Lima tahun telah berlalu sejak Edeline putus dengan kekasihnya. Namun wanita itu masih belum mampu melupakan mantan kekasihnya itu. Setelah sekian lama kehilangan kontak dengan mantan kekasih, waktu akhirnya mempertemukan mereka kembali. Takdir keduanya pun telah berubah. Edeline kehilangan harapannya. Namun tanpa dirinya sadari ada seseorang yang selama ini diam-diam mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8 Makan Malam
...Bab. 8...
...MAKAN MALAM...
"Edeline, ini jaket siapa?" tanya Celine saat melihat ada jaket laki-laki tergeletak di atas kursi.
Aku yang baru selesai mandi langsung ditarik Celine untuk dimintai penjelasan. Aku menceritakan secara singkat pertemuanku dengan Ray semalam dan siapa itu Ray kepada Celine.
"Oo ... Jadi, Ray mantan kekasihmu!? Pantas saja kamu betah sendirian. Rupanya belum bisa melupakan cinta lama," seru Celine mulai mengerti.
"Kakak ... Jangan mengejek, ya!" Aku mengingatkan lebih dulu.
"Aku tidak mengejek. Hanya saja tidak baik terpuruk terlalu lama dengan masa lalu. Apalagi menunggu sampai begitu lama. Setiap orang mungkin berubah, Edeline. Aku bukannya melarang kamu bertemu dengannya lagi. Tapi, setelah lima tahun berlalu kita tidak tahu apa yang telah terjadi. Aku memang tidak tahu penyebab kalian berdua putus dulunya. Aku hanya berharap kamu tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya." Celine mengingatkan dengan niat baik.
"Jadi, maksud Kakak, aku tidak boleh terlalu berharap?" Aku menyimpulkan.
"Seharusnya memang begitu. Kecuali kamu sudah memastikan semuanya. Kalau perasaannya juga sama sepertimu," jawab Celine pelan.
"Aku mengerti, Kakak. Dia mengajakku bertemu lagi nanti malam. Apa aku boleh pergi?" tanyaku meminta ijin.
"Aku tidak mungkin melarangmu. Tapi, ingat ya ... Kamu harus tetap bisa menjaga diri dan perasaanmu. Jangan melakukan hal yang akan membuatmu menyesal seumur hidup!" pesan Celine penuh penekanan.
"Baik. Akan aku ingat. Terima kasih, Kakak!" balasku sambil tersenyum.
...🌹🌹🌹...
Di toko bunga, Keith baru selesai melayani seorang pembeli. Setelah pembeli pergi, toko kembali sepi. Ia menatap ke meja Edeline yang sekarang kosong.
'Toko bunga ini, tanpamu rasanya sepi sekali,' gumam Keith di dalam hati.
...🌹🌹🌹...
Aku sedang duduk di serambi kamar sambil menunggu Ray. Celine menonton atraksi tarian api di dekat pantai. Tidak lama Ray datang dengan pakaian rapi.
"Hai, Edeline. Lama menunggu?" tanya Ray.
"Tidak," jawabku.
"Mau ke suatu tempat atau melihat atraksi tarian api?" tanya Ray membiarkanku memilih.
"Suatu tempat itu di mana?" tanyaku balik.
"Kalau mau tahu ... Ayo, pergi!" ajak Ray merahasiakan.
Aku agak sedikit ragu teringat pesan Celine. Meski pun dia orang yang pernah mencintaiku, tak ada salahnya tetap merasa waspada. Ray melihat keraguan di wajahku. Ia kemudian menarik tanganku.
"Ayo, aku tidak akan menyekapmu! Aku akan mengembalikanmu kepada kakakmu tepat waktu," janjinya.
Aku akhirnya hanya bisa mengikuti. Ternyata dia membawaku ke Evergreen Resort. Kami naik ke lantai atas dengan lift. Aku mulai sedikit cemas ke mana Ray akan membawaku. Lift berhenti di lantai paling atas. Pintu lift terbuka dan nampaklah di depannya gerbang garland pintu masuk restoran dengan atap transparan. Di langit-langit atap juga bergelantungan lampu yang berkelap-kelip memenuhi ruang restoran. Ray membawaku ke sebuah meja yang berada di area terbuka dekat pagar pembatas yang dihiasi lampu-lampu dan ornamen tanaman rambat sehingga pemandangan dari bawah nampak jelas dari atas sini.
"Wow!" seruku takjub.
"Keren, bukan!? Hampir seluruh Glotious bisa terlihat dari sini," ujar Ray sambil terus menatapku.
"Ya. Sungguh indah!" pujiku.
Ray lalu mengajakku makan. Kami seperti sepasang kekasih yang sedang makan malam romantis. Sesekali diselingi canda dan tawa.
"Aku harap ini bisa menebus semua kesalahanku padamu dulu, Edeline!" ucap Ray tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Bisakah kamu katakan padaku, apakah kamu mau memaafkanku?" Ray justru kembali bertanya.
"Aku tidak mengerti. Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu memintanya hari ini. Bukankah semalam aku juga sudah mengatakannya?" jawabku.
"Sekarang aku bisa lega mendengarnya. Terima kasih, Edeline! Kamu gadis terbaik yang pernah aku temui," ucapan Ray semakin aneh. Aku masih tidak mengerti.
"Apa kamu mengajakku ke tempat seperti ini hanya untuk minta maaf?" tanyaku.
"Sebenarnya ... iya. Seperti yang kukatakan tadi, semoga ini bisa menebus kesalahanku padamu dulu," jawab Ray. Aku terdiam. Aku merasa ingin pergi jika tujuannya hanya untuk itu, aku pikir tidak perlu sampai seromantis ini. Semua ini terlalu berlebihan. Namun tatapan Ray kembali menahanku.
"Aku benar-benar tidak mengerti, Ray. Jika tujuanmu hanya untuk meminta maaf, menebus kesalahan, kenapa harus mengajakku ke sini?" tanyaku dengan suara tertahan agar tidak menggangu pengunjung lain.
"Edeline, aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Aku benar-benar kacau dan dalam masalah besar. Aku datang ke sini karena kupikir aku bisa memikirkan semuanya dengan tenang. Namun setelah bertemu denganmu lagi ... Justru membuatku kembali bimbang." Tiba-tiba Ray mengatakan hal itu dengan wajah murung. Aku juga tidak tahu ada masalah apa yang membuatnya terlihat begitu kacau.
"Kamu ini sangat aneh. Apa yang sudah terjadi padamu selama lima tahun ini? Kamu tidak harus mengajakku bertemu kembali malam ini jika aku hanya membuatmu bimbang, kan?!" kataku ketus. Aku mulai merasa tidak nyaman.
"Apa kamu tahu, apa yang membuatku ingin bertemu denganmu lagi? Matamu, Edeline! Tatapan matamu tidak pernah berubah. Masih berbinar seperti saat kamu menatapku dulu. Itu yang membuatku merasa bersalah," jelas Ray.
Aku diam saja. Aku hanya bisa berkata dalam hati.
'Ray, jika saja aku bisa mengatakan semua perasaan yang ku alami selama ini padamu. Sayangnya sangat sulit bagiku dengan dirimu yang kini penuh teka-teki.'
"Aku antar kamu kembali ke kamarmu saja. Aku tidak mau kakakmu cemas. Terima kasih sudah meluangkan waktumu malam ini!" ucap Ray dengan pelan. Aku diam tak ingin berkata apapun. Setelah berada di halaman Evergreen Resort, aku memaksa untuk kembali sendiri. Aku tinggalkan Ray yang sebenarnya enggan. Aku terus memikirkan maksud setiap ucapan Ray yang penuh tanda tanya. Dan mendapat satu kesimpulan, mungkinkah masalah besarnya itu ada hubungannya dengan seorang wanita?!
^^^bersambung...^^^
karna buka kisah baru itu perlu tenaga jga hirup udara yg pas😌 utk qm edeline semangat ya buat kisah baru nya lgi😌
ga segampang itu menjalani kisah baru dan melupakan yg lama
cari kerjaan baru mngkn akan berubah kehidupan baru dan pastinya akan bertemu dgn org yg baru
semangat
masih nyangkut masa lalu jgn mulai buka halaman baru
bisa aja qm yg selanjutnya menyakiti perasaan nya 🙄 pahamkan itu jgn asal hdup aja🙄
basa basi