Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Pagi itu, Alya kembali mengambil cuti.
Setelah subuh tadi papanya serangan jantung lagi, dokter mengatakan ada penyempitan pembuluh darah di jantung, dan itu harus segera di operasi.
Pagi itu juga, untuk pertama kalinya Alya menandatangani inform concern, form pernyataan bahwa Alya mempercayakan Papanya pada dokter yang bertugas, dengan tangan gemetar tanda tangan itu resmi dibubuhkan.
Sekitar 30 menit yang lalu papanya masuk ruang operasi, Alya sendirian di ruang tunggu, menatap lampu ruangan operasi yang menyala, tanda operasi sedang berlangsung, kehidupan keluarga Alya tergantung pada hasil operasi hari ini.
Jika sesuatu yang buruk terjadi..
Alya menggeleng pelan, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang menari di kepalanya, tangannya saling genggam, mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Air mata jatuh entah yang ke berapa, Alya ketakutan.
Ia tidak terisak. Tidak ada suara. Tangis itu turun begitu saja, seperti tubuhnya akhirnya menyerah setelah terlalu lama berpura-pura kuat.
Alya menunduk, menempelkan dahi ke punggung tangannya yang saling menggenggam, mencoba menahan gemetar yang semakin sulit dikendalikan.
Di sekelilingnya, ruang tunggu tetap berjalan seperti biasa. Seorang perawat lewat sambil mendorong troli. Sepasang suami istri berbisik pelan di sudut ruangan. Seorang anak kecil tertidur di pangkuan mamanya. Dunia tidak berhenti hanya karena hidup Alya sedang berada di ujung yang rapuh.
Lampu ruang operasi itu masih menyala.
Alya menatapnya lagi. Lampu kecil yang terlihat sepele, tapi hari itu terasa seperti pusat semesta. Selama lampu itu menyala, ia tidak tahu apakah hidup keluarganya akan berubah atau runtuh.
Ia teringat tangan papanya pagi tadi. Dingin, tapi masih menggenggam balik saat Alya menunduk untuk berpamitan. Papanya tidak banyak bicara. Hanya tersenyum tipis, seolah operasi itu hanyalah satu prosedur medis biasa, bukan pertaruhan hidup.
“Kamu jangan panik,” kata papanya waktu itu. “Papa baik-baik saja.”
Dan Alya mengangguk, meski dadanya terasa seperti diremas.
Kini, sendirian di ruang tunggu, kalimat itu berputar-putar di kepalanya.
Bagaimana kalau tidak?
Pertanyaan itu datang tanpa izin. Alya kembali menggeleng pelan, seolah bisa mengusirnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengingat apa saja yang masih bisa ia kendalikan. Ia membuka ponselnya, beberapa pesan masuk dari Viko.
“Kak, kabarin kalau operasinya sudah selesai”
Beberapa waktu yang lalu sebelum operasi di mulai, Alya mengabari adiknya tentang kondisi di rumah sakit dan saran dari dokter.
Mereka sepakat tidak memberi tahu mama mereka, demi kondisi mamanya juga yang tak sepenuhnya baik.
Tidak ada yang menyangka hari ini akan terjadi, Alya terpukul tapi harus terlihat kuat untuk mama dan adiknya.
Dengan air mata yang belum sepenuhnya berhenti, ia menguatkan adiknya, menyuruhnya tidak lagi menangis dan mendoakan kelancaran operasi papa mereka.
Alya meminta Viko terlihat kuat agar mama mereka tidak curiga. Roda kehidupan berputar tanpa menunggu kesiapan mereka dan kini, mereka berada di titik paling dasar untuk bertahan.
Tapi mereka tak punya pilihan bukan?
Hidup terus berjalan, waktu tak berhenti hanya karena mereka tak siap dengan keadaan.
Waktu berjalan lambat, hampir menyiksa. Lima menit terasa seperti setengah jam. Alya berdiri, lalu duduk kembali. Ia berjalan ke dispenser air, menuang segelas kecil, namun hanya meneguk sedikit sebelum meletakkannya kembali.
Tangannya masih gemetar.
Dalam kepanikan yang tertahan itu, Alya tiba-tiba merasa sangat kecil. Bukan sebagai anak sulung. Bukan sebagai pegawai negeri yang dianggap “sudah mapan”. Hanya sebagai seorang anak perempuan yang takut kehilangan papanya.
Ia teringat semua beban yang selama ini ia pikul tanpa suara: pekerjaan yang menuntut stabilitas, adik yang masih membutuhkan biaya dan perhatian, mama yang berusaha terlihat kuat meski jelas kelelahan. Selama ini Alya berdiri di tengah-tengah semuanya, menjadi penyangga tanpa pernah benar-benar diminta.
Dan hari ini, ia ingin sekali ada seseorang yang menggenggam tangannya dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja tanpa perlu Alya yang menguatkan balik.
Ponselnya bergetar pelan.
Alya tersentak kecil, lalu segera mengambilnya. Sebuah pesan masuk. Bukan dari keluarga. Bukan dari kantornya.
Dari Reyhan.
Pesan itu singkat. Tidak ada basa-basi.
Saya dengar papamu dirawat. Semoga operasinya berjalan lancar.
Alya menatap layar itu lama. Ia tidak tahu dari siapa Reyhan mendengar kabar tersebut, dan ia tidak sempat memikirkannya. Yang ia rasakan hanyalah sesuatu di dadanya yang mengendur sedikit seperti simpul yang ditarik pelan.
Ia tidak langsung membalas.
Bukan karena tidak mau. Melainkan karena ia takut jika mulai mengetik, air matanya akan jatuh lagi.
Alya mengunci layar ponsel, menggenggamnya erat-erat, lalu menatap kembali lampu ruang operasi. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia membiarkan dirinya berharap—tanpa mengatur, tanpa bersyarat.
Beberapa menit kemudian, seorang perawat keluar dari pintu ruang operasi. Alya refleks berdiri. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia hampir tidak mendengar apa pun.
“Operasinya masih berlangsung,” kata perawat itu, sebelum Alya sempat bertanya. “Mohon ditunggu.”
Alya mengangguk cepat. Terlalu cepat. Ia kembali duduk, tapi kali ini punggungnya menempel ke sandaran kursi. Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang, lalu membukanya kembali.
Ia membuka ponsel sekali lagi, setelah merasa lebih tenang.
Dengan jari yang masih gemetar, Alya mengetik balasan singkat.
Terima kasih.
Hanya itu.
Tidak ada penjelasan. Tidak ada cerita. Tapi bagi Alya, kata itu cukup untuk hari ini.
Lampu ruang operasi masih menyala.
Dan Alya menunggu dengan takut, dengan harap, dengan seluruh hidupnya yang terasa tergantung pada satu pintu tertutup.
Alya terkejut saat ponselnya kembali bergetar, panggilan suara.
Viko.
Dengan hati-hati Alya mengangkat panggilan itu.
Terdengar isak tangis Viko dibalut dengan khawatir yang membuat Alya merasa ada sesuatu yang tidak beres disana.
“Kenapa dek?”
“Kak, mama pingsan” dunia Alya seakan berhenti, apalagi ini Tuhan?
Tidak cukupkah yang ada di depan matanya pintu masih tertutup menandakan Papanya masih berjuang, sekarang apakah mamanya akan masuk ke dalam pintu yang sama.
Alya perlahan mengumpulkan kesadarannya, air mata terus berjatuhan, dan tangannya kembali bergetar.
“Kak, aku harus bagaimana?” suara panik Viko membantu pemulihan kesadarannya.
“Kakak panggilkan ambulan, jangan ditutup telfonnya” tanpa menunggu jawaban, Alya berlari ke bagian informasi.
Viko masih meneriakkan mamanya di seberang sana, berusaha membuat wanita yang melahirkan mereka sadar.
Tapi Alya tak menerima kabar baik hingga ia berdiri di lobby dan membuat laporan kegawatdaruratan, Ambulan dikerahkan, sirinenya memekakkan telinga Alya yang juga berada di tempat yang sama menyelesaikan serangkaian prosedur yang harus Alya lengkapi.
Viko masih disana, panggilan mereka belum terputus, adiknya menangis diseberang sana, papa mereka berjuang di ruang operasi, dan mama mereka juga butuh pertolongan medis dengan segera.
TBC