Seorang gadis yang memiliki kelainan jantung sejak lahir, harus bertahan hidup sendiri membesarkan kedua adiknya.
Kerja keras dan banting tulang sanggup dia lakukan demi masa depan adik adiknya. Bahkan masa depannya sendiri tak pernah dia pikirkan.
Hingga suatu ketika keadaan memaksanya untuk menggadaikan harga diri serta hidupnya.
Dan dengan terpaksa harus menikah dengan orang yang tak pernah mencintainya.
Nah, untuk mengetahui kisah selanjutnya? Simak saja di karyaku yang terbaru berjudul
" Harga Diri Yang Tergadaikan ".
Selamat membaca, jangan lupa subscribe, like, vote, dan semua dukungan. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewidewie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter: 8
Malam ini adalah malam bulan purnama. Nabila belum bisa terlelap meskipun waktu menunjukkan pukul 1 dini hari.
Dia pun beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke luar untuk melihat keadaan Erick.
Dengan perlahan Nabila membuka pintu dan memberikan selimut untuk menutupi tubuh Erick yang meringkuk karena kedinginan.
Dengan hati hati Nabila memasangkan selimut tersebut agar tidak membuatnya terbangun.
Namun saat hendak melangkah pergi, tiba tiba Erick meraih tangannya dan membuatnya berhenti kemudian menoleh pada Erick yang sudah dalam posisi duduk namun dengan mata masih terpejam.
" Pa, maafkan Erick pa. Erick mohon dengarkan penjelasan Erick "
Erick mengigau dan terus menggenggam tangan Nabila.
Nabila menatap lekat wajah Erick yang terlelap namun menyiratkan raut kesedihan dan penderitaan.
" Erick, kesalahan besar apa yang sudah kamu lakukan hingga keluargamu menghukummu seperti ini" Gumam Nabila dengan perasaan iba.
Dan dengan perlahan Nabila melepaskan genggaman Erick, karena malam sudah semakin larut dia harus segera beristirahat agar besok tidak bangun kesiangan.
#
Keesokan harinya.
Ketiga wanita cantik itu sudah berdandan rapi hendak ke tempat masing masing, kerja, sekolah dan kuliah.
Ketiganya sudah siap di meja makan dan mulai menyantap sarapan paginya.
" Kak, teman kakak gak diajak makan bareng kita " Ucap Felisa yang membuat Nabila kaget hingga tersedak.
Uhukk
" Astaga kakak lupa"
Nabila segera bangkit dari duduknya dan berlari ke depan rumah.
" Erick, Erick kamu di mana? Rick! "
Nabila mencari ke mana mana tapi tidak menemukan keberadaannya.
" Apa mungkin dia sudah berangkat duluan" Gumam Nabila sambil melangkah masuk kembali ke dalam rumah.
Tapi ketika hendak menutup pintu terlihat seseorang sedang berbicara di sudut pagar. Nabila segera berlari dan mendekatinya
" Erick, kamu sedang apa? "
" Eh Nabila, ini Bil tadi ada seorang ibu ibu yang kesusahan membawa belanjaannya dan aku menolongnya hingga di depan rumahnya , nih aku di beri beberapa makanan untuk sarapan " Jawab Erick sambil menunjukkan beberapa kantong plastik kepada Nabila.
Nabila terdiam dan merasakan hatinya seperti teriris " Begitu sakitnya hatiku melihat Erick sampai segitunya mencari uang buat makan, seharusnya aku bersyukur dengan semua kemudahan yang Tuhan berikan " Batinnya.
Erick yang berjalan terlebih dahulu kembali berhenti dan menoleh pada Nabila yang masih terdiam membeku " Bil kamu kenapa? Ayo sini kita makan ini bersama sama "
Nabila pun tersenyum dan berjalan mendekati Erick kemudian memintanya untuk masuk ke dalam rumahnya dan makan di meja makan bersama sama dengan kedua adiknya.
Setelah selesai dengan semua kegiatannya mereka pun berangkat.
Dan begitulah Erick menjalani kehidupannya bersama Nabila dan adik adiknya meskipun dia harus rela tidur di teras atau di pos ronda setiap malamnya.
Waktu berlalu begitu cepat, sudah satu bulan Erick bekerja keras banting tulang untuk mencari makan dan merasakan kerasnya hidup di luar.
" Bil, ini aku berikan semua kepadamu" Erick menyodorkan amplop coklat yang tebal kepada Nabila. Nabila pun bingung dan perlahan meraihnya kemudian membuka isi di dalamnya. ( Gaji pertamanya senilai
Rp. 5.000.000)
" Tidak Rick, ini adalah milikmu kamu gunakan uang ini untuk keperluan sehari-hari"
" Tapi semua kebutuhanku kan kamu yang mengurusnya Bil, ya uang ini untukmu dong "
Nabila menepuk jidatnya
" Nih anak memang baik hati apa bodoh sih hhh" Batinnya.
Erick masih tersenyum menatap Nabila yang seakan bingung mau ngomong apa.
" Ini gaji pertamaku Bil, kamu pegang ya, nanti untuk makan aku minta sama kamu".
" Tidak! enak saja memangnya aku istri kamu"
" Ya kali aja mau"
" Hahh apa yang kamu katakan! " Tanya Nabila yang membuatnya bingung.
" Em sudah Bil lupakan saja. Jadi kamu mau gak nerima uang ini" Ucap Erick.
Nabila menghela nafas panjang " Hff Erick mending sekarang aku temani kamu mencari kontrakan sambil jalan kita berangkat ke pabrik.
" Ya udah deh aku nurut sama kamu saja "
🌺
🌺
🌺
Revi memasuki ruangan Erland dan duduk di depan laki laki tampan yang saat menjabat sebagai CEO di perusahaan tersebut.
Erland menutup laptopnya dan tersenyum melihat sang kekasih sudah berada di depannya.
" Sayang kok manyun gitu sih ada apa? o iya sini mendekatlah aku kangen sama bibir kamu"
Revi melotot tajam " Enak saja, aku ke sini mau minta putus".
Deg
Tentu saja Erland kaget dan segera berdiri kemudian berjalan mendekati Revi
" Apa! Putus! Apa sih maksud kamu sayang, apa salahku? Apa karena mamaku? ".
Revi menunduk kemudian menangis dan memeluk erat Erland " Erland, mamaku memaksaku agar segera pindah ke Jepang dan tinggal bersamanya. Aku bingung Erland, aku mencintaimu tapi aku juga menyayangi mamaku ".
Erland mempererat dekapannya dan mengusap lembut rambut indah kekasihnya
" Jepang bukanlah tempat yang jauh sayang, kamu ikuti saja kemauan mama kamu dan aku akan sering mengunjungimu ke sana ".
" Benarkah? "
Erland pun mengangguk sambil mengedarkan pelukannya.
Revi tersenyum bahagia dan memberanikan diri menyambar bibir Erland terlebih dahulu. Tentu saja Erland menyambutnya dengan senang hati dan mereka pun saling berpagutan dan saling menyesap.
Erland terus melumat bibir manis kekasihnya sambil tangannya yang nakal mulai bergerilya mencari cari sesuatu yang nikmat untuk dipegang dan dimainkan.
Ceklek
Bruaks
Keduanya kaget dan saling melepaskan pagutannya karena tiba tiba pintu terbuka dari luar.
Erland mengusap kasar rambutnya dan mengusap bibirnya yang masih basah oleh saliva Revi yang tertinggal sementara Revi tak berani menoleh karena pasti sama berantakannya seperti Erland.
" Erick! Kebiasaan banget sih gak ketuk pintu dulu! " Ketus Erland yang kesal karena kedatangan adiknya yang tiba tiba dan di saat yang kurang tepat.
Erick pun terkekeh " Hahaha kalian terciduk kedua kali, makanya kunci pintu dulu sebelum melakukannya ".
Erland mendengus kasar kemudian mengusap kepala Revi yang terus menunduk dan sangat malu kepada Erick yang memergokinya sedang bercumbu dengan Erland.
" Sayang sayang sudah jangan gugup dia adikku " Ucap Erland sambil membantu mengancingkan baju Revi yang sudah terlepas beberapa dan karena gugup Revi tidak bisa mengancingkannya kembali.
Erick berjalan mendekati Erland namun Erland menghentikannya " Stop Erick diam di situ, kamu keluar saja biarkan aku menyelesaikan urusanku ".
" Tidak kak aku cuma sebentar ada hal penting yang ingin aku sampaikan "
Erland pun segera meminta Revi untuk keluar dan mengajak Erick untuk duduk di sofa.
"Sekarang katakan "
" Aku mau kembalikan ini kak" Erick menyodorkan blackcard yang Erland berikan beberapa hari yang lalu.
" Kenapa Erick? " Tanya Erland penasaran " Di dalam kartu ini ada uang 1 M untuk kamu sewa rumah, motor dan terserah mau kamu pakai untuk apa. Kakak janji tidak akan kasih tahu papa".
Erick menghela nafas dalam dalam kemudian menyunggingkan senyum tipis " Aku tidak butuh itu kak. Aku tidak mau mengecewakan papa. Aku ingin mendapatkan uang dari hasil kerja kerasku sendiri kak.
Erland terdiam sesaat " Kamu yakin Rick".
" Yakin kak"
" Di luar sangat keras Erick, kakak takut kamu menderita di sana "
" Tidak kak, justru aku sangat bahagia. Banyak sekali pelajaran hidup yang aku dapatkan. Aku mengerti arti kerja keras, bersyukur dan ikhlas ".
Erland tersenyum dan menepuk bahu adiknya
" Bagus Erick, kakak bangga sama kamu"
Erick pun mengangguk " Tapi kak minta bantuan kakak bisa gak? ".
" Bantuan apa? "
" Erick pinjam mobil sehari saja, plis tapi jangan bilang siapa-siapa termasuk papa dan teman-teman Erick di pabrik"
Erland mendengus kasar " oke oke nih kuncinya tapi awas jangan sampai lecet atau kamu aku pecat".
" Siap"