NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Terduga

Kakinya melangkah pelan di antara genangan air yang memenuhi jalanan malam ini. Beberapa kali dia berjinjit, menghindari agar jejak kakinya tak mengotori selasar ruah yang ada di kanan dan kirinya. Sambil tersenyum guna menyapa beberapa tetangga yang tampak duduk di ruang tamu dengan pintu rumah yang terbuka lebar.

"Baru puang, Neng?" tanya seorang wanita paruh baya yang menggunakan penutup kepala rajut. Senyumnya tampak merekah pada Alana yang berjalan di depannya.

Alana mengangguk. "Iya, Bu. Mari," sahutnya ramah, sambil terus memacu langkahnya.

Bukannya tak ingin berbaur lebih lama dengan tetangga yang sudah dia kenal selama beberapa tahun belakangan ini, tapi Alana harus cepat-cepat sampai rumah untuk memeriksa keadaan ibunya. Lagi-lagi, dia harus terjebak jaga malam di rumah sakit hingga harus meninggalkan ibunya selama satu malam.

Namun, langkahnya terhenti ketika wanita tadi kembali membuka suaranya.

"Lain kali, kalau Neng mau jaga malam di rumah sakit, ibunya titipin ke saya aja, Neng! Nggak apa-apa kok!" katanya.

Mendengar itu, Alana menoleh. Pandangan matanya tentu menunjukan kebingungan yang cukup pekat. "Maksudnya gimana, Bu?"

"Kasihan ibu kamu itu! Kalau kamu lagi jaga di rumah sakit, dia selalu duduk di teras nungguin penjual lauk lewat. Tadi juga saya nggak sengaja lihat Bu Laksmi jatuh di dalam rumah, untungnya pintu rumah kamu dibiarin kebuka kalau kamu lagi nggak di rumah, Neng."

Alana terdiam. Seharian ini tak ada satu pun telepon masuk dari nomor ibunya. Semuanya berjalan seperti biasanya. Alana kira ibunya aman selama dia berjaga di rumah sakit. Lagi pula, dia juga menitipkan ibunya pada Dipo setiap dia mendapatkan iket jaga malam di rumah sakit.

Meski emosinya berusaha meluap, Alana berusaha menahan dirinya dengan senyum simpul. "Biasanya saya titipkan ke Mas Dipo kok, Bu."

"Aduh, Neng! Saya aja udah lama nggak ngelihat abangmu itu lewat sini!" timpal wanita paruh baya itu.

Alis Alana berkerut kecil. "Bulan lalu, Mas Dipo masih sempat ke sini sebentar, kata Ibu," sahut Alana pelan.

Tanpa sadar rahangnya mengetat hingga menimbulkan suara renyah dari susunan gigi miliknya. Matanya lupa berkedip untuk beberapa saat. Entah sudah kali keberapa dia dibohongi dan dikecewakan oleh keluarganya sendiri seperti ini.

Alana kembali memacu langkahnya, tak lagi ingin mendengarkan apa yang dikatakan oleh tetangganya ini. Dia bahkan tak lagi menoleh sedikit pun untuk sekedar pamit dengan senyuman. Banyak hal yang harus dia bicarakan dengan ibunya malam ini.

Begitu sampai di depan pintu, Alana tak langsung masuk. Meski pintu itu tentu terbuka lebar di waktu yang hampir larut ini. Dia menunduk sejenak, menarik nafas dalam-dalam dan melonggarkan kepalan tangannya di kedua sisi tubuhnya.

"Kok nggak masuk, Lan?" tanya Laksmi bersama dengan denting tirai kristal pada sekat dapur.

Mendengar suara lembut itu, Alana mendongak. Kesal yang semula menggebu dalam dadanya mendadak sirna, berganti dengan keterkejutan begitu bertemu pandang dengan seorang wanita lain yang membantu memapah ibunya dari arah dapur.

Wanita itu tersenyum cerah, sama seperi senyum yang biasanya dia berikan pada Alana. "Jadi, Suster Alana ini anak bungsu yang kamu maksud?"

Bola mata Alana mondar-mandir antara ibunya dan wanita yang kini ikut duduk di ruang tamu. Seteko teh tawar hangat tampak tinggal setengahnya, sementara ubi kukus masih mengeluarkan asap dari piringnya. Tampak begitu menggugah selera di tengah cuaca yang cukup dingin.

Namun, bukan itu yang menjadi fokus Alana saat ini. Melainkan dua wanita yang tentu dia kenal dengan baik. Namun, ini adalah pertama kalinya Alana melihat mereka bersama.

"Kamu kenal anakku, El?" tanya Laksmi dengan alis terangkat. Tentu dia terkejut kala teman semasa sekolahnya itu menyebutkan nama Alana bahkan sebelum dia pernah menyebutkan nama anak bungsunya dalam setiap cerita yang keluar dari mulutnya.

Wanita itu, Ella. Ella yang Alana kenal. Ibu dari pasien bangsal 505 yang sudah pulang beberapa waktu  yang lalu. Seseorang yang Alana pikir tidak akan bertemu lagi dengannya. Namun, siapa sangka mereka malah bertemu di rumah ini.

Ella mengangguk sekilas. "Dia yang bantu aku merawat Kinan selama di rumah sakit kemarin?"

"Kok kamu nggak cerita? Padahal kita beberapa kali teleponan kan?" sahut Laksmi sembari memukul pelan lengan Ella.

Sementara, Alana kini melangkah masuk tanpa suara. Dia letakkan sepatunya di tempat biasa. Sebisa mungkin dia haus menahan dirinya untuk tak membicarakan kakaknya saat ini, atau dia akan kesal sendiri di hadapan tamu ibunya malam ini.

Namun, sepertinya malam tak ingin membiarkannya kabur dengan mulus kali ini. Tanpa disangka dia malah mendengar nama kakaknya disebut dengan mudah di ruang tamu yang tak terlalu luas. Ibunya bahkan ta segan mengulas senyum lembut saat menyebut nama Dipo di sana.

"Oh iya, gimana kabar anakmu yang satu lagi itu? Em... siapa namanya?" tanya Ella bertubi.

"Oh... Dipo?" sahut Laksmi.

Mendengar putranya tersebut, Laksmi melirik pada Alana yang masih tampak bergelut dengan tali sepatunya di selasar kecil rumah mereka. Mencoba untuk berhati-hati dalam berbicara.

Wanita itu lantas mengulas senyum manisnya. "Baik. Cuma dia memang jarang ke sini karena sudah berkeluarga, kan."

"Oh, iya?!" sahut Ella antusias, tampak binar matanya merona. "Padahal dulu asih sering lari-larian sama Kinan,ya."

Dia menoleh ke arah Alana yang mulai memasuki area rumah. "Dulu, kamu masih mengandung Suster Alana, kan?" lanjutnya.

Mendengar itu, Alana kini ikut tertarik pada obrolan mereka. Dia melirik ke arah ibunya yang juga mendongak ke arahnya. Keduanya tersenyum seolah melihat bagaimana Alana yang sudah tumbuh dewasa saat ini.

Alana memaksa senyumnya untuk mengembang. "Alana saja, Bu. Nggak usah pakai Suster," sahutnya.

Tampak Ella semakin menarik kedua ujung bibirnya. Entah mengapa semenjak Alana datang, dia seolah menemukan sebutir mutiara di antara tumpukan karang. Matanya selalu berbinar terang.

"Kalau begitu, saya masuk dulu, Bu. Permisi," pamit Alana.

Seperti sebelumnya dikatakan, malam tak akan membiarkannya pergi dengan tenang kali ini. Baru saja Alana meraih gagang pintu kamarnya yang tak terpisah dari ruang tamu. Dia harus kembali menghentikan pergerakannya.

"Mumpung kita bertemu, saya mau bicara sama kamu. Bisa, Alana?" tanya Ella, terdengar cukup hati-hati.

Ella mengalihkan perhatiannya pada Laksmi yang duduk di sampingnya. "Sekalian sama kamu juga, La. Bisa, kan?"

Terdengar jelas nada serius dalam setiap kalimatnya. Entah apa yang ingin dia bicarakan pada dua perempuan yang kini saling berpandangan di depannya. Salah satunya yang lebih tua mengangguk, mengiyakan permintaannya.

Alana menarik nafasnya sebentar. "Mau nunggu saya bersih-bersih sebentar, Bu?" tanyanya sopan.

Mendengar itu, Ella mengangguk. "Saya nggak buru-buru kok."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!