Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertengkar lagi
Adira langsung terbatuk-batuk saat mendengar pertanyaan Zo. Pria itu sepertinya sudah tahu bahwa prosedur kehamilan yang dijalaninya telah gagal.
Seketika, Adira tersadar akan hal yang sangat penting. Ia sampai melupakan Dokter Cindy yang sangat berharap agar ia mau bicara kepada Arlan tentang kegagalan itu.
Rasa lapar yang tadi melilit perutnya tiba-tiba hilang seketika. Ia mendadak merasa kenyang karena membayangkan harus berhadapan lagi dengan suaminya. Pikirannya kalut; bagaimana dia harus merayu pria sedingin Arlan?
Jika dibandingkan, Arlan dan Zo memang sama-sama dingin. Namun, Zo tidak sekasar Arlan. Sementara Arlan, salah sedikit saja, pasti akan main tangan dan menyakiti fisiknya.
Adira melirik sosok yang duduk di hadapannya dengan perasaan waswas. "Anda... sudah tahu?" tanyanya pada pria itu dengan suara ragu.
"Kau berusaha menutupinya?" Bukannya menjawab, Zo justru balik bertanya. Ia kemudian mengangkat pandangan, menatap Adira dengan sorot mata yang sulit dibaca.
"Bukan... bukan soal itu. Tapi maksud saya, apa kegagalan ini bisa mengancam karier Dokter Cindy?" tanya Adira dengan nada cemas, menunjukkan kekhawatiran mendalam pada nasib dokter tersebut.
"Kenapa tidak kau tanyakan saja pada suamimu?" jawab Zo tanpa ekspresi.
Adira terdiam sejenak. "Tanyakan padanya... Tapi dia sangat kasar, dan bisa saja dia marah-marah lagi, lalu menyakitiku seperti biasa," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Namun, Zo yang memiliki pendengaran tajam tentu saja mendengar gumaman lirih wanita itu. "Semua keputusan itu ada di tangan suamimu," ucap pria itu lagi.
Adira kembali menatap Zo dengan tatapan serius. "Jadi maksud Anda, pemecatan Dokter Teo juga berasal dari dia?" tanya Adira menuntut kepastian.
"Kau terlihat begitu peduli dengan dokter itu," sahut Zo. Suaranya tiba-tiba terdengar tidak senang saat Adira mulai membahas nasib sang dokter.
"Saya peduli sebagai teman! Jika pemecatannya karena kesalahan yang ia lakukan, saya tidak akan merasa bersalah. Namun, karena penyebabnya ada hubungannya dengan saya... bagaimana saya bisa tenang!" tegas Adira.
Zo tampak tersenyum sinis di salah satu sudut bibirnya. "Peduli sebagai teman? Atau peduli karena rasa? Apa kau semurahan itu? Masih memikirkan laki-laki lain, padahal kau sudah bersuami?" Kata-kata Zo terdengar sangat menusuk hingga ke lubuk hati Adira.
Zo mengatakan semuanya dengan tenang, namun dari sorot matanya, pria itu jelas sedang tidak baik-baik saja. Sepertinya ia sedang marah, namun berusaha menutupinya rapat-rapat dengan mengeluarkan kata-kata pedas.
Adira menatap Zo dengan tatapan penuh amarah yang rasanya ingin meledak. "Atas dasar apa Anda menuduh saya seperti itu?! Jangan asal bicara Anda! Kenapa Anda suka sekali cari gara-gara dengan saya?!" ujar Adira berusaha menahan emosi.
"Seharusnya Anda—"
"Apa?!" potong Zo cepat, menatap Adira dengan sorot mata menantang. "Memang kenyataannya seperti itu, kan?"
Adira mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi yang meluap. "Anda itu terlalu mencampuri privasi saya! Bertindak dan berlakulah sebagai sepupu Tuan Arlan, bukan seolah-olah Anda adalah suami saya!"
TRANG!
Zo meletakkan sendoknya dengan kasar hingga menciptakan bunyi nyaring. Benturan keras antara logam dan piring kaca itu membelah kesunyian, membuat bahu Adira tersentak. Suara dentingan tajam itu menjadi penanda kemarahan Zo yang baru saja meledak.
"Tidak ada keputusan yang saya buat jika bukan dari suamimu. Entah itu di perusahaan atau di mana pun, semua itu adalah keputusan suamimu! Jadi jika kau ingin bicara soal mereka, bicara saja pada suamimu!" ucap Zo menekankan bahwa dia hanya suruhan Arlan. Ekspresi pria itu juga semakin dingin dan menyeramkan, lalu pergi meninggalkan Adira yang masih syok.
Adira tertegun melihat respons Zo yang menurutnya sangat berlebihan. Wanita itu perlahan meletakkan sendoknya; nafsu makannya seketika hilang tak berbekas. Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan untuk menenangkan gemuruh di dadanya.
"Kenapa setiap kali berhadapan dengannya, kami selalu bertengkar?" batinnya getir.
Sejak pertemuan pertama hingga saat ini, setiap kali berdiskusi, ujung-ujungnya mereka pasti akan beradu argumen.
"Gila..." gumam Adira frustrasi. Ia merasa terjepit di antara dua pria yang sulit dihadapi: suaminya yang kasar, dan sepupu suaminya yang dingin sekaligus pemarah meski tidak pernah main tangan.
"Dan apa katanya tadi? Semua keputusan di tangan Tuan Arlan?" Adira memijat pelipisnya, merasa semakin frustrasi.
"Ya Tuhan, kenapa dengan nasibku ini. Tuan Arlan itu bukan laki-laki yang tenang untuk dihadapi," keluh Adira dalam hati. Ia merasa sangat tertekan karena harus menghadapi suaminya demi masalah yang menimpa Teo dan juga Cindy.
Tidak! sesampai dirumah besok, aku harus bicara dengannya. Batin Adira akan menemui Arlan yang sudah hampir dua minggu ini dia hindari karena kejadian tempo hari.
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang