🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gangguan pagi
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Parkiran gedung kantor masih setengah lengang ketika Yura tiba. Deretan mobil tampak tersusun rapi, sebagian besar masih kosong.
Yura melangkah cepat, nyaris berlari kecil, hatinya berdebar dengan perasaan yang sulit ia jelaskan, antara tidak sabar, gugup, dan keyakinan yang terasa terlalu besar untuk disebut wajar.
"Tenang," gumamnya sendiri. "Semua akan berjalan sesuai rencana." tangannya mencengkeram tali tas.
Ia menuju lift khusus karyawan, jalur yang hampir selalu ia gunakan setiap pagi. Saat jaraknya tinggal beberapa langkah, seseorang muncul dari arah berlawanan.
"Yura." suara itu membuat langkahnya terhenti.
Rendra berdiri di sana, wajahnya sedikit pucat, kemeja rapi namun dasinya tampak longgar. Napasnya tidak terengah, tetapi jelas terburu-buru. Tangannya memegang perutnya sekilas, lalu segera diturunkan, seolah tidak ingin terlihat lemah.
"Kak Rendra?" Yura refleks mendekat. "Kenapa? Kakak kelihatan… terburu-buru."
Rendra menoleh sekilas ke arah lorong, lalu kembali menatap Yura. "Aku butuh bantuanmu sebentar," katanya cepat. "Aku harus ke toilet sekarang juga."
Yura mengangguk tanpa berpikir panjang. "Apa, Kak?"
Rendra mengulurkan tas berwarna hitam, disertai beberapa map dokumen yang ia genggam erat. "Ini. Tolong pegang dulu."
Yura langsung menerima tas itu. "Oh. Baik."
"Kalau kau naik ke atas duluan," lanjut Rendra, nadanya menurun tapi tetap tergesa, "Tolong letakkan tas dan dokumen ini di atas mejaku. Maaf merepotkanmu, aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi."
Yura menggeleng cepat. "Santai saja, Kak."
Rendra menghela napas lega. "Terima kasih." ia berbalik hampir berlari kecil ke arah toilet, meninggalkan Yura yang berdiri dengan tas dan dokumen di tangannya.
Yura menatap tas di tangannya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Ia menarik napas, lalu tersenyum kecil. Senyum yang kali ini tidak sepenuhnya jernih.
"Sepertinya… semesta memang sedang berpihak padaku," ucapnya lirih.
......................
Begitu pintu terbuka, suara ramai karyawan mulai terdengar. Yura melangkah keluar, langsung menuju meja Rendra, meletakkan tas dan dokumen persis seperti permintaan. "Sudah," gumamnya. "Selesai." ia berbalik menuju mejanya sendiri.
"Kau?"
Suara itu membuatnya menoleh.
Rani berdiri beberapa langkah dari mejanya, alisnya terangkat tinggi. "Kau sudah datang?" tanya Rani. "Biasanya aku yang duluan."
Yura tersenyum. "Hari ini aku bangun lebih pagi."
Rani menyipitkan mata. "Bukan itu saja yang aneh."
"Aneh bagaimana?" Yura duduk dan menyalakan komputernya.
"Kau tersenyum-senyum," jawab Rani datar.
Yura berhenti mengetik. "Aku memang tidak boleh tersenyum?"
"Boleh," sahut Rani cepat. "Tapi bukan senyum seperti itu."
"Senyum seperti apa?"
"Seperti orang yang baru saja memenangkan sesuatu."
Yura tertawa kecil. "Kau terlalu berlebihan."
Rani hendak membalas, namun langkah kaki membuatnya menoleh. Seseorang berjalan mendekat dengan langkah cepat namun tetap rapi, Rendra.
Yura juga menyadarinya. Senyumnya yang tadi sudah lebar, kini tanpa sadar semakin mengembang.
Rendra berhenti. "Terima kasih soal yang tadi," ucap Rendra singkat.
Yura hanya menatapnya. Tidak berkata apa pun. Ia tersenyum lebih lebar, hangat, dan terlalu jujur untuk disembunyikan.
Rendra sempat terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk kecil. "Aku lanjut dulu."
"Iya, Kak," jawab Yura akhirnya, masih dengan senyum yang sama.
Tanpa menambahkan apa pun, Rendra melangkah pergi, menuju mejanya sendiri.
Begitu punggung Rendra menjauh, Rani perlahan menoleh ke Yura.
Yura masih tersenyum, menatap layar komputernya. Tangannya diam di atas keyboard, bahunya rileks, seolah baru saja mendapat kabar terbaik dalam hidupnya.
Rani akhirnya mengerti. Ia pun kembali ke mejanya tanpa komentar apa pun.
Di sisi lain Rendra mengambil tas dan map yang tadi diletakkan Yura. Ia merapikannya sebentar, lalu berjalan menuju ruangan Alexa.
Ia mengetuk singkat.
"Masuk."
Rendra membuka pintu dan melangkah masuk. "Ini, Pak," katanya sambil meletakkan tas dan dokumen di atas meja kerja Alexa.
Alexa mengangkat pandangan dari layar laptopnya. Tatapannya tajam seperti biasa, dingin, tanpa ekspresi. "Lama sekali," ucap Alexa datar.
"Maaf, Pak," jawab Rendra cepat. "Tadi saya harus ke toilet sebentar."
Alexa menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. "Pastikan hal seperti ini tidak membuat saya menunggu lama."
"Baik, Pak."
Alexa menutup berkas di hadapannya. "Lanjutkan pekerjaanmu."
Rendra mengangguk. "Baik, Pak." ia pun berbalik dan keluar dari ruangan itu.
Pintu ruangan tertutup perlahan setelah Rendra pergi.
Alexa tidak langsung kembali menatap layar. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi, jemarinya terlipat di atas meja, tatapannya kosong namun tetap tajam.
Bayangan tadi kembali muncul tanpa diundang. Adegan singkat yang terlalu akrab antara asistennya dan seorang wanita itu terasa mengganggu, bukan karena urusannya, melainkan karena waktunya.
"Seharusnya ia tidak melakukan hal seperti itu di pagi hari," gumam Alexa pelan.
Ia menghela napas pendek. Gangguan sekecil apa pun selalu terasa berlebihan baginya, terlebih ketika mengusik ritme kerja yang sudah tertata. Dan pagi ini, Rendra telah melakukannya.
"Semoga saja dia tidak mengulanginya lagi," ucapnya datar, seolah menegaskan batas yang tidak boleh dilanggar.
Alexa lalu meraih tas kerjanya. Ia berniat mengambil satu berkas lain sebelum rapat dimulai. Tangannya masuk tanpa ragu, mengikuti kebiasaan yang sudah dihafalnya dengan baik.
Namun yang tersentuh bukan kertas.
Gerakannya terhenti.
Alisnya berkerut saat jemarinya merasakan sesuatu yang lembut, bertekstur kain. Ia menarik tangannya keluar perlahan.
Sebuah kantong kain rajut kecil berwarna cokelat tergeletak di telapak tangannya.
"Apa ini?" ucapnya lirih.
Ia menatap benda itu beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.
Tatapannya mengeras. Alexa sangat yakin, ia tidak pernah memiliki benda seperti ini. Apalagi membawanya ke kantor.
Di dalam tasnya, selama ini hanya ada dokumen, pulpen, dan barang-barang kerja.
Tidak pernah lebih.
Ia memutar kantong kecil itu, memperhatikan rajutannya yang rapi namun sederhana. Napasnya terasa lebih pendek.
"Ini bukan milikku."
Dengan gerakan tenang, Alexa membuka ikatan kain tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah botol kaca kecil berisi cairan gelap.
Ia mengangkatnya setinggi mata. "Rendra?" gumamnya lirih, setengah ragu.
Keraguan itu bertahan sejenak sebelum rasa ingin tahu mengambil alih. Alexa membuka tutup botol tersebut perlahan.
Dan seketika aroma itu langsung menyeruak begitu botol dibuka. Manis.
Hangat. Lembut, namun memaksa perhatian Alexa seketika.
Tenggorokannya bergerak tanpa ia sadari. Dadanya menghangat, ada dorongan aneh yang ingin sekali ia lakukan, seperti meneguk cairan itu sekarang juga.
Alexa mengernyit, menahan diri. "Apa-apaan ini…" gumamnya pelan.
Aroma itu membuka sesuatu dalam dirinya, sesuatu yang ia selalu kunci rapat. Ia menatap botol kecil itu, jari-jarinya menegang, lalu tanpa sadar membuka kain rajut yang menutupinya.
Di dalamnya, sebuah kertas kecil, "Saya tahu Anda orangnya seperti apa. Anda tidak sejahat itu. Anda hanya butuh hiburan. Ini ada sedikit pengharum yang cocok untuk merilekskan pikiran. Semoga Anda menyukainya. by: Yura."
Alexa menatap botol dan kertas itu, rahangnya mengeras, pandangan dingin menembus meja Yura dari kejauhan. Botol kecil itu kini digenggam lebih erat, memicu rasa penasaran sekaligus kesal yang sulit ia kendalikan.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺