup basa-basinya," potongku tegas. Aku tidak ke sini untuk membahas drama percintaan remaja.

Aku menyingkirkan sisa roti ke pinggir, lalu menatap mereka berdua dengan serius. Aura di sekitar meja itu berubah. Hawa santai mall mendadak terasa berat dan dingin.

"Seperti yang kukatakan di chat, Rafan. Kita akan membahas Festival Olahraga," bukaku langsung pada intinya. "Karena Fany ada di sini, itu lebih bagus. Kalian berdua adalah Ketua dan Wakil Ketua Kelas. Kalian yang memegang kendali di depan."

Fany menaikkan alisnya, merasa tertantang. "Oke. Terus?"

"Kelas kita cuma 15 orang," lanjutku, suaraku pelan tapi penuh tekanan. "Dan dari 15 orang itu, jumlah laki-laki lebih sedikit daripada perempuan. Kita cuma punya 6 laki-laki dan 9 perempuan. Sementara cabang lombanya banyak."

Aku menyebutkan satu per satu dengan jari.

"Lari 200 dan 400 meter, Sepak Bola, Basket, Badminton, Karate, Catur, Lompat Jauh, Tenis Meja, Memanah, Menembak, dan Roller Skate."

Aku menatap Rafan.

"Aku sudah daftar Tenis Meja. Tapi itu tidak cukup. Aku akan menambah satu cabang lagi."

Rafan dan Fany menunggu kelanjutannya.

"Aku akan ikut Lari 400 meter," ucapku.

Mata Rafan membelalak. Fany tersedak ice lemon tea-nya.

"400 meter?!" seru Rafan kaget. "Cal, lo gila? Itu lari sprint jarak menengah paling mematikan. Butuh stamina monster buat sprint satu putaran penuh tanpa nurunin kecepatan. Lo yakin?"

"Yakin," jawabku singkat. "Kevin sudah pasti ambil Basket dan mungkin Lari 200 meter karena dia eksplosif. Tapi 400 meter butuh daya tahan. Di kelas kita, nggak ada yang punya napas panjang selain aku."

"Kau benar-benar mau berkontribusi sebesar itu, Cal?" tanya Rafan, nada suaranya berubah serius. "Aku nggak masalah kau ikut, malah seneng banget. Tapi... itu artinya kau bakal jadi sorotan utama. Kau beneran mau ngeluarin kemampuan aslimu?"

Callen menunduk sedikit, menatap meja kayu yang mengilap. Bayangan janjinya pada Bu Zeni terlintas.

"Ya, tentu saja," jawabku rendah. "Di SMA ini, aku akan membantu sebisa mungkin... Selama SMP aku benar-benar sibuk dengan urusanku sendiri dan jadi hantu. Kali ini, aku ingin membayarnya."

Aku mengangkat wajah, menatap Fany dan Rafan bergantian.

"Tapi aku nggak mau jadi pemimpin di depan. Aku nggak mau ngatur-ngatur anak-anak secara langsung. Itu bakal bikin ribet dan nimbulin drama kayak Kevin yang nggak suka sama aku."

Aku menunjuk mereka berdua.

"Karena itu... Rafan, Fany. Kalian berdua akan menjadi juru bicara dan perpanjangan tanganku. Aku yang menyusun strategi, penempatan pemain, dan jadwal latihan. Kalian yang menyampaikannya ke kelas seolah-olah itu ide kalian atau hasil diskusi OSIS."

Mendengar itu, ekspresi Fany berubah drastis. Wajah manisnya mengeras. Dia mendongak, bahkan sedikit berdiri dari kursinya. Egonya sebagai Wakil Ketua Kelas tersentil.

"Tunggu dulu," potong Fany tajam. "Apa maksudmu, Callen? Kau ingin jadi bos di balik layar? Kau ingin menjadikan kami boneka-mu?"

Fany menatapku sengit.

"Aku nggak tau masa lalu-mu. Aku nggak tau sehebat apa kamu waktu SMP bareng Rafan dulu. Tapi sekarang, aku ini Wakil Ketua Kelas. Aku punya otak sendiri. Untuk diperintah-perintah dan cuma jadi penyambung lidahmu... maaf, aku nggak mau. Itu merendahkan."

Suasana meja memanas. Beberapa pengunjung kafe di meja sebelah menoleh.

Aku tetap duduk tenang, tidak terintimidasi oleh kemarahan Fany. Aku sudah menduga reaksi ini.

Rafan buru-buru memegang bahu Fany, menariknya pelan untuk duduk kembali.

"Sudahlah, Fan... Tenang dulu. Nggak apa-apa," bujuk Rafan lembut.

"Tapi Raf!" Fany menoleh ke pacarnya tak terima. "Dia seenaknya ngatur kita! Emangnya dia siapa? Ketua juga bukan!"

Rafan menatap Fany dalam-dalam, tatapan yang jarang dia tunjukkan—tatapan serius tanpa senyum jahil.

"Fany," ucap Rafan pelan namun tegas. "Kamu nggak tahu Callen itu orang seperti apa. Kamu nggak tahu kapasitas otaknya."

Rafan melirik ke arahku, lalu kembali ke Fany.

"Dengerin aku. Kalau Callen sudah mau turun tangan... dan apalagi dia bersedia jadi koordinator strategi, meskipun di belakang layar..."

Rafan tersenyum tipis, senyum penuh keyakinan.

"...Itu artinya kelas kita sudah memegang tiket Kemenangan Mutlak. Kita bukan cuma bakal menang, Fan. Kita bakal mendominasi."

Fany terdiam. Dia melihat keseriusan di mata Rafan. Rafan bukan tipe orang yang memuji buta. Jika Rafan—yang biasanya santai dan pintar—bisa sepercaya ini pada Callen, pasti ada alasannya.

"Kemenangan mutlak?" gumam Fany ragu.

"Percayalah," tambah Rafan. "Bukankah begitu, Cal?"

Rafan tersenyum melirikku, meminta konfirmasi.

Aku diam cukup lama. Menghabiskan potongan terakhir roti bakarku, mengunyahnya pelan, lalu menelannya.

Aku mengangguk sekali. Tegas.

"Ikuti rencanaku," kataku dingin. "Dan aku pastikan piala Juara Umum akan ada di lemari kelas kita."

Fany menatapku, lalu menghela napas panjang tanda menyerah.

"Baiklah," ucap Fany pelan, masih sedikit kesal tapi mulai yakin. "Awas kalau gagal. Aku yang pertama kali bakal nyalahin kamu."

"Tidak akan," jawabku.

Malam itu, di pojok kafe mall yang penuh bunga, sebuah aliansi rahasia terbentuk. Tiga serangkai pemimpin kelas X-A: Sang Ketua yang karismatik, Sang Wakil yang tegas, dan Sang Jenius yang bersembunyi dalam bayangan.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!