Setelah pahlawan terhebat berhasil mengalahkan Raja Iblis, dikhianati manusia. Dituduh berbuat kejahatan dan tak ada yang mempercayai semua yang dikatakan.
Alih-alih demi terciptanya kedamaian dunia, pahlawan bernama Rapphael Vistorness pun membiarkan dirinya ditangkap dan dihukum mati. Siapa sangka, dirinya malah mengulang waktu pada saat pertama dipanggil dari dunia lain.
Karena telah kembali, maka tugas pahlawan bukanlah tanggung jawabnya lagi. Bersantai dan berpetualang di dunia ini, saatnya untuk menikmati kehidupan tanpa beban kepahlawanan. Namun ia tak pernah lupa untuk mencari informasi, siapa dalang atas nasib buruknya dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Pertama
Di luar kota Swrisdk, mereka adalah orang bebas yang tidak memiliki perlindungan apapun. Meski banyaknya Lumon yang bisa membunuh mereka, bahkan Guild Petualang kota Swrisdk pun tidak bisa ikut campur.
Rapphael segera menuju tempat, tanaman obat berada. Selama tiga jam berjalan, tibalah mereka di sebuah hutan. Berbeda dengan hutan yang berisi banyaknya Lumon. Kali ini mereka menuju ke tempat yang dianggap aman. Karena hanya ada tanaman obat dan beberapa Lumon lemah.
Namun karena memiliki ingatan kehidupan sebelumnya, Rapphael mengingat betul, apa yang ada di hutan tersebut. Hutan yang tidak bernama, yang kerap kali petualang atau Hunter datang untuk mencari obat. Terkadang juga menemukan Lumon yang kekuatannya setara dengan Rank D.
Tidak mengherankan jika petualang harus ekstra hati-hati. Namun bagi Rapphael, itu hanya makanan pembuka saja. Selanjutnya, ia mulai mencari tanaman obat yang diperlukan.
Selain mengambil tanaman obat yang dibutuhkan dalam misi, Rapphael juga mencari beberapa tanaman lain. Yang masih berfungsi untuk dijadikan ramuan kualitas tinggi.
"Ullruk? Itu sangat berbahaya. Itu setara dengan Rank C. Kamu, panah Lumon itu!" perintah Rapphael ketika melihat seekor Ullruk.
Ullruk adalah sejenis Lumon yang memiliki wajah buruk rupa, memiliki tubuh memanjang dan empat kaki yang berukuran sangat kecil. Sehingga ia bergerak sebagian besar dengan merayap daripada mengandalkan kakinya.
Meski Ullruk sulit untuk berjalan dengan empat kakinya, tetap saja, kaki itu adalah pertahanan diri yang tinggi. Keempat kaki itu memiliki selaput yang tajam. Sehingga bisa digunakan sebagai pertahanan diri.
Setelah mendapatkan instruksi untuk memanah Ullruk, Gwysaa pun segera mengambil busurnya. Lalu mengambil anak panah. Melihat sasaran dengan memicingkan matanya, sementara kedua tangannya menahan busur dan anak panah.
Setelah menarik anak panah, Gwysaa tidak lupa untuk memberikan energi sihir, guna mempertajam serangannya. Dengan begitu, ia dapat mengenai sasaran secara maksimal. Barulah setelah target terkunci, ia melesatkan anak panah.
Dengan sekali lesatan anak panah, membuat Ullruk itu menggeliat dan mengeluarkan banyak darah. Anak panah tersebut, menusuk pada bagian leher. Sehingga banyaknya darah yang keluar, justru yang paling deras.
"Darahnya mengandung racun. Tidak bisa dibiarkan." Rapphael langsung berlari dengan kecepatan penuh. Lalu mengontrol energi sihir untuk membuat barier. Jika tidak, darah itu akan meracuni area sekitar.
Meski hanya darah yang mengalir, tanah di sekitarnya basah. Sehingga mudah untuk menyebar. Apalagi pergerakan Ullruk ketika mengalami sakaratul maut, gerakannya tidak terkontrol. Barulah setelah satu menit berlalu, akhirnya Lumon itu mulai lemas dan akhirnya mati.
Segera Rapphael bersihkan area sekitarnya agar tidak mencemari lingkungan. Apabila darahnya mencemari tanah, maka mereka tidak bisa lagi menjalani misi. Setidaknya untuk satu bulan ini, minimal menyelesaikan satu misi. Untuk pertama kalinya, harus menyelesaikan tugas dengan baik.
"Maaf. Maafkan aku karena menyebabkan semua ini. Aku tidak tahu kalau darahnya beracun," sesal Gwysaa yang benar-benar tidak tahu.
"Aku juga lupa tentang ini. Lebih baik bersihkan area ini agar tidak mencemari tanah." Rapphael memasukan Ullruk ke dalam ruang. "Kamu cari bahan-bahan ini saja."
"Baik." Gwysaa melihat gambar tanaman obat yang harus dicari. Ia menerima gambar tanaman obat dari tuannya lalu mulai mencari.
Sementara Rapphael mulai menyisir area di sekitarnya. Mengamati adanya pergerakan makhluk lain yang mungkin mengintai. Dan benar saja, sekitar dua puluh meter dari arah pohon besar, ada tanaman obat yang sudah memiliki pemikiran sendiri.
"Tertangkap, kau." Rapphael pun mengeluarkan daging yang sudah dibersihkan dan menjadi bentuk potongan.
Aroma daging mengundang makhluk itu mulai mencari sumbernya. Lalu bergerak dengan cepat menuju ke arah Rapphael. Sehingga setelah semakin dekat, makhluk itu mudah ditangkap dengan kain yang diselimuti sihir.
"Gebsh. Akhirnya ku dapatkan kau," ungkap Rapphael setelah mendapatkan tanaman tersebut. Lalu ia simpan di dalam ruang sihir.
Tanaman bergerak yang telah memiliki kesadaran itu bernama Gebsh. Makhluk dengan dua kaki tapi tidak memiliki tangan. Dengan beberapa daun lebar di atas kepalanya.
Dari arah lain, Gwysaa telah mendapatkan apa yang sedang dicari. Lalu ia memetik tanaman itu dan menyimpannya dengan rapi. Ada banyak tanaman obat yang telah dipetik olehnya.
Sebenarnya masih ada banyak jenis tanaman obat yang ada. Namun tidak semua dibutuhkan saat ini. Apalagi pengetahuan Gwysaa sangat terbatas. Sehingga membuat gadis itu hanya mengambil seadanya.
Lain halnya dengan Rapphael yang sudah mengambil banyak tanaman obat. Berkat kehidupan sebelumnya, mendapatkan banyak pengetahuan. Apalagi dengan daya ingatnya yang cukup tinggi. Sehingga masih mengingat teorinya.
Hanya membutuhkan waktu tidak sampai satu jam, mereka sudah bisa kembali. Namun sebelum kembali, tentu saja memanfaatkan waktu untuk makan. Ada banyak daging Lumon yang tersedia. Meski tidak semua jenisnya bisa dimakan. Namun kebanyakan yang dibawa adalah sumber pangan terbaik. Sementara untuk daging Ullruk, memang tidak ada harapan untuk menjadi makanan.
Kecuali jika ada makhluk atau Lumon lainnya yang memang menjadi sumber makanan. Lumon jenis berbeda, lain juga spesifikasinya. Mereka ada yang bisa dimakan, ada yang tidak. Ada yang seluruh tubuhnya berguna, ada juga yang tidak berguna sama sekali.
Semua perbekalan sangat mudah dibawa dengan ruang sihir yang memuat segalanya. Baik yang sudah mati maupun yang masih hidup. Sementara makhluk hidup yang baru ditangkap, ia menempatkan di dimensi lain. Sehingga tidak sembarangan menyentuh apa yang tidak seharusnya.
Lumon seperti Gebsh yang masih hidup, ditempatkan pada ruang dimensi lain. Sehingga tidak sembarangan menyentuh yang tidak seharusnya. Namun Rapphael juga telah memberi makanan yang cukup untuk bertahan hidup di dalamnya.
Apalagi pria itu juga telah memasukan beberapa jenis tanaman lain yang tertanam rapi. Karena kapasitas sihir yang kurang, membuat Raphael memiliki ruang yang masih memiliki batas. Sehingga tidak semua bisa masuk. Namun meski begitu, itu masih cukup luas untuk menampung satu istana penuh.
"Tuan, ini makanannya sudah matang." Gwysaa pertama, langsung memberikan makanan pada tuannya. Ia menunggu sampai diizinkan makan. Karena itu, ia tidak menyentuh makanan sebelum diperintahkan.
"Makan saja jika lapar. Tidak perlu menunggu." Begitu Rapphael berkata untuk menunjukan sedikit kebebasan. Sebenarnya ia kesal jika menunggu Gwysaa yang harus menunggu diperintah.
Sebenarnya, jika ingin, gadis itu bisa makan sepuasnya. Hanya saja, Rapphael tidak mengatakannya. Ini karena egonya yang terlalu tinggi. Dan rasa kepercayaan pada manusia sudah sangat rendah. Meski ia telah memakan masakan budaknya sendiri, ia masih harus memeriksa dengan sihir. Khawatir ada racun yang dibubuhkan ke dalam makanan tersebut.
Sebelum memasukan makanan ke tenggorokan, ia juga harus melihat apakah yang memasak itu, berani makan atau tidak. Jika berani makan, berarti makanan itu aman. Jika tidak berani makan, maka kebenarannya masih ditangguhkan.
"Ba-baik, Tuan." Gwysaa mengangkat kepalanya lalu mengambil makanan yang telah dimasak olehnya. Baginya, memasak cukup hanya dengan satu kali melihat tuannya. Ia sudah mempelajari apa yang dilihat oleh mata.
***