NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 07. Respect

Meski seblak pedas dan gelak tawa bersama Vika, Amina, dan Tasya sempat meredakan beban di hati, bayang-bayang Raka dan drama media sosialnya masih sesekali mampir di kepala Acha. Malam harinya, Acha masih terlihat murung dan melamun di kamarnya.

Mengetahui sahabatnya butuh pengalihan yang lebih besar, Vika langsung memutar otaknya. Dia punya akses sempurna karena kakaknya bekerja paruh waktu di salah satu tempat karaoke keluarga populer di kota mereka.

"Udah, gak usah galau mulu! Besok sore ikut aku ke tempat kerjanya teteh aku deh. Dijamin galau kamu bakal ilang seketika karena teriak-teriak sepuasnya," chat Vika kepada Acha malam itu.

Keesokan harinya, Acha menuruti ajakan Vika. Setelah tempat karaoke tutup dari jam operasional umum atau di sela waktu sepi, Vika memasukkan Acha, Amina, dan Tasya ke salah satu ruangan VIP.

Mikrofon langsung berpindah tangan kepada Acha. Awalnya dia ragu, namun saat lagu-lagu patah hati bernada tinggi diputar, emosi yang tertahan di dada Acha akhirnya tumpah.

Dia bernyanyi sambil memegang mic erat-erat, meluapkan seluruh kekesalan, rasa sakit, dan air matanya lewat teriakan sekencang-kencangnya.

Benar saja, setelah beberapa jam bernyanyi brutal tanpa beban, perasaan Acha terasa jauh lebih ringan. Beban di dadanya seolah terangkat habis.

Namun, di tengah keseruan mereka bernyanyi sambil melompat-lompat dengan suara pas-pasan, pintu ruang karaoke tiba-tiba terbuka dari luar.

Seorang pembeli laki-laki yang tampaknya salah masuk ruangan atau hendak menanyakan sesuatu berdiri terpaku di ambang pintu, menatap mereka dengan mata mengerjap kaget.

Acha yang saat itu sedang memegang mic di depan muka dengan posisi siap berteriak kencang langsung membeku. Suasana ruangan mendadak sunyi senyap, menyisakan suara musik latar yang masih berputar pelan.

Sadar bahwa pembeli laki-laki itu sedari tadi mendengar suaranya yang melengking fals dan teriakan hebohnya, wajah Acha seketika berubah merah padam karena menahan malu yang luar biasa.

Dia langsung melempar bantal sofa ke arah muka Vika sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, membuat Amina dan Tasya langsung terbahak-bahak melihat tingkah konyol sahabat mereka.

"Ma... Maaf, Mbak. Kayaknya saya salah buka pintu," ucap pria itu kikuk sambil buru-buru menutup kembali pintu ruangan dengan cepat, wajahnya juga tampak sedikit salah tingkah.

Bruk!

Begitu pintu tertutup rapat, ruangan karaoke itu langsung meledak oleh tawa Amina dan Tasya yang sudah tidak sanggup lagi menahan geli.

"Aduh, perut aku sampai sakit tahu gak, teh!" tawa Tasya sambil memegangi perutnya.

Bahkan air matanya sampai keluar karena terlalu sering tertawa yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

"Teh Acha tadi mukanya udah kayak kepiting rebus! Sumpah, malunya nembus sampai ke akar-akar!"

Amina ikut terbahak sambil menepuk-nepuk paha Vika. "Pantesan Vika ngajak ke sini, ternyata tujuannya mau bikin kamu audisi jadi lumba-lumba tersesat!"

Sementara itu, Vika yang baru saja terkena lemparan bantal sofa hanya bisa nyengir lebar sambil mengusap wajahnya. Dia mendekati Acha yang masih jongkok di pojokan sofa dengan kedua tangan menutupi muka.

"Udah, Cha, bangun yuk! Anggap aja itu ujian mental tahap akhir buat move on dari Si Raka," goda Vika sambil menarik tangan Acha pelan.

"Lagian cowok tadi pasti mikir kamu penyanyi rocker underground, bukan mantan galau yang sedang patah hati."

Acha perlahan membuka sela-sela jarinya, menatap ketiga sahabatnya dengan tatapan memelas bercampur jengkel.

"Vika sialan! Kenapa pintunya nggak dikunci, sih?! Malu banget, ya ampun, pengen ganti nama aja aku rasanya!"

Meski pipinya masih panas membara, tawa kecil akhirnya lolos juga dari bibir Acha. Untuk pertama kalinya setelah sekian hari tenggelam dalam kesedihan dan drama Raka, Acha bisa tertawa lepas tanpa beban.

Sisa-sisa galau yang tadinya mencengkeram hatinya seolah lenyap tersapu oleh rasa malu yang luar biasa dan kehangatan tawa bersama para sahabat sejatinya.

Beberapa hari setelah insiden karaoke yang memalukan sekaligus sukses mengusir galaunya, Acha kembali disibukkan dengan rutinitas hariannya.

Hari itu, Acha mendapat tugas untuk melakukan pengecekan stok barang di gudang.

Di tengah tumpukan kardus dan bau khas karton baru, Acha sibuk mencatat lembar demi lembar stok opname.

Walaupun tidak sendirian, karena Acha ditemani oleh seorang sales produk makanan ringan bermerek Wing yang baru saja datang untuk mendata ulang pasokan barang masuk dan keluarnya.

"Eh, Mbak Acha, untuk varian snack pedas yang kardus merah itu sisa berapa ya di rak atas?" tanya sang sales Wing ramah sambil membawa papan klip di tangannya.

Acha mendongak, lalu menunjuk ke arah sudut rak besi tinggi di hadapan mereka. "Sebentar yah, Mas. Biar saya cek fisik pastinya dulu, takutnya datanya selisih sama sistem."

Dengan sigap, Acha meraih tangga kecil untuk memastikan jumlah kardus di barisan paling atas, sementara sang sales membantunya memegangi kaki tangga agar tetap stabil.

Di tengah suasana gudang yang agak pengap dan sibuk, interaksi profesional itu berhasil membuat Acha melupakan sejenak bayang-bayang masa lalunya dengan Raka. Hari-harinya kini terasa kembali produktif dan berjalan normal.

"Hati-hati, Mbak. Tangganya agak goyang sedikit di sebelah kanan," ujar sales Wing itu mengingatkan dengan nada sopan saat Acha mulai menaiki anak tangga kedua.

"Oh, iya, makasih ya, Mas..." jawab Acha sambil sedikit meregangkan tubuhnya untuk meraih tumpukan kardus paling atas.

Dia fokus mencocokkan jumlah kardus di depannya dengan catatan di tangannya.

Tanpa disengaja, interaksi singkat dan sikap perhatian kecil dari sang sales berhasil mencairkan suasana kaku di gudang tersebut. Senyum tipis terukir di wajah Acha.

Rasanya begitu melegakan bisa kembali bernapas lega dan fokus kepada pekerjaannya tanpa harus terbebani oleh notifikasi media sosial atau drama masa lalunya.

Raka dan segala kekacauan yang dibuatnya perlahan-lahan mulai memudar, tergantikan oleh kesibukan harian yang membuatnya merasa hidup kembali.

Sang sales tersenyum ramah melihat Acha kembali fokus bekerja. Setelah urusan pencatatan stok di gudang selesai dan semua data klop, sales Wing itu berpamitan sambil merapikan tas kerjanya.

"Data stoknya udah aman ya, Mbak. Kalau gitu, saya pamit dulu mau lanjut kunjungan toko sebelahnya," ujar sang sales sopan.

"Iya, Mas. Makasih banyak juga yah bantuannya tadi," balas Acha sambil melambaikan tangan kecil.

Selepas kepergian sales tersebut, Acha membereskan sisa catatannya dan menarik napas panjang. Suasana gudang yang tadinya terasa melelahkan mendengus memberi ketenangan tersendiri baginya.

Perlahan tapi pasti, hari-hari berat yang dipenuhi air mata dan rasa malu karena ulah Raka kini benar-benar tertutup rapat oleh lembaran baru yang lebih positif. Acha siap kembali melangkah ke depannya.

Malam harinya, suasana halaman belakang kosannya Acha dan Vika tampak semarak. Udara malam yang sejuk mendadak terasa hangat berkat kehadirannya Amina, dan Tasya yang sengaja merencanakan malam keakraban kecil-kecilan untuk merayakan kembalinya senyum di wajah Acha.

Di tengah halaman, sebuah kotak berisi berbagai macam kembang api dan sparkle tersusun rapi. Tasya dengan antusias menyalakan korek api, sementara Amina sibuk membagikan batang kembang api kepada setiap orang.

"Nih, pegang masing-masing satu! Biar malam ini hidup Acha nggak suram kayak kemarin-kemarin lagi," seru Amina sambil menyerahkan batang kembang api yang sudah menyala kepada tangannya Acha.

Acha tersenyum lebar sambil menerima batang kembang api tersebut. Dia mengibarkannya perlahan di udara gelap, menciptakan percikan api emas yang terpancar indah.

Tak lama kemudian, Vika menyalakan kembang api air mancur yang menyorotkan cahaya terang ke langit malam, disusul oleh pekikan girang dan tawa renyah dari mereka berempat.

Sambil menikmati keindahan cahaya kembang api yang meletup-letup, Acha merentangkan tangan dan memeluk erat ketiga sahabatnya.

Di bawah langit malam yang bertabur bintang dan kilau cahaya kembang api, Acha merasa benar-benar utuh kembali.

Luka masa lalu akibat ulah Raka kini telah lebur sepenuhnya, digantikan oleh kehangatan persahabatan yang tidak akan pernah ternilai harganya.

Pelukan hangat di bawah pendar cahaya kembang api itu menjadi penutup yang manis untuk hari yang melelahkan sekaligus membahagiakan.

Vika, Amina, dan Tasya membalas pelukan Acha dengan erat, menyalurkan seluruh energi positif dan rasa sayang yang tulus.

Bagi Acha, badai dalam hidupnya telah resmi berlalu. Raka dan segala drama kekanak-kanakan yang sempat menghancurkan dunianya kini hanyalah bagian dari masa lalu yang tidak lagi memiliki kuasa atas dirinya. Dia telah bangkit, jauh lebih kuat dan bahagia.

Kini, bersama sahabat-sahabat setianya, Acha siap melangkah menyongsong hari-hari esok dengan senyuman lebar dan hati yang sepenuhnya merdeka.

Beberapa hari setelah malam kembang api yang membahagiakan, suasana santai di kamar Vika mendadak berubah menjadi ujian kesabaran tersendiri bagi Acha.

Malam itu, mereka berempat—Acha, Vika, Amina, dan Tasya—sedang berkumpul di kamar Vika untuk melepas penat.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Di tengah keheningan, ponsel Vika berdering. Begitu melihat nama di layar, senyum lebar langsung mengembang di wajah Vika.

Tanpa pikir panjang, dia mengangkat panggilan tersebut dan langsung hanyut dalam dunianya sendiri.

Amina dan Tasya yang duduk di sudut kasur sibuk dengan obrolan mereka tentang drama Korea terbaru, sementara Acha harus rela terdampar sendirian di pojok ruangan.

Dia resmi bertransformasi menjadi "nyamuk" paling menderita di antara pasangan kasmaran tersebut.

Mau ikut bergabung mengobrol tidak mungkin, sementara meninggalkan kamar juga malas. Akhirnya, Acha hanya bisa pasrah sambil bersandar di kepala tempat tidur.

Dengan ekspresi jenuh, dia membuka aplikasi TikTok di ponselnya dan mulai scroll video demi video tanpa henti.

Jarinya terus menggeser layar ke atas, menyaksikan berbagai konten random mulai dari resep masakan, kucing lucu, hingga video galau, demi mengusir rasa bosan yang melanda akibat mendengarkan Vika bertelepon mesra dengan pacarnya.

Melihat Vika masih asyik mengobrol dengan nada suara manja di telepon, sementara Amina sibuk sendiri dengan drakor nya, Tasya akhirnya tidak tahan lagi melihat Acha yang sudah memasang muka bosan tingkat dewa.

"Duh, dari pada kita jadi nyamuk kurang gizi di sini dengerin Teh Vika yang lagi bucin, mending temenin aku ke depan yuk, teh! Beli gorengan abang-abang enak nih," bisik Tasya sambil menyenggol lengan Acha.

Tanpa pikir panjang, Acha langsung bangkit dari kasur dengan mata berbinar-binar. "Wah, ide bagus juga tuh! Hayu lah, dari pada aku lumutan jadi penonton setia drama teleponan mereka," balas Acha penuh semangat.

Tak lama kemudian, Acha dan Tasya sudah berdiri di depan gerobak gorengan pinggir jalan yang mengepulkan asap gurih.

Sambil menunggu gorengan pesanan mereka—bakwan renyah dan tahu isi panas—dimasukkan ke dalam kantong kertas, seseorang mendadak mendekat ke arah mereka.

"Eh, Acha sama Tasya ya? Sendirian aja nih?" sapa suara seorang pria yang cukup akrab.

Acha menoleh dan mendapati Denis, teman satu kampus mereka yang dikenal hobi tebar pesona dan suka melempar gombalan ke siapa saja, tengah berdiri tersenyum sok ganteng di sebelah mereka.

"Sendirian gimana, jelas-jelas kita berdua berdiri di sini," sahut Tasya setengah bercanda, melirik Denis sekilas.

Denis terkekeh pelan, lalu mengalihkan tatapannya sepenuhnya ke arah Acha dengan mata berbinar.

"Pantesan dari tadi malam kayaknya cerah banget, ternyata mataharinya lagi ngeliatin gorengan ya. Tapi sayangnya, walaupun gorengan ini panas, tetep nggak bakal bisa nyaingi hangatnya senyuman kamu kepada aku, cantik."

Mendengar gombalan maut itu, Tasya langsung menahan tawa sambil melirik Acha, penasaran bagaimana reaksi sahabatnya.

Namun, di luar dugaan, Acha hanya menanggapinya dengan sangat santai. Tidak ada rona merah malu-malu, tidak ada juga ekspresi risih atau tidak nyaman.

Wajah Acha datar-datar saja, seolah dia sedang mendengarkan laporan cuaca harian.

"Oh, gitu? Bagus deh kalau cuaca malam ini cerah, jadi gorengan abang ini cepet matangnya," balas Acha tenang sambil menerima bungkusan gorengan dari sang penjual.

"Udah ya, Nis, gorengannya udah siap. Kita duluan mau balik."

Acha melambaikan tangan sekadarnya dan langsung mengajak Tasya berjalan pergi meninggalkan Denis yang berdiri mematung, agak salah tingkah karena gombalannya sama sekali tidak mempan dan dianggap angin lalu oleh Acha.

Tasya yang berjalan di sampingnya langsung terbahak-bahak puas melihat reaksi lempeng Acha yang sukses bikin Denis K.O.

"Ya ampun, teh Acha! Sumpah, muka si Denis tadi kocak banget!" seru Tasya sambil terbahak-bahak sepanjang perjalanan pulang, memegang kantong kertas berisi gorengan hangat.

"Dia udah pasang jurus gombal tingkat dewa, eh, sama teteh malah di kacangin begitu aja kayak ngomong sama tukang parkir!"

Acha ikut tersenyum tipis sambil menenteng bungkusan makanan mereka. "Biarin aja, malas banget aku ladenin cowok caper kayak gitu. Lagian otak aku lagi nggak sinkron buat nanggepin gombalan garing nya, mending mikirin bakwan panas ini."

"Bener juga sih. Imun kamu udah kebal gara-gara kemarin sempat berurusan sama si Raka, jadi cowok model Denis mah lewat doang ya di hidup teteh," timpal Tasya lagi sambil menggelengkan kepala, kagum dengan ketenangan mental sahabatnya sekarang.

Sesampainya kembali di kamar Vika, aroma gurih gorengan langsung menyeruak dan menghentikan sejenak kegiatan teleponan Vika maupun aktivitas menonton drakor Amina.

Vika yang akhirnya menyudahi panggilannya langsung protes karena ditinggal jajan, sementara Acha dan Tasya malah dengan santai menikmati bakwan renyah itu, melewatkan malam dengan canda tawa tanpa ada beban lagi di hati Acha.

"Ih, curang banget sih! Ditinggal bentar doang langsung pada ngibrit beli gorengan aja!" protes Vika sambil meletakkan ponselnya di atas kasur dengan bibir yang sengaja dimajukan beberapa centimeter.

Matanya langsung melirik tajam ke arah kantong kertas cokelat yang mengepulkan aroma gurih bakwan dan tahu isi.

Amina yang tadinya khusyuk menonton drakor di laptop langsung melepas earphone-nya, ikut tergiur begitu aroma gorengan menyebar ke seluruh sudut kamar.

"Wah, parah sih kalian! Pergi nggak ngajak-ngajak. Padahal aku juga kan lagi laper tahu!"

"Salah sendiri, asyik banget telponan kayak dunia cuma milik berdua. Ditegor juga gak bakal nengok," balas Tasya santai sambil membuka kantong kertas dan mengambil satu buah bakwan hangat. Dia lalu menyodorkan satu gorengan ke arah Acha.

Acha menerima bakwan itu sambil tersenyum lebar. Melihat Vika dan Amina yang akhirnya ikut merapat dan berebut bakwan goreng bersama membuat suasana kamar semakin riuh oleh protes kecil dan gelak tawa.

Tidak ada lagi sisa-sisa kesedihan atau bayang-bayang masa lalu yang mengganggu. Malam itu ditutup dengan kebersamaan yang hangat, membuktikan bahwa kehadiran para sahabat adalah obat terbaik untuk segala lelah dan luka di hati Acha.

Be to continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!