NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menolong Ayu

Keesokan harinya, seolah ada magnet yang menariknya kembali, Rangga memarkirkan motornya di depan kedai nasi Padang itu lagi.

Ia melangkah masuk, suasananya masih sepi karena baru buka. Rangga mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kedai, terutama ke arah dapur dan etalase kaca. Namun, yang ia dapati hanyalah Nenek Tari yang sedang sibuk mengelap beberapa sendok.

"Eh, Den yang kemarin ya?" sapa Nenek Tari dengan senyum ramah.

"Iya, Nek. Makan di sini ya, seperti biasa saja," jawab Rangga sambil mendudukkan diri di kursi yang sama dengan kemarin.

Rangga menyantap nasi Padangnya perlahan. Sesekali ia menoleh ke arah pintu belakang atau ke arah jalanan, berharap sosok yang kemarin melayaninya muncul dari balik tirai. Namun hingga butir nasi terakhir di piringnya habis, Ayu tetap tidak terlihat.

Sambil mencuci tangan di kobokan, Rangga sempat terdiam sejenak. Ada pergolakan di batinnya. Jika ia bertanya, ia takut terlihat terlalu berharap. Namun jika tidak bertanya, rasa mengganjal ini tidak akan hilang.

Akhirnya, saat membayar, Rangga memberanikan diri.

"Ayu... nggak ada, Nek?" tanya Rangga. Suaranya diusahakan sedatar mungkin

Nenek Tari berhenti menghitung uang kembalian, menatap Rangga.

"Nggak ada, Den. Ayu lagi pergi belanja ke pasar induk dari subuh tadi, mungkin sebentar lagi datang. Mau ditunggu?"

"Oh, nggak usah, Nek. Kebetulan saya juga ada urusan lain," jawab Rangga cepat sambil memakai sarung tangan motornya.

"Nanti kalau dia datang, Nenek sampaikan ya kalau Den tadi nyariin?" tawar si Nenek.

"Nggak usah disampaikan juga nggak apa-apa, Nek. Cuma tanya saja. Mari, Nek," ucap Rangga sopan, lalu segera melangkah keluar sebelum Nenek Tari bertanya lebih jauh.

Ia menyalakan mesin motornya, derunya memecah kesunyian jalanan. Ada rasa kecewa yang tipis di hatinya karena tidak bertemu Ayu.

Rangga mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, Namun, baru beberapa blok meninggalkan area kedai, matanya menangkap sosok yang sangat ia kenali di pinggir jalan.

Itu Ayu. Dia sedang berdiri di samping motor bebek tua yang tampak kepayahan menahan beban beberapa kantong belanjaan besar di jok belakangnya. Ayu terlihat sedang mencoba menyela motornya berulang kali, namun mesinnya tetap bungkam. Keringat tipis terlihat di pelipisnya karena terik matahari mulai terasa.

Rangga meminggirkan motor besarnya tepat di belakang Ayu. Suara mesin motor Rangga yang berat membuat Ayu menoleh seketika.

Rangga membuka kaca helmnya, menatap Ayu yang tampak terkejut sekaligus canggung. Ia tidak ingin basa-basi yang terlalu panjang.

"Mogok?" tanya Rangga singkat.

Ayu menghela napas, tampak pasrah. "Iya, Mas. Tiba-tiba mati tadi."

Rangga turun dari motornya, melihat kondisi motor tua Ayu yang sepertinya memang sudah waktunya masuk gudang. Tanpa menunggu persetujuan, ia langsung mengambil alih beberapa kantong belanjaan yang berisi sayur dan kebutuhan kedai lainnya.

"Biar saya antar," ucap Rangga tegas namun tidak kasar.

"Eh, nggak usah, Mas. Merepotkan. Aku bisa panggil ojek atau tunggu sebentar lagi mungkin bisa nyala," tolak Ayu halus, wajahnya tertunduk.

Rangga tidak menggubris penolakan itu. Ia sudah mulai menata belanjaan Ayu di bagian motornya yang memungkinkan. "Sudah siang, belanjaan ini bisa layu kalau terlalu lama di jalan. Naik, Yu."

Ayu masih ragu, menatap motor bebeknya yang malang. "Terus motor aku bagaimana?"

Rangga mengeluarkan ponselnya sebentar, seolah mengirim pesan singkat, lalu menatap Ayu kembali. "Tinggalkan saja di sini, kunci stang. Nanti karyawan saya dari bengkel yang akan datang ke sini betulkan motor kamu."

Ayu terdiam sejenak. Tidak ada alasan lagi untuk menolak.

"Terima kasih, Mas," ucap Ayu pelan.

Ayu akhirnya naik ke boncengan motor besar Rangga. Selama perjalanan yang singkat itu, tidak banyak kata yang terucap. Rangga fokus menatap jalan di depan, sementara Ayu menjaga jarak duduknya.

Begitu motor besar Rangga berhenti tepat di depan kedai, Nenek Tari yang sedang menyapu teras langsung menghentikan kegiatannya. Matanya membelalak melihat cucunya turun dari motor gagah itu bersama Rangga.

Rangga turun lebih dulu, lalu dengan sigap menurunkan kantong-kantong belanjaan yang cukup berat dari motornya. Ia membawanya sampai ke ambang pintu kedai tanpa menunggu perintah.

Ayu berdiri di samping motor dengan wajah yang masih tampak tidak enak hati. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin jalanan, lalu menatap Rangga yang baru saja meletakkan belanjaan terakhir.

"Terima kasih banyak, Mas. Dan... maaf ya," ucap Ayu pelan, suaranya terdengar tulus sekaligus sarat akan rasa sungkan.

Rangga menoleh, menatap Ayu. "Maaf buat apa?"

"Maaf karena sudah merepotkan. Mas pasti sibuk, tapi malah harus antar jemput belanjaan pasar begini. Belum lagi urusan motor itu... aku jadi enak hati harus minta tolong sampai ke karyawan Mas segala," jelas Ayu

"Nggak usah dipikirkan. Kebetulan saya lewat, dan bengkel juga lagi nggak terlalu ramai. Daripada kamu dorong motor di tengah hari begini, malah lebih repot kalau pingsan di jalan."

Nenek Tari mendekat, menatap bergantian ke arah mereka berdua. "Aduh, untung ada Den Rangga. Terima kasih ya, Den. Ayu ini memang keras kepala, motor sudah batuk-batuk masih saja dipaksa ke pasar."

Rangga hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Nenek Tari. Ia kemudian kembali menatap Ayu yang masih berdiri mematung. "Motor kamu biarkan saja di sana. Anak-anak bengkel sudah jalan, mungkin sepuluh menit lagi sampai di lokasi motor itu. Nanti kalau sudah selesai, mereka yang antar langsung ke sini."

Ayu mendongak, matanya bertemu dengan mata Rangga sejenak sebelum ia kembali membuang muka. "Iya, Mas. Sekali lagi terima kasih."

Rangga mengangguk kecil, lalu berpamitan pada Nenek Tari. Sebelum ia menaiki motornya, ia sempat bergumam pelan, hampir tidak terdengar namun cukup jelas di telinga Ayu.

"Lain kali kalau ada apa-apa, jangan sungkan."

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!