Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.Kebohongan yang Disiapkan
Kebenaran jarang dibunuh secara langsung.
Ia dilemahkan. Dipelintir. Lalu digantikan.
Dan pagi itu, Selvina tidak sadar bahwa seseorang sedang menyiapkan pisau—bukan untuk menusuk punggungnya, melainkan untuk meninggalkan jejak sidik jarinya di gagang.
Ruang sekretariat fraksi perempuan terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa anggota berbisik, sebagian pura-pura sibuk. Tatapan mereka tidak lagi lurus—selalu menghindar.
Selvina berdiri di depan papan data, membaca laporan kegiatan yang baru diserahkan.
Ada yang aneh.
Jam rapat tidak sesuai.
Lokasi tertulis salah.
Dan tanda tangannya—tertera di bawah dokumen yang tidak pernah ia setujui.
“Siapa yang nyusun ini?” tanyanya datar.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Hingga Raisa maju satu langkah. Wajahnya tenang, terlalu tenang.
“Aku,” katanya. “Kita butuh laporan yang rapi. Dengan situasi sekarang… kesalahan kecil bisa jadi masalah besar.”
Selvina menoleh. “Kesalahan kecil?”
Ia menunjuk satu baris. “Ini rapat di sayap barat. Jam malam.”
Raisa mengangkat bahu. “Lokasinya fleksibel.”
“Tidak di Imperion.”
Keheningan menegang.
Raisa menghela napas. “Sel, semua orang sedang mencarimu salah. Aku cuma… menyesuaikan.”
Menyesuaikan.
Kata yang sama yang dipakai orang-orang sebelum menusuk.
“Kau sadar apa artinya ini?” tanya Selvina pelan.
“Artinya,” Raisa menatapnya lurus, “kalau kau jatuh, fraksi ini masih punya alasan untuk bertahan.”
Kalimat itu memukul lebih keras dari rumor mana pun.
“Jadi aku pengorbanannya?” Selvina berbisik.
Raisa tidak menjawab. Dan diamnya adalah pengakuan.
Sore itu, di ruang administrasi siswa, sebuah map cokelat baru masuk ke rak pemeriksaan etik.
Isinya rapi.
Terlalu rapi.
Salinan laporan.
Jadwal yang “dikoreksi”.
Dan satu foto buram—seseorang duduk di sayap barat, malam hari.
Wajahnya tidak sepenuhnya terlihat.
Namun rambut dan posturnya cukup familiar.
Nama di sampul map itu ditulis jelas:
Selvina Kirana.
Seseorang telah bekerja dengan sangat teliti.
Hari Sabtu datang seperti jeda yang salah tempat.
Imperion Academy biasanya lengang di akhir pekan. Siswa-siswa pulang ke rumah orang tua mereka, membawa cucian kotor dan cerita setengah jadi. Koper-koper kecil ditarik di koridor. Tawa ringan terdengar—bebas dari politik sekolah.
Namun taman belakang masih dihuni satu sosok.
Selvina duduk di bangku kayu dekat kolam kecil. Seragamnya sudah berganti sweater tipis abu-abu. Tasnya terletak di samping, tidak terisi banyak barang.
Ia tidak pulang.
Ia tidak ingin pulang.
Langkah sepatu terdengar di kerikil.
“Kau tidak ikut pulang?”
Suara itu membuat Selvina mendongak tanpa terkejut.
Varrendra berdiri beberapa langkah darinya, jaket gelap tersampir di bahu. Tidak ada aura ketua fraksi hari ini. Hanya seorang siswa yang kebetulan melihat seseorang sendirian.
“Stasiun sudah ramai,” lanjutnya ringan. “Aku kira kau di sana.”
Selvina menoleh kembali ke kolam. “Tidak semua orang punya rumah dekat.”
Varrendra duduk di ujung bangku, menjaga jarak. Basa-basi yang canggung—asing bagi keduanya.
“Masalah di asrama?” tanyanya.
Selvina tertawa kecil. “Masalah di mana-mana.”
Hening sejenak.
Lalu, tanpa menoleh, Selvina berkata pelan—jujur dengan cara yang tidak ia rencanakan.
“Rumah gw jauh dari sini. Waktu libur bakal abis di jalan.”
Varrendra menatapnya. Tidak menyela.
“Jadi kadang,” lanjut Selvina, “lebih capek pulang daripada tinggal.”
Angin sore menggerakkan dedaunan. Air kolam beriak kecil.
“Kau tahu,” kata Varrendra akhirnya, “Imperion juga bukan rumah.”
Selvina menoleh. “Tapi kau betah.”
“Aku tahu caranya bertahan,” jawabnya.
Tatapan mereka bertemu. Tidak tajam. Tidak menantang. Hanya lelah yang sama, dari sisi yang berbeda.
“Ada sesuatu yang sedang disiapkan,” kata Varrendra pelan. “Dan kali ini… bukan olehku.”
Selvina tersenyum miring. “Aku sudah terbiasa disiapkan untuk jatuh.”
Varrendra berdiri. “Hati-hati, Selvina.”
Ia melangkah pergi, lalu berhenti sejenak. “Kadang, musuh paling rapi adalah orang yang bilang ingin melindungimu.”
Selvina menatap punggungnya menjauh.
Di taman yang sepi itu, pada hari Sabtu yang seharusnya pulang, ia menyadari satu hal pahit:
Bukti palsu sudah bernapas.
Pengkhianatan sudah memilih wajah.
Dan rumah—entah di mana—tidak menunggu siapa pun.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍