Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: KASTIL BAYANGAN DI SKOTLANDIA
Dataran Tinggi Skotlandia bukanlah tempat bagi mereka yang berhati lemah.
Di sini, tebing-tebing granit hitam berdiri tegak melawan amukan Samudra Atlantik, dan kabut yang disebut haar merayap dari garis pantai seperti hantu yang mencari mangsa.
Di puncak tebing Dunnotar, berdiri reruntuhan kastil tua yang telah dimodifikasi secara rahasia menjadi benteng teknologi tinggi.
Inilah "The End of the Line"—pemberhentian terakhir bagi Alfred Mahendra dan ambisinya yang gila.
Helikopter taktis yang dikemudikan Arlan menembus badai dengan susah payah.
Kilat menyambar di antara awan hitam, menerangi siluet kastil yang tampak seperti mahkota berduri di atas kepala bumi.
Alana duduk di kursi penumpang, memeriksa dua bilah pedang pendek berbahan karbon yang kini menjadi senjata pilihannya.
Di sampingnya, Lukas memegang perangkat pengendali frekuensi, sementara Luna tertidur karena kelelahan di pojok kabin yang sempit.
"Kita tidak bisa mendarat di pelataran utama," Arlan berteriak di atas deru mesin.
"Sistem pertahanan udara mereka aktif. Aku akan menurunkan kalian dengan tali di sisi tebing barat, lalu aku akan melakukan serangan pengalihan dengan helikopter ini."
"Arlan, itu bunuh diri!" seru Alana.
"Tidak jika aku menggunakan sistem pengecoh yang baru saja dipasang Lukas," Arlan menatap Alana dengan pandangan yang dalam, seolah ingin merekam wajah itu untuk terakhir kalinya.
"Alfred menginginkanmu, Alana. Dia tidak akan menyangka aku melakukan serangan frontal. Masuklah, temukan pusat kendali virus itu, dan hentikan kegilaan ini."
Alana mengangguk berat. Ia mendekati Lukas.
"Jaga adikmu di titik evakuasi setelah kita turun. Jangan pernah lepaskan tabletmu, Lukas. Kau adalah mata dan telingaku."
Proses penurunan di tengah badai adalah sebuah mukjizat teknis. Alana meluncur turun ke dinding tebing yang licin oleh es dan air hujan.
Dengan kemampuan sensoriknya yang meningkat, ia bisa merasakan pori-pori batu granit tersebut, memberinya pegangan yang mustahil bagi manusia biasa.
Begitu kakinya menyentuh balkon batu kuno, ia segera bergerak menuju pintu rahasia yang terdeteksi oleh radar biometriknya.
Di dalam kastil, suasana sangat kontras dengan badai di luar.
Koridor-koridor batu yang dingin telah dilapisi dengan panel polimer putih bersih dan lampu-lampu sensor gerak.
Alana bergerak seperti bayangan, setiap langkahnya tidak menimbulkan suara. Ia melumpuhkan tiga orang penjaga elit Ouroboros hanya dengan tekanan saraf di leher mereka sebelum mereka sempat menarik pelatuk.
"Mummy, aku sudah masuk ke denah kastil," suara Lukas terdengar jernih di telinga Alana.
"Alfred berada di menara pusat, tepat di atas laboratorium biologi. Tapi tunggu... ada lonjakan energi besar di ruang bawah tanah.
Alana, dia sudah mulai memompa virus itu ke sistem ventilasi yang terhubung ke jaringan awan buatan! Dia ingin menyebarkannya melalui hujan!"
Alana mempercepat larinya. Ia tidak lagi peduli dengan penyamaran. Ia menerjang pintu aula utama.
Di sana, di tengah ruangan yang dikelilingi oleh layar hologram raksasa, Alfred Mahendra duduk di kursi antik yang menyerupai takhta.
Di sampingnya, sebuah tabung raksasa berisi cairan hitam pekat berdenyut—Virus Teratai yang telah bermutasi.
"Akhirnya, Aura," Alfred berkata tanpa menoleh. "Kau tepat waktu untuk menyaksikan kelahiran dunia baru. Dunia tanpa penyakit, namun penuh dengan kepatuhan."
"Kau menyebut pembantaian massal sebagai kepatuhan, Paman?" Alana berdiri di tengah aula, pedangnya terhunus.
Alfred berdiri perlahan. Tubuhnya tampak jauh lebih tegap daripada saat di video London. Ia melepaskan jasnya, memperlihatkan jaringan vena perak yang menonjol di lengannya.
"Victor adalah kegagalan karena dia pengecut. Tapi aku... aku telah menyuntikkan Formula Teratai versi 4.0 ke dalam sumsum tulangku sendiri. Aku bukan lagi sekadar manusia."
Alfred bergerak dengan kecepatan yang bahkan melampaui Kael. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Alana, menghantamkan tinjunya.
Alana menangkis dengan bilah pedangnya, namun kekuatan benturannya begitu besar hingga ia terlempar menghantam pilar batu.
BRAKK!
Alana terbatuk darah, namun luka dalam tubuhnya menutup dalam hitungan detik. Ia bangkit, matanya berpendar perak menyala.
"Kau mencuri kekuatan ini, Alfred. Aku adalah pemilik sahnya."
Pertarungan itu pecah dengan intensitas yang mengerikan. Dua makhluk dengan DNA Teratai yang disempurnakan saling beradu di tengah badai.
Alfred menggunakan kekuatan fisik yang murni dan brutal, sementara Alana bertarung dengan kelincahan dan akurasi medis.
Setiap tebasan pedang Alana ditujukan pada simpul saraf Alfred, namun Alfred seolah-olah tidak merasakan sakit.
Di luar, suara ledakan hebat terdengar. Helikopter Arlan melepaskan rentetan rudal ke arah menara komunikasi kastil, menciptakan kembang api raksasa di tengah kegelapan.
"Arlan!" Alana berteriak dalam hati.
"Jangan khawatirkan dia, keponakanku!" Alfred mencekik leher Alana dan mengangkatnya ke udara.
"Perhatikan tabung itu. Dalam enam puluh detik, virus itu akan dilepaskan ke atmosfer. London, Paris, Mumbai... semua orang yang kau selamatkan akan menjadi budak genetikku!"
Alana merasa pasokan oksigennya menipis, namun di tengah tekanan itu, ia merasakan sesuatu yang lain.
Ia merasakan detak jantung Alfred—denyutan yang sangat tidak stabil dan penuh amarah.
Ia menyadari bahwa Alfred tidak benar-benar menyatu dengan formula itu; ia hanya menindasnya dengan kemauan mental.
"Lukas... aktifkan... protokol resonansi... SEKARANG!" Alana mendesis melalui komunikatornya.
Di titik evakuasi, Lukas menekan tombol merah di tabletnya. Sebuah gelombang suara frekuensi tinggi yang didesain untuk memicu ketidakstabilan pada Formula Teratai yang tidak sinkron terpancar dari perangkat yang dipasang Alana di koridor tadi.
EEEEEEEEEEEEE—
Suara melengking yang hanya bisa didengar oleh mereka yang memiliki DNA Teratai memenuhi ruangan.
Alfred berteriak kesakitan, pegangannya pada leher Alana mengendur. Vena perak di wajahnya mulai meledak, mengeluarkan cairan perak yang bercampur dengan darah hitam.
"TIDAK! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Alfred merangkak menuju tabung virus.
Alana jatuh ke lantai, mengambil napas dalam-dalam, lalu melompat dengan sisa tenaganya.
Ia tidak mengarahkan pedangnya ke Alfred, melainkan ke jantung tabung virus tersebut.
PYAARRRR!
Cairan hitam itu tumpah ke lantai, namun sebelum sempat menguap, Alana melepaskan botol perak Formula Teratai miliknya yang asli ke tengah tumpahan tersebut.
Cairan perak murni dari botol Alana segera bereaksi dengan virus hitam, menetralkannya dalam reaksi kimia yang berpendar terang.
"Identitasmu... kekuasaanmu... semuanya berakhir di sini, Alfred," Alana berkata dingin.
Alfred menatap tumpahan cairan yang kini tak berbahaya itu dengan mata penuh keputusasaan.
Tubuhnya mulai mengalami kegagalan fungsi secara masif. Sel-selnya tidak lagi beregenerasi; mereka mulai memakan satu sama lain.
Ia ambruk di kaki takhtanya, kulitnya berubah menjadi abu-abu kusam.
"Kakek... seharusnya... membunuhku... dulu..." gumam Alfred sebelum napas terakhirnya keluar, meninggalkan tubuh yang kini hancur menjadi debu.
Pintu aula terbuka lebar. Arlan masuk dengan pakaian yang hangus dan wajah yang dipenuhi luka gores, namun matanya bersinar lega saat melihat Alana masih berdiri.
Di belakangnya, Lukas dan Luna berlari masuk dan memeluk ibu mereka dengan tangis bahagia.
"Sudah berakhir, Alana," Arlan berbisik sambil merangkul bahu Alana.
"Tidak sepenuhnya," sahut Alana sambil menatap layar monitor yang masih menyala.
"Ouroboros adalah organisasi global. Alfred hanyalah satu kepalanya. Tapi hari ini, kita telah membuktikan bahwa Teratai tidak bisa dikendalikan oleh kegelapan."
Kastil Dunnotar perlahan mulai runtuh akibat ledakan-ledakan kecil di bagian bawah tanah yang dipicu oleh protokol penghancuran diri Lukas.
Mereka berempat segera berlari menuju jet pribadi yang tersembunyi di hangar bawah tanah kastil tersebut.
Saat jet itu lepas landas ke arah matahari terbit yang mulai muncul di ufuk timur Skotlandia, Alana menatap ke bawah.
Reruntuhan kastil itu tenggelam ke dalam laut, membawa pergi rahasia gelap keluarga Mahendra.
"Ke mana kita sekarang, Mummy?" tanya Luna sambil bersandar di bahu Alana.
Alana menatap Arlan, lalu menatap anak-anaknya. "Ke tempat di mana tidak ada lagi hantu yang mengejar kita. Ke tempat di mana kita bisa memulai hidup yang sebenarnya."
Arlan tersenyum, menggenggam tangan Alana. "Kembali ke Kota A? Sebagai pemilik baru dunia ini?"
"Bukan sebagai pemilik," sahut Alana. "Tapi sebagai penjaganya."