NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

gelar ratu iblis kembali lagi

Tiga hari telah berlalu sejak Jinyu kembali dari ujian dua minggu di hutan. Kabar tentang keberaniannya menyebar cepat ke seluruh kamp. Bukan hanya karena ia berhasil bertahan, tapi karena ia membawa dua mata-mata hidup-hidup dan dokumen rahasia yang membongkar jaringan intelijen asing.

Pagi itu, seluruh peserta dikumpulkan di lapangan utama. Udara dingin menusuk, tapi semangat mereka panas. Di depan mimbar, Komandan Lei berdiri dengan seragam resmi. Di sampingnya, para perwira tinggi duduk rapi. Pelatih Wu dan instruktur lain berjajar di belakang.

Jinyu dipanggil ke depan. Ia melangkah dengan tenang, Xiao Hu bayi harimau itu mengikuti di belakangnya seperti anak kucing. Bayi harimau itu sudah mulai terbiasa dengan kamp, meski setiap orang yang melihatnya pasti terkejut.

"Hari ini," suara Komandan Lei menggema, "kita berkumpul untuk memberikan penghargaan kepada Su Jinyu atas jasanya yang luar biasa."

Para peserta berbisik-bisik. Xia Feng dan Lin Yue di barisan depan tersenyum bangga.

"Su Jinyu, maju."

Jinyu berdiri di hadapan Komandan Lei. Xiao Hu duduk di sampingnya, ekor kecilnya bergoyang.

"Atas keberanian dan pengabdianmu, militer mengangkatmu sebagai pelatih khusus di kamp ini. Pangkatmu dinaikkan menjadi Letnan Muda."

Hening. Lalu pecah riuh.

"LETNAN? UMUR 5 TAHUN?!"

"GILA!"

"Dia sekarang atasan kita?"

Komandan Lei mengangkat tangan, semua diam. Ia mengambil sebuah kotak merah, membukanya. Di dalam, seragam baru berwarna hijau dengan tanda pangkat letnan muda kecil, pas untuk ukuran Jinyu. Juga sebuah lencana emas berbentuk bintang.

yang kemarin itu tanda pangkat awal jadi sekarang resmi nya.

"Mulai hari ini, kau resmi menjadi pelatih. Tugasmu: melatih para peserta senior yang akan dikirim ke misi khusus."

Jinyu menerima kotak itu. "Terima kasih, Komandan."

Ia menatap seragam itu sebentar. Letnan. Di dunia kiamat, aku ratu penguasa. Tapi di sini, letnan. Degradasi? Atau promosi?

["Promosi, Jinyu. Di sini umur 5 tahun sudah jadi letnan, itu rekor terbaru."]

Hmm.

Setelah upacara, Jinyu berganti seragam. Baju merah kesukaannya ia simpan rapi. Kini ia tampak berbeda dengan seragam hijau militer, rambut cokelat sebahu, mata keemasan tajam, dan Xiao Hu di samping. Postur tegapnya membuatnya terlihat seperti prajurit cilik yang menyeramkan.

Ia melangkah ke arena latihan. Di sana, lima peserta senior sudah menunggu. Usia mereka 15-17 tahun, tubuh kekar, wajah garang. Mereka adalah yang terbaik di kamp sampai Jinyu datang.

Yang paling depan, pemuda 17 tahun bernama Zhang Lei. Tinggi 1,8 meter, bahu lebar, tatapan sombong. Empat lainnya juga tak kalah sangar.

"Jadi ini pelatih baru kita?" Zhang Lei menyeringai. "Anak kecil dengan harimau peliharaan?"

Yang lain tertawa.

Jinyu diam. Ia menatap mereka satu per satu. Wajahnya datar.

Zhang Lei maju selangkah. "Dengar, bocah. Mungkin kau hebat di ujian, tapi melatih kami? Itu urusan lain. Kami sudah bertahun-tahun latihan. Apa kau sanggup?"

Jinyu masih diam.

"Kalau mau jadi pelatih kami, buktikan dulu. Lawan kami." Zhang Lei mengepalkan tangan. "Sekarang."

Para peserta lain yang menonton mulai bersorak. Xia Feng dan Lin Yue cemas. Mereka tahu Jinyu kuat, tapi melawan lima senior sekaligus?

Jinyu akhirnya bicara. Suaranya tenang, datar. "Kalian yakin?"

"Yakin banget!"

Jinyu menghela napas. "Baik. Tapi kalau kalah, kalian harus patuh padaku. Apa pun perintahku."

Zhang Lei tertawa. "DEAL!"

Arena dikosongkan. Semua peserta berkumpul melingkar. Jinyu berdiri di tengah, berhadapan dengan lima pemuda besar. Xiao Hu duduk di pinggir, menonton dengan kepala miring.

Zhang Lei memberi kode. Empat temannya mengepung Jinyu dari semua sisi.

"Serang!"

Mereka bergerak serempak. Tapi Jinyu sudah tidak di tempat.

Brak!

Pukulan pertama mengenai ulu hati Zhang Lei. Ia terhuyung, matanya membelalak. Dua detik kemudian, dua temannya sudah tergeletak dengan satu ditendang lututnya hingga roboh, satu dipukul rahangnya hingga pingsan.

Dua sisanya ragu. Jinyu menatap mereka. "Mau mundur?"

Mereka menyerang. Jinyu menghindar dengan lincah, lalu dalam hitungan detik, keduanya jatuh bersamaan dengan satu ditendang perutnya, satu dipukul belakang lehernya.

Zhang Lei yang baru pulih dari pukulan pertama, melihat semua temannya sudah tumbang. Ia mengamuk, menyerang dengan sekuat tenaga.

Jinyu menghindari pukulannya, lalu masuk ke jarak dekat. Sikutnya menghantam rusuk Zhang Lei. Tendangan rendah menyapu kakinya. Zhang Lei jatuh, dan sebelum ia bangun, pisau Jinyu sudah di lehernya.

Hening.

Jinyu menatapnya dari atas. "Kalah?"

Zhang Lei terbaring, napas tersengal. Matanya menatap Jinyu dengan tak percaya. "Kau... apa kau manusia?"

Jinyu menarik pisau, menyimpannya. "Bangun. Kalian kalah."

Ia berbalik, berjalan ke pinggir arena. Xiao Hu menyambutnya dengan menjilat kaki.

Para penonton terpaku. Xia Feng dan Lin Yue sudah biasa, tapi yang lain? Mulut mereka kompak terbuka.

Zhang Lei dibantu bangun oleh teman-temannya. Mereka menunduk malu. Tapi di mata mereka, ada rasa hormat yang baru lahir.

Zhang Lei berkata, "Kami... kalah. Apa perintahmu?"

Jinyu menatap mereka. Lalu, tanpa ekspresi, ia berkata, "Pertama, bersihkan kandang Xiao Hu."

"Apa?"

"Kandang Xiao Hu. Di belakang barak. Penuh kotoran. Bersihkan."

Zhang Lei dan teman-temannya saling pandang. "Itu... perintah?"

"Iya. Cepat."

Mereka berjalan gontai menuju kandang. Dari belakang, terdengar tawa Xia Feng dan Lin Yue yang puas.

Sore harinya, Jinyu memulai pelatihan resmi. Ia berdiri di depan para peserta dengan seragam letnan mudanya. Xiao Hu duduk di samping, sesekali menguap memperlihatkan taring kecil. Di bahu Jinyu, Yoyo melingkar pura-pura jadi ular berbisa.

"Hari ini," suara Jinyu datar, "kita mulai latihan dasar. Push up 100 kali. Squat jump 100 kali. Lari keliling lapangan 20 putaran dengan beban di tangan dan kaki."

Protes langsung pecah.

"100 KALI? GILA!"

"20 PUTARAN PAKAI BEBAN? ITU 8 KILOMETER!"

Jinyu tidak bereaksi. Ia hanya menatap mereka dengan mata keemasan yang dingin. Xiao Hu ikut menatap, menggeram kecil.

Zhang Lei maju. "Pelatih Jinyu, itu terlalu berat. Kami butuh adaptasi."

Jinyu menatapnya. "Oh, kalian merasa berat?" Ia menunjuk Zhang Lei dan kawan-kawan. "Kalian lima, latihan 2x lipat. Push up 200, squat jump 200, lari 40 putaran."

Zhang Lei terbelalak. "APA?!"

"Itu karena kalian protes."

Yang lain langsung diam. Zhang Lei membuka mulut, tapi melihat tatapan Jinyu, ia memilih menutupnya.

Latihan dimulai. Satu jam pertama, semua masih kuat. Jam kedua, mulai ada yang kelelahan. Jam ketiga, seorang peserta—sebut saja A—berhenti di tengah lapangan, terengah-engah.

Jinyu mendekat. Xiao Hu ikut, menggeram. Yoyo di bahu Jinyu mendesis, lidahnya bercabang keluar masuk.

"Kenapa berhenti?" tanya Jinyu.

"A-aku capek, Pelatih..."

Jinyu mengangguk. "Capek wajar. Tapi berhenti tanpa izin, tidak wajar." Ia menunjuk Yoyo. "Kau lihat ular ini?"

Peserta itu menelan ludah. Yoyo mendesis lebih keras, memperlihatkan taringnya yang mengilap.

"Dia lapar. Belum makan hari ini." Jinyu tersenyum tipis. "Mau jadi makan malamnya?"

Peserta itu langsung lari, melanjutkan lari dengan kecepatan maksimal. Yang lain ikut memacu diri, takut jadi sasaran ular.

Xia Feng yang melihat dari kejauhan berbisik pada Lin Yue, "Dia benar-benar ratu iblis."

Lin Yue mengangguk. "Tapi keren."

Setelah latihan selesai, Jinyu kembali ke baraknya. Tubuhnya tidak lelah, ia hanya mengawasi, bukan ikut latihan. Xiao Hu langsung merebahkan diri di pojok, kelelahan karena ikut lari-lari kecil.

Di meja, sebuah amplop putih tergeletak. Jinyu mengambilnya, membuka. Surat dari rumah.

Tangannya sedikit gemetar. Ia duduk, membaca.

"Yuyu tersayang,

Bagaimana kabarmu di sana? Ibu rindu sekali. Setiap malam Ibu lihat fotomu, berharap kau cepat pulang. Kakak Ketiga selalu tanya kapan Yuyu pulang. Dia bilang dia sudah bisa lari 5 putaran keliling kompleks, mau tunjukkin padamu.

Ayah baik-baik saja, sibuk dengan tugasnya. Kakak Pertama dan Kakak Kedua kirim salam, mereka akan pulang saat Tahun Baru. Kami semua berharap kau bisa pulang saat itu.

Jaga kesehatan, Nak. Makan yang teratur, jangan begadang. Kalau ada masalah, tulis surat. Ibu akan selalu membacanya.

Dari Ibu yang selalu menyayangimu,

P.S. Kakak Ketiga nitip gambar. Dia bilang itu gambar kalian berdua main di sawah. Maaf kalau jelek, dia masih belajar."

Jinyu menatap surat itu lama. Di dalam amplop, ada selembar kertas kecil bergambar dua orang satu besar, satu kecil di sawah. Gambar cakar ayam, tapi ada hati di sana.

["Mengharukan sekali,"] sistem berkomentar pelan.

Diam.

Shshsss~ "Kau mau balas?"

Jinyu mengangguk. Ia mengambil kertas dan pena, mulai menulis.

 

"Ibu tercinta, Ayah, Kakak Pertama, Kakak Kedua, Kakak Ketiga,

Surat Ibu sudah sampai. Aku di sini baik-baik saja. Latihan berat, tapi aku suka. Setiap pagi bangun jam 4, lari keliling lapangan, latihan bela diri, kadang ajar teman-teman yang lebih tua. Mereka kadang malas, tapi aku punya cara untuk membuat mereka semangat.

Makanan di kantin enak. Aku sering bantu koki masak kalau dapat hasil buruan dari hutan. Ibu tidak usah khawatir, aku gemuk? Mungkin sedikit. Tinggiku sekarang 1,4 meter. Kata orang, aku seperti pohon bambu.

Aku punya teman-teman baru. Ada Kakak Xia Feng, Kakak Lin Yue, mereka baik padaku. Ada juga lima orang yang suka protes, tapi sudah aku bereskan. Mereka sekarang bersihkan kandang harimau peliharaanku. (Iya, aku pelihara harimau. Namanya Xiao Hu, masih kecil, lucu banget.)

Juga punya ular, tapi dia sudah lama, Ibu tidak usah khawatir, dia jinak. Namanya Yoyo, suka makan daging dan tidur.

Kalau Kakak Ketiga sudah bisa lari 5 putaran, aku akan ajari bela diri kalau pulang. Tapi janji dulu, harus rajin belajar.

Aku titip beberapa barang buat Ibu: buku tentang harimau (buat Kakak Ketiga), herbal untuk kesehatan (buat Ibu dan Ayah, seduh jadi teh), dan beberapa pil (simpan kalau ada yang sakit). Jangan tanya dari mana, yang penting semuanya legal. aku juga mengirimkan kulit harimau untuk ibu jadikan selimut di musim dingin jadi jangan lupa digunakan ya.

Sampai jumpa di Tahun Baru. Aku akan pulang. Jika pihak militer menyetujui permintaan cuti ku.

Dari putri dan adikmu,

Su Jinyu

P.S. Kakak Ketiga, gambarnya bagus. Tapi lain kali, jangan gambar aku dengan hidung sebesar itu."

 

Jinyu melipat surat itu, memasukkannya ke amplop. Ia juga mengeluarkan buku harimau bergambar dari dimensi, beberapa herbal kering yang sudah diikat rapi, dan tiga pil penyembuh dalam kotak kecil. Semua ia bungkus dengan kain, lalu dimasukkan ke dalam tas kecil.

Besok akan ia titipkan pada pos militer.

Ia duduk di ranjang, menatap langit-langit. Xiao Hu merangkak naik, tidur di pangkuannya. Yoyo melingkar di bahu.

Shshsss~ "Jinyu, kau baik-baik saja?"

Iya. Hanya... Sedikit merindukan mereka.

["Wajar. Kau manusia sekarang."]

Bukan manusia. Tapi Iblis.

["Iblis yang rindu dengan keluarganya."]

Jinyu tidak menjawab. Ia mengelus kepala Xiao Hu, merasakan hangat bulunya.

Di luar, angin malam berdesir. Salju tipis mulai turun. Tiga minggu lagi Tahun Baru. Dia menanti kehidupan baru nya di tahun-tahun berikutnya.

1
Dewiendahsetiowati
akhirnya Yoyo ketemu setelah 10tahun berpisah
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!