NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjamuan Berdarah Dingin

Keheningan yang mencekik menyelimuti ruang makan keluarga Clarissa. Aroma rendang yang biasanya menggugah selera, kini terasa seperti bau mesiu di hidung Ziva.

Ia menatap Arkananta Dewa—sosok yang beberapa jam lalu mempermalukannya di depan gerbang sekolah—kini duduk dengan tenang di hadapannya, seolah-olah perjodohan ini hanyalah sekadar agenda rapat OSIS yang membosankan.

​"Papa pasti bercanda, kan?" Suara Ziva gemetar, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang mendidih di ubun-ubun.

"Aku masih tujuh belas tahun, Pa! Aku baru saja mau ikut lomba jurnalisme nasional. Dan Arkan? Menikah sama dia? Lebih baik aku disuruh lari keliling lapangan Garuda seratus kali!"

​Pak Surya meletakkan sendoknya dengan suara dentang

yang berat.

"Ziva, jaga bicaramu. Ini bukan keputusan impulsif. Keluarga kita dan keluarga Om Wijaya sudah merencanakan ini sejak lama. Bisnis properti Papa dan perusahaan konstruksi Om Wijaya sedang dalam tahap penggabungan besar. Pernikahan ini adalah pengikat kepercayaan."

"Pengikat kepercayaan atau transaksi bisnis, Pa?" Ziva berdiri, kursi makannya terseret kasar hingga menimbulkan bunyi derit yang memilukan.

​Di seberang meja, Arkan tetap diam. Punggungnya tegak, tangannya terlipat di atas meja dengan posisi sempurna. Matanya yang tajam menatap ayahnya, Pak Wijaya.

"Papa tahu aku punya rencana untuk kuliah di luar negeri. Pernikahan di usia SMA akan menghancurkan reputasiku dan rencana akademisku. Ini tidak logis."

​Pak Wijaya tersenyum tipis, tipe senyum yang dimiliki para penguasa korporasi.

"Justru karena itu, Arkan. Kamu butuh pendamping yang bisa menjaga stabilitasmu. Ziva adalah putri sahabat terbaik Papa. Soal sekolah, kalian akan tetap lanjut. Pernikahan ini akan dirahasiakan sepenuhnya dari pihak sekolah dan publik sampai kalian lulus. Setelah lulus, kalian bebas menentukan arah, tapi status kalian tetap suami istri."

"Dirahasiakan?" Ziva tertawa hambar.

"Satu sekolah tahu kalau kami itu musuh bebuyutan! Bagaimana mungkin kami menyembunyikan kenyataan bahwa kami tinggal di atap yang sama?"

​"Itulah tugas kalian," sambung Bu Shanti, ibu Arkan, dengan suara lembut namun menekan.

"Apartemen sudah disiapkan. Letaknya strategis, tidak terlalu dekat dengan sekolah agar tidak ada teman yang curiga. Kalian akan belajar dewasa di sana."

​Ziva menoleh ke arah Arkan, berharap laki-laki itu akan mengeluarkan "Veto Ketua OSIS" yang biasanya sangat sakti.

Namun, ia melihat rahang Arkan mengeras. Arkan tahu, melawan ayahnya adalah hal yang mustahil. Pak Wijaya adalah tipe orang yang bisa mencabut seluruh fasilitas dan masa depan Arkan hanya dalam satu jentikan jari jika perintahnya dibantah.

​"Aku butuh waktu," gumam Arkan akhirnya.

​"Tidak ada waktu, Arkan. Persiapan sudah 90 persen. Akad dilakukan bulan depan," tegas Pak Wijaya.

​Ziva merasa dunianya runtuh. Ia berlari meninggalkan ruang makan, menaiki tangga dengan langkah berdentum, dan membanting pintu kamarnya. Di dalam gelap, ia menjatuhkan diri ke tempat tidur.

Bayangan Arkan yang menghukumnya tadi pagi berputar-putar di kepalanya. Bagaimana bisa seorang algojo sekolah kini menjadi calon suaminya?

​Malam itu, Ziva tidak bisa tidur. Ia nekat mengambil ponselnya dan mengetik pesan ke nomor yang sangat ia benci. Nomor yang ia simpan dengan nama "ALGOJO GARUDA".

​Ziva: Gue tahu lo denger. Lo harus batalin ini, Arkan! Lo punya kuasa, lo kan Ketos idaman semua guru. Bilang ke bokap lo kalau lo nggak sudi nikah sama cewek 'nggak disiplin' kayak gue!

​Lima menit berlalu. Tidak ada balasan. Ziva melempar ponselnya ke bantal. Namun, tiba-tiba layarnya menyala.

​Algojo Garuda: Jangan berisik. Aku sedang berpikir. Ayahku bukan orang yang bisa dibantah dengan kata-kata 'tidak sudi'. Kalau kamu mau batal, kamu yang cari caranya. Aku tidak ingin membuang energiku untuk drama remaja.

​Ziva meremas ponselnya. "Drama remaja? Dia pikir ini sinetron?!"

​Keesokan paginya di sekolah, atmosfer terasa berbeda bagi Ziva. Setiap kali ia melihat almamater biru tua OSIS, jantungnya berdegup tidak karuan—bukan karena jatuh cinta, tapi karena ketakutan yang murni.

​Di koridor menuju mading, ia berpapasan dengan Arkan. Arkan sedang bersama Gibran, sedang memeriksa kebersihan loker siswa. Biasanya, Ziva akan sengaja menyenggol bahu Arkan atau melempar komentar pedas.

Tapi kali ini, ia menunduk. Ia merasa ada label "Milik Arkananta" yang tak terlihat menempel di dahinya.

​"Ziv, lo kenapa? Kok pucat?" Sisil muncul dari balik punggungnya, membuat Ziva terlonjak.

​"Hah? Nggak... gue cuma kurang tidur semalam," dusta Ziva.

​"Gara-gara dihukum Arkan kemarin ya? Sumpah ya, itu cowok emang ganteng tapi titisan iblis. Tadi aja dia baru aja nyita HP anak kelas 10 gara-gara main game di jam pelajaran. Dingin banget, kayak nggak punya hati," cerocos Sisil.

Ziva hanya bisa tersenyum kecut. Sil, lo nggak tahu aja kalau 'titisan iblis' itu bakal jadi orang yang gue liat pertama kali pas bangun tidur bulan depan, batinnya miris.

​Sementara itu, dari kejauhan, mata Arkan tidak lepas dari Ziva. Gibran menyadari hal itu.

​"Ar, lo liatin Ziva terus. Tali sepatunya lepas lagi ya?" canda Gibran.

​Arkan langsung membuang muka, kembali fokus pada catatannya.

"Bukan. Dia cuma terlihat lebih... kacau dari biasanya."

​"Ya jelaslah, lo hukum dia terus. Kasihan tahu, dia itu sebenarnya asik kalau diajak ngobrol,"

sahut Gibran tanpa tahu bahwa ia sedang membicarakan calon istri sahabatnya sendiri.

​Konflik batin Arkan tidak kalah hebat. Di balik wajah datarnya, ia sedang menghitung probabilitas. Jika rahasia ini terbongkar, posisinya sebagai Ketua OSIS akan dicopot. Beasiswanya ke Jerman bisa dibatalkan. Reputasinya sebagai siswa teladan akan hancur menjadi debu gosip murahan. Namun, perintah ayahnya adalah mutlak.

Siang itu, saat jam istirahat, Arkan mengirim pesan singkat pada Ziva.

​Arkan: Temui aku di atap gedung lama. Sekarang. Jangan sampai ada yang lihat.

​Ziva membaca pesan itu dengan tangan gemetar. Ia segera izin ke kamar mandi pada Sisil dan mengendap-endap menuju gedung lama yang jarang dilewati siswa.

​Di sana, di bawah terik matahari yang menyengat, Arkan sudah menunggu dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Angin meniup rambutnya yang biasanya rapi menjadi sedikit berantakan.

​"Kita harus buat perjanjian," ujar Arkan langsung saat Ziva tiba.

​"Perjanjian apa lagi? Perjanjian buat nggak saling bunuh?" ketus Ziva.

Perjanjian kerahasiaan," Arkan mengeluarkan sebuah map kecil. "Aku sudah menyusun poin-poinnya. Kita tidak boleh terlihat bersama dalam radius 500 meter dari sekolah. Tidak ada kontak fisik di depan umum. Dan yang paling penting... tidak boleh ada perasaan. Kita hanya rekan kerja dalam proyek 'pernikahan paksa' ini."

​Ziva menatap map itu, lalu menatap mata Arkan. Untuk pertama kalinya, ia melihat keraguan di mata sang Ketua OSIS.

"Dan kalau salah satu dari kita melanggar? Kalau ada yang jatuh cinta?"

​Arkan terdiam. Ia menatap langit biru SMA Garuda yang luas. "Itu tidak akan terjadi, Ziva. Aku punya standar, dan kamu... sama sekali bukan standarku."

​Ziva mendengus, merebut map itu dengan kasar.

"Bagus. Karena gue lebih milih jomblo seumur hidup daripada harus beneran jadi istri lo. Deal!"

Mereka bersalaman—sebuah sentuhan formal yang dingin, tanpa tahu bahwa takdir sedang tertawa melihat bagaimana dua orang ini mencoba mengatur hati yang tidak pernah bisa diatur oleh aturan tertulis mana pun. Di balik pintu atap, sebuah bayangan terlihat bergeser. Seseorang mungkin telah melihat mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!