Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Matahari pagi menyinari gedung Rumah Sakit Medika Sentosa dengan cahaya keemasan yang menyilaukan.
Suasana di koridor lantai atas tampak jauh lebih tegang dari biasanya.
Beberapa staf administrasi tampak berbisik-bisik membicarakan berita penangkapan Profesor Soedirdjo semalam.
Arka berjalan santai menyusuri lorong panjang menuju ruang rapat utama dewan direksi.
Ia mengenakan jas putih bersih tanpa ada secercah rasa cemas di wajah tampannya.
Siska berjalan tepat di samping kiri Arka sambil membawa map dokumen tebal.
"Semua anggota dewan sisa pengikut profesor itu sudah berkumpul di ruang rapat, Arka," bisik Siska serius.
Arka melirik sekilas ke arah perawat setianya itu dengan senyuman tipis.
"Baguslah, mereka tidak perlu menunggu lama untuk merasakan akibat dari kesetiaan bodoh mereka," jawab Arka datar.
Clara Wijaya melangkah anggun di sisi kanan Arka dengan balutan setelan formal berwarna abu-abu gelap.
"Ayahku sempat mengirim pesan peringatan kalau kelompok loyalis itu akan mencoba merebut kendali rumah sakit hari ini," kata Clara memperingatkan.
Arka mendengus pelan mendengar peringatan dari keluarga konglomerat tersebut.
"Mereka kira rumah sakit ini adalah milik nenek moyang mereka yang bisa diatur sesuka hati," balas Arka dingin.
[Sistem Mendeteksi Pergerakan Kudeta Internal Oleh Sisa Loyalis Kartel]
[Mempersiapkan Protokol Pertahanan Otoritas Mutlak]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.
Mereka bertiga akhirnya tiba di depan pintu kayu jati besar ruang rapat utama.
Dua orang petugas keamanan berdiri kaku di depan pintu dengan ekspresi wajah cemas.
"Buka pintunya," perintah Arka singkat kepada petugas keamanan tersebut.
Petugas itu segera membungkuk hormat lalu mendorong daun pintu kayu berat itu lebar-lebar.
Kriet...
Suara gesekan pintu terdengar menggema di ruangan rapat yang luas dan mewah.
Semua pasang mata di dalam ruangan langsung menoleh tajam ke arah pintu masuk.
Di ujung meja panjang, duduk tiga orang dokter senior berjas rapi dengan wajah memerah karena marah.
Pimpinan kelompok loyalis itu bernama Dokter Darmawan, tangan kanan kepercayaan Profesor Soedirdjo.
"Berani sekali kamu menginjakkan kaki di sini setelah menghancurkan nama baik guru besar kita, Arka!" bentak Darmawan berdiri dari kursinya.
Arka melangkah masuk dengan santai tanpa mempedulikan bentakan kemarahan tersebut.
Ia menarik kursi utama di ujung meja lalu duduk dengan posisi paling nyaman.
"Aku datang untuk melihat seberapa bodoh sisa-sisa tikus yang mencoba melawan arus," jawab Arka tenang.
Darmawan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kamu hanya seorang kepala divisi bedah muda yang kebetulan beruntung, jangan sombong!" geram Darmawan.
"Berdasarkan mosi tidak percaya dari seluruh dewan senior, jabatanmu sebagai pemimpin rumah sakit dicopot hari ini juga!" teriak Darmawan penuh kemenangan.
Clara melangkah maju satu langkah menatap tajam ke arah Darmawan dengan sorot mata menghina.
"Kalian bahkan tidak punya hak suara untuk mencopot seseorang, Tuan Darmawan," sahut Clara dingin.
"Yayasan keluarga kami memegang saham mayoritas mutlak di rumah sakit ini!" tambah Clara tegas.
Salah seorang dokter senior di sebelah Darmawan berdiri lalu mencibir pelan.
"Nona Clara, anda sudah dibutakan oleh pesona pemuda arogan ini!" cerca dokter senior itu.
"Profesor Soedirdjo sedang dalam perjalanan membersihkan namanya, dan kalian akan bernasib sama di penjara!" ancam dokter senior tersebut.
Arka menyandarkan punggungnya ke kursi sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kalian masih berharap guru tua kalian bisa keluar dari penjara?" tanya Arka tersenyum meremehkan.
Arka mengeluarkan sebuah tablet dari saku jasnya lalu melemparkannya ke atas meja.
Pluk!
Tablet itu mendarat tepat di depan Darmawan yang terkejut.
"Buka dan baca baik-baik isi dokumen transfer dana suap yang baru saja dikirim ke kejaksaan," suruh Arka dingin.
Darmawan dengan tangan sedikit gemetar mengambil tablet tersebut lalu melihat layar di depannya.
Matanya langsung membelalak lebar melihat daftar rekening atas namanya sendiri yang menerima aliran dana haram.
"I-ini... ini tidak mungkin... dari mana kamu dapat data rahasia ini?!" jerit Darmawan pucat pasi.
"Sistemku tidak pernah salah membaca catatan kejahatan orang-orang serakah sepertimu," jawab Arka tenang.
[Sistem Mengunggah Bukti Keterlibatan Kelompok Loyalis Ke Portal Hukum]
Suara notifikasi berderik pelan di dalam kepala Arka.
Tiba-tiba, suara sirene mobil polisi terdengar melengking nyaring dari luar gedung rumah sakit.
Wiu... wiu... wiu...
Wajah ketiga dokter senior di ruangan rapat itu seketika berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat.
"P-polisi... kenapa polisi bisa datang ke sini?!" teriak salah seorang dokter ketakutan setengah mati.
Pintu ruang rapat kembali terbuka lebar menampilkan kedatangan tim penyidik anti korupsi berseragam lengkap.
"Dokter Darmawan dan rekan-rekan, anda resmi ditahan atas tuduhan pencucian uang dan korupsi fasilitas medis," umum kepala penyidik tegas.
Darmawan terduduk lemas di kursinya menjatuhkan tablet dari tangannya.
"Tidak... lepaskan aku... aku tidak mau masuk penjara...!" ratis Darmawan histeris saat diborgol petugas.
Kedua dokter senior lainnya langsung diseret keluar ruangan tanpa bisa memberikan perlawanan sedikit pun.
Suasana di dalam ruang rapat kembali hening mencekam setelah para pengacau itu disingkirkan.
Arka berdiri perlahan dari kursinya lalu merapikan sedikit kerah bajunya.
"Pembersihan internal sudah selesai, tidak ada lagi hama yang tersisa di rumah sakit ini," ucap Arka datar.
Clara menghela napas panjang lalu tersenyum lega menatap Arka.
"Kamu benar-benar menyelesaikan semuanya dengan sangat bersih dan tanpa cela, Arka," puji Clara tulus.
Siska melangkah mendekati Arka sambil merapikan map dokumen di tangannya.
"Sekarang tidak ada lagi yang berani menentang kebijakan medis kita di tempat ini," kata Siska bangga.
Arka melirik kedua wanita di sisinya dengan sorot mata tenang penuh wibawa.
"Mari kita kembalikan fokus bekerja untuk menyelamatkan pasien, bukan mengurus orang serakah," ajak Arka ringan.
Mereka bertiga berjalan keluar meninggalkan ruang rapat yang kini resmi berada di bawah kekuasaan mutlak Arka.
Dan Arka Prasetya membuktikan diri sebagai penguasa sejati dunia medis yang tak terkalahkan.
Matahari kini mulai meninggi memancarkan cahaya terang ke seluruh penjuru kota.
Aktivitas di Rumah Sakit Medika Sentosa kembali berjalan normal dan jauh lebih teratur dari sebelumnya.
Tidak ada lagi ketakutan atau bayang-bayang tekanan dari dewan direksi korup maupun aliansi kartel.
Arka duduk kembali di kursi kebesarannya di ruang kerja pribadi lantai atas.
Secangkir teh hangat tersaji rapi di atas meja kerja berkat bantuan Siska.
"Silakan diminum dulu tehnya, Arka, kamu pasti butuh ketenangan setelah menghadapi orang-orang berisik tadi," tawar Siska manis.
Arka mengambil cangkir teh tersebut lalu menyeruputnya perlahan.
"Terima kasih, Siska, teh buatanmu selalu pas di lidah," puji Arka tenang.
Pipi Siska kembali merona merah mendengar pujian sederhana dari kepala divisi bedah tersebut.
Clara berdiri di dekat jendela kaca besar sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Meskipun kelompok loyalis di rumah sakit ini sudah dibersihkan, jaringan kartel internasional di luar sana masih ada," ucap Clara serius.
Arka meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas meja dengan gerakan santai.
"Kartel internasional tidak akan tinggal diam setelah tahu markas lokal mereka hancur total," timpal Arka dingin.
[Sistem Mendeteksi Aktivitas Jaringan Farmasi Global Di Tingkat Asia Tenggara]
[Mempersiapkan Data Intelijen Untuk Ekspansi Arc 3]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.
Arka membaca sekilas data intelijen baru yang muncul otomatis di sudut pandangan matanya.
"Sepertinya permainan kita akan segera naik tingkat ke panggung yang jauh lebih besar," kata Arka menyeringai tipis.
Clara menoleh cepat ke arah Arka dengan sorot mata penuh rasa penasaran.
"Maksudmu, sindikat luar negeri itu akan mencoba mengirim orang ke kota ini?" tanya Clara cemas.
"Bukan cuma mengirim orang, tapi mereka ingin mengambil alih seluruh jalur distribusi medis nasional kita," jawab Arka tenang.
Siska mendekati meja kerja Arka dengan ekspresi wajah yang tampak sangat siap menghadapi tantangan baru.
"Biarkan mereka datang, kita punya sistem dan kejeniusanmu untuk menghancurkan mereka semua," ucap Siska penuh keyakinan.
Arka tersenyum kecil melihat semangat juang yang tinggi dari kedua wanita hebat di sisinya.
"Pernyataan yang bagus, Siska, persiapan mental itu jauh lebih penting daripada senjata," puji Arka ringan.
Suasana di dalam ruangan kerja mendadak terasa begitu hangat di tengah dinginnya persaingan dunia korporasi.
Arka tahu betul bahwa perjalanan hidupnya tidak akan pernah lepas dari konfrontasi dengan orang-orang serakah.
Namun dengan kekuatan sistem dan dukungan penuh dari Clara serta Siska, tidak ada satu pun musuh yang bisa merobohkannya.