Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09. AMSALIR
Di bawah pendar kirana yang menyelimuti malam, Pangeran Wang Zihan menarik Zhen Yi menuju taman yang sepi. Sorot matanya yang semula teduh, seketika berubah sedingin es.
"Untuk apa kamu datang ke istana? Apa kamu tidak tahu apa artinya tinggal di Paviliun Timur?" desisnya tajam, sembari mencengkeram erat pergelangan tangan Zhen Yi.
Perlahan, tanpa mengurangi rasa hormat, Zhen Yi melepaskan diri dari pautan itu. "Maaf, Pangeran. Saya hanyalah rakyat jelata. Apa yang bisa hamba perbuat? Hamba hanya ingin hidup tenang tanpa ancaman. Mana mungkin hamba sanggup menolak titah Kaisar?"
Tatapan Wang Zihan perlahan meredup. Ada guratan rasa bersalah karena telah bersikap kasar, meski ia sendiri tak mengerti mengapa hatinya begitu bergejolak.
"Kamu ... tahu siapa aku yang sebenarnya?" tanyanya ragu, diliputi rasa penasaran.
Zhen Yi mengangguk pelan. "Hamba baru mengetahuinya beberapa waktu lalu. Maafkan hamba, Pangeran, jika selama ini hamba tidak mengenali Anda."
"Itu bukan masalah. Namun, apakah kamu tahu bahwa kamu akan dijadikan selir oleh Ayahanda?"
Zhen Yi menggeleng cepat. Sorot matanya bergetar hebat, memancarkan ketakutan. "Hamba tidak menyangka akan seperti ini, Pangeran. Apa yang bisa hamba lakukan?" isaknya mulai pecah.
Wang Zihan seketika panik. Wanita yang telah mengusik hatinya kini menangis tersedu di hadapannya. Tanpa berpikir panjang, ia meraih kedua tangan Zhen Yi dan mendekapnya erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kehangatan yang ia miliki.
"Maukah kamu pergi bersamaku? Pergi jauh dari istana ini," bisiknya sembari mendekatkan wajah, mencari jawaban di mata gadis itu.
Seketika, mata Zhen Yi membelalak. Ia tak pernah menyangka Wang Zihan sang pangeran yang dikenal dingin, kejam, dan dijuluki sebagai "Anjing Pemburu Kaisar" akan mengucapkan kata-kata seperti itu.
"Apa maksud Anda, Pangeran? Bagaimana mungkin kita bisa melarikan diri dari kerajaan ini, terlebih lagi Anda adalah seorang Putra Mahkota," tanyanya dengan suara bergetar, dipenuhi rasa tidak percaya.
Wang Zihan merengkuh kedua pundak Zhen Yi, menatapnya tajam namun penuh permohonan. "Katakan saja jika kamu ingin pergi dari sini. Maka, aku bersumpah akan membawamu sejauh mungkin."
"Tidak, Pangeran!" Zhen Yi tersentak, mundur beberapa langkah dan membelakangi pria itu.
"Hamba tidak akan pernah berani melakukannya. Kaisar pasti akan memburu kita. Bagaimana reaksi dunia jika tahu Putra Mahkota melarikan diri bersama rakyat biasa? Biarlah, Pangeran ... mungkin ini memang takdir yang harus hamba jalani. Memang benar hamba memiliki perasaan pada Anda, namun biarlah rasa itu terkunci rapat di dalam hati saya."
Zhen Yi berbalik, menatap nanar ke arah Wang Zihan. Di bawah pendar rembulan, tatapan mereka saling mengunci. Wang Zihan merasa hatinya kian tersiksa, tatapan gadis itu benar-benar meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia bangun dengan begitu kokoh.
Tanpa sepatah kata pun, Wang Zihan merengkuh tubuh ramping itu dalam dekapan erat. Sang Putra Mahkota akhirnya runtuh di hadapan Zhen Yi. Di balik punggung pangeran, Zhen Yi menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. Rencananya berhasil, ia kini telah menggenggam hati pria yang akan dijadikannya boneka itu.
"Bagaimana mungkin aku sanggup melihatmu menjadi selir ayahku? Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu, Zhen Yi," isaknya tertahan, suaranya merendah penuh ketulusan.
Zhen Yi melepaskan pelukan itu dengan perlahan, memasang kembali topeng kepatuhannya. "Pangeran, ingatlah batasan Anda. Jika Kaisar tahu, kita berdua pasti akan berakhir di tiang gantungan. Hamba mohon, lepaskan hamba."
Bukannya luluh, Wang Zihan justru kehilangan kendali. Ia meraih tengkuk jenjang Zhen Yi, menariknya paksa, dan melumat kasar bibir ranum gadis itu. Zhen Yi sempat meronta, namun tenaga mereka terpaut jauh. Ia hanya bisa pasrah saat Wang Zihan mencumbunya dengan liar, seolah tengah meluapkan seluruh kegilaannya.
Namun, demi menjaga kendali atas permainannya, Zhen Yi mendorong dada Wang Zihan sekuat tenaga. Meski ini adalah reaksi yang ia harapkan, ia perlu menciptakan jarak agar sang pangeran semakin haus akan dirinya.
"Cukup, Pangeran! Ini salah. Jika ada yang melihat, hamba yang akan kehilangan nyawa," ratapnya dengan wajah memelas, berakting seolah ia adalah korban yang ketakutan.
Wang Zihan tersentak, perlahan melepaskan panggutannya. Ia mundur beberapa langkah, mencoba meraup kembali kesadarannya yang sempat hilang. "Maaf ... Maafkan aku, aku telah melampaui batas. Sungguh, baru kali ini aku merasa sehancur dan seberingas ini."
Khawatir akan semakin kehilangan kendali, Wang Zihan akhirnya mengantarkan Zhen Yi kembali ke paviliunnya. Setelah memastikan Zhen Yi masuk dengan aman, sang pangeran segera beranjak pergi dengan sisa-sisa kegelisahan yang masih tertinggal.
Di dalam ruangan megah yang kini menjadi kamarnya, Zhen Yi menyunggingkan senyum kemenangan. Akhirnya, ia berhasil memijakkan kaki di jantung kekuasaan. Dendam yang selama ini membara di dadanya seolah mendapat pasokan bahan bakar baru. Ia bertekad, setiap orang di istana ini harus membayar harga yang setimpal atas masa lalunya.
Dali, pelayan setianya, ikut tersenyum tipis. Dengan cekatan, ia membantu menanggalkan satu demi satu lapisan pakaian nonanya. Malam ini, Zhen Yi harus tampil sempurna untuk menyambut sang Kaisar.
Setelah selesai membersihkan diri, Zhen Yi duduk di depan cermin besar untuk dirias. Ia sengaja memilih jubah sutra tipis yang nyaris transparan, memamerkan siluet tubuhnya yang memikat. Rambut hitamnya yang terurai panjang disisir dengan sangat lembut oleh Dali.
Tiba-tiba, daun pintu terbuka perlahan. Dali terkesiap, jemarinya membeku saat melihat sosok yang melangkah masuk ke dalam kamar.
takutnya kacau nnti
mancing sesuatu yaaa
gass aja balas dendam nya💪💪💪
sorry ya keskip bab 3, karna iklan nya tuh😭 maaf aja dah lama ga baca di novel 🙂↕️🙏