Devan Artyom, sang pewaris sah Artyom Group, disingkirkan dalam konspirasi pembunuhan oleh kakaknya sendiri karena ambisi kekuasaan. Meski ia selamat, namun tidak dengan Ayahnya. Devan kemudian diasingkan dalam kondisi fisik dan mental yang hancur, termasuk ditinggalkan oleh tunangannya sendiri yang lebih memilih sang kakak yang telah berkuasa.
Di titik terendah dalam hidupnya itu, takdir mempertemukannya dengan seorang perempuan berambut keemasan yang menyelamatkan jiwanya dari kematian dan memberinya cahaya untuk hidup kembali, namun perempuan itu menghilang tanpa jejak.
Dialah Anna Isadora B, yang dibesarkan dalam kurungan seorang ibu yang kejam. Suatu hari ia kembali menerima janji kebebasan di atas kapal pesiar, namun nyatanya ia pun kembali diperjualbelikan.
Namun, takdir kembali mempertemukan Devan dan Anna tepat di saat Anna mencoba mengakhiri hidupnya dengan melompat ke tengah samudera. Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya?
💌DARK PSYCHOLOGICAl ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evrensya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Pertama Malam Itu
Sepuluh tahun lalu.
Malam kelam tak berbintang. Cakrawala menampakkan wajah kelabunya, menyelimuti bhumi dalam keheningan yang lirih dan dalam.
Kabut tebal mulai turun menyelimuti kota terpencil di puncak kota Malang, mengalun perlahan membawa aroma tanah lembap dan dedaunan hijau berembun nan harum, yang seakan membisikkan gentar ke relung jiwa.
Perlahan suasana itu berubah. Langit pekat menggantung semakin berat di hamparan angkasa, menutupi bumi dalam gulita yang legam nan mencekam.
Seorang gadis berusia 17 tahun melangkah cepat menyusuri jalan setapak di taman kota, langkahnya yang jenjang berpadu dengan ketukan heels yang menghentak permukaan jalan berlapis beton kasar. Lampu-lampu oranye berpendar redup, memantul samar di permukaan jalan yang dingin, mengiringi setiap jejaknya.
Angin malam berhembus dingin, menebarkan aroma pinus di sekeliling taman. Rambut panjangnya yang berwarna emas bergelombang lembut, menari mengikuti gerakannya. Sesekali terdengar nyanyian jangkrik atau kepakan sayap burung malam yang melintas rendah.
Di balik gaun satin midnight blue yang menempel indah di tubuhnya, beberapa bekas luka berat mulai memudar, tersembunyi rapi. Dari penampilannya yang memikat, tak ada yang menyangka gadis itu sedang melarikan diri dari rumah. Untuk apa juga menunjukkan penderitaan kepada dunia yang tak peduli?
Untuk pertama kalinya, Anna berpenampilan seperti ini. Ia ingin dunia memandangnya sebagaimana manusia normal lainnya, tanpa kamuflase, tanpa topeng, tanpa rasa takut yang memborgolnya. Ia ingin merasakan kebebasan, setidaknya sekali seumur hidupnya.
Gadis itu mempercepat langkahnya, hatinya mulai berdebar, seolah kota ini menyimpan rahasia yang menunggu untuk ditemuinya. Dan tanpa ia ketahui, beberapa detik ke depan, takdir membawanya kepada pertemuan yang akan mengubah seluruh cerita dalam hidupnya.
Benar saja, setelah berjalan cukup jauh, kakinya tiba-tiba terhenti begitu saja ketika melihat sesosok manusia yang duduk menunduk dalam gelap, kepalanya tenggelam di antara kedua lututnya, napasnya terdengar kasar dan berat, seolah memancarkan kepedihan yang mendalam.
Ada isak kecil yang terdengar di sela napasnya itu. Semakin Anna mendengarkan, semakin ia merasakan gelombang duka yang memancar dari laki-laki asing itu.
Anna menghela napas panjang untuk menenangkan diri, lalu memutuskan dengan cepat menghampiri laki-laki itu. Entah bisikan dari mana yang menuntunnya agar tidak mengabaikan orang asing yang sedang tenggelam dalam lara.
"Tuan, aura kegundahan Anda menyelimuti seluruh alam, sampai-sampai aku tidak mampu mengabaikannya begitu saja." Anna akhirnya bersuara pada laki-laki yang masih enggan mengangkat wajahnya meski telah menyadari kehadiran seseorang di depannya.
"Apa boleh aku duduk menemani Anda di sini, Tuan?" tanyanya lembut.
Walau tidak mendapatkan persetujuan, Anna tetap mengambil tempat duduknya pada bangku panjang yang terbuat dari kayu, tepat di sebelah tubuh lelaki yang diselimuti coat abu dari brand ternama—Christian Daior. Bahu lebar laki-laki itu terlihat berguncang, meringkuk dalam, menikmati pilu jiwanya.
"Udaranya dingin sekali, anginnya juga cukup kencang, sepertinya hujan akan turun segera. Apa yang membuat Anda menyendiri di sini, Tuan? Yah, aku tahu, suasana dingin seperti ini memang sangat mendukung jiwa-jiwa yang sedang bersedih, tapi terlalu menikmatinya bisa mematikan akal sehat." Anna terus berucap walau masih tidak di tanggapi.
"Bicaralah Tuan, walau satu patah kata, walau itu bukan kata-kata yang baik, walau itu sebentuk umpatan amarah pun tidak mengapa, aku akan menerimanya, agar hati Anda sedikit longgar, hmm?!" Anna terus mencoba memancing laki-laki ini agar mau mengeluarkan sepatah kata untuk menanggapinya.
Gadis yang juga sedang dalam kondisi lara itu berucap begitu tenang seolah mengerti betul dengan apa yang sedang dirasakan lelaki yang dari suara tarikan nafasnya saja terdengar begitu menyedihkan.
Anna lagi-lagi menghela nafas panjang. Rupanya laki-laki di sebelahnya ini terlihat masih enggan meresponnya, ia nampak justru semakin membenamkan wajahnya lebih dalam lagi di antara kedua lututnya, dengan kedua tangan yang melingkar di belakang menekuk dalam lehernya.
Jgeeer...!
Sebuah kilatan cahaya terang seketika menyinari gelapnya bumi lalu di susul oleh suara petir sekali lagi. Tubuh Anna membuat sedikit getaran kecil karena kaget. Tiba-tiba gerimis turun bersamaan dengan angin kencang yang mendatangkan suara petir susulan di atas langit.
Anna segera berdiri tegak memayungi kepala lelaki di bawahnya dengan membentangkan ke sepuluh jari-jari tangannya. Ia lupa bahwa dirinya pun butuh berteduh.
"Hei, Tuan! Apa Anda ingin terus menikmati kesedihan di bawah rintik hujan? Gerimis itu tidak baik bagi hati yang sedang bersedih, rintiknya bisa menambah tekanan emosi di dalam jiwa!" Seru gadis muda itu.
"Kalau Anda terus berdiam diri di sini, bukan hanya hati Anda yang semakin sakit, tapi juga fisik Anda kemudian. Tuan! Menikmati kesedihan bersama-sama itu jauh lebih baik, mau mencobanya bersamaku?!" tanya Anna lantang.
Ia masih berdiri menahan rintik air yang jatuh di atas kepala lelaki yang kelihatannya sudah lebih tenang dari sebelumnya, terdengar dari suara napasnya yang mulai berhembus normal.
Tak henti-hentinya, celoteh Anna menghujani telinga laki-laki yang kelihatan mulai mengangkat kepalanya perlahan, dan merubah posisi duduk menjadi lebih nyaman.
Melihat itu, Anna seketika kikuk, tangannya segera menurun, tidak ingin perhatian yang baru saja ia curahkan terlihat secara gamblang.
Wajah laki-laki itu mulai mendongak, mendaratkan pandangannya pada setangkup wajah seorang gadis cantik yang juga sedang memandang gugup ke arahnya, seolah dunia berhenti sejenak di antara mereka.
Rintik-rintik gerimis yang semakin besar menetes di atas wajah pucat laki-laki itu, kemudian meleleh tanpa diusapnya. Matanya yang sembab nampak memerah menyisakan sisa kepedihan di sorotnya.
"Tu-tuan... gerimis," lirihnya pelan. Anna tidak bisa berucap lebih dari pada itu setelahnya. Lidahnya menjadi kaku, tubuhnya pun seketika membeku. Netra biru laki-laki yang sedang fokus menatap matanya, membuatnya mematung seketika.
Zaa... Zaa...!
Tanpa aba-aba hujan tiba-tiba turun menghujam bumi dengan begitu derasnya.
"Tuan, hujan!" teriak Anna akhirnya disertai panik, memecah kebekuan yang tercipta sesaat.
Lelaki yang ada di bawah Anna itu pun bangkit seketika, dan dengan sigap langsung meraih jemari dingin Anna, lalu membawanya berlari pergi meninggalkan bangku kosong itu untuk mencari tempat untuk berteduh.
Kini jemari Anna tenggelam dalam pelukan erat telapak tangan laki-laki yang satu langkahnya saja sepanjang hampir satu meter, membuat kaki Anna kewalahan menyusulnya.
Angin berhembus semakin kencang, sedangkan waktu mendadak berjalan melambat. Setiap detik berdetak mengikuti irama nadi yang berdenyut dalam lingkaran genggaman tangan laki-laki itu.
Aroma pedih dan manis tercium dari tubuh laki-laki yang mengalirkan hawa panas pada kulit mereka yang sedang menyatu. Dapat Anna rasakan setiap gerakan yang semakin mencengkram tangannya itu seolah memberikan sinyal persetujuan untuk berbagi duka bersama.
Mereka berdua berhenti pada sebuah halte bus di pinggir jalan yang sepi. Sepertinya hanya ada mereka berdua saja yang terlihat di sekitar sini. Laki-laki itu langsung melepas tangan Anna ketika sudah sampai pada tujuan, dan merasa ini adalah tempat yang paling aman untuk berteduh.
Anna lalu mengibas dress-nya yang cukup basah oleh air hujan. Ia langsung duduk di tempat yang telah tersedia untuk memeriksa tumitnya yang terasa sakit akibat di paksa berlari menggunakan heels bening transparan setinggi tujuh cm. Ada sedikit luka gores disana ketika Anna memeriksanya.
Tak apalah, yang penting bisa berteduh tepat waktu. Sebenarnya bahaya kalau gaunnya basah kuyup, bisa menjiplak bentuk tubuhnya dengan sempurna.
Anna berterima kasih dalam hati pada laki-laki yang memiliki tengkuk putih, yang di depan sana sedang berdiri membelakanginya.
"Tuan, duduklah di sini! Anda bisa basah kalau berdiri di pinggir sana!" teriak Anna sedikit kencang agar terdengar jelas.
Laki-laki itu kemudian membalikkan badannya, menghadap ke arah Anna walau masih tanpa kata-kata.
"Tuan, aku tahu Anda sedang marah pada dunia, tapi duduklah dulu sebentar," tunjuk Anna sekali lagi, seraya mempersilahkan lelaki jangkung yang masih berdiri kaku di hadapannya itu untuk segera mengambil tempat duduknya.
Lalu lelaki itu pun akhirnya mengangguk pelan, pasrah. Sepertinya kali ini dia telah memutuskan untuk menuruti ucapan Anna.
Dialah Devan, yang juga tidak menyadari bahwa keputusannya untuk menerima ajakan gadis asing itu adalah menerima takdir yang akan mengikat dirinya dengan Anna, selamanya....
❤️❤️❤️
semangat buat kakak author