Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.
Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.
Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.
Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.
Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.
Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???
Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???
Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boneka
Setelah beberapa hari menjadi tawanan, kini Nia tak lagi terkunci dalam satu tempat.
Gadis itu dipindahkan ke ruangan lain yang berada satu tempat dengan ruang pribadi Veron.
Bukan lagi sebagai kelinci percobaan, statusnya kini naik pangkat menjadi boneka bagi sang mafia.
Nia bahkan lebih leluasa melakukan apapun di tempat itu. Hanya saja dia tidak bisa kabur dari Veron, karena pergerakannya di pantau penuh oleh cctv serta para penjaga yang berkeliaran di luar 1x24 jam.
Hari demi hari telah berlalu. Nina semakin putus asa karena Alex tak kunjung datang menjemputuya. hal itu membuatnya semakin ragu tentang sang kekasih.
Selama dia bersikap patuh dan mau menuruti semua perintah Veron, maka gadis itu akan baik-baik saja.
Lagipula sangat disayangkan jika ia hanya dikurung tanpa melakukan apa-apa. Nia sendiri merasa bosan karena tidak punya kegiatan lain.
Karena terus memohon akhirnya Veron membebaskannya dari tempat itu.
Sebagai gadis mandiri, sejak kecil Nia memang sudah pandai dalam melakukan banyak hal, seperti memasak, membuat minuman dan bersih-bersih.
Di tempat itu juga untuk pertama kalinya Nia bertemu dengan Cloud, seekor burung kakak tua berwarna putih milik Veron.
Burung tersebut sangat pandai bernyanyi. Dia selalu menyanyi dengan lirik yang sama setiap kali melihat Tuannya datang dan pergi.
"Tuanku Verooonn... Tuanku Verooonn, yang paling tampan dan baik hati hanyalah Tuanku Verooonn..." ucapnya bernyanyi sambil terus mengepakkan sayap dan menggoyangkan kepalanya.
Saat itulah Nia baru mengetahui kalau bos mafia itu bernama Veron. Karena selama ini orang-orang memanggilnya hanya dengan sebutan Tuan dan Tuan termasuk Vivian.
Menurutnya nama itu sangat cocok dengan karakter sang mafia, tapi Nia tidak setuju dengan kata-kata tampan dan baik hati yang selalu di pyanyikan oleh Cloud.
Veron memang tampan, tapi dia sangat jauh dari kata baik hati.
Gadis itu bahkan lebih suka berbicara dengan seekor burung dari pada harus bicara dengan
Veron. Karena setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu terdengar menyebalkan dan sangat menguji kesabaran Nia.
Namun selama berada disana Nia hampir tidak perah melihat Veron pads saat malam hari. Dia selalu pergi meninggalkan tempat itu saat malam dan hanya akan kembali ketika sudah pagi.
Hari itu Veron datang lebih siang dari biasanya. Biasanya dia akan langsung naik ke ruang pribadinya dan beristirahat.
Namun kali ini sepertinya ia punya agenda lain, yaitu bermain dengan bonekanya.
Dari jauh lelaki itu sudah tersenyum licik saat melihat Nia yang tengah bersenandung mengelap meja dapur.
"Hey...!!!” panggilnya sambil menjentikkan jari, membuat gadis itu seketika terperanjat.
Pasalnya sejak tadi Nia tidak menyadari ada seseorang di belakangnya.
"Namaku Nia...!! Bukan Hey...!!" protesnya agak kesal.
"Kau itu bonekaku, jadi terserahku mau memanggilmu apa…!!”
Mendengar itu Nia hanya bisa memaki dari dalam hati sambil menatap Veron dengan tatapan sinis.
Ia makin dibuat kesal saat mendengar Cloud yang datang menyanyika lagu kebangsaannya saat menyambut kedatangan Tuannya.
Saking seringnya burung itu bernyanyi. Nia sampai hapal dan muak dengan liriknya.
Bukannya hinggap di bahu Veron, burung tersebut justru sengaja mendarat di bahu Jenia.
Entah siapa yang mengajarinya menyanyikan lagi itu, yang jelas Nia kerap menutup telinga tiap kali ia mendengarnya
"Diam Cloud..!! Bukankah alu sudah sering menyuruhmu untuk berhenti menyanyikan
lagu itu..!!" bisiknya bicara pada sang burung.
"Cloud..." ucap Veron memanggil
Hanya dengan satu jentikan jari burung cerdik itu sudah berpindah tempat mencengkram lengan sang mafia.
"Kuperingatkan sekali lagi Cloud, kau ku bebaskan terbang di tempat ini karena sikapmu yang baik dan penurut...!! Jadi kalau kau melawan dan berani macam-macam maka asan kupastikan kerangkeng besi di kastil ini akan kembali menjadi tempatmu...!!
"Apalagi kalau kau sampai berani mencoba untuk kabur maka aku tidak akan segan untuk mematahkan sayapmu...!!!" tukas lelaki itu bicara pada burung kesayangannya.
Glek………………………….
Seketika peringatan itu membuat Nia menelan kasar salivanya. Karena dia sadar bahwa kalimat tersebut bukan untuk Cloud, melainkan untuk menyindirnya.
"Hey, ambilkan aku air putih..." pintanya sambil mengetuk meja.
Tanpa banyak bicara Nia pun menuangkan air putih untuk Veron.
“(Cih… padahal tanganya hanya beberapa senti dari tempat air, bisa-bisanya menyuruhkku yang jaraknya lebih jauh…!!)” batinnya menggerutu.
"Ini airnya Tuan..." ucap gadis itu dengan senyum yang terpaksa.
“Tidak jadi, aku berubah pikiran. Sekarang buatkan kopi untukku...!!" pintanya lagi sambil
tersenyum tipis.
Dengan wajah yang mulai gemas, Nia pun kembali ke dapur untuk membuat kopi.
Sepertinya lelaki itu memang sengaja ingin membuatnya kesal.
Selang beberapa saat Nia kembali dengan menyuguhkan secangkir kopi ke hadapan sang mafia.
"Ini kopinya Tuan, silakan diminum..."
Gadis itu nampak tersenyum saat Veron mengangkat gelasnya.
"Kau tidak meludah atau menaruh racun sianida di dalamnya kan...??!" tanya Veron seakan curiga
dengan kopi buatan Nia.
"Ehh, tentu saja tidak..!!" (Dasar gila, kau pikir aku ini siapa hey…!!)
"Kalau begitu kau yang minum duluan...!!"
Sambil memutar bola matanya, akhirnya mau tidak mau Nia juga yang harus meminum kopi tersebut.
Setelah terbukti aman, barulah Veron percaya dan meminum kopinya.
"Hmmm lumayan juga..." gumamnya memuji membuat Nia tersenyum bangga.
“Tidak sia-sia aku membeli mesin pembuat kopi itu, ternyata sangat berguna dan rasanya memang pas…” sambungnya.
Seketika senyum di wajah Nia berubah jadi cemberut.
“Sekarang aku mau makan Alex, cepat potongkan Alex untukku…!!!”
“(Cihh berani-beraninya dia masih menyebut buah-buahan dengan nama Alex..!! Si gila ini memang berbakat membuatku kesal…!!)”
Walaupun terpaksa dan sambil mengomel dalam hati, namun Nia tetap saja mengerjakan perintah Veron.
Gara-gara Veron menyebut nama Alex gadis itu jadi teringat dengan kekasihnya. Entah sekarang dimana keberadaan Alex.
Tanpa waktu lama gadis itu pun kembali dengan membawa sepiring buah yang sudah di potong-potong.
“Tuan…” ucapnya sambil menyerahkan piring tersebut kepada Veron.
“Hmm…”
“Apa sampai saat ini Alex belum membayar utangnya padamu…???”
“Menurutmu…??? Bukankah sebelumnya sudah kukatakan, aku akan ku bebaskan jika kekasihmu sudah melunasi utangnya…”
“Lalu kenapa hingga kini dia tak kunjung datang…???” Tanyanya nampak kecewa.
“Nia… Nia…,sepertinya kau masih tidak mengerti apa-apa. Bukankah sudah jelas..?? Itu artinya dia memang tidak mencintaimu…!!!“
Mendengar itu Nia hanya bisa terdiam. Dia ingin marah dan membantah Veron, namun hatinya mengatakan bahwa yang dikatakan lelaki itu tidak sepenuhnya salah.
karena logikanya tidak akan ada seorang laki-laki yang mau menyerahkan wanita yang dicintainya kepada para penjahat hanya demi uang walau hanya sehari.
“Lalu bagaimana denganku..?? Apa tidak ada cara lain agar aku bisa bebas dari sini…???” Ucapnya seolah tak putus asa.
“Eemmm ada…” sahut Veron singkat.
“Benarkah…?? Kalau begitu cepat katakan bagaimana caranya…??” Ucap Nia antusias.
“Kau harus bekerja denganku…”
“Apaaaa….??!! Yang benar saja..??!!”
“Ya sudah kalau tidak mau…”
“Mauuuuu…!!! Aku bersedia bekerja denganmu…” ucap Nia tanpa ragu dan menanyakan jenis pekerjaannya.
“Hahaha… Deal…???” Tanya Veron memastikan.
“Deal…!!!” Sahut gadis itu bersalaman dengan sang mafia.
“Ehhh tapi ngomong-ngomong pekerjaan seperti apa yang harus kulakukan..??? Kau tidak sedang membodohiku kan..???” Tanya Nia nampak tidak yakin.
“Tentu saja tidak…!! Pekerjaannya sangat mudah, kau hanya perlu ikut denganku dan patuh pada apa saja yang ku perintahkan…”
“Baiklah kalau begitu kapan dan berapa lama aku harus bekerja…???”
“Semakin baik kinerjamu, maka akan semakin cepat juga kau terbebas dari tempat ini…”
“Benarkah…???”
“Hmmm, sekarang cepat pijat aku. Anggap saja ini adalah hari pertama kau bekerja…”
“Siap…” ucapnya dengan senyum mengembang.
Gadis itu pun segera berdiri di belakang sofa dan mulai memijat pundak Veron.
Setelah beberapa saat tanpa sadar lelaki itupun tertidur. Jika dilihat dari wajahnya, nampaknya ia memang kelelahan dan kurang istirahat.
Entah apa yang dilakukannya setiap malam, meski ada rasa penasaran, tapi Nia enggan untuk banyak bertanya.
Karena menurutnya wajar jika Veron keluar di malam hari.
Pemuda sepertinya sudah pasti pergi ke tempat hiburan untuk bersenang-senang.
Begitula Nia berasumsi setiap kali melihat Veron pergi, seolah penjahat dan dunia malam adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Selama berada disana, Nia juga baru mengetahui kalau ternyata di sekeliling tempat itu dipenuhi oleh kebun anggur yang sangat luas.
Sementara di belakangnya merupakan tebing bebatuan yang sangat curam dan langsung berhadapan dengan laut, sehingga mustahil baginya jika ingin kabur dan melarikan diri.
Satu-satunya jalan hanyalah dengan melewati para peniaga dan melewati kebun angur yang entah dimana letak ujungnya.
Karena saking luasnya Nia sampai tidak bisa melihat apakah ada jalan di depan sana.
Rupanya diam-diam gadis itu berencana untuk melarikan diri, sebagai antisipasi kalau ternyata Veron membohonginya.
Bagaimanapun juga Nia harus segera pergi dari sana. Ini bukan lagi tentang hubungannya dengan Alex, melainkan tentang kuliahnya yang sebentar lagi selesai.
Karena sedikit lagi Nia akan segera wisuda dan menyandang gelarnya sebagai seorang dokter muda. Dia tidak ingin mimpinya dan masa depannya hanya karena masalah cinta.
Nia yakin tempat itu pasti punya akses rahasia yang tidak diketabui olehaya. Tapi untuk saat ini dia harus lebih bersabar sampai berhasil menemukan celah.
Tanpa dia sadari, kini Nia menjadi orang yang paling sering melihat wajah Veron tanpa masker dan kacamata.
“Dengan wajah tampannya itu, kira-kira berapa banyak wanita ya yang sudah menjadi santapannya…???” Gumam Nia memandang Veron sambil bergidik ngeri.
“Eehh tunggu dulu..??? Dia tidak mungkin menyuruhku bekerja di dunia malam kan…???”
Seketika Jenia merasa sangat menyesal karena terlalu ceroboh dalam mengambil keputusan.
Bisa-bisanya dia tidak berdiskusi terlebih dahulu tentang pekerjaannya dengan jelas sebelum ia menyetujuinya.
“Aaakhhhh aku pasti sudah gilaaa….!!!”
…………………………………………………………………………………
Ilustrasi Cloud 🤍🤍