Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sore hari, meski hatinya masih diliputi perih, Dian tahu ia tak boleh larut. Ia harus kuat—bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk Naya. Ia pun mengajak putrinya berjalan-jalan keluar rumah, sekalian melihat-lihat ruko yang mungkin bisa ia sewa.
Naya tampak riang di gendongan, sesekali menunjuk ke arah kendaraan yang lewat. Tawa kecil anak itu sedikit demi sedikit menghangatkan hati Dian. Setiap deretan ruko yang mereka lewati, Dian memperhatikan dengan saksama—mana yang lokasinya strategis, mana yang tampak sepi, mana yang mungkin masih terjangkau dengan tabungannya.
“Kalau di sini, orang lewat lumayan ramai,” gumam Dian pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Ia membayangkan etalase kecil berisi cilok, cireng, dan aneka frozen food buatannya. Tak mewah, tapi cukup untuk menghidupi dirinya dan Naya dengan kepala tegak.
Naya menarik hijab ibunya.
“Ibu… jajan,” pintanya polos.
Dian tersenyum, lalu berhenti di sebuah gerobak kecil. Ia membeli camilan sederhana, lalu duduk di bangku pinggir jalan. Sambil menyuapi Naya, matanya kembali menatap ruko-ruko di seberang jalan.
“Pelan-pelan ya, Nak,” bisiknya.
“Kita bangun hidup kita sendiri. Ibu mungkin jatuh, tapi ibu tidak akan menyerah.”
Angin sore berembus pelan. Di antara sisa air mata dan langkah kecil menuju masa depan, Dian mulai menata ulang harapan—dengan Naya sebagai alasan terbesarnya untuk terus bertahan.
Naya tampak riang menaiki odong-odong, tertawa lepas setiap kali musik ceria itu diputar. Tangannya melambai-lambai, wajah kecilnya penuh bahagia, seolah dunia begitu sederhana dan ramah.
Sementara itu, Dian duduk tak jauh dari sana, menatap kosong ke depan. Pandangannya sesekali tertuju pada Naya, memastikan putrinya baik-baik saja, lalu kembali hanyut dalam pikirannya sendiri.
Di kepalanya, banyak hal berdesakan—tentang Andi, tentang pengkhianatan, tentang kata-kata ibu mertua yang terus terngiang, dan tentang masa depan yang kini harus ia bangun sendirian. Ada takut, ada perih, tapi juga ada tekad yang perlahan menguat.
“Demi kamu, Nak,” batinnya lirih.
Tawa Naya yang melengking sejenak menarik Dian kembali ke kenyataan. Ia tersenyum tipis, meski matanya berkaca-kaca. Hatinya mungkin sedang retak, tapi melihat anaknya bahagia membuatnya sadar: selama Naya masih bisa tertawa, ia akan terus bertahan—apa pun yang harus ia hadapi nanti.
Setelah puas berkeliling, langkah Dian terhenti di depan sebuah ruko yang tampak sederhana namun bersih. Lokasinya strategis, tepat di pinggir jalan dan tak jauh dari area sekolah. Ia memandang papan kecil yang terpampang di depan ruko itu, lalu mendekat untuk mencatat nomor telepon yang tertera.
“Hm… ini cocok banget,” gumamnya pelan.
Di benaknya, ruko itu terasa seperti harapan baru—tempat ia bisa memulai kembali, berjualan dengan tenang, dan perlahan berdiri di atas kakinya sendiri. Ada rasa deg-degan bercampur doa yang ia panjatkan diam-diam. Semoga berjodoh dengan ruko ini, batinnya, penuh harap.
Setelah itu, Dian menggenggam tangan Naya dan mengajaknya membeli makan malam. Ia memilih makanan sederhana, lalu membungkusnya untuk disantap berdua di rumah. Tak perlu mewah, yang penting mereka bersama.
Dalam perjalanan pulang, Dian melirik Naya yang tampak anteng di sisinya. Hatinya menghangat. Meski hidupnya sedang berantakan, ia tahu satu hal dengan pasti: selama ia dan Naya saling memiliki, selalu ada alasan untuk bertahan dan memulai lagi.
Sesampainya di rumah, ponsel Dian bergetar. Sebuah pesan masuk dari Nuri.
Mbak, satu minggu lagi Bang Andi sama Ibu pulang. Maafin aku dan Arif ya, mbak…
Dian membaca pesan itu perlahan. Bibirnya menegang, lalu ia mengembuskan napas panjang.
Sudah aku duga, batinnya tenang. Pasti mereka akan pulang.
Tak ada amarah untuk Nuri. Dian tahu betul, sejak awal bukan iparnya yang menjadi masalah. Semua berakar dari satu hal: mertuanya yang tak pernah benar-benar menerimanya. Di mata ibu mertua, Dian selalu salah—tak pernah cukup, tak pernah pantas.
Ia tersenyum getir.
Ibu hanya menyukai menantu pilihannya, pikir Dian lirih. Termasuk Tasya… Tasya itu.
Dian menatap Naya yang sedang asyik bermain di lantai. Hatinya kembali mengeras, bukan karena benci, melainkan karena tekad. Apa pun yang terjadi nanti, ia tak akan lagi menjadi Dian yang hanya diam dan menunduk. Demi dirinya, dan terutama demi Naya.
Dian lalu menelpon Sinta, menceritakan semuanya—tentang Andi dan mertuanya yang akan segera pulang.
“Ian, kamu sudah siap menghadapi semua ini?” tanya Sinta khawatir.
“Kamu tenang saja, Sin. Aku sudah siap lahir dan batin,” jawab Dian tenang. “Demi kewarasanku sendiri. Kecuali satu hal… kalau Andi mau benar-benar melepaskan selingkuhannya, aku masih mau menerima dia kembali.”
Sinta terdiam, jelas terkejut.
“Ian… itu akan sangat menyakitimu. Kamu yakin?” tanyanya serius.
Dian menghela napas panjang.
“Semua ini demi Naya, Sin. Aku tidak ingin Naya tumbuh sebagai anak dari keluarga yang hancur.”
Sinta mengusap dadanya sendiri, ikut merasakan sesak itu.
“Baiklah, Ian. Aku akan selalu ada untukmu. Pernikahan memang rumit—hanya mereka yang menjalaninya yang benar-benar bisa memahami.”
“Terima kasih, Sin,” jawab Dian lirih, penuh rasa syukur.
Setelah itu, Dian mengakhiri panggilan.
Di rumahnya, Sinta benar-benar merasakan betapa hancurnya hati sahabatnya. Dian terlalu berharga untuk disia-siakan oleh Andi—seorang suami yang tak pernah benar-benar bersyukur memiliki istri sepertinya.
Dalam hati, Sinta berdoa lirih.
Semoga setelah ini, hal-hal baik datang menghampirimu, Dian.
Usai salat isya, Naya telah terlelap. Dian duduk menenangkan diri sambil mulai mencatat kebutuhan untuk membuka usahanya. Ia teringat, sebelumnya sudah mengirim pesan—besok ia akan bertemu Pak Haji, pemilik ruko yang namanya tertera di papan.
Dian menghela napas pelan.
Ayo, Dian… kuat dan terus melangkah. Semua ini demi Naya.
Pokoknya, kalau semuanya sudah benar-benar pasti, kulkas freezer itu akan ia bawa ke ruko. Jika nanti ada yang bertanya, ia hanya akan bilang kulkas itu dijual. Ucapannya lirih, seolah berbicara pada diri sendiri.
Dian mengelus Naya dengan penuh kasih. “Nak, percayalah… ibu akan selalu berusaha menjaga kebahagiaanmu. Jika suatu hari ayah tidak memilih kita, ibu harap kamu tidak menyimpan benci padanya, ya,” bisiknya penuh harap.
Dian pun merebahkan tubuhnya di sisi Naya, memeluk hangat putrinya, membiarkan lelah dan segala luka perlahan luluh dalam hening malam.
Pukul delapan pagi, Dian sudah rapi dan siap. Ia membangunkan Naya lebih awal, berniat mengajaknya sarapan di dekat pasar sebelum bertemu Pak Haji.
“Ibu, Naya mau makan nasi ayam,” pintanya polos.
“Iya, siap, Nak,” jawab Dian lembut sambil tersenyum.
Hari ini Dian tak menggendong Naya. Ia memilih duduk di depan bersamanya, naik motor, membiarkan angin pagi menyapu wajah mereka berdua.
Sepanjang perjalanan, Naya terus bernyanyi riang. Dian hanya tersenyum, menikmati suara kecil itu yang perlahan menenangkan hatinya.
Sesampainya di sana, mereka pun duduk dan memesan makanan. Dian tak lupa memilih hidangan favoritnya, menikmati momen sederhana bersama Naya.