NovelToon NovelToon
Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Saya Bukan Pilihan, Pak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Biby Jean

"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 8 - Radius yang Sama

Maura berhenti melangkah.

Kalimat itu diucapkan Setya tanpa nada tinggi, tapi dampaknya langsung terasa, seperti garis tak kasatmata yang tiba-tiba ditarik tegas di lantai. Arief menoleh cepat ke arah Maura, lalu kembali pada Setya.

“Baik, Pak. Tim keamanan dan protokol akan menunggu di luar,” jawabnya profesional.

Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang bertanya.

Maura merasakan denyut kecil di pelipisnya. Radius yang sama? Maura memang sudah setuju secara administratif. Tapi berada di ruang tertutup berdua dengan Setya Pradana adalah realisasi yang berbeda.

Begitu masuk ke dalam ruangan VIP yang sangat bersih, nyaris seperti ruang baru yang khusus hanya untuk Setya. Pria itu meletakkan jasnya di sandaran kursi, gerakannya tenang, terukur, lalu berbalik menatap Maura yang berdiri tegak selepas menutup pintu di belakangnya.

“Seminggu ini saya terus berpikir apa yang sebenarnya saya rasakan. Tapi, Maura, sepertinya ini amarah. Amarah karena hanya kamu satu-satunya yang tidak hormat pada saya. Satu-satunya yang membantah setiap kalimat saya. Satu-satunya yang menatap saya seolah saya bukan siapa-siapa.”

Maura tidak langsung menjawab.

Ia menegakkan punggungnya lurus, kedua tangan saling menggenggam di depan tubuhnya untuk menahan diri agar tidak bereaksi berlebihan. Tatapannya naik perlahan, bertemu mata Setya tanpa gentar, tanpa juga menantang.

“Jika itu yang Bapak sebut tidak hormat, maka definisi hormat kita memang berbeda,” ucapnya akhirnya, tenang.

Setya menyipitkan mata tipis.

“Kamu tahu posisi saya. Dan kamu tahu bagaimana orang-orang biasanya bersikap di hadapan saya,” katanya datar.

Maura mengangguk kecil. “Saya tahu, Pak.”

“Lalu kenapa kamu tidak melakukannya?”

Pertanyaan itu jatuh tanpa emosi membuat Maura menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.

“Karena saya tidak datang ke sini untuk menyenangkan ego siapa pun. Saya datang sebagai perwakilan universitas. Dan tugas saya adalah bersikap profesional, bukan tunduk pada lawan bicara,” katanya jujur.

Sunyi.

Setya tidak langsung membalas. Ia berjalan mendekat pada Maura, mengurung dosen muda itu dengan bayangannya, sekaligus memperjelas dominasi.

“Kamu sadar bahwa kalimat seperti itu bisa terdengar provokatif?” katanya kemudian.

Maura menelan ludah, namun tidak mundur. Wajahnya semakin mendongak, menatap pria yang kini memasukkan kedua tangannya di saku celana masing-masing. Demi apapun, Maura baru menyadari pria itu begitu tinggi dan besar.

“Saya minta maaf jika kalimat saya membuat Bapak terprovokasi. Tapi bukan itu maksud saya, saya hanya tidak ingin disalahkan akan kesalahan yang tidak saya lakukan.”

Pria itu masih terdiam, sedikit menunduk untuk menatap perempuan yang ternyata hanya setinggi dadanya itu.

“Saya tidak memahami kenapa tatapan saya, pembelaan saya justru terdengar salah.

Setya menarik napas pelan sedang menimbang sesuatu di balik tatapan tajamnya.

“Kamu tidak sedang diadili, Maura. Tapi kamu juga tidak sedang berbicara dengan kolega sebaya,” katanya akhirnya.

Maura mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi, menyadari bahwa perlawanannya akan lebih lama lagi.

“Saya paham hierarki, Pak. Tapi hierarki tidak otomatis membatalkan akal sehat atau hak saya untuk menjelaskan posisi.”

Setya tersenyum tipis, refleks seseorang yang baru saja menemukan variabel tak terduga dalam perhitungannya.

“Kebanyakan orang di posisi kamu memilih diam atau mengalah.”

Hening kembali mengisi ruangan.

“Saya benci tatapan itu, Maura. Tatapan menantang yang membuat orang lain merasa kecil dan tersaingi.”

“Pak,” cicit Maura karena Setya semakin mendekat yang membuat Maura harus melangkah mundur.

Namun, sepertinya ini hari apes si gadis, karena pria itu semakin maju hingga Maura terpentok di pintu.

“Saya pernah melihat tatapan itu. Cermin... dan saya berdiri di sana. saya benci setiap kali mengingat saya alasan orang-orang di sekitar saya merasa kecil dan tidak berdaya. Saya benci ketika kamu mengingatkan saya pada luka lama yang sudah berhasil saya pendam. Saya benci kehadiran kamu membuat saya kembali melunak akan sesuatu yang saya perjuangan sejak dulu.”

Maura mulai ketakutan akan kalimat Setya yang sama sekali tidak dipahaminya.

“Pa-Pak,” lirih Maura.

Pria itu menatapnya dengan tajam, tidak seperti sebelumnya yang dingin. Kali ini, benar-benar tajam hingga urat-urat lehernya terlihat, seolah menahan amarah besar.

“Kamu tahu apa yang saya lakukan pada mereka yang tidak hormat pada saya,” ada jeda seolah menunggu si mangsa untuk menjawab, tapi Maura diam membisu dan menggeleng, “menghancurkan mereka, Maura.”

Maura tidak mengerti akan kehidupan pria di hadapannya yang marah pada sesuatu sesepele ini. Ada jeda panjang sebelum akhirnya ia bersuara, napasnya tipis tapi utuh.

“Kalau itu ancaman, Pak,” katanya pelan, “maka itu bukan lagi soal hormat. Itu soal kuasa.”

Setya terdiam. Kalimat itu menghantam keras.

“Kamu selalu punya cara membuat orang lain terdengar seolah salah, padahal kamu yang mendorongnya ke sudut,” balas Setya rendah. “Itu berbahaya.”

Maura menelan ludah. “Berbahaya bagi siapa?”

Rahang pria itu mengeras, dan Maura merasakan amarah luar biasa.

“Kamu pikir saya menikmati ini? Menjadi orang yang ditakuti?” katanya akhirnya.

Maura menggeleng pelan. “Saya tidak tahu apa yang Bapak nikmati. Tapi saya tahu satu hal bahwa orang yang benar-benar kuat tidak perlu menghancurkan orang lain hanya untuk merasa dihormati.”

“Kamu terlalu berani untuk seseorang yang berdiri sendirian di ruangan ini,” katanya lirih.

Maura mengangkat wajahnya sedikit. Matanya berkaca, tapi suaranya tidak pecah.

“Dan Bapak terlalu marah untuk hal sepele seperti ini.”

Ada sesuatu yang retak. Pria itu menggertakkan giginya.

“Kamu seharusnya takut pada saya,” ucapnya dingin, lebih sebagai pernyataan daripada peringatan.

“Tidak, saya-“

“Kamu seharusnya takut, Maura.”

“Pak-“

Duak

Suara itu memantul keras di ruangan sempit, membuat Maura refleks memejamkan mata sesaat. Jantungnya berdegup liar, tapi ia tidak berteriak, tidak menangis hanya napasnya yang tercekat sebelum akhirnya ia membuka mata kembali.

Setya masih berdiri di hadapannya. Tangannya mengepal dengan urat-urat di punggung tangannya menonjol. Beberapa detik berlalu dalam diam yang pekat.

“Sa-saya,” Maura tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena bergetar.

Keduanya masih saling menatap, hingga ketukan pintu memutuskan tatapan itu.

Tok tok

“Apa terjadi sesuatu di dalam, Pak Setya?” tanya Arief.

Setya tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertahan pada Maura dan sedang dipaksa kembali ke tempatnya. Maura menelan napas. Dadanya naik turun cepat, namun ia berdiri tegak, seolah tubuhnya menolak runtuh meski syarafnya berteriak sebaliknya.

Tok tok

“Pak?” ulang Arief dari balik pintu, kali ini sedikit lebih waspada.

Setya akhirnya berpaling. Rahangnya mengeras sekali lagi, lalu ia menghela napas panjang guna menyadarkan dirinya sendiri bahwa ia sudah melangkah terlalu jauh.

“Tidak ada apa-apa,” jawabnya singkat, suaranya kembali dingin dan terkendali. “Kami sedang berdiskusi.”

Ada jeda.

“Saya mendengar pukulan di pintu-”

“Tidak ada apa-apa, Arief,” potong Setya.

Setya menurunkan tangannya sepenuhnya. Kepalan itu perlahan terbuka dan Maura meilirik sedikit ada darah di sana.

“Kamu bisa keluar sekarang,” katanya pada Maura, tanpa nada ancaman.

Maura mengangguk kecil. Ia butuh satu tarikan napas lagi sebelum berani bergerak. Saat jemarinya menyentuh gagang pintu, getarnya masih ada, tapi kini lebih terkendali. Namun sebelum pintu terbuka sepenuhnya, suara Setya kembali terdengar.

“Maura.”

Maura berhenti, tidak menoleh hanya berdiri sambil gemetar memegang kenop pintu.

“Apa yang baru saja terjadi, tidak akan terulang. Bukan karena kamu benar. Tapi karena saya tidak akan membiarkan diri saya melewati batas itu lagi,” lanjut Setya pelan.

1
Laily Hayati
keren jalan ceritanyapenulisan kata2nya juga runtut dan mudah dipahami,gak lebay.,beda dengan alur novel lain. lbh manusiawi. sukses selalu outhor
Anita Optik Agung Riana
cerita yg bagus.alur yg jelas dan tidak menye menye
Anita Optik Agung Riana
aduhhh jgan lama lama Thor update nya.makin seru.semoha sukses thor
Karrr
baguss👍👍
Siti Jul
kejam ih
Siti Jul
setya emang sebegitu dinginnya ya. jangan dingin dingin atuh
Siti Jul
ini baguss bett
Siti Jul
sukaaa
Maulida Ana
awwww
Maulida Ana
uhhh udah mulai dag dig dug nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!