Sequel dari Menikahi Mr. Rajendra
_________________________________
"Mencintaimu adalah luka paling hebat dalam hidupku, yang dimana hadirnya tidak bisa aku hindari."
-Azizah Ghaffara Dananjaya-
Zizi harus menerima kenyataan pahit dalam hidupnya yaitu melihat secara langsung laki-laki yang ia cintai menyatakan perasaannya pada wanita lain. Apalagi saat mengetahui wanita itu adalah sahabatnya sendiri.
Namun, disaat Zizi ingin memulai kehidupan barunya dengan laki-laki yang dijodohkan oleh orang tuanya. Tristan malah menyadari perasaannya terhadap Zizi.
"Aku terlambat menyadari siapa yang sebenarnya diinginkan oleh hatiku," ucap Tristan dengan frustasi.
Permainan takdir apa yang akan dihadapi oleh Zizi kedepannya ? Dan siapa yang akhirnya akan menjadi pendamping hidup Zizi ?
Jangan lupa ikuti ceritanya ya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRA KHAIRUNNISA JEOMI YUSUF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendengar Terbaik
...~Sesuatu yang terjadi didalam kehidupan kehidupan ini bukan suatu kebetulan. Allah sudah merancangkan skenario nya untuk masing-masing orang~...
Happy Reading !!!
Saat ini Zizi sedang duduk diatas tempat tidurnya dengan sebuah leptop yang berada tepat didepannya. Gadis cantik itu sepertinya sedang menonton film kesukaannya. Apalagi kalau bukan Drakor, film kesukaan sejuta umat yang bernama perempuan.
“Uhh ya ampun, ini mah nganteng banget orang nya. Gue langsung jatuh cinta sama dia.” Heboh Zizi saat melihat pemeran laki-laki dalam drama itu.
“Ahh.. Astaga seru banget sih, main cium-cium segala lagi.” Zizi tertawa terbahak-bahak melihatnya hingga perutnya merasa keram.
Gadis itu tampak kembali fokus melihat drama korea yang ditontonnya. Saat ini tidak ada suara dan tawa lagi. “Ya Allah kok ganteng banget ya.. Klepek-klepek gue lihatnya. Andai aja dia mau jadi suami gue, bakalan gue lupain laki-laki satu itu.” Ujar Zizi. Laki-laki yang dimaksud Zizi tak lain dan tak bukan adalah Tristan. Cinta dalam diamnya.
Disaat gadis itu sedang menikmati setiap adegan yang ada di drakor itu, hapenya tiba-tiba saja berbunyi. Zizi segera menoleh untuk melihat siapa yang menelfonnya malam-malam begini. Tentu saja ia tidak lupa mempause filmnya terlebih dahulu.
“My Queen” Nama itu yang tertera dilayar ponselnya saat ini. Dengan sedikit penasaran, Zizi langsung mengangkat telefon dari sahabatnya itu.
“Iya ada apa Na ? Tumben banget lo nelefon gue malam-malam begini ?.” Tanya Zizi.
Bukannya menjawab, Nana langsung menangis dan itu membuat Zizi sangat panik. “Lo kenapa nangis ? Ada apa, cerita sama gue!.” Seru Zizi
“Hiks.. Hiks.. Ceritanya panjang banget Zi. Tapi yang jelas gue sedih banget.” Seru Nana. “Besok gue mau lo luangan waktu untuk gue, gue mau curhat sama lo.” Sambungnya.
“Iya udah, besok kita ketemu ya.” Jawab Zizi. “Tapi lo jangan nangis gini dong. Apa perlu gue kesana sekarang ?.” Tanya Zizi.
Nana menggelengkan kepalanya sembari menghapus air matanya. “Ngak usah deh Zi. Ini kan udah malem banget, nanti lo kenapa-napa lagi.” Seru Nana.
“Ya udah kalau gitu mau lo. Gini aja deh na, lo dengerin gue baik baik ya, meskipun sekarang gue ngak tau apa masalah lo. Tapi gue yakin, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.” Ujar Zizi mencoba menenangkan sahabatnya itu.
“Iya Zi, makasih ya udah selalu ada buat gue.” Ucap Nana dengan tulus. “Gue tutup dulu telefonnya, bye.” Nana mengakhiri sambungannya bahkan sebelum Zizi menjawab. Moodnya benar-benar hancur malam ini.
Setelah sambungan telefonnya berakhir, Zizi tampak terdiam seakan sedang berfikir sesuatu. Sebenarnya apa yang terjadi sama Nana, kenapa dia nangis kayak gitu. Pikiran Zizi malam ini tidak lepas dari sahabatnya itu. Bahkan ia tidak lagi melanjutkan drama koreanya karena saat ini ia tidak akan fokus lagi.
Gadis itu hanya berharap bahwa hari akan segera berganti dengan cepat. Ia sabar untuk mendengar keluhan dari sahabatnya itu.
***
Pagi telah tiba, Zizi bangun dari tidurnya dan lupa untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim yang taat. Setelah melakukan kewajibannya, Zizi segera turun untuk membantu sang mama menyiapkan sarapan pagi.
“Selamat pagi Mama.” Sudah menjadi kebiasaan Zizi untuk selalu memeluk dan mencium sang mama dipagi hari. Gadis itu memang sangat dekat dengan Mamanya – Jihan. Bahkan ia tidak segan-segan untuk merengek pada mamanya layaknya anak kecil yang minta dibelikan mainana.
“Pagi sayang.”
“Mama mau buat sarapan apa pagi ini ?.”
“Hmm… Rencananya sih mau buat nasi goreng aja sih karena kemarin papa sempat bilang kangen nasi goring buatan mama.”
Zizi menganggukkan kepalanya. Memakan nasi goring sebagai menu sarapan kayaknya bukan hal yang buruk. Pikir Zizi. “Nasi goreng sea food aja gimana ma ?.”
“Boleh. Yuk bantuin mama buat.” Zizi langsung membantu sang mama untuk membuat nasi goring sea food seperti keinginannya tadi. Menu itu sebenarnya adalah kesukaan Zizi dan Papanya – Raditya.
Setelah menghabiskan waktu selama lebih kurang 40 Menit. Mereka akhirnya selesai membuat sarapan pagi. “Ma, Zizi kekamar dulu ya, mau mandi.” Pamit Zizi yang diangguki oleh sang Mama.
***
“Selamat pagi papaku sayang.” Seru Zizi menyapa sang papa. Gadis itu tidak lupa meninggalkan sebuah kecupan diwajah papanya. Anggap saja itu sebagai sebuah kebiasaan bagi Zizi.
“Pagi sayangkuu.” Jawab papa Raditya.
Zizi masih berada disamping sang papa sembari membungkukkan badannya. Sepertinya gadis itu sedang menunggu sesuatu dari sang papa. Namun sayangnya entah sang papa kelupaan atau memang sengaja, Zizi juga tidak tau.
“Papa kok ngak cium anaknya sih.” Protes Zizi dengan suara manjanya sembari memanyunkan bibirnya sepanjang 5 centi. wkwkwk.
Papa radit tertawa setelah membuat anaknya itu menjadi sedih dipagi hari. Sebenarnya ia sengaja melakukan itu, ia hanya merindukan sosok putrinya yang manja seperti dulu. Sudah begitu lama Zizi tidak pernah bermanjaan padanya.
Ternyata memang benar, sebagain besar seorang putri memang lebih dekat dengan ayahnya. Ia tak segan-segan bermanjaan dengan sang ayah bahkan didepan umum. Dan ternyata juga benar, bahwa seorang putri lebih berharga bagi ayahnya dibandingkan apapun. Cinta untuk putrinya lebih besar dari cintanya terhadap istri, anak laki-laki bahkan ibunya sekalipun.
Seorang ayah akan berjuang mati-matian untuk membahagiakan putrinya. Tak peduli akan sebesar apa rintangan yang akan dia hadapi. Tak peduli akan seberapa lelah dirinya untuk itu. Kebahagiaan dan kenyamanan putrinya tetap nomor satu. Begitulah cinta seorang ayah pada putrinya.
Papa radit langsung mencium kedua pipi putrinya itu dengan gemas. Sudah lama sekali ia tidak menyalurkan kasih sayang dan cintanya pada putri semata wayangnya. “Maaf sayang, papa sengaja tadi.”
“Kenapa ? kok gitu !.” Tanya Zizi.
“Papa hanya merindukan anak perempuan papa yang seperti dulu. Selalu manja jika bersama papa.” Zizi langsung memeluk sang papa dengan erat. Ia bersyukur karena dilahirkan sebagai putri dari mama Jihan dan papa Raditya.
“Zizi sayang papa. Love you.” Ucapnya sebelum duduk ditempatnya.
“Love you too sayangkuu.”
“Oo jadi cuma sayang sama papa aja nih ? Mama ngak ?.” Mama Jihan pura-pura marah pada Zizi.
“Iya ngak dong. Zizi sayang mama dan papa pake banget malahan.” Jawab sang anak yang membuat sarapan pagi mereka kali ini lebih berwarna.
Mama jihan baru memperhatikan anaknya sekarang, ia baru sadar kalau Zizi ternyata sudah rapi pagi-pagi begini. “Sayang kamu mau kemana ? Kok rapi banget ?.” Tanya sang mama.
“Oh itu ma, Nana katanya ngajak ketemuan, ngak tau kenapa tapi yang jelas semalam ia nelefon Zizi sambil nangis-nangis gitu.” Jawab Zizi.
“Oo gitu.. Mungkin dia mau curhat sama kamu. Yaudah kamu buruan habisin sarapannya biar nanti Nana ngak kelamaan nungguin kamu.” Titah sang mama.
“Okee mama.”
***
Tak lama Zizipun segera keluar dari rumahnya karena didepan Nana sudah menunggunya. Hari ini Zizi memakai baju berwarna peach dan jeans berwarna putih dengan rambut yang dibiarkan tergerai saja.
Zizi tampak memperhatikan sahabatnya yang terlihat kacau itu. “Biar gue yang bawa mobilnya, lo kayaknya kurang baik deh hari ini.” Ucap Zizi mengambil alih kemudi.
Diperjalanan tidak ada yang membuka suara, hanya ada keheningan. Zizi pun tampak bingung melihat sahabatnya yang tak biasa itu. Tapi ia memilih diam dan tidak bertanya apa-apapun.
Saat ini Zizi akan membawa Nana kesuatu pulau yang tidak jauh dari ibu kota jakarta. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam, mereka pun sampai di pulau kelapa yang ada dikepulauan seribu.
Zizi mengajak Nana untuk turun dari mobil setelah memarkirkan mobil mereka dengan benar.
"Na, turun yuk. Udah sampai ni" Seru zizi. Nana menoleh sekilas dan membuka pintu mobil untuk segera keluar.
"Kesana yuk na" Ajak zizi menarik nana kesalah satu tempat duduk yang tersedia di area pantai. "Tunggu bentar ya, gue mau beli minum disana. Lo mau nitip sesuatu ngak ?" Tawar zizi dan hanya dijawab nana dengan gelengan kepala.
"Ya udah deh" Ucap zizi singkat sembari pergi membeli minum. Tak lama Zizi pun kembali dengan 2 minuman ditangannya. "Pemandangannya bagus ya na" Seru zizi menyadarkan nana dari lamunannya.
Nana tidak menjawab namun hanya memberikan senyuman tipis sebagai jawaban. Sepertinya gadis itu terlihat sangat enggan untuk berbicara.
"Lo kenapa sih na, kok dari tadi gue perhatiin lo sedih dan lesu gitu ? Lo ada masalah ?" Tanya zizi, lagi-lagi nana hanya diam tanpa berniat menjawab sedikitpun.
"Na, kalau ada masalah cerita sama gue, jangan pendam sendiri na. Dengarin gue, terkadang kita cerita bukan untuk mendapatkan solusi, tetapi adakala nya untuk mencari kelegaan hati. Gue siap jadi pendengar yang baik buat lo" Ucap zizi.
Nana menghembuskan nafasnya dengan berat "Sebenarnya, gue dijodohin sama mama papa gue" Jawab nana tanpa melihat ke arah zizi.
Zizi yang mendengarnya ikut syok dan kaget, "Di jodohin ?" tanya zizi memastikan bahwa dia tidak salah dengar. Nana mengangguk sebagai jawaban. "Sama siapa ?" Tanya zizi lagi.
"Zayyan" Jawab nana singkat. lalu menoleh ke arah zizi yang kelihatan bingung.
"Dia putranya paman Marvin dan bibi Ranya, kakak sepupunya kak Juna" Sambung nana.
Mulut zizi membulat menyadari satu hal "Apa dia CEO dari Rajendra Grup, perusahaan terbesar itu ?" Tanya zizi.
"Mungkin" Ujar nana singkat.
"Tapi tunggu, kenapa mama dan papa lo menjodohkan lo sama zayyan? Gimana ceritanya sih ?" Tanya zizi lagi penasaran.
Nana menggelengkan kepalanya sebelum menceritakan kejadiannya, " Jadi malam itu...." Nana menceritakan semuanya dari awal pada zizi tanpa ada yang terlewatkan. sedangkan zizi mencoba mencerna penjelasan nana.
(Masalahnya udah diceritain di 'Menikahi Mr. Rajendra' ya).
"Trus gimana ? Lo terima perjodohan ini ?" Tanya zizi yang ingin memastikan keputusan sahabatnya.
"Gue ngak tau zi, gue ngak mau dijodohin sama zayyan tapi gue juga ngak mau buat mama dan papa gue kecewa karena gue lihat mereka sangat berharap gue menikah dengan zayyan" Jelas nana.
Zizi menggenggam tangan nana seolah menyalurkan ketenangan dan kenyamanan pada sahabatnya saat ini " Na, dengerin gue, gue ngak tau alasan pasti kenapa mama dan papa lo mau jodohin lo sama cowok dingin itu, tapi yang jelas ngak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anak nya sendiri. Percaya sama gue, orang tua lo hanya ingin yang terbaik buat lo, mereka hanya ingin memastikan bahwa kamu berada pada orang yang tepat" Jelas zizi
"Gue juga yakin, suatu saat nanti lo pasti bahagia dengan pilihan orang tua lo. dan satu lagi, kalau lo ragu sebaiknya lo minta waktu lagi sama papa lo lalu lo minta petunjuk sama Allah, minta yang terbaik pada sang pembuat skenario. Lo harus ingat, bahwa didunia ini kita hanya bertindak sebagai pemeran yang ceritanya sudah diatur oleh sutradaranya yaitu Allah. Dan semua yang terjadi pasti adalah yang terbaik" Ucap zizi menyambung kalimatnya sambil tersenyum.
Nana menatap tak percaya pada sahabatnya, sejak kapan zizi sangat bijak seperti ini pikirnya. Namun nana segera menepis pemikirannya itu lalu tersenyum sembari membalas genggaman tangan zizi "Terima kasih ya zi, lo emang sahabat gue yang paling baik, terima kasih karena udah selalu ada buat gue dan dengerin semua keluh kesah gue" Ucap nana tulus.
"Iya sama-sama Queen" Jawab zizi yang diakhiri dengan tawa oleh mereka berdua.
" Udah ah sedih-sedihnya, lo mau makan ngak ?Kita cari makan yuk, gue laper ni" Ujar zizi sambil mengerucutkan bibirnya.
Nana terkekeh melihat tingkah sahabatnya "Ya udah yuk" Seru nana.
Setelah menghabiskan waktu selama 30 menit untuk makan, mereka memutuskan untuk segera pulang karena memang sekarang udah sore.
Hay Readers !!!
Ketemu lagi sama dokter Zizi yang cantik jelita dan perjalanan cintanya. Jangan lupa untuk dukung author dengan cara Vote, Like dan Koment ya.
With Love,
Author ☺
24.10.2020
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu