Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 : Konflik di Ruang Dewan Solera
Pukul sepuluh pagi. Ruang dewan Solera Luxury Homes terasa dingin dan tegang. Jendela-jendela setinggi langit-langit menyuguhkan pemandangan Madrid yang cerah, kontras dengan suasana kelam di dalam. Alicia Valero duduk di ujung meja, posisi yang dulunya milik Santiago. Di sampingnya, Rafael Montenegro duduk sebagai mitra strategis, kehadirannya saja sudah merupakan ancaman bisu.
Di hadapan mereka duduk empat anggota dewan direksi yang tersisa, yang semuanya adalah loyalis lama Santiago. Wajah-wajah mereka memancarkan campuran ketakutan, amarah, dan penghinaan.
“Selamat pagi,” sapa Alicia, suaranya tenang, seolah ia hanya menanyakan laporan mingguan. “Setelah keberhasilan luar biasa Proyek Palang Merah dan kemenangan Proyek Ibiza, saya rasa kita harus membahas restrukturisasi internal.”
Don Mateo, anggota dewan tertua dan paling vokal, mengangkat dagunya. “Restrukturisasi apa, Alicia? Saya melihat hasil yang baik, ya. Tapi saya juga melihat kerugian etika dan penggabungan yang tidak perlu dengan Montenegro Group. Kami tidak menyetujui Proyek Palang Merah Anda yang memotong 50% keuntungan, hanya untuk melancarkan ego Anda menghancurkan Santiago.”
“Ah, Don Mateo. Seperti biasa, anda selalu jujur,” balas Alicia, tersenyum tipis. “Namun, itu bukan kerugian etika; itu adalah biaya untuk membersihkan nama baik Solera setelah Santiago menodainya. Mengenai Montenegro Group, mereka menyelamatkan Proyek Ibiza setelah ada kebocoran internal yang merugikan kita. Saya hanya bertanya... siapa yang membocorkan hal sepenting ini?”
Keempat pria itu saling pandang. Pertanyaan Alicia menusuk ke inti pengkhianatan mereka terhadap perusahaan.
“Anda menuduh kami, Nyonya Valero?” tanya Don Emilio, matanya menyipit.
“Saya akan menganggapnya tidak setia kepada perusahaan, Don Emilio. Setia kepada kepentingan Santiago yang sudah tidak relevan. Saya CEO perusahaan ini, dan saya menuntut loyalitas total,” kata Alicia, nadanya semakin dingin.
Rafael, yang selama ini hanya diam mengamati, bersandar ke depan dengan mata tajam. “Biarkan saya mempermudah. Dewan ini terdiri dari empat orang. Dan perusahaan ini tidak membutuhkan empat penentang yang tidak produktif.”
“Anda tidak punya hak untuk mencampuri urusan Solera, Tuan Montenegro!” seru Don Mateo, memukul meja.
“Tetapi saya punya hak atas 10% saham, yang berarti saya punya hak untuk menyingkirkan kerugian,” balas Rafael. “Santiago sudah keluar. Dewan ini harus mendukung visi Alicia untuk Solera-Montenegro, atau Anda keluar. Pilihannya sederhana: uang pesangon atau penyelidikan forensik atas dugaan kebocoran internal.”
Ancaman penyelidikan forensik membuat wajah keempat pria itu pucat. Itu berarti kemungkinan pengungkapan kesalahan masa lalu yang terkait dengan Santiago.
Alicia mengambil alih kembali. “Saya tahu Anda menerima gaji tinggi untuk menjadi boneka Santiago. Saya tidak akan mempermalukan Anda. Saya menawarkan paket pensiun dini yang sangat murah hati untuk mengakhiri kontrak Anda hari ini. Jika Anda menolak, kami akan memulai penyelidikan yang akan memakan waktu berbulan-bulan, menghancurkan reputasi Anda, dan merugikan Solera di pengadilan.”
Don Mateo menatap Alicia dengan jijik yang mendalam. “Anda menjadi persis seperti dia—monster berdarah dingin!”
“Tidak, Don Mateo. Saya tidak menjadi seperti Santiago. Santiago tidur dengan musuh-musuhnya. Saya tidur dengan mitra saya,” balas Alicia, menatap Rafael, menegaskan bahwa hubungan mereka adalah kontrak yang sah dan kuat.
Perkataan Alicia, yang secara terbuka mengakui hubungan intimnya di depan dewan, adalah pukulan terakhir. Mereka menyadari Alicia tidak takut pada moralitas atau konsekuensi. Ia adalah kekuatan yang tidak terhentikan.
Satu per satu, keempat anggota dewan tersebut mulai melunak. Don Mateo adalah yang terakhir.
“Kau menghancurkan segalanya yang berharga dari perusahaan ini, Alicia,” bisik Don Mateo, penuh penyesalan.
“Tidak, Don Mateo. Santiago yang menghancurkannya. Saya hanya mengamankannya,” kata Alicia. “Tandatangani dokumen pesangon Anda. Nikmati pensiun Anda. Dan lupakan pernah mengenal nama Valero.”
Setelah empat loyalis Santiago menandatangani dokumen dan meninggalkan ruangan dengan kepala tertunduk, Alicia bersandar di kursinya. Ruang dewan itu kini bersih.
Rafael mendekat, mencium pelipisnya. “Itu adalah pembersihan yang efisien, mi reina. Kau adalah pembunuh berdarah dingin yang paling elegan.”
“Sekarang, kita bisa memulai negosiasi yang sebenarnya,” balas Alicia, matanya menyala.
Sementara itu, Santiago dan Isabel berada di apartemen baru mereka yang jauh lebih kecil dan lebih biasa, di pinggiran Chamberí.
Ketegangan di antara mereka sudah mencapai titik didih sejak keberhasilan Proyek Palang Merah. Isabel merasa digunakan dan dikhianati oleh Alicia, sementara Santiago tenggelam dalam amarah dan penyesalan.
Malam itu, mereka berada di kamar tidur. Isabel berbaring di tempat tidur, mencoba memulihkan keintiman yang telah lama hilang.
“Santiago, bisakah kita lupakan Dewan Direksi dan Alicia sebentar saja? Aku membutuhkanmu,” pinta Isabel, suaranya lembut, mencoba menarik Santiago yang sedang menatap kosong ke langit-langit.
Santiago tidak bergeming. “Bagaimana aku bisa melupakan? Alicia baru saja menyingkirkan semua orang yang setia padaku. Dia mencuri proyek Cielo Alto dan mengubahnya menjadi alat amal Rafael Montenegro! Aku melihat wawancara itu, Isabel. Dia tidak peduli pada keuntungan, dia hanya peduli pada penghinaan!”
“Kita masih punya Yayasan, Santiago! Kita masih bisa melawannya!” seru Isabel, bangkit dan mendekati Santiago.
“Yayasan? Yayasanmu sudah dikalahkan oleh uang 50 juta Euro Rafael! Kau adalah Direktur yang menolak uang untuk perumahan sosial! Kau sudah tidak ada artinya, Isabel! Sama seperti aku!”
Kata-kata Santiago menusuk Isabel. Ia mundur, wajahnya terluka. “Kau tidak bisa bicara seperti itu, Santiago! Aku mempertaruhkan segalanya untukmu! Aku meninggalkan kehidupan nyamanku! Aku adalah wanita yang bersamamu disaat kau hancur! Hanya aku, Santiago! Aku... bukan Alicia!!!”
“Dan apa yang kau berikan kepadaku? Masalah! Kau hanya memberiku alasan yang ia butuhkan untuk menghancurkanku!” raung Santiago.
Isabel mulai menangis. Ia meraih tangan Santiago, mencoba menyentuhnya. “Tidak, Santiago. Aku memberimu gairah! Aku memberimu kehangatan yang tidak pernah diberikan Alicia! Ingat? Kau bilang dia wanita yang dingin!”
Santiago menepis tangan Isabel. Ekspresinya penuh kehinaan, bukan hanya pada dirinya sendiri, tetapi juga pada Isabel.
“Alicia dingin? Ya! Tapi sifat dinginnya Alicia berharga miliaran Euro! Dinginnya Alicia memberiku martabat! Kau? Kau memberiku penghinaan publik! Saat Alicia menatapku dengan jijik, aku tahu aku adalah pria yang hilang! Aku tidak pernah mencintai sifat dinginnya Alicia, tetapi aku menghormati kekuatannya! Sekarang, aku tidak punya apa-apa lagi!”
Isabel terhuyung mundur. Ia akhirnya menyadari kebenaran yang kejam: Santiago hanya menggunakan Isabel sebagai pelarian dan kini menyalahkannya atas kehancuran yang diciptakan oleh kelemahannya sendiri.
“Kau bajingan, Santiago! Kau menghancurkan aku! Kau memaksaku menjadi badutnya Alicia!” jerit Isabel.
Isabel menangis histeris. Ia naik ke ranjang, mendekati Santiago, mencoba memeluknya dengan putus asa. “Tolong, Santiago! Buktikan padaku! Buktikan kau masih seorang pria! Seperti yang kau lakukan dulu!”
Santiago menatap Isabel. Ia melihat Gardenia Putih itu, bukan lagi sebagai pembebasan, melainkan sebagai simbol kegagalannya. Ia meraih Isabel dengan kasar, menariknya ke dalam pelukan yang bukan karena gairah, tetapi karena kebutuhan putus asa untuk membuktikan sesuatu—kepada dirinya sendiri, bukan kepada Isabel.
Ciuman mereka kasar dan penuh kebencian. Mereka bercinta, tetapi itu adalah pertempuran yang kejam dan menyedihkan, bukan gairah. Isabel mencoba merasakan kehangatan yang dijanjikannya, tetapi yang ia rasakan hanyalah keputusasaan Santiago yang berat.
Di tengah keintiman yang dingin itu, Santiago memejamkan mata, dan yang ia lihat bukanlah wajah Isabel, tetapi senyum dingin Alicia yang penuh kemenangan di ruang dewan. Ia mencapai puncak kehancurannya, dan saat itu terjadi, ia tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa mendapatkan kembali Alicia, atau martabatnya.
Isabel berbaring di sampingnya, menangis pelan.
“Kau mencintai Alicia, kan? Katakan, Santiago!!” tanya Isabel, suaranya pecah.
Santiago tidak menjawab. Ia hanya menoleh, menatap Isabel dengan mata kosong.
“Aku hanya mencintai apa yang ia wakili: kekuasaan dan kendali,” bisik Santiago. “Dan sekarang, semuanya ada di tangan Rafael.”
Malam harinya, di penthouse Rafael di La Castellana, suasananya adalah antitesis total dari ranjang patah Santiago.
Alicia dan Rafael baru saja kembali dari makan malam perayaan. Mereka berdiri di balkon, menikmati pemandangan lampu-lampu Madrid.
“Mereka semua menandatangani, Rafael,” kata Alicia, puas. “Kini Dewan Direksi sudah dibersihkan. Kita sekarang bisa fokus pada merger dan pembangunan kembali Solera.”
“Kerja bagus, mi reina. Kau adalah CEO yang lebih kejam daripada Santiago saat ia mabuk kekuasaan,” puji Rafael.
Alicia berbalik menghadap Rafael, raut wajahnya berubah serius. “Tapi aku butuh lebih darimu, Rafael. Aku melihat kehancuran Santiago hari ini. Aku melihat betapa rapuhnya dia, dan aku... aku melihat kehancuran Isabel.”
“Dan kau takut menjadi rapuh?” tanya Rafael, memeluk pinggangnya erat.
“Aku takut menjadi rapuh dan tidak memiliki kendali,” aku Alicia. “Aku ingin tahu, apa yang membuatmu tetap kuat?”
“Kau,” jawab Rafael tanpa ragu. “Keinginan untuk menaklukkanmu dan menjaga apa yang telah kumiliki. Kau adalah kendali yang paling berharga.”
Rafael menciumnya, ciuman itu dalam dan menuntut. Malam itu, power-play mereka terasa berbeda. Alicia tidak lagi mencari bukti bahwa dia tidak dingin, tetapi kehangatan dan validasi yang tidak akan pernah bisa diberikan Santiago.
“Jangan pernah melihatku seperti Santiago melihat Isabel,” pinta Alicia, nafasnya terengah-engah.
“Tidak akan pernah,” janji Rafael, mengangkatnya. “Aku melihatmu sebagai Ratu. Dan ranjang ini adalah singgasanamu.”
Mereka bercinta dengan intensitas yang penuh percaya diri, jauh dari keputusasaan. Itu adalah negosiasi gairah di mana kekuatan adalah foreplay utama, dan kesetiaan mutlak adalah klimaksnya. Rafael memastikan Alicia tahu bahwa ia adalah pasangannya yang setara dalam segala hal, bahkan dalam hasrat.
Keesokan harinya, mereka akan mulai bekerja pada merger besar. Tetapi malam ini, mereka hanya menikmati kemenangan total mereka atas Santiago, yang kini terdampar sendirian di ranjang patahnya.