Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.
Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.
Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.
Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Satu Panggilan, Satu Keputusan”
Nayla terdiam beberapa saat.
Mungkin saja ada seseorang di belakangnya, tetapi ia tidak melihatnya. Apa mungkin seseorang yang dilihat anak ini tadi berlari secepat kilat? Tapi aku tidak mendengar langkah kaki di belakang? pikirnya.
Ia menatap para pengasuh dan bertanya, “Apakah tadi ada mama anak ini lewat di belakang saya?”
Para pengasuh itu saling pandang, lalu serentak menggeleng. Raut wajah mereka terlihat bingung. Nayla pun sama bingungnya.
Kemudian ia menatap anak kecil di depannya. Raut wajah anak itu sudah berubah—menjadi manis, lembut, dan memelas.
Seharusnya dari tadi dia begini, batin Nayla. Gemas sekali.
Nayla mengusap kepala anak itu dan berniat pergi, tetapi anak itu memegang bajunya dan memanggil, “Mama.”
Nayla sempat mengira ia salah dengar.
“Mama?” ulangnya.
Anak itu memperlihatkan ekspresi imut.
Apa bocah tampan ini sedang merayuku? pikir Nayla geli.
Ia berjongkok, memegang kedua tangan anak itu, lalu bertanya lembut, “Adek manis, siapa namamu?”
“Arkan,” jawabnya pelan dengan nada malu-malu.
Nayla tersenyum. Anak ini benar-benar gemas.
“Wah, namanya keren. Seganteng orangnya,” godanya sambil mengusap hidung mungil Arkan dengan jari telunjuk.
Arkan tersipu malu, bibirnya memberengut menahan senyum.
“Arkan, kakak pergi dulu, ya. Kamu harus jadi anak baik, oke?” ucap Nayla sambil mengacungkan jempol.
Namun lagi-lagi Arkan menahannya dan memanggil, “Mama.”
“Arkan, siapa yang kamu panggil mama?” tanya Nayla.
Arkan menunjuk ke arahnya.
Nayla terkejut. Apa mungkin wajah ibunya mirip dengannya?
Ia menunjuk dirinya sendiri. “Kamu memanggilku mama?”
Arkan mengangguk.
“Memangnya wajah mamamu mirip dengan kakak?”
Arkan tampak bingung. Ia menggeleng, lalu berkata pelan, “Arkan kan enggak punya mamah… jadi Arkan enggak tahu muka mamanya Arkan itu kayak gimana.”
Nayla tersentak. Rasa bersalah langsung menyeruak, mengingat kejadian di lantai bawah tadi.
Ia memeluk Arkan erat. “Arkan anak yang hebat dan kuat. Maafkan kakak ya… tadi kakak marahin Arkan.”
Arkan membalas pelukannya dengan erat, seolah sangat merindukan sosok itu.
Beberapa menit berlalu dalam pelukan itu, hingga Arkan kembali berbicara.
“Kakak… kakak itu kayak mamanya Arkan.”
Nayla melepaskan pelukan dan menatapnya bingung. “Bukannya Arkan belum pernah lihat mama?”
“Tadi malam waktu Arkan tidur… mamah Arkan ngusap kepala Arkan. Terus Arkan manggil mamah, terus mama meluk Arkan… kayak tadi kakak juga gitu ke Arkan,” ucapnya dengan semangat.
Tanpa sadar, air mata Nayla menetes. Hatinya tersentuh.
“Cup!” Arkan mencium pipinya.
“Kakak enggak boleh nangis. Nanti cantiknya hilang,” katanya sambil tersenyum malu.
Nayla tertawa pelan. Arkan hanya nyengir, memperlihatkan gigi susunya. Para pengasuh di belakang mereka hanya geleng-geleng kepala.
Tak lama kemudian, teman-teman Nayla datang. Mereka terlihat bingung melihat Nayla yang kini begitu akrab dengan Anak laki-laki yang mengamuk tadi.
Nayla berdiri sambil menggenggam tangan kecil Arkan. Mirna mengangkat alis, dan Nayla hanya tersenyum, mengatakan bahwa mereka sudah berdamai.
Mirna memberi tahu bahwa suaminya sudah datang dan menunggu di parkiran. Mereka memang berencana pulang setelah itu.
Mereka pun berpelukan dan berpamitan.
Namun setelah teman-temannya pergi, Arkan masih enggan berpisah. Nayla akhirnya memutuskan untuk menemaninya sebentar lagi.
**
Kini mereka berada di sebuah restoran seafood. Nayla menyuapi Arkan makan karena sejak siang anak itu belum makan apa pun.
Ia juga sudah berkenalan dengan dua wanita yang bersamanya. Ternyata mereka bukan pengasuh.
Mbak Rani adalah ART di rumah Arkan, sementara Mbak Siska adalah asisten pribadi neneknya.
Dari obrolan ringan, Nayla mulai memahami kondisi Arkan.
Anak itu jarang tidur siang dan sulit makan. Ia lebih suka camilan, dan jika tidak dituruti, ia akan mengamuk.
Ia hanya mau makan nasi jika bersama ayahnya. Itu pun karena Arkan takut pada ayahnya.
Saat suapan terakhir, nenek Arkan datang.
Ia tersenyum ramah, mengusap kepala Arkan, lalu mencium keningnya sebelum duduk dan memesan makanan, karena katanya belum sempat makan siang.
Nayla sempat bertanya dalam hati, kesibukan apa yang membuat wanita itu sampai melewatkan makan siang.
Arkan kemudian meminta duduk di pangkuan Nayla, dan ia mengiyakan. Mereka mengobrol ringan sampai akhirnya Arkan tertidur.
Nayla sempat menyadari percakapan para wanita itu yang sesekali menggunakan bahasa kode, tetapi ia memilih untuk tidak terlalu memikirkan hal itu.
Setelah selesai makan, nenek Arkan mulai menanyakan banyak hal tentang Nayla.
Ia tampak terkejut saat tahu Nayla masih gadis, karena Arkan terlihat sangat dekat dengannya. Neneknya Arkan mengira Nayla adalah ibu yang sangat keibuan dengan wajah yang seperti anak SMA. Ia tersenyum simpul saat wajahnya di bilang seperti anak SMA.
Kemudian, wanita itu menawarkan sesuatu.
Ia meminta Nayla untuk menjadi pengasuh Arkan.
Penjelasan tentang gaji dan fasilitas membuat Nayla terdiam. Tawaran itu sangat besar—jauh di atas penghasilannya saat ini.
Nayla terlarut dalam pikirannya.
Bagaimana? Kamu mau, tidak?”
Ia menatap Nayla sejenak sebelum melanjutkan.
“Kalau bisa, setidaknya sampai Arkan masuk SD saja. Kalau sudah agak besar, mungkin dia tidak akan senakal sekarang.”
Ia menarik napas pelan.
“Jujur, baru kali ini Arkan bisa sedekat itu dengan seseorang. Pengasuh-pengasuh sebelumnya… banyak yang tidak bertahan. Padahal gajinya satu juta per hari, dan semua kebutuhan ditanggung selama bekerja.”
Nada suaranya mulai terdengar lebih berat.
Ada yang baru dua hari sudah minta keluar. Ada juga yang bertahan sampai satu bulan, itu pun karena uang. Sebenarnya yang bertahan karena uang cukup banyak, tapi… mereka kadang tidak sabar.”
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan.
“Arkan pernah dipukul.”
Ia menghela napas.
“Kalau ketahuan, tentu langsung kami keluarkan.”
Tatapannya kembali pada Nayla, penuh harap.
“Jadi… kamu mau?”
Nayla masih bingung. Namun, tawaran itu benar-benar terdengar gila.
Gaji per hari satu juta. Uang makan dan semua kebutuhan ditanggung. Bahkan dimasakkan, baju juga dicucikan. Aku hanya perlu mengurus Arkan.
Pikirannya mulai dipenuhi hitung-hitungan.
Setiap bulan gaji naik lima juta. Berarti dalam bulan depan bisa dapat tiga puluh juta—bersih. Bahkan bisa sampai empat puluh lima juta kalau aku bertahan.
Nayla terdiam, semakin tenggelam dalam pertimbangannya.
Bandingkan dengan pekerjaanku sekarang…
Cuma gaji UMR tiga setengah juta. Dengan lembur dan bonus, paling tinggi empat setengah juta.
Ia menghela napas pelan.
Memang aku punya penghasilan tambahan di kampung. Ada tanaman yang bisa dipanen setiap tiga bulan. Tapi tetap saja…
Perbandingannya terlalu jauh.
Aku paling bisa nabung empat juta sebulan. Sedangkan ini… tiga lima juta bahkan bisa lebih dan katanya ada uang bonus juga.
Nayla menggigit bibirnya pelan.
Sulit untuk tidak tergoda.
Hingga akhirnya—
“Mbak Nayla, bagaimana?”
Ia tersentak.
Mbak Rani dan Mbak Siska menatapnya penuh harap.
Setelah berpikir, Nayla menarik napas dalam.
Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.
“Aku mau,” jawabnya.
Tubuhnya mulai pegal karena Arkan masih tertidur di pangkuannya.
Mereka mencoba membantu, tetapi Arkan tidak mau lepas sama sekali.