NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPPL 8

“Lho… kok sudah pulang, Nak? Katanya mau nginap di rumah teman.”

Suara Ibu Anti membuat Zahra tersentak. Gelas di tangannya hampir saja terlepas. Ia berdiri di dapur, menatap kosong ke arah teko air, padahal niatnya sejak tadi hanya ingin minum.

“Iya, Bu,” jawab Zahra cepat, berusaha menormalkan suaranya. “Zahra pikir mending pulang aja. Sekalian bisa nemenin Ibu.”

Ibu Anti menatap putrinya lekat-lekat. Tatapan seorang ibu yang terlalu sering membaca perubahan kecil pada anaknya.

“Kamu… baik-baik aja, Nak?” tanyanya pelan, tanpa nada menuduh.

Zahra mengangguk cepat. Terlalu cepat. Senyum dipaksakan pun terbit di bibirnya.

“Baik, Bu. Cuma capek aja. Dari pagi kerja.”

Ibu Anti tidak langsung menanggapi. Ia hanya menghela napas kecil.

“Kalau gitu istirahat. Jangan dipaksain.”

“Iya, Bu.”

Zahra hampir saja menghela napas lega ketika ibunya berbalik.

“Ibu kenapa bangun?” tanyanya, sekadar mengalihkan perhatian.

“Mau pipis,” jawab Ibu Anti singkat. “Kamu masuk kamar, ya.”

Begitu ibunya menuju kamar mandi, Zahra langsung melangkah. Bukan ke kamarnya sendiri, melainkan ke kamar ibunya. Ia duduk di tepi ranjang, lalu berbaring cepat, menarik selimut hingga ke dada.

“Kamu kenapa di sini, Ra?” suara Ibu Anti terdengar bingung ketika kembali.

Zahra membalikkan badan, menghadap tembok. “Zahra tidur sama Ibu aja malam ini.”

Hening sejenak.

Ibu Anti tidak bertanya lagi, hanya berbaring di belakang Zahra. Tangannya sempat mengusap punggung putrinya pelan, sebuah kebiasaan lama yang hampir terlupa.

Zahra memejamkan mata. Berpura-pura tidur.

Padahal matanya perih, pikirannya berisik.

Bayangan Darman kembali muncul. Senyum menjijikannya, ucapan menyakitkannya, cara ia memandang tubuh Zahra yang benar-benar seperti menelanjangi.

Napas Zahra memburu. Jantungnya berdebar tak karuan.

Ia membalikkan tubuh, lalu kembali menghadap tembok. Berkali-kali. Tidur tak kunjung datang.

Hingga akhirnya, tanpa ia sadari—

“Jangan… jangan sentuh aku!”

Zahra terbangun dengan teriakan. Tubuhnya basah oleh keringat. Napasnya tersengal. Matanya liar, seolah masih berada di antara ruko-ruko pagi itu.

“Ra! Zahra!”

Ibu Anti langsung duduk, mengguncang bahu putrinya.

“Sudah, Nak. Ibu di sini.”

Zahra menangis tanpa suara. Tubuhnya gemetar.

Ibu Anti menyentuh keningnya dan langsung mengernyit.

“Panas sekali,” gumamnya. “Kamu demam.”

Zahra hanya menggeleng lemah. “Nggak apa-apa, Bu…”

“Pagi-pagi kita ke puskesmas.”

Zahra menggigit bibirnya. “Jangan, Bu. Zahra harus kerja.”

Ibu Anti menatapnya kaget. “Kamu sakit.”

“Nggak bisa, Bu” jawabnya lirih. Zahra masih harus gantiin teman.”

Ia menunduk, suaranya hampir tak terdengar.

Ibu Anti terdiam. Ia tahu jika anaknya sedang lari dari sesuatu.

Pagi itu, Zahra tetap bangun. Dengan kepala berat, tubuh menggigil, dan senyum palsu yang kembali ia kenakan. Ia berpamitan cepat, sebelum ibunya sempat bertanya lebih jauh.

Karena Zahra tahu, jika ia tinggal lebih lama, kebohongan yang ia bangun akan runtuh. Dan yang paling ia hindari adalah luka yang kembali terbuka itu belum sanggup ia ceritakan, bahkan pada ibunya sendiri.

Pagi itu, Zahra berangkat kerja dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya.

Kepalanya berdenyut sejak bangun tidur. Setiap kali ia menunduk, dunia seolah berputar sesaat. Tapi Zahra tetap memaksakan diri. Ia menarik jaket, mengikat rambut seadanya, lalu berpamitan cepat pada ibunya sebelum pertanyaan-pertanyaan itu muncul.

Di atas motor, angin pagi justru terasa menusuk tulang. Tubuhnya menggigil, meski keringat dingin terus mengalir di pelipisnya.

Sedikit lagi…

Bertahan saja hari ini.

Setibanya di tempat kerja, Zahra langsung mengganti sepatu dan mulai bekerja seperti biasa. Senyum kecil ia pasang setiap kali bertemu rekan kerja atau pelanggan, meski pandangannya beberapa kali mengabur.

“Ra, kamu pucat banget,” tegur Rina, rekan kerjanya, sambil menatapnya khawatir.

“Nggak apa-apa,” jawab Zahra cepat. “Kurang tidur aja.”

Rina mengernyit. “Yakin? Kamu kelihatan demam.”

Zahra hanya mengangguk, lalu buru-buru berlalu. Ia tidak ingin pembicaraan itu berlanjut.

Jam demi jam berjalan lambat.

Tangannya gemetar saat menghitung uang. Beberapa kali ia salah memasukkan nominal, sampai harus mengulang dari awal. Kepalanya semakin berat, sementara suara di sekeliling terasa samar, seolah teredam air.

Sesekali, bayangan wajah Darman menyelinap begitu saja.

Cara matanya menatap.

Cara mulutnya tersenyum merendahkan.

Napas Zahra tersendat. Dadanya terasa sesak.

Ia menggenggam meja kuat-kuat, mencoba menenangkan diri.

Ini cuma di kepalamu. Dia sudah ditangkap.

Namun tubuhnya tidak semudah itu diyakinkan.

Ketika akhirnya waktu istirahat tiba, Zahra duduk di sudut ruangan. Nasi di kotaknya tak tersentuh. Bau makanan justru membuat perutnya mual.

Keringat dingin kembali membasahi tengkuknya. Pandangan Zahra menggelap sejenak.

“Ra!”

Suara Rina terdengar jauh. Terlalu jauh.

Zahra mencoba berdiri, namun kakinya goyah. Dunia berputar, lalu gelap.

Tubuhnya terkulai.

Saat matanya terbuka kembali, Zahra sudah terbaring di sofa kecil ruang belakang. Kompres dingin menempel di keningnya. Beberapa wajah menatapnya cemas.

“Kamu pingsan, Ra,” kata Rina pelan. “Panasmu tinggi.”

Zahra mencoba bangkit, namun kepalanya kembali berdenyut hebat.

“Aku nggak apa-apa,” gumamnya lemah. “Aku masih bisa kerja…”

“Jangan keras kepala,” potong kepala toko. “Hari ini kamu pulang. Kalau maksa, saya yang tanggung jawab kalau terjadi apa-apa.”

Zahra terdiam.

“Tapi kemarin saya sudah libur, Pak,” ucapnya lirih.

“Nanti kamu ganti dengan liburmu setelah kamu sehat. Untuk hari ini, kamu pulang,” jawab atasannya itu.

Zahra akhirnya mengangguk. Dirinyapun tidak ingin memaksa lebih jauh tubuhnya untuk bekerja. Ia tahu, masih ada tanggung jawabnya pada sang ibu, sehingga ia harus tetap kuat.

Zahra meminta izin untuk istirahat sebentar disana sebelum akhirnya pulang. Kepala toko sudah menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang, tapi Zahra menolak.

Ia takut jika nanti akan membuat ibunya khawatir. Selain itu, ia juga takut kebohongan tentang hari kemarin akan terbongkar.

Merasa lebih enakan, Zahra akhirnya pamit pulang. Ia dilepas oleh teman-teman kerjanya dengan banyak pesan, dan berjanji akan menghubungi mereka ketika dirinya sampai di rumah.

Namun baru beberapa meter ia meninggalkan toko retail tempatnya bekerja, ponsel yang disimpan di saku celananya bergetar, tanda telepon masuk. Zahra menghentikan motornya di tepi, lalu mengangkat telepon itu.

“Mbak Zahra, mohon ke kantor polisi sekarang, ya. Ada hal yang akan disampaikan.”

“Baik, Pak.” Zahra kemudian mematikan panggilan dari petugas kepolisian itu.

Ia menarik napas panjang. Ternyata hari ini dirinya masih belum bisa beristirahat.

1
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
siaaaaaappp aku lempar....
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
🤣🤣🤣🤣🤣 ini ceritanya si naira cibta pertama nya bukan rian tapi zaidan... kayak anak aku yg cowok lebih milih bu lek nya ketimbang aku ibu nya... kalo aku aku jambak rambut adekku,,, anakku jambak rambutku...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: ogah ogahan sama orangtuanya ya 🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ya allah setiap anakku ada lagu itu langsung tak skip,,, muak kali aku dengernya....🤣🤣🤣🤣😒😒😒😒
mumu: mama udahlah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ngobrak ngabrik acara orang...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aku baca itu trus lhooooo,,,, lucu banget...🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: author ngebayanginnya itu waktu nulisnya ngakak 🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
bukan solusi yg didapat tapi malah informasi bocor kemana mana+ leedekan tiap hari...🤣🤣🤣
a.i.cahaya
apaan tu?
a.i.cahaya
padahal nembak aja belum tp udh dikira ditolak aja. mental zaidan cemen ih 🤭🤣🤣
istri lee dong wook
apaan yg ditolak? ditembak aja belum
😇😇
apa itu kira2??
istri lee dong wook
nggak kok zaidan nggak agresif. lanjutkan
😇😇
belum apa apa udh patah semangat. diketawain si Rian itu 😂😂
😇😇
ayo zidaaaan 😂😂
istri lee dong wook
hayo hayo bunga 🤣🤣
istri lee dong wook
bisa pasan gitu ya 😅😅🤣🤣
istri lee dong wook
kuatkan iman deh 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
tidur zaidan tidur 😅😅😅
mumu: nggak bisa 🤣🤣
total 1 replies
istri lee dong wook
peluk jauh buat zahra 🤗🤗
istri lee dong wook
ikut deh degan..
istri lee dong wook
woy elran 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
eh dah jadi pak bupati 😍😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!