✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, dan Jum'at, pukul 19.00 wib ✨
Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.
Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.
Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.
dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fondasi Kedaulatan
Matahari baru saja naik sepenggalah di atas cakrawala Vargos, namun aktivitas di sekitar kastil sudah mulai menderu.
Ren Akasa berdiri di atas balkon utama yang menghadap langsung ke arah Rawa Keruh. Angin pagi membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa energi mana yang telah dimurnikan.
Di tangannya, ia memegang sebuah batu kristal hitam yang berdenyut redup, alat perekam mana yang digunakan untuk memantau stabilitas wilayah.
Ren tidak lagi melihat wilayah ini sebagai tanah terkutuk. Baginya, Vargos adalah sebuah organisme hidup yang perlu diberi nutrisi untuk tumbuh. Dan nutrisi utama dari sebuah negara bukan hanya sihir, melainkan ketahanan pangan.
Revolusi Lahan: Keajaiban Gandum Mana
"Gorn, laporkan kondisi tanah di Sektor Barat," ucap Ren dengan nada rendah yang berwibawa.
Di bawah balkon, Gorn, sang tetua Lizardman, mendongak dan membungkuk dalam.
"Tuanku Raja Iblis Leon! Sesuai titah Anda, kami telah membagi rawa menjadi petak-petak irigasi. Namun, seperti yang Anda tahu, air rawa ini mengandung racun Miasma yang sangat pekat. Benih apa pun akan membusuk dalam hitungan jam."
Ren menoleh ke arah Valeria Lockhart yang berdiri di sisi kirinya. Sang Archmage itu tampak sedikit kesal, mungkin karena tidurnya terganggu oleh jadwal inspeksi pagi ini.
"Valeria, ini adalah tugasmu. Gunakan sihirmu untuk mengubah racun itu menjadi katalis," perintah Ren.
Valeria mendengus, menyilangkan tangan di bawah dadanya. "Hmph! Kau benar-benar menggunakanku seperti alat tani, ya? Dasar Raja Iblis yang tidak punya perasaan. Tapi... baiklah, perhatikan baik-baik."
Valeria mengangkat tongkat kristalnya tinggi-tinggi. Ia tidak merapalkan sihir penghancur, melainkan sihir manipulasi elemen yang sangat halus: [Algieba’s Radiance: Alchemical Soil].
Cahaya keemasan berpendar dari ujung tongkatnya, menyebar seperti gelombang air di atas permukaan rawa. Di bawah pengaruh sihir Valeria, molekul Miasma yang beracun perlahan-lahan pecah dan mengikat diri dengan unsur tanah, menciptakan nutrisi organik yang sangat kaya.
"Taburkan benihnya sekarang!" seru Gorn kepada kaumnya.
Ribuan benih Gandum Rawa yang telah dimodifikasi oleh energi mana mulai ditaburkan. Dalam hitungan menit, sebuah fenomena yang mustahil di dunia biasa, tunas-tunas hijau mulai menyeruak dari lumpur hitam.
Gandum ini tumbuh dengan batang yang kokoh dan bulir yang bersinar keperakan.
"Ini bukan gandum biasa, Gorn," Ren menjelaskan sambil memperhatikan pertumbuhan cepat itu.
"Ini adalah Gandum Mana. Ia tidak hanya mengenyangkan perut, tapi juga secara perlahan memurnikan tubuh siapa pun yang memakannya dari pengaruh energi negatif. Dengan ini, kaummu tidak akan lagi menderita penyakit rawa, dan Vargos akan memiliki cadangan logistik yang tak terbatas."
Gorn menatap hamparan hijau itu dengan air mata di sudut matanya. Bagi rasnya, ini adalah mukjizat yang belum pernah diberikan oleh raja mana pun.
Sesaat kemudian, bayangan di sudut balkon memadat. Sesosok wanita bertelinga kucing dengan pakaian sutra lembut hitam beraksen hijau pastel muncul dari kegelapan. Mika, informan terbaik dan mata-mata paling tepercaya Ren, telah kembali dari misinya di perbatasan.
"Tuan Leon" Mika berlutut dengan satu kaki. "Saya membawa kabar dari jalur perbatasan."
"Bicaralah, Mika. Berapa lama waktu yang kita punya?" tanya Ren.
"Jarak dari Ibukota Arthemis ke wilayah luar Vargos adalah sekitar 14 hari perjalanan bagi seorang pengintai berkuda cepat. Namun, untuk pasukan besar yang membawa kavaleri berat dan kereta logistik, mereka akan membutuhkan waktu setidaknya 30 hingga 40 hari untuk mencapai gerbang rawa kita," lapor Mika dengan suara yang dingin dan terukur.
Ren mengangguk. "Lalu, apa yang membuatmu kembali lebih cepat?"
"Marquis Volstagg tidak sabar, Tuanku. Dia telah mengirimkan Kelompok Black Needle, pasukan pembunuh bayaran khusus. Karena mereka bergerak dalam kelompok kecil, mereka diperkirakan akan mencapai perbatasan kita dalam 3 hari ke depan. Tujuan mereka adalah menyabotase lahan pertanian yang baru saja Anda bangun dan meracuni sumur air utama."
Shallan, yang berdiri di sisi kanan Ren, mengepalkan tangannya hingga terdengar suara gemertak tulang. "Beraninya tikus-tikus itu mencoba menyentuh apa yang sedang dibangun Tuanku. Izinkan saya mencegat mereka di perbatasan!"
"Tidak, Shallan," Ren mengangkat tangannya. "Biarkan mereka masuk. Aku ingin melihat seberapa efektif pertahanan lapis pertama kita. Selain itu, ada sesuatu yang lebih penting yang harus kita bahas."
Ren berjalan menuju ruang takhta diikuti oleh kedua jenderalnya. Di sana, ia memanggil sebuah proyeksi sihir dari Mahkota Vargos. Sebuah rasi bintang berbentuk singa agung muncul di udara, bersinar dengan cahaya keemasan.
"Dengarkan," ucap Ren. "Kekuatan Vargos tidak hanya terletak pada jumlah prajurit, tapi pada kaitan antara aku dan kalian. Kalian bukan sekadar jenderal, kalian adalah bagian dari rasi Leo yang agung."
Ren menunjuk pada bintang paling terang di pusat rasi itu.
"Regulus (Hati Singa). Itu adalah aku. Titik pusat yang menyatukan seluruh energi kalian. Tanpa Hati, singa tidak akan bisa bernapas."
Lalu ia menunjuk bintang di bagian ekor.
"Denebola (Ekor Singa). Itu adalah kau, Shallan. Kau adalah penutup serangan, cambuk yang memberikan hukuman terakhir. Kekuatanmu terletak pada kecepatan dan serangan balik yang mematikan. Ekor singa adalah penyeimbang, namun juga senjata yang paling tidak terduga."
Shallan membungkuk hormat, matanya berkilat bangga. "Sebuah kehormatan menjadi senjata penutup Anda, Tuanku."
Ren kemudian menunjuk bintang di bagian leher atau surai.
"Algieba (Surai Singa). Itu adalah kau, Valeria. Surai adalah simbol martabat dan pertahanan agung dari seekor singa. Kau adalah pelindung kedaulatan kita, Archmage yang memastikan bahwa kemuliaan Vargos tidak akan pernah ternoda oleh sihir rendah."
Valeria memalingkan wajahnya yang memerah, mencoba menyembunyikan rasa bangganya. "H-hebat juga penjelasanmu. Tapi jangan harap aku akan berterima kasih!"
Rahasia Bintang yang Belum Terpanggil
Ren menggeser tangannya ke bagian lain dari rasi itu, di mana bintang-bintangnya masih meredup.
"Masih ada empat bintang lagi yang harus kita aktifkan," lanjut Ren.
* Delta Leonis (Zosma - Pinggul Singa):
"Bintang ini mewakili kekuatan otot dan ketahanan. Jenderal yang menempati posisi ini adalah sang penjaga gerbang. Ia akan menjadi Tank kita. Orangnya mungkin emosional dan mudah marah, tapi kesetiaannya pada Regulus tidak akan tergoyahkan."
* Epsilon Leonis (Algenubi - Mulut Singa): "Dia terlihat konyol dan bodoh di luar, namun ia memiliki lidah yang tajam dan taktik yang licik. Ia adalah 'Gigitan' singa yang akan mengoyak musuh dari dalam lewat tipu daya."
* Zeta Leonis (Adhafera - Dahi Singa): "Sang Pemalu. Ia adalah intuisi singa. Terlihat ceroboh dan tidak berbahaya, namun ia menyimpan kekuatan penghancur yang paling dahsyat. Jika dahinya berdenyut, itu berarti bencana akan segera turun."
Ren memejamkan matanya sesaat.
"Setiap dari mereka hanya bisa dipanggil melalui Quest Rahasia. Seperti Valeria yang terpanggil setelah aku mengampuni penyusup, sepertinya jenderal lainnya membutuhkan pemicu khusus dari perkembangan Vargos."
"Dan jika seluruh jenderal telah berkumpul," gumam Ren dengan suara yang berat dan penuh tekanan, "Wujud Raja Iblis Leon yang Sempurna akan terbangkitkan. Saat itu terjadi, dunia tidak akan lagi memiliki pilihan selain berlutut."
_______________________________________
Malam telah larut. Ren memutuskan untuk kembali ke kamar pribadinya untuk merapikan beberapa dokumen strategis. Namun, saat ia membuka pintu kayu ek yang tebal itu, ia merasakan kehadiran seseorang.
Ruangan itu sangat rapi, terlalu rapi. Bahkan jubah tidurnya yang tadi pagi ia letakkan sembarangan, kini sudah terlipat rapi di atas tempat tidur dengan aroma mawar yang sangat kuat.
Di sudut ruangan, Ren melihat Shallan sedang memegang salah satu saputangan milik Ren. Shallan tidak menyadari kehadiran Ren, ia sedang menempelkan saputangan itu ke pipinya sambil memejamkan mata dengan ekspresi yang sangat... bahagia.
"Shallan?" panggil Ren datar.
Shallan seketika melompat, menyembunyikan saputangan itu di balik punggungnya secepat kilat. Wajahnya yang biasanya pucat kini memerah padam layaknya kepiting rebus.
"T-Tuan Leon! Saya... saya sedang melakukan audit kebersihan!" ucap Shallan dengan suara yang dipaksakan berwibawa. "Sebagai Ekor Singa, saya bertanggung jawab untuk memastikan tidak ada satu pun debu yang berani menyentuh kulit Anda! Saya sedang... menguji kelembutan kain ini!"
Ren menatapnya dengan pandangan skeptis. "Uji kelembutan? Dengan pipimu?"
"Ya! Pipi adalah area dengan sensitivitas sensorik paling tinggi!" Shallan berdiri tegak, berusaha menjaga martabatnya meski ekor succubbus-nya bergerak-gerak gelisah.
"B-berdasarkan laporan saya, saputangan ini sudah layak digunakan. Saya akan segera keluar!"
Shallan segera melesat keluar pintu, hampir menabrak bingkai pintu karena terburu-buru. Di luar, terdengar suara Valeria yang sudah menunggu.
"Sudah kubilang kan, dasar Succubbus cabul! Kau pasti sedang menghirup barang-barangnya lagi!" teriak Valeria.
"Diam kau, Penyihir Kecil! Ini adalah prosedur keamanan!" balas Shallan tak kalah keras.
Ren hanya bisa menghela napas panjang di dalam kamarnya. Ia duduk di kursi kerjanya, menatap keluar jendela ke arah kegelapan hutan yang membatasi wilayahnya dengan Arthemis.
Jauh di perbatasan, di sebuah lereng gunung yang terjal, lima sosok berpakaian hitam dengan belati yang dilapisi racun bergerak tanpa suara. Pemimpin mereka, seorang pria dengan tato jarum di lehernya, menatap ke arah lembah Vargos.
"Laporannya benar. Lahan hijau mulai muncul di rawa itu," bisik sang pemimpin. "Jika kita membiarkan ini berlanjut, Vargos akan menjadi kekuatan ekonomi yang besar. Bakar lahannya malam ini, dan pastikan Raja Iblis baru itu tahu bahwa Arthemis tidak membiarkan tikus tumbuh di halaman belakangnya."
"Tapi Tuan, kabarnya dia didampingi oleh Archmage dan Jenderal tingkat tinggi," sahut salah satu anak buahnya.
"Hmph! Mereka hanya dua wanita. Kita adalah 'Black Needle'. Kita tidak menyerang secara frontal. Kita adalah racun yang membunuh dari dalam."
Mereka tidak menyadari, bahwa di atas tebing di atas mereka, seekor gagak dengan mata merah menyala sedang memperhatikan setiap gerak-gerik mereka.
Di dalam kastil, Ren Akasa baru saja menerima penglihatan dari gagak tersebut melalui sistem sinkronisasi Mika. Sebuah notifikasi muncul di depan matanya:
[Misi Rahasia Terdeteksi: Dinding yang Tak Tergoyahkan]
>Syarat: Lindungi sumber pangan Vargos tanpa membiarkan satu batang gandum pun terbakar.
>Potensi Hadiah: Kunci Pemanggilan Delta Leonis (Zosma)
Ren tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang membuat suhu ruangan seolah turun beberapa derajat. "Tiga hari. Mari kita lihat apakah mereka bisa menembus dindingku."
Musuh utama masih sebulan lagi, namun badai kecil pertama akan segera menghantam gerbang Vargos.
Bersambung.