Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.
Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.
Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Merah
Hujan di luar mansion Gemilar telah berhenti, menyisakan hawa lembap yang merayap masuk melalui celah-celah ventilasi. Di dalam kamar utama, Shabiya berdiri di depan jendela besar, menatap bayangannya sendiri pada kaca yang gelap. Ia merasa seperti sedang melihat orang asing. Rambutnya yang kini menjuntai hingga pinggang tampak berkilau lebat, hasil dari perawatan paksa para spesialis rambut yang didatangkan Galen setiap minggu. Ia terlihat cantik, namun kecantikan itu terasa seperti lapisan plastik yang menyekat napasnya.
Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Galen masuk dengan langkah tenang, tangannya menggenggam sebuah kotak kayu besar yang dibalut beludru hitam. Di belakangnya, Arsen berdiri seperti patung, membawa tas kecil berisi peralatan rias.
Galen meletakkan kotak itu di atas tempat tidur. Ia menatap Shabiya, bukan dengan kehangatan seorang suami, melainkan dengan ketelitian seorang pembisnis dunia gelap yang sedang menilai aset berharganya.
"Malam ini, kita akan menghadiri perjamuan pribadi dengan beberapa investor dari Eropa," ucap Galen datar. "Aku ingin kau tampil sempurna."
Shabiya melirik kotak itu dengan firasat buruk. "Aku sudah menyiapkan gaun hitam yang baru dibelikan kemarin, Galen."
"Simpan gaun itu untuk hari lain," Galen membuka tutup kotak beludru tersebut. "Malam ini, kau akan memakai ini."
Di dalam kotak itu terbaring sebuah gaun sutra berwarna merah darah yang sangat pekat. Desainnya luar biasa indah namun memiliki kesan dramatis yang gelap. Kerahnya berbentuk sweetheart dengan aksen renda hitam buatan tangan di sepanjang tepiannya. Kainnya tampak berkilau, seolah-olah ditenun dari benang yang menyimpan rahasia.
Shabiya mendekat, jemarinya menyentuh permukaan kain itu. Ia merasakan sensasi dingin yang aneh. "Ini... ini bukan gaun baru, kan?"
"Itu adalah gaun rancangan desainer ternama Paris, dibuat khusus hanya satu di dunia," jawab Galen, matanya terpaku pada gaun tersebut. "Pakailah. Sekarang."
Shabiya membawa gaun itu ke balik tirai ruang ganti. Saat ia mengenakannya, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Gaun itu pas. Terlalu pas. Seolah-olah setiap jahitan dan lekukannya memang diciptakan untuk mengikuti anatomi tubuhnya. Namun, ada aroma yang tertinggal di serat kain itu, bukan aroma toko baju baru yang steril, melainkan aroma melati yang sudah lama mengendap, bercampur dengan bau kapur barus yang samar.
Ini adalah gaun wanita itu.
Shabiya keluar dari ruang ganti dengan langkah gontai. Saat Galen melihatnya, pria itu seolah berhenti bernapas. Galen melangkah maju, tangannya sedikit gemetar saat ia menyentuh renda hitam di bahu Shabiya. Untuk sesaat, mata Galen yang biasanya sedingin baja tampak berkaca-kaca karena kerinduan yang amat sangat.
"Sempurna," bisik Galen. Suaranya terdengar seperti sebuah mantra.
"Ini gaun milik wanita itu, kan? Milik Thana?" Shabiya bertanya dengan suara yang pecah. "Galen, ini sudah keterlaluan. Aku memakai baju orang mati!"
Wajah Galen seketika mengeras. Kerinduan di matanya menghilang, digantikan oleh otoritas yang mutlak. "Jangan pernah sebut kata itu. Gaun ini adalah karya seni. Dan kau beruntung bisa memakainya."
Galen memberi isyarat pada Arsen. Arsen kemudian memanggil seorang penata rias wanita yang sudah menunggu di luar. Selama dua jam berikutnya, Shabiya duduk di depan meja rias, merasa seperti manekin yang sedang didandani. Rambutnya ditata persis seperti gaya rambut Thana di foto-foto yang ia temukan secara sembunyi-sembunyi, sanggul rendah dengan helai-helai halus yang membingkai wajah.
Riasannya dibuat lebih tajam di bagian mata, menggunakan eyeliner hitam pekat yang membuat sorot matanya tampak lebih dalam dan misterius atau lebih tepatnya, membuatnya tampak tidak seperti dirinya yang asli.
Setelah selesai, Galen berdiri di belakang Shabiya, meletakkan tangannya di bahu istrinya itu. Mereka berdua menatap cermin besar di hadapan mereka.
"Lihat dirimu," ucap Galen pelan. "Bukankah kau terlihat jauh lebih berharga seperti ini?"
Shabiya menatap pantulannya dan merasa ingin berteriak. Wanita di cermin itu memiliki wajahnya, tetapi jiwanya tampak hilang. Ia tidak lagi melihat Shabiya Sena Cantara yang ceria, yang suka melukis dengan jemari kotor oleh cat, yang suka tertawa lepas bersama Misha dan Chana. Wanita di cermin itu adalah boneka porselen berwarna merah darah.
"Aku merasa... aku menghilang, Galen," bisik Shabiya. "Setiap kali kau memaksaku memakai barang-barangnya, setiap kali kau memaksaku menggunakan parfum itu, aku merasa Shabiya di dalam diriku sedang mati lemas."
Galen menunduk, mencium leher Shabiya dengan bibir yang tetap dingin. "Shabiya yang lama hanyalah gadis biasa yang tidak akan pernah bisa bertahan di duniaku. Shabiya yang sekarang... adalah permaisuriku. Shabiya yang akan membuat semua orang berlutut hanya dengan satu pandangan."
"Tapi ini bukan aku!" Shabiya berbalik, mencoba melepaskan diri dari dekapan Galen. "Kau hanya mencintai wajah ini karena mirip dengannya! Kau tidak pernah bertanya apa warna favoritku, apa makanan kesukaanku, atau apa impianku! Kau hanya ingin aku diam dan terlihat seperti dia!"
Galen mencengkeram pinggang Shabiya, menariknya mendekat hingga dada mereka bersentuhan. Napasnya terasa berat. "Kau ingin tahu apa impianku, Shabiya? Impianku adalah menghentikan waktu. Dan malam ini, saat kau memakai gaun merah ini, waktu seolah berhenti bagiku. Kau akan tetap seperti ini. Selamanya."
Mereka tiba di restoran privat yang berada di atas gedung Gemilar Tower. Di sana, para investor Eropa sudah menunggu. Sepanjang malam, Shabiya hanya menjadi pelengkap visual. Galen berbicara tentang angka, merger, dan akuisisi dengan kefasihan yang luar biasa, sementara tangannya tidak pernah melepaskan jemari Shabiya di bawah meja.
"Istri Anda sungguh mempesona, Tuan Gemilar," ucap salah satu investor, seorang pria tua dari Jerman. "Dia memiliki aura klasik yang jarang ditemukan di zaman modern ini."
Galen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepuasan predator. "Dia adalah satu-satunya di dunia, Tuan Muller. Dan saya tidak akan membiarkan siapa pun merusak auranya."
Shabiya merasa mual. Setiap pujian yang ditujukan padanya sebenarnya ditujukan pada wanita itu, Thana, yang sedang ia perankan. Gaun merah itu terasa semakin ketat, mencekik tulang rusuknya, membuat setiap napas yang ia ambil terasa berat. Ia merasa identitasnya perlahan-lahan luntur, tersapu oleh dominasi Galen yang begitu pekat.
Saat mereka pulang ke mansion, suasana kembali sunyi. Galen langsung pergi ke ruang kerjanya tanpa berkata apa-apa lagi, meninggalkan Shabiya sendirian di kamar yang luas.
Wanita itu berdiri di depan meja rias lagi. Ia mencoba melepaskan ritsleting gaun merah itu, namun tangannya bergetar terlalu hebat. Ia akhirnya menyerah dan jatuh terduduk di lantai, menangis tanpa suara di atas karpet yang tebal.
Ia menyadari bahwa perjuangannya untuk mempertahankan jati diri semakin sulit. Gaun merah itu bukan sekadar pakaian, itu adalah pernyataan perang dari Galen terhadap identitas Shabiya. Dengan setiap aturan, setiap pakaian, dan setiap aroma melati yang dipaksakan, Galen sedang menghapus eksistensi Shabiya, inci demi inci, sampai tidak ada lagi yang tersisa selain raga yang cantik untuk menampung memori seorang wanita yang telah lama mati.
Malam itu, Shabiya tidur dengan gaun merah itu masih melekat di tubuhnya, merasa seperti sedang dibungkus oleh kain yang paling mewah di dunia. Ia takut jika ia memejamkan mata, saat ia bangun nanti, ia tidak akan lagi mengingat siapa nama aslinya. Sang pemilik kegelapan telah berhasil membangun lantai pertama dari penjara identitasnya, dan Shabiya mulai merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa melarikan diri dari bayangan gaun merah tersebut.
👊nggo galen🤭
baru mulai... ky'a seru