Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Rahasia Dalang di Balik Layar
Senin, Pukul 06.00 pagi.
Suasana kelas X-A mendadak riuh, persis seperti pasar pagi yang kejatuhan bom asap.
Penyebabnya adalah tumpukan kertas HVS yang baru saja dibagikan oleh Rafan ke setiap meja. Kertas itu berisi rincian strategi gila—yang mereka sebut "Kitab Suci"—untuk memenangkan Festival Olahraga minggu depan.
"Gila! Ini beneran kita mau lakuin ini?" seru salah satu siswa laki-laki yang duduk di belakang, matanya melotot membaca poin nomor tiga tentang blocking jalur lari.
"Ini curang namanya, woy!" teriak yang lain.
Namun, reaksi paling keras datang dari Kevin.
Kevin, siswa bertubuh paling atletis di kelas dan andalan tim basket sekolah, tiba-tiba berdiri. Dia menggebrak mejanya dengan keras hingga membuat seisi kelas terdiam.
BRAKK!
"Rafan! Lo becanda ya?!" bentak Kevin, wajahnya memerah menahan amarah. Dia mengacungkan kertas itu. "Gue ini atlet! Gue mau menang dengan cara laki! Kalau kita pakai trik licik kayak gini, mau ditaruh di mana muka gue di depan anak basket lain?!"
Rafan yang berdiri di depan kelas tampak gugup. Dia menelan ludah, matanya bergerak gelisah mencari perlindungan.
"Ehh... itu... Kevin, tenang dulu. Ini bukan curang, ini taktik..." cicit Rafan, nyalinya menciut di hadapan Kevin yang emosi.
"Taktik gundulmu!" potong Kevin kasar. Dia meremas kertas itu. "Gue nggak mau ikut! Persetan sama hadiah uangnya. Gue nggak mau harga diri gue hancur cuma gara-gara ide bodoh ini!"
Suasana menjadi tegang. Beberapa siswi mulai berbisik ketakutan. Jika Kevin—aset fisik terkuat kelas X-A—mogok, maka rencana mereka akan hancur bahkan sebelum dimulai.
Rafan panik. Dia refleks menoleh ke arah bangku pojok belakang, tempat seseorang sedang duduk santai sambil menopang dagu.
Melihat kode mata dari Rafan, aku menghela napas panjang.
Merepotkan.
Perlahan, aku bangkit dari kursiku. Tidak ada gerakan mendadak, tidak ada gebrakan meja. Aku hanya berdiri, merapikan sedikit seragamku yang kusut, lalu berjalan santai membelah keheningan kelas menuju meja Kevin.
Suara langkah kakiku yang tenang terdengar jelas di ruangan yang senyap itu.
Kevin menoleh, menatapku dengan napas memburu. "Apa lo?! Lo mau belain Rafan?!"
Aku berhenti tepat dua langkah di depan Kevin. Aku mendongak sedikit karena tubuhnya lebih tinggi dariku, tapi tatapanku tetap datar, tanpa emosi.
"Duduk, Vin," ucapku pelan. Suaraku tidak keras, tapi terdengar sangat jernih dan dingin.
"Apa?!" Kevin melotot, merasa ditantang.
"Kubilang, duduk," ulangku, kali ini dengan intonasi yang lebih menekan. Ada aura otoritas yang aneh yang menguar dari nada bicaraku. "Kamu atlet, kan? Tugasmu adalah menggunakan ototmu di lapangan. Biarkan otak bekerja di bagian strategi."
"Tapi ini licik, Cal!" protes Kevin, meski suaranya sedikit menurun.
"Ini bukan licik. Ini celah aturan," koreksiku tenang. Aku menunjuk kertas lecek di tangan Kevin. "Baca poin kelima. Kita tidak melanggar satu pun pasal di buku peraturan sekolah. Kalau wasit tidak meniup peluit, berarti itu sah."
Aku melangkah maju satu langkah lagi, menatap mata Kevin tajam.
"Kevin, dengar. Kamu mau main 'bersih' lalu kita kalah telak melawan kelas 12 yang fisiknya jauh di atas kita? Atau kamu mau main 'cerdas', mempermalukan senior yang sombong itu, dan membawa pulang uang tunai lima juta rupiah untuk kita semua?"
Aku menepuk bahu Kevin yang keras dan tegang itu.
"Percayakan otaknya padaku. Kamu cukup lari sekencang mungkin dan ikuti instruksi. Kalau ada yang protes, bilang itu perintah manajer kelas. Aku yang tanggung jawab."
Kevin terdiam. Napasnya yang tadi memburu perlahan mulai teratur. Dia menatap mataku, mencari keraguan, tapi dia tidak menemukannya. Yang dia lihat hanyalah ketenangan mutlak dari seorang pemimpin.
Perlahan, cengkraman tangannya pada kertas itu melonggar. Dia menghela napas kasar, lalu menjatuhkan pantatnya kembali ke kursi.
"Sialan..." umpat Kevin pelan, tapi nada marahnya sudah hilang. Dia merapikan kembali kertas yang tadi diremasnya. "Oke. Gue ikut cara lo, Cal. Tapi kalau sampai gue didiskualifikasi, lo yang gue cari pertama kali."
"Setuju," jawabku singkat.
Aku berbalik badan, menatap seisi kelas yang masih mematung.
"Ada lagi yang keberatan?" tanyaku datar.
Hening. Tidak ada yang berani angkat suara. Bahkan siswa-siswa nakal di barisan belakang pun diam.
"Bagus. Lanjutkan diskusinya, Rafan," perintahku pada Rafan yang masih bengong di depan papan tulis.
"S-siap, Bos!" jawab Rafan refleks, lalu buru-buru menutup mulutnya sendiri karena keceplosan.
Aku berjalan kembali ke bangkuku di pojok belakang dengan santai, seolah-olah baru saja melerai pertengkaran anak TK, bukan meredam amukan banteng kelas.
Saat aku melewati barisan tengah, ekorku menangkap pergerakan di sebelah kiri.
Zea.
Gadis itu duduk dengan dagu bertopang pada kedua tangannya di atas meja. Matanya tidak lepas menatapku sejak aku berdiri tadi. Ada senyum tipis yang merekah di bibirnya. Matanya berbinar-binar penuh kekaguman, seolah dia sedang menonton adegan film favoritnya.
Saat pandangan kami bertemu sekilas, Zea menggerakkan bibirnya tanpa suara.
'Keren banget.'
Aku pura-pura tidak melihatnya dan terus berjalan ke kursiku, meski dalam hati aku merasakan sedikit rasa hangat yang aneh.
Zea tersenyum geli melihat tingkahku yang sok cool. Dia suka sisi Callen yang ini. Sisi dominan yang tersembunyi di balik wajah malas itu. Callen mungkin menyebut dirinya "Rendahan", tapi bagi Zea, saat ini Callen terlihat seperti satu-satunya "Raja" di ruangan ini.
Dan Zea... dia sangat menikmati menjadi ratu di sampingnya.