Sebuah keluarga sederhana yang penuh tawa dan kebahagiaan… hingga suatu hari, semuanya berubah.
Sebuah gigitan dari anjing liar seharusnya bukan hal besar, tapi tanpa mereka sadari, gigitan itu adalah awal dari mimpi buruk yang tak terbayangkan.
Selama enam bulan, semuanya tampak biasa saja sampai sifat sang anak mulai berubah dan menjadi sangat agresif
Apa yang sebenarnya terjadi pada sang anak? Dan penyebab sebenarnya dari perubahan sang anak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Aru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Ugh!!" Andini terbangun dari tidurnya dengan nafas memburu, ia melihat sekelilingnya yang terlihat banyak reruntuhan bangunan. Ia mencoba bangun dari duduknya dengan menahan rasa sakit pada punggungnya, ia berjalan perlahan keluar dari ruangan tersebut dan terlihat banyak orang disana.
Andini berjalan perlahan mendekat kearah salah satu wanita yang tengah duduk. "Permisi."
Wanita itu terkejut dan menoleh ke arah Andini. "Ah, iya? Kamu yang semalem berhasil kabur dari si Belek kan?" Wanita itu menggeser posisi duduknya dan menepuk bangku tempatnya duduk tadi.
Andini yang terlihat sedikit bingung dan duduk di sebelah wanita itu. "Si Belek? Siapa itu?"
Wanita itu tertawa kecil dan tersenyum pada Andini "Monster yang tadi menyerang mu, kami memanggilnya si belekan. Oh iya, kita belum berkenalan, nama ku Ajeng Tri Mutia." Ajeng mengulurkan tangan kirinya. Andini yang melihat uluran tangan Ajeng pun ikut mengulurkan tangan kanannya.
"Eh, maaf, maaf." Andini yang menyadarinya pun segera mengulurkan tangan kirinya untuk berjabat tangan, Ajeng hanya tertawa dengan tinggah Andini. "Oh iya, nama aku Andini Grecia Nendra." Lanjut Andini.
"Salam kenal ya Andini." Ajeng tersenyum pada Andini, mereka pun akhirnya saling berbincang dan Ajeng terkejut saat mengetahui keadaan Andini. "Jadi kamu 2 hari sama kedua orang tua kamu yang udah jadi zombie? Wah berani juga ya kamu."
Andini tersenyum kecut dan menundukkan kepalanya. "Nggak, jujur aja aku malah takut, takut banget. Aku takut di gigit, aku takut di serang, dan yang paling aku takutin klo mereka pergi." Ajeng yang mendengar ucapan Andini pun memeluknya dan mengelus rambut Andini lembut.
"Mereka pasti bangga sama kamu, kamu hebat banget bisa urus mereka." Andini yang mendengar itu menangis dan membalas pelukan Ajeng dengan erat.
"Hayo loh Ajeng, lo apain anak orang!!" Ucap seorang pria yang tiba-tiba menghampiri mereka. Andini yang mendengar ucapan itu pun melepas pelukannya dan mengusap air matanya.
"Ih apa sih Jon, ganggu aja." Ucap Ajeng kesal "Tuh kan ingus Andini masuk lagi gegara takut sama lo." Lanjutnya.
"Tai masih bisa aj lo bercanda. hai cantik, kenalin nama gw Kevano Putra." Kevano pun menarik kursi yang berada di sebelahnya untuk duduk dekat Andini.
"Nama dia Andini, dah sono pergi elah." Usir Ajeng, karena Kevano memang suka menggoda perempuan. Andini yang mendengar mereka bertengkar pun tertawa kecil, Ajeng yang melihat Andini tertawa pun melihat ke arahnya dan mereka tertawa bersama.
"Oh iya, lo belum kenalin diri lo ya cantik." Kevano menjulurkan tangannya pada Andini, Andini yang melihatnya pun menjabat tangan Kevano dan satu nya lagi menghapus air matanya.
"Andini Grecia Nendra, salam kenal Kev." Ucap andini dengan tersenyum dan melepaskan tangannya. "Oh iya, tadi aku denger Ajeng panggil kamu Jon, knp Jon? Aku kira tadi nama kamu Jonathan." Lanjut Andini.
"Nggak Din, gw manggil dia Jon karena dulu bibir dia pernah di sengat lebah, nah jontor dah mulut dia Hahaha." Jawab Ajeng.
"Woy kan dah gue bilang jangan ngomongin itu!" Kevano yang marah pun memukul pelan kepala Ajeng
"Aduh... Aduh... Sakit woy!" Ajeng memukul tangan Kevano dan tertawa. Mereka bertiga bercanda dan berbincang untuk waktu yang lama.
Saat sore hari, Andini merasa ada yang berbeda dari dirinya. Ia merasa sakit pada lehernya dan saat ia merasa haus dia merasa tak berani dengan air, Andini hanya bisa menahan dirinya dan berusaha tetap tenang agar tak membuat orang lain khawatir.
Ajeng melihat Andini yang terlihat berbeda pun mendekatinya. "Kenapa Din? Dari tadi diem aja." Ucap Ajeng yang sekarang berada di dekat Andini, di situ pula Ajeng melihat wajah Andini yang sangat pucat. "Kamu pucet banget, ayo aku antar ke kamar kamu." Lanjut Ajeng yang segera mengantar Andini. Andini pun hanya mengangguk dan berjalan kearah kamar nya.
Setelah mengantar Andini, Ajeng pun pergi kearah orang-orang berkumpul. "Kalian beneran mau pertahanin Andini?" Ucap Ajeng serius dengan menatap orang-orang yang masih selamat.
"Ya kenapa enggak?" Ucap seorang Pria
"Udah lah Jeng, lagian Andini kan cuma kena cakar si belek aja." Lanjut salah satu wanita.
"Ini bukan virus biasa loh, kalian pasti tau itu." Kevano yang baru kembali setelah mencari bahan pangan pun langsung mendekat kearah Ajeng dan yang lain.
"Weh kenapa nih? Rame amat." Tanya Kevano dengan merangkul Ajeng, ia pun menoleh ke arab Ajeng yang terlihat serius. "Serius amat ni ibu negara, ada apa dah?" Tanya nya lagi.
"Gw mau Andini di usir aja." Kevano mendengar ucapan Ajeng pun bingung dan melepaskan rangkulannya.
"Bercanda kan lo? Kan elo yang minta dia di tolong, kenapa lo malah mau usir dia?" Ucap Kevano.
"Gue minta ngebantu dia buat bunuh si belek bukan ngobatin dan bawa dia ke sini." Jawab Ajeng dengan memberi tekanan pada setiap katanya.
Sehari sebelumnya.
Saat Ajeng dan kelompoknya sedang mencari bahan makanan, tanpa sengaja ia melihat seorang wanita yang sedang bertarung dengan monster Belek. Ajeng dengan segera memanggil anggota lain dengan panik. "Weh, weh, gue liat ada cewek di serang sama si Belek." Saat mendengar itu tiga pria yang membawa senjata tajam segera berlari ke arah yang di tunjuk oleh Ajeng.
Saat para pria berusaha memenggal kepala monster itu, Ajeng mendekati Andini yang telah terluka karena cakaran monster tadi. Ajeng menahan dua wanita yang ingin membawa Andini. "Jangan, dia udah di cakar."
"Udah lah Jeng, ini cuma cakaran." Jawab salah watu wanita. "Kita ngelawan monster bukan kucing. Kita gak tau cara virus ini nyebar." Terjadi adu mulut antara ajeng dan dua wanita itu, akhirnya Kevano datang dan menggendong Andini.
"Kalo lo emang gak mau, biar gue aja yang bantu dia." Akhirnya mereka pun segera pergi dan beberapa ada yang membantu mengalahkan monster.
Sesampainya di tempat persembunyian, ajeng benar-benar tak mau mengobati Andini dan hanya diam di ruang diskusi. Kevano yang baru saja selesai merawat luka Andini mendekat ke arah Ajeng yang terlihat tak terima dengan keputusan yang lain.
"Udah lah Jeng, lagian cuma cakaran, udah aman kok. Gak ada yang perlu lo khawatir in." Kevano mendekat ke arah Ajeng dan duduk di sampingnya.
Ajeng menarik kerak baju Kevano dengan kuat. "Kalau sampai sesuatu terjadi. Lo yang gue bunuh!" Ajeng mendorong Kevano dan bergegas untuk meninggalkan ruangan.
"Kenapa? Tentang ortu lo? Bukannya lo sendiri yang bunuh mereka Jeng?" Tanya Kevano dengan menahan emosinya. "Kita ini dokter, udah seharusnya selamatin orang yang bisa kita selamatin." Lanjutnya.
"Gak usah bawa-bawa ortu gue, dan. Gue bukan dokter lagi." Ajeng pun pergi dari sana meninggal Kevano sendirian, Kevano yang lelah dengan sifat ajeng yang selalu berpikir negatif hanya bisa memijat dahinya. Mereka berdua telah kenal sedari kecil, tapi sampai sekarang Kevano tetap tak tau bagaimana cara untuk meyakinkan Ajeng.
"Lo bisa gak sih gak pikirin baik-baik semuanya? Dia cuma kena cakar Jeng, cakar doang." Ucap Kevano berusaha meyakinkan Ajeng.
"Gue gak peduli, kalau sampai besok dia masih di sini." Ajeng berhenti sejenak dan menghela nafas kasar. "Gue yang pergi."
"Lo gak bisa egois dong, gimana pun tempat ini buat mereka yang masih hidup Jeng!" Ujar seorang pria dengan memukul meja.
"Lo bilang gue egois?! Gue mau selamatin kita! Kalo gue egois, dari awal gue gak akan mau selamatin kalian!" Ajeng terlihat sangat frustrasi dengan keadaan ini, ia pun akhirnya pergi keluar untuk menenangkan diri. Mereka semua akhirnya berdiskusi tanpa Ajeng, dan menetapkan Andini tetap berada di sini bersama mereka
Tengah malam saat semua telah tertidur, terlihat satu monster di dalam bangunan runtuh yang di tempati olah Ajeng dan lainnya. Mereka yang tengah tertidur tak menyadari kedatangan monster yang diam-diam memasuki satu persatu ruangan dengan tangan yang telah berlumuran darah.
Kevano dan Ajeng yang baru saja kembali setelah melihat-lihat keadaan luar pun terkejut dengan monster yang telah berada di dalam sana.
"Andini?" Ucap Ajeng saat melihat Andini yang telah berubah menjadi monster. Andini yang menyadari kedatangan mereka pun memutar kepalanya dan tersenyum lebar hingga telinga nya dengan gigi-gigi nya yang tajam.
Kevano dan Ajeng yang melihat nya pun terkejut, pasalnya ini adalah pertama kalinya mereka melihat makhluk yang menyeramkan seperti itu. "Kayaknya virus itu udah mulai berevolusi deh." Bisik Kevano memegang erat tangan Ajeng dan menariknya kebelakang dengan perlahan.
"Hai... Kevano..." Ucap Andini dengan suara berat dan serak. "Apakah dia teman yang akan kau jadikan subjek mu dulu?" Andini memutar tubuhnya, Kevano dan Ajeng yang mendengar ucapan Andini pun terkejut, pasalnya semua monster yang pernah mereka hadapi tak pernah mengetahui tentang mereka, dan apa yang di maksud dengan subjek.
Ajeng hanya bisa mempertanyakannya pada diri sendiri dan hanya terdiam dengan keadaan sekarang. Andini berjalan dengan perlahan dengan menyeret kuku-kuku panjangnya, dengan suara decitan yang membuat telinga tak nyaman.
"Kevano... Berikan wanita itu... pada ku..." Andini mengeluarkan lidahnya yang sangat panjang. Kevano menggenggam erat tangan Ajeng dan berjalan mundur perlahan, saat itu Andini pun mulai bersiap untuk menyerang mereka. Saat Andini bersiap melompat, Kevano dengan cepat menarik Ajeng dan berlari keluar dari sana, Andini pun segera melompat dan mengejar mereka. "Ke..vano.." Panggil Andini.
Andini terbangun di tempat yang di penuhi dengan cahaya putih yang menyilaukan mata. "Di mana ini?" Bisik Andini pada diri sendiri, ia pun terbangun dari duduknya dan melihat sekelilingnya yang hanya ada dirinya. Saat Andini berjalan, dia melihat bahwa dirinya tak dapat mengendalikan dirinya, tapi ia tak berhasil. Andini hanya bisa melihat Kevano dan Ajeng yang ia kejar, beberapa saat, Kevano dan Ajeng berpisah, membuat tubuh Andini bingung dan akhirnya mengejar Kevano. "Apa-apaan ini?! Kok gue gak bisa ngendaliin badan gue?!" Andini berusaha menggerakkan tangannya, tetapi tak berhasil seakan tangannya terikat oleh rantai.
Kevano yang lelah berlari mencoba mencari tempat persembunyian. Ia pun dengan cepat berlari kearah batu besar untuk bersembunyi di balik batu itu.
Bersambung...