"Tinggalkan putraku dan ambil ini! Ingat jangan kau injakkan kaki kotor mu itu di mansion keluarga Xie." Xie Lihua
"Baik Nyonya, saya akan pergi dari sini. Dan ini amplop dari anda, saya bukan seperti apa yang anda pikirkan." Lin Wu
"Shit! Beraninya dia pergi meninggalkanku, lihat saja aku akan menghukumnya dan membawanya kembali ke sisiku." Xie Yanshen
Dua insan yang terpaksa menikah karena sebuah scandal dan juga tuntutan dari Tuan Jin Hao, Ayah Yanshen. Pernikahan yang tak diinginkan itu membawa Lin Wu ke dalam neraka kehidupan. Lihua, Ibu Yanshen begitu membencinya hingga suatu hari dia sukses menyingkirkan Lin Wu.
Tanpa ada seorang pun tahu, bahwa Lin Wu pergi membawa rahasia besar. Dan kepergiannya membuat Yanshen murka.
Akankah Yanshen tahu rahasia besar Lin Wu? Dan berhasilkah Yanshen membawa kembali wanita yang masih sah menjadi istrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBSK 8
Di sebuah ruangan yang begitu luas nan mewah, nampak seorang lelaki dengan wajah tegasnya dan dingin, tidak ada senyum sedikitpun di bibirnya itu, juga pandangan mata yang sangat tajam, siapapun akan takut melihat wajah lelaki itu, siapa lagi kalau bukan Yanshen. Namun berbeda saat dia sedang sendiri di dalam ruangan, lelaki itu akan berubah menjadi rapuh, dalam diamnya dia selalu meratapi kebodohan yang telah dia perbuat di masa lalu.
Ya, saat ini Yanshen sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya. Terlihat jelas gurat kesedihan di raut wajah rupawan nya itu, namun tetap saja tak mengurangi ketampanan yang dia miliki.
Semenjak kehilangan sang istri, senyum di bibirnya pun ikut sirna. Bahkan, kini Yanshen menjadi lelaki yang gila kerja guna untuk mengalihkan rasa rindunya sesaat pada sang istri. Seperti sekarang ini, meskipun sudah lewat jam kerja tapi hal itu tidak berguna bagi Yanshen. Baginya tidak ada gunanya dia pulang ke mansion, toh disana sudah tidak ada lagi sosok istri yang sangat dia rindukan. Yanshen sendiri lebih memilih menjadikan kantornya tempat tinggalnya sekalian. Kalaupun dia ingin pulang, hanya satu yang menjadi tujuannya yaitu rumah sang mertua. Dan disana dia akan tidur di kamar sang istri untuk mengobati rasa rindunya itu.
"Lin Wu, Sebegitu bencinya kah kau padaku? Sampai-sampai kau menghilang begitu saja tanpa pamit dan meninggalkanku seorang diri disini. Kau tahu, semenjak kau pergi aku hampir saja gila tanpamu. Setiap hari aku mencari mu kesana kemari, bahkan aku telah mengerahkan seluruh bodyguard untuk mencari keberadaan mu. Tapi, tetap saja mereka tidak bisa menemukanmu," gumam Yanshen menatap sendu pada sebuah pigura kecil di atas meja kerjanya. Dimana di dalamnya terdapat foto Lin Wu yang sedang tersenyum manis. Tangan besarnya tak henti mengelus foto sang istri.
Sungguh hal seperti ini sangat menyiksa Yanshen, bagaimana tidak? Setiap hari dia harus bergelut dengan rasa rindu yang membuncah di benaknya, namun tak ada hal yang dapat lelaki itu lakukan selain menatap foto sang istri. Dan hanya dengan cara itulah dia mengobati rasa rindunya selama tujuh tahun ini.
Tak terasa sudah tujuh tahun Lin Wu pergi meninggalkan kota Shanghai, kepergian perempuan itu benar-benar telah menyiksa Yanshen juga berpengaruh negatif pada kehidupannya. Dimana lelaki itu setiap hari datang mengunjungi club, tempat pertama kali dia bertemu dengan Lin Wu berharap di tempat itu dia akan menemukan sang istri. Namun, faktanya semua tidak sesuai dengan ekspektasinya. Yang ada, lelaki itu berakhir kembali mabuk berat seperti hari-hari sebelumnya. Beruntung ada Fen Ang yang setia menemani Yanshen pergi, dan membawa lelaki itu pulang ke apartemennya.
"Maafkan aku Lin Wu. Maaf, telah membuat kesepakatan yang menyakitimu. Aku mohon segeralah pulang, tolong jangan pernah tinggalkan aku lagi, sayang."
"Aku janji akan menemukan kau dimanapun kau berada dan membawamu kembali ke mansion, sayang. Aku tidak akan pernah menikah lagi dengan perempuan manapun karena istriku hanya satu yaitu kau. Sampai kapanpun kau tetap menjadi istriku, sekeras apapun kau menginginkan perceraian dan keras itu pula aku akan mempertahankan mu. Kau hanya milikku, tidak ada satupun orang yang berhak memilikimu kecuali aku," kekeh Yanshen sambil terisak menatap foto sang istri.
"Lin Wu, kumohon kembalilah sayang. Jujur aku tidak bisa hidup tanpamu, tidurku tidak nyenyak bila tidak ada kau di sampingku. Maafkan atas kebodohanku yang kemarin telah membuatmu terluka. Aku mohon, pulanglah sayang. Aku tidak akan pernah menceraikan mu, sayang. Bila perlu aku akan mencari mu sampai ke ujung dunia sekalipun," raung Yanshen sambil tersedu-sedu. Air mata kembali membasahi wajah rupawan nya.
Seketika Yanshen teringat sesuatu yang membawanya ke masa lalu dimana dia yang sempat datang ke rumah sang mertua.
FLASHBACK ON
"Maaf Tuan, anda mencari siapa?" tanya seorang wanita paruh baya yang kebetulan menyiram bunga di halaman depan rumahnya. Wanita itu melirik sekilas sambil melanjutkan kegiatannya.
Jujur saja, wanita tersebut cukup terganggu dengan perbuatan lelaki yang ada di sebelah rumahnya. Hingga akhirnya dia pun bersua yang sekian lama wanita paruh baya itu tampak acuh.
Ya, sedari tadi tampak lelaki tampan dengan setelan kemeja berwarna putih dengan balutan jas hitam membalut tubuh kekarnya itu tengah berdiri di ambang pintu rumah minimalis. Sudah sepuluh menit lelaki itu setia menunggu sambil berdiri, sesekali dia mengetuk daun pintu yang berwarna coklat di hadapannya. Namun, hasilnya tetap sama tidak ada jawaban dari dalam sana. Lelaki itu tak lain adalah Yanshen yang begitu setia berdiri berharap sang istri keluar membukakan pintu untuknya. Tanpa dia sadari bahwa kini ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya.
"Saya datang untuk menjemput istri saya, Bu." Yanshen menoleh sekilas, menjawab dengan acuh kemudian kembali mengetuk daun pintu untuk yang kesekian kalinya.
"Anda Tuan Yanshen bukan, suami Lin Wu?" tebak seorang wanita paruh baya yang kini telah berada di belakang tubuh lelaki tampan itu.
Yanshen menghela napas beratnya, sedikit kesal karena sedari tadi dia merasa terganggu dengan pertanyaan wanita paruh baya itu. Terlebih dirinya yang masih belum mendapatkan sahutan dari dalam rumah mertuanya. Sebelum akhirnya Yanshen memutar tumitnya menatap pada wanita paruh baya yang ada di belakangnya saat ini.
"Iya benar, saya suaminya Lin Wu. Apa ada hal penting lagi yang Ibu tanyakan?" jawab Yanshen dengan nada sedikit ketus.
"Ah, kebetulan anda datang kesini. Ada sesuatu yang ingin saya berikan pada anda, tunggu sebentar Tuan." Wanita paruh baya itu tersenyum lega setelah mendengar jawaban Yanshen, kemudian pamit untuk mengambil sesuatu dari dalam rumahnya.
Sementara Yanshen memutar malas bola matanya melihat kelakuan wanita paruh baya itu yang menurutnya tidak penting. Karena saat ini tidak ada hal penting selain bertemu dengan sang istri. Tapi, tanpa Yanshen sadari bila wanita itu merupakan salah satu kunci yang memberikan dia petunjuk bila Lin Wu dan Ibunya sudah tidak tinggal lagi di rumah itu, mengingat kunci rumah telah dititipkan oleh Lin Wu pada tetangga rumahnya.
Lin Wu telah memutuskan pergi dan menitipkan kunci rumah pada tetangga rumahnya yang dia percaya. Dia yakin suatu saat Yanshen akan datang ke rumahnya. Bukan tanpa alasan Lin Wu merencanakan hal itu, dia berharap Yanshen mengambil dan membawa semua uang yang telah Yanshen berikan pada Ibunya. Dengan begitu, namanya tidak akan terlalu buruk di mata keluarga Xie yang telah mengklaim dirinya sebagai perempuan j*lang.
"Ini, Tuan." Tak lama datanglah seorang wanita paruh baya tadi mendekati Yanshen sambil menyodorkan benda kecil yang dia ambil dari dalam rumahnya.
Yanshen pun menoleh, berkerut alis dalam menatap sebuah benda kecil yang ada di tangan wanita itu.
"Apa ini?" tanya Yanshen penasaran. Dia tahu betul bahwa benda itu adalah kunci, tapi dia masih belum paham dengan maksud wanita paruh baya itu.
"Ini kunci rumah Ibu Jiao, Tuan. Sebelum mereka pergi, Lin Wu menitipkannya ke saya. Dia bilang kalau ada lelaki yang bernama Yanshen, saya disuruh memberikan kunci ini pada Tuan," terang wanita tersebut.
"Apa, pergi? Dia pergi kemana Bu?"
.
.
.
🥕Bersambung🥕