Menikah dengan jalur perjodohan tidak pernah terpikir oleh Idris. Hidup yang mulanya terasa damai di pesantren harus berakhir setelah ayah angkatnya datang dan meminta dirinya untuk menerima perjodohan dengan partner bisnis perusahaan.
"Dia seorang CEO. Hidupmu akan jauh lebih baik jika menikah dengannya. Kami akan anggap persetujuanmu sebagai balas budi atas jasa kami dalam membesarkanmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zulfa Laeli Ahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
✨Belajar mengikhlaskan✨
Mendengar kenyataan bahwa Idris akan menikah membuat hati Rekha terasa sangat sakit. Rekha menutup pintu kamar tak lupa pula menguncinya agar tidak ada seorang pun yang tahu bahwa dia sedang menangis.
"Ndu..." panggil ibu nyai Arifah sambil mengetuk pintu kamar anaknya.
"Dalem umi..." balas Rekha sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi putihnya.
"Buka pintu ndu..." ucap ibu nyai Arifah.
"Sebentar umi..." balas Rekha lalu turun dari ranjang dan membukakan pintu.
Setelah pintu terbuka Rekha mempersilahkan ibu nyai Arifah untuk masuk ke dalam kamar. Ibu nyai pun berjalan masuk dan duduk di ujung kasur empuk yang dilapisi seprei berwarna biru muda.
Rekha menutup pintu lalu berjalan ke arah ibu nyai. Rekha langsunh memeluk uminya dengan erat dan menangis di pelukannya. Ibu nyai mengelus punggung rata milik Rekha dengan lembut berusaha menenangkannya.
"Sabar ndu... Umi tau apa yang sedang kamu rasakan sekarang..." ucap ibu nyai Arifah dengan lembut.
"Umi... hiks... hiks... Apa Rekha harus mengikhlaskan mas Idris?" tanya Rekha sambil melepaskan pelukannya dan memandang wajah ibu nyai yang begitu tenang.
"Jodoh itu ada ditangan Allah ndu... Kalaubukan Idris yang jadi suami kamu berarti dia bukan jodoh kamu... Sekarang kamu harus mengikhlaskan nya ya..." jawab umi tersenyum sembari mengelus hijab yang Rekha kenakan.
"Tapi Rekha cinta sama mas Idris umi... Sudah 3 tahun Rekha menunggu tapi apa hasilnya? Mas Idris justru menikah dengan orang lain, umi..." ucap Rekha memegang kedua tangan ibu nyai.
"Justru itu ndu... Ini ujian buat kamu... Belajar mengikhlaskan yang bukan milikmu yah..." balas ibu nyai Arifah.
Setelah mendengar perkataan ibu nyai, Rekha sadar dengan semua yang terjadi. Ia memutuskan untuk mencoba mengikhlaskan seseorang yang ia cintai secara diam-diam selama 3 tahun. Setelah itu Rekha berdoa meminta petunjuk pada Yang Kuasa agar hatinya bisa ikhlas.
Ibu nyai keluar dari kamar setelah menenangkan anak semata wayangnya. Sebenarnya ibu nyai juga menyukai sifat Idris. Apalagi sudah lama Idris mengabdikan dirinya terhadap pak kyai dan ibu nyai. Membuat ibu nyai pertama jika orang seperti Idris itu jarang sekali ditemui.
Idris...
"Baik Abah... Idris pamit... Assalamualaikum..." ucap Idris mencium tangan pak kyai sebanyak 3 kali.
Setelah mendapatkan restu dari pak kyai hati Idris menjadi sedikit merasa lega. Tapi ada banyak pertanyaan yang ada di benaknya tentang Ning Rekha yang menjatuhkan gelas saat ia mengatakan akan menikah.
Idris berusaha menghilangkan pemikiran itu dari kepalanya tetapi sangatlah susah. Idris berjalan ke arah parkiran motor yang tidak jauh dari ndalem.
"Idris!" panggil seseorang yang sedang memegang sapu lidi ditangannya.
"Iskan? Kamu udah sembuh?" tanya Idris Sardi berjalan mendekati sahabatnya.
"Alhamdulillah Idris..." jawab Iskan lalu mengulurkan tangannya kepada Idris.
"Alhamdulillah kalau begitu..." balas Idris sambil menjabat tangan Iskan.
Kemudian mereka berdua duduk di pos yang berada di dekat gerbang.
"Kamu habis ngapain ke ndalem?" tanya Iskan.
"Itu aku mau minta restu..." jawab Idris santai.
"Restu? Memangnya kamu mau nikah Idris?" tanya Iskan sambil meletakkan sapu lidinya di samping pos.
"Iya insyaallah doakan yah..." jawab Idris.
"Apa kamu ngga tau?" tanya Iskan.
"Tau apa?" tanya Idris balik karena merasa penasaran.
"Maaf sebelumnya... Ning Rekha itu pernah tanya soal kamu Idris... Waktu aku nganter dia ke pasar..." jawab Iskan serius sambil mengingat-ingat.
"Tanya apa Is?" tanya Idris penasaran dengan jawaban Iskan.
"Jadi begini..." jawab Iskan mulai bercerita.