Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Keesokan harinya Yasmine sedang bersiap untuk pergi ke rumah Fatih ditemani keluarga Alie. Awalnya Yasmine menolak karena ia tidak ingin merepotkan mereka namun mereka tetap kekeuh untuk mengantarnya. Di depan cermin Yasmine mengatur napasnya. Khaulah berdiri dibelakang Yasmine.
"Sudah cantik." pujinya
"Makasih sal." Yasmine menatap khaulah. "Gue takut sal."
"Ada aku disini temenin kamu, janji."
Yasmine memeluk khaulah menumpahkan kekhawatirannya. Khaulah membalas pelukan tersebut dengan tulus.
"Salma, Yasmine, ayo kita berangkat sekarang." panggil fatemah
"Iyah umi. Ayo kita keluar." ajak khaulah
Yasmine mengangguk. "Bentar gue ambil tas dulu." seusai mengambil tasnya Yasmine menggandeng lengan khaulah.
Saat keluar kamar sudah disambut senyuman hangat oleh kedua orang tua khaulah.
"Maaf yah tante, om, saya jadi repotkan kalian."
"Tidak sama sekali, ayo kita berangkat."
Mereka pun sama-sama keluar rumah menuju mobil yang sudah terparkir didepan rumah lantas mereka memasuki mobil. Mobil pun berjalan keluar gerbang meninggalkan rumah dan pesantren.
"Yasmine tinggal di Jakarta yah?"
"Iyah tante."
"Dari kecil sudah di Jakarta?"
"Umi, jangan kepo." tegur Alie.
Fatemah cemberut kesal, namun tidak dipungkiri kalau yang dikatakan suaminya itu benar. "Maaf yah nak."
"Gapapa kok tante, Yasmine kecil tinggal sama umma Hafshah dan aba Ahmed. Lalu saat remaja, Yasmine tinggal sama bunda dan ayah di Jakarta."
"Oh begitu ceritanya. Makasih yah nak sudah berbagi cerita.*
"Sama-sama tante." Yasmine tersenyum
Sementara itu dirumah Hafshah sedang menyiapkan berbagai makanan untuk tamunya yang akan datang. Dibantu oleh abdi ndalem.
"Seperti nya tamu spesial yah umi?" tanya Eva
"Iyah nak."
Semuanya sudah siap dan lengkap tertata rapi di atas meja makan. Hafshah senantiasa tersenyum merasa puas dengan hasilnya dan rasa bahagianya yang akan bertemu dengan keponakan nya.
"Alhamdulillah sudah selesai umi."
"Alhamdulillah, Syukron Eva sudah bantu umi. Ini bawa buat kamu sama teman-teman mu yah." Hafshah memberikan makanan kepada Eva.
"Syukron umi, tapi Eva ikhlas kok bantu umi."
"Umi tahu, sudah tidak apa ambil yah?"
Eva mengambil makanan tersebut. "Syukron umi, kalau gitu Eva pamit yah. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Fatih turun dari tangga kamarnya menuju ruang makan. Terlihat umma nya yang sedang duduk tersenyum lebar.
"Umma, sendirian aja."
Hafshah terkekeh. "Tidak, tadi ada Eva, baru saja keluar."
"Al senang lihat umma berseri seperti ini."
Hafshah mengelus surai putranya dengan sayang. Yang dikatakan Fatih benar, sekarang di dalam dadanya seperti banyak bunga yang bermekaran.
"Kamu juga pasti senang kan? Ingin bertemu calon, hm?"
Fatih diam bingung ingin bereaksi seperti apa. Sementara Hafshah masih setia menunggu jawaban dari putranya. Fatih yang ditatap lekat oleh sang ibu membuatnya canggung.
"Ehem, umma nanti kalau tamu nya sudah datang kabari saja yah, saya harus mengajar pagi ini."
"Loh, kamu Ndak izin aja toh?"
"Maaf umma tapi saya sudah terlalu banyak izin Minggu ini. Kasihan murid saya tertinggal pelajaran."
"Yasudah kalau itu mau mu, umma bisa apa?, nanti umma kabarin."
"Syukron umma, saya berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Fatih mencium tangan dan kening sang ibu.
Keluarga Alie masih dalam perjalanan. Semakin dekat jarak yang ditempuh membuat Yasmine makin takut, gugup, dan gelisah. Beberapa peluh terlihat di keningnya. khaulah senantiasa menggenggam erat tangan sahabatnya seolah menyalurkan kekuatan.
Yasmine melirik sekilas pada khaulah begitupun sebaliknya. Khaulah mengangguk meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja dan dia akan tetap ada disampingnya.
"Kalau Al, kasih tahu bunda gue ada disini gimana?" mata Yasmine mulai berembun saat mobil yang ia tumpangi telah memasuki pekarangan pesantren milik keluarga om nya. Jantung nya berpacu lebih cepat seperti bom yang siap kapan saja akan meledak.
Mobil berhenti tepat di depan halaman rumah Ahmed. Mata Yasmine bergerak ke kanan dan kiri, dan ia tidak mendapati ada mobil lain yang terparkir di sana, tidak ada mobil yang ber platkan Jakarta. Membuat napasnya sedikit lega,tangan yang dingin kini mulai menghangat. Dengan langkah ragu Yasmine mengikuti langkah keluarga khaulah yang jauh satu langkah didepannya.
Ketukan pintu pun terdengar dari luar, Hafshah yang berada di dalam lantas bergegas keluar membukakan pintu utamanya. Saat pintu terbuka ia melihat wajah-wajah yang ia rindukan. Senyuman di bibirnya semakin lebar, namun sayangnya tertutup oleh kain cadar.
"Maa syaa Allah ayo masuk, Alie, fatemah, nak Salma, Yasmine sayang."
Keluarga Alie memasuki rumah itu sampainya didalam Hafshah mempersilahkan mereka untuk duduk lebih dulu. Sementara ia mengambil minuman yang telah ia buat.