Di hancurkan berkeping-keping oleh suaminya dan juga ibu mertuanya, kehidupan Laras sangat hancur. selain harus kehilangan anak keduanya, Laras di serang berbagai ujian kehidupan lainnya. Putranya harus di rawat di rumah sakit besar, suami mendua, bahkan melakukan zina di rumah peninggalan orantuanya.
Uluran tangan pria tulus dengan seribu kebaikannya, membawa Laras bangkit dan menunjukkan bahwa dirinya mampu beejaya tanpa harus mengemis pada siapapun. Akan dia balaskan semua rasa sakitnya, dan akan dia tunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
Sehebat apa luka yang Laras terima? apakah dia benar-benar membalaskan rasa sakitnya?
Yuk simak terus ceritanya sampai habis ya 🤗🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni mardiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali sakit
“A-anakku, Kak, a-anakku hiks ….”
Laras menangis di dalam pelukan Bayu setelah Kiara melepaskannya. Sang kakak rela berdiri di samping bangkar demi menenangkan adik tersayang yang merasa sangat terpukul atas kepergian anak keduanya.
“Sabar, Dek. Kamu harus ikhlas. Kami tahu ini adalah ujian yang sangat berat buat kamu, cuma kalau kamu terus seperti ini kondisimu bisa drop. Kamu nggak kasihan sama Langit. Dia juga sedang sakit, bukan? Jadi Kakak mohon, sesedih apa pun kamu atas kepergian si kecil, tetapi kamu harus bisa kuat demi Langit, oke?”
Bayu mencium pucuk kepala Laras, meski di dalam hati kecilnya dia juga sangat sakit dan hancur. Namun tetap saja jika di depan sang adik harus terlihat lebih kuat dan tegar.
“Apa yang dikatakan oleh Mas Bayu benar, Dek. Lihatlah Langit. Dia juga sangat sedih atas kepergian adik kesayangannya, cuma dia berusaha terlihat lebih tegar karena tidak ingin ibunya tambah sedih,” ucap Kiara mengusap air mata sang adik ipar sambil mengusap lengannya.
“Sekali lagi maafkan Kakak, Dek. Kali ini Kakak sudah gagal menjaga kamu. Bapak dan Ibu pasti marah banget karena Kakak tidak becus menjaga kamu, padahal hanya kamu satu-satunya keluarga yang Kakak punya selain keluarga kecil Kakak sendiri. Seandainya nyawa anakmu bisa ditukar, Kakak siap menukarnya. Biarlah Kakak yang pergi, jangan—”
Laras mendorong sedikit tubuh Bayu untuk menjauh darinya, lalu menatap tajam dengan sedikit membentaknya.
“Stop, Kak! Kakak ngomong apa, sih, hahh? Kakak sadar nggak, omongan Kakak itu sudah membuat Kak Kiara sakit. Kalau Kakak nggak ada, bagaimana nasib keluarga kecil Kakak, hahh? Gimana!”
Bayu menoleh ke arah Kiara yang menatapnya sambil menggelengkan kepala. Terlihat sekali jika Kiara sangat mencintai sang suami dan takut akan kehilangannya.
“Aku tahu, Mas. Kamu sangat menyayangi Laras, tapi bisa ‘kan, aku mohon jangan berkata seperti itu. Jika aku kehilanganmu. Aku bisa langsung gila, Mas. Kamu mau aku gila, hem? Atau kita sama-sama aja ma*ti biar kita selamanya bersama.”
Perkataan Kiara membuat Bayu segera memeluk Kiara sekilas dan mencium keningnya. Dia meminta maaf serta menjelaskan, bahwa sang suami akan tetap selalu ada di sampingnya.
Laras tersenyum kecil, kembali memeluk kedua kakaknya. Ketika hati mulai mencoba untuk mengikhlaskan, tiba-tiba saja Langit meringis kesakitan sambil memegangi dadanya.
“Arghh … I-ibu, da-dada Langit sa-sakit banget hiks … I-ibu, to-tolong Langit. Sa-sakit!”
Laras, Kiara, dan Bayu refleks meneh ke arah bangkar Langit. Di mana dengan sigap Aiman menekan tombol untuk memanggil dokter.
“Jangan dicengkram dadanya, Sayang. Tenang oke, tarik napas, buang. Tarik lari, buang. Ya, benar seperti itu. Lakukan pelan-pelan sampai dokter datang, oke?”
Aiman mencoba untuk tetap menenangkan Langit supaya tidak semakin panik ketika merasakan sesak di bagian dadanya.
Kiara dan Bayu membantu Laras turun dari ranjang untuk mendekati bangkar Langit.
“Sayang, tenang ya, sebentar lagi dokter datang. Langit harus kuat ya, Ibu nggak mau kehilangan Langit. Ibu mohon bertahan, Sayang. Cukup Adel yang pergi, tapi jangan Langit Ibu mohon hiks ….”
Perasaan Laras semakin hancur karena melihat sang anak berusaha untuk tetap mengontrol rasa sakitnya. Dia berusaha kuat menghadapi segala sesuatu dengan keyakinan, jika sang anak bisa kembali sembuh.
“Langit sayang, Ibu, ‘kan? Kalau sayang Langit harus bertahan, ya. Ibu janji, kalau Langit sembuh nanti kita jalan-jalan terserah Langit mau ke mana. Intinya Ibu akan buat Langit bahagia bukan kesakitan lagi. Ibu nggak tega lihatnya, Sayang, maafkan Ibu hiks ….”
Bayu mengusap punggung Laras berulang kaki, sedangkan Aiman terus menekan tombol rumah sakit.
Hanya berselang 5 menit dokter datang dalam keadaan berlari saking paniknya. Dia langsung menangani kasus Langit dengan teliti, tenang, juga terus fokus.
Setelah kondisi Langit kembali membaik Laras segera memeluk sang anak dengan hati-hati. Dia menangis penuh rasa takut karena tidak ingin kehilangan anak di waktu yang bersamaan.
Tak terbayang bukan, bagaimana perasaan seorang ibu ketika anaknya masuk rumah sakit akibat penyakit paru-paru, kemudian anak lainnya meninggal dunia hanya karena ketidakadilan yang diterimanya.
Langit sendiri mencoba menghapus air mata sang ibu dan tersenyum. Seakan-akan anak itu sedang mentransfer kekuatan untuk menunjukan, bahwa dia pasti baik-baik saja.
Di rasa semuanya sudah membaik sang dokter pun berpamitan tak lupa mengingatkan untuk Langit meminum obat tepat waktu tidak boleh telat atau terputus. Itu semua dilakukan demi kesehatannya.
“Ibu janji, Sayang. Ibu akan buat Langit bahagia dan kita harus bisa bangkit. Sekarang Adek sudah tidak ada, jadi kita harus selalu sama-sama tidak boleh ada yang saling meninggalkan. Janji?”
Langit mengangguk antusias, lalu mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Laras. Sang ibu bertekad akan membalas semua penghinaan juga rasa sakit itu dengan sebuah kebahagiaan yang kelak akan membuat mereka menderita.
Bayu, Kiara, juga Aiman merasa senang melihat Laras berusaha bangkit. Meski si kecil sudah tidak ada, tetapi dia masih memiliki Langit yang jauh lebih berharga karena masih ada di sampingnya.
Melihat Laras seperti memiliki trauma akan kehilangan Aiman segera mengajak Bayu untuk bicara di luar. Dia memberikan usul untuk mencari dokter psikiater demi membantu meringankan rasa trauma yang ada di pikiran wanita itu.
Maklum saja selama 7 tahun berumah tangga mental Laras dihajar habis-habis. Ditambah sekarang dia sudah kehilangan suami juga anak, jadi besar kemungkinan Aiman menduga adanya yang sedikit gangguan mental.
Awalnya Bayu menolak. Dia berpikir adiknya itu tidak gila, tetapi setelah dijelaskan kalau dokter psikiater bukan hanya menangani orang gangguan jiwa.
Sampai akhirnya sang sahabat menerima usul dari Aiman demi adiknya supaya tidak berlarut di dalam kesedihan, apalagi Laras harus menghadapi ujian bertubi-tubuh sudah pasti mentalnya sedikit terganggu.
Bayu mengucapkan banyak-banyak terima kasih lantaran Aiman selalu memperhatikan keluarganya begitu tulus, sampai kepikiran hal yang sangat penting itu.
Dengan senang hati Bayu akan segera membicarakan usul dari Aiman kepada dokter yang menangani Laras sebelumnya demi kebaikan adik tersayang.
******
Bersambung