Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Aku Tak Diinginkan
"Celo, kamu dengar itu?" Suara bu Harun bergetar, tangannya yang terangkat mengarah ke rumah Harry juga ikut bergetar.
"Aku tidak tuli Ibu," Celo menatap sebentar pada ibunya yang baru saja datang dari teras rumah, tangannya mencomot beberapa biji kacang mente di atas meja, memasukannya ke mulut lalu kembali sibuk dengan gadgetnya sambil mengunyah apa yang ada dalam mulutnya.
Sreeek!
Celo terperangah saat ibunya tanpa aba-aba merebut gadget yang ia mainkan. Benda kesayangannya itu melayang di udara membuat Celo sampai menahan nafas, sepersekian detik kemudian...
Prak!
Celo mematung, melihat Gadgetnya kini tergeletak retak di lantai. Sesaat kemudian ia beralih pada ibunya, hatinya panas melihat sikap acuh sang ibu seolah tidak terjadi apa-apa setelah menghempaskan gadgetnya.
"Apa yang ibu lakukan?" nadanya rendah, namun penuh tekanan.
"Merusak gadgetmu," sahut bu Harun lalu menyilangkan tangannya. "Kamu keberatan, Nak?" nadanya tak kalah menekan.
"Itu sama seperti saat kamu mengacuhkan Ibu yang sedang berbicara padamu, dan mengacuhkan tanggung jawabmu pada Melitha."
Walau hatinya masih panas, Celo lebih memilih diam, ia tahu ibunya masih marah besar akan apa yang telah terjadi akibat ulahnya.
"Gadgetmu yang Ibu rusak secara sengaja ini, masih bisa Ibu ganti, Celo... masih bisa Ibu beli yang baru," bu Harun menunjukan gadget rusak itu di depan wajah putranya, hampir menyetuh saking gemasnya.
"Tapi kehormatan seorang gadis yang telah kamu nodai, dengan apa kita bisa menggantinya? Yang ada, gadis itu akan menanggung aibnya seumur hidup... Orang-orang akan menggosipkannya terus menerus bila melihatnya, begitu juga dengan anaknya yang kelak akan dilahirkan," lanjutnya, rasa kesalnya belum juga mereda.
"Ibu masih ingin aku bertanggung jawab? Menikahi Melitha?" Celo menatap ibunya.
"Iya, tentu saja... bukankah kamu Ayah dari bayinya?" berharap kali ini bisa membujuk putra bungsunya itu.
Celo menggeleng pelan. "Aku tidak bisa Ibu, Maaf."
"Celo, kamu keras kepala sekali--" berang bu Harun.
"Jangan paksa aku, Ibu. Hasilnya nanti tidak akan baik," selanya, tidak menunggu ibunya menyelesaikan kalimatnya.
"Tidak tahu kenapa, aku yang dulunya tergila-gila pada Melitha, menghirup aroma parfumnya saja yang lewat sudah membuat hati ini berdebar. Tapi setelah aku melakukan itu padanya, rasa sukaku berubah benci, jijik, mual, dan mau muntah bila melihatnya, aku bersungguh-sungguh Ibu. Jadi, ku mohon, jangan paksa aku lagi."
Celo bangkit dari sofa, lalu bersujud di kaki Ibunya.
"Lalu bagaimana nasib Melitha? Akibat kelakuanmu, kamu dengar sendiri celaan Soraya itu, Melitha semakin diperlakukan tidak baik oleh kakak iparnya."
"Aku tidak tahu, Ibu. Aku tidak tahu... " Celo mendongak, menatap ibunya. "Aku fikir dia tidak akan sampai begitu kalau baru sekali aku melakukannya.
"Dasar bodoh!" pukul bu Harun menggunakan bantal sofa. "Bisa-bisa kamu berfikir seperti itu!"
Celo yang dipukul hanya bisa mengerang pasrah. Tubuhnya masih sakit akibat luka pukulan Harry siang tadi. Obat anti nyeri dari puskesmas pun tidak membantu banyak.
Klek!
Mereka sama-sama menoleh ke sumber suara. Celo buru-buru bangun. Yakin yang datang itu adalah Pandji kakaknya,
"Aku ke kamar dulu, Bu," lalu berlari cepat menuju kamarnya di lantai atas.
Pandji menghampiri Ibunya setelah melihat Celo menghilang di ujung anak tangga atas sana.
"Bagaimana... "Bu Harun memegangi pundak Pandji, rautnya nampak cemas. "Apa Melitha baik-baik saja?"
Sedari tadi, ia memang menanti kepulangan Pandji.
Keberadaan para tetangga yang banyak memonitor di depan rumah Harry, memaksanya untuk kembali masuk ke rumah padahal ingin sekali bersama Pandji menemui keluarga Harry.
"Ya, dia baik-baik saja, Bu..." Pandji tersenyum kecil.
"Ayo, Ibu harus segera beristirahat, malam sudah larut," meraih tangan ibunya dan bantu memapahnya ke kamar.
"Kasihan anak itu...." bu Harun kembali berucap. "Sebelum kemalangan ini menimpanya, Soraya memang sering berlaku buruk padanya," lirihnya sedih.
Pandji mendudukan ibunya dengan hati-hati di tepi pembaringan.
"Bila saja terjadi pada gadis lain... bisa jadi lebih memilih 4bors! bahkan mungkin mengakhiri hidup karena putus asa," lanjutnya, mendesah pelan.
Di depannya, Pandji berjongkok, meraih tangan keriputnya dan mencium lama.
Hati bu Harun berdesir, batinnya merasakan sesuatu telah terjadi pada putranya, entah apa itu?
"Pandji, kamu baik-baik saja, Nak?" getar suaranya menyiratkan kecemasan.
Pandji tidak menjawab, malah membenamkan wajahnya di pangkuan ibunya. Pangkuan yang selalu memberi rasa tenang dan aman sejak dirinya dilahirkan oleh ibunya.
Bu Harun mengangkat tanganya, menyentuh kepala putranya dan membelainya lembut dengan penuh rasa kasih sayang.
"Tiga puluh enam tahun silam, saat kamu lahir, menjadi putra pertama kami.... Bapak, dan Ibumu ini... merasa sangat bahagia. Karena kelahiranmu itulah kami bisa bergelar orang tua, di panggil Bapak... dan Ibu... " bu Harun tersenyum, namun bening airmatanya menggenang di pelupuk matanya.
"Segala harapan kami sebagai orang tua... sepenuhnya bertumpu padamu... Menamakan mu, Pandji... yang berarti bendera, panji-panji, penunjuk jalan kebaikan, pembawa cahaya..." bu Harun terus membelai lembut, merasakan ujung-ujung tajam rambut putranya itu menusuk telapak tangannya.
".... Kamu tumbuh sehat, pemberani seperti Bapakmu, tidak mudah menyerah, dan pantang berputus asa," kenang bu Harun, bening airmatanya bergulir turun membasahi pipinya.
"Tak disangka... kamu memilih jadi abdi negara seperti mendiang Bapakmu... walau merasa trauma Bapakmu yang pulang tinggal nama, tapi Ibu tetap mendukung langkah hidup yang kamu pilih..."
Pandji mengangkat wajahnya, tangannya terulur, mengusap pelan airmata itu dengan telapak tangannya yang besar.
"Karena doa Ibu... Aku sering luput dari bahaya, dan masih hidup sampai di usia ini," Pandji kembali menggenggam tangan ibunya, sang pahlawannya, yang menjadi orang tua tunggal bagi dirinya dan Celo setelah ayah mereka tiada.
Bu Harun tersenyum, rasa hangat menjalar di hatinya.
"Sampaikan, Nak... Apa yang mengganjal dalam hatimu..." ucapnya, ketika risau hatinya kembali mengusik.
"Ibu, aku--, aku telah melamar Melitha ke mas Harry," jujur Pandji, tidak tahu harus memulai dari mana.
"Emph..." Bu Harun hampir tersedak oleh air liurnya sendiri, cepat-cepat mengatur nafasnya yang tersendat di tenggorokan.
"Ke-kenapa kamu lakukan itu, Nak? Lalu, ba-bagaimana dengan Elok?" tanyanya memberondong dalam.
"Om Gustam tidak menginginkan aku yang jadi menantunya, begitu juga Elok, Bu. Secara sepihak membatalkan pertunangan kami, dan menerima pria lain yang berprofesi sama sebagai dokter."
Bu Harun terhenyak, dadanya sesak, turut merasakan kepedihan dan kesedihan putra sulungnya itu.
"Ibu tak menyangka mereka bisa setega itu sama kamu, Nak... Semua yang kamu lakukan tidak dianggap sama sekali," ucap bu Harun, airmatanya kembali mengalir deras, mendekap erat putranya itu.
"Ibu rasa, ini lebih baik... " melonggarkan dekapannya.
"Jadi seorang isteri abdi negara itu memang tidak mudah, banyak aturan yang wajib dipatuhi, sering ditinggal sendiri, merawat anak sendiri..." lirihnya, kembali mengenang masa lalu saat tinggal di asrama Intel.
"Elok mungkin tidak akan sanggup, diberikan kenyamanan dan diperlakukan baik saja, dia masih bisa berpaling, apa lagi nanti setelah menikah denganmu," menatap lekat wajah putranya.
"Tapi jangan jadikan Melitha pelarianmu, dia sudah banyak menderita, Nak... Apa lagi dia adalah adik sepupumu, tidakkah kamu merasa canggung bersamanya?"
Bersambung✍️
Melitha udah mumet. Rumah tangga mamas na malah jauh lebih rumit.