Kehidupan dia insang yang saling mencintai baru saja di mulai. Delia dan Dafa sangat bahagia dengan pernikahan tersebut. Delia memutuskan untuk menerima Risa, adiknya agar bisa tinggal bersamanya. Namun, keputusan tersebut adalah sebuah kutukan yang mampu menghancurkan kehidupan barunya...
Apa yang terjadi pada pernikahan mereka nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shangrai Hark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kutukan sang mertua
Dengan perasaan khawatir dan tergesa-gesa. Dafa dan Risa pada akhirnya berhasil membuat Delia tidak curiga sedikitpun.
Kini Dafa dan Risa berada di sebuah restoran yang dekat dengan tempat kerja Risa. Dafa merasa dirinya harus meluruskan masalah yang ia perbuat.
“Apa kau tidak ingat apa yang kita lakukan semalam? ” Tanya Dafa pada Risa, yang kini menunduk. Memperlihatkan rasa bersalah dan penyesalannya.
Risa menjawab pertanyaan Dafa hanya dengan sebuah anggukan kepala sahaja.
“Lalu darah di atas kasur itu?...” Risa menjawab lagi dengan menganggukkan kepalanya.
Dafa menjambak rambutnya sendiri, rasa bersalah menyelimuti dirinya. Bayangan Delia yang marah akan tau perbuatannya terus saja mengelilingi kepalanya.
“Risa, apa kamu mau meminum pil kontrasepsi. Ini mencegah agar kamu tidak hamil nantinya. Aku tidak ingin Delia kecewa padaku nanti. Terlebih pada dirimu. Kamu adalah adiknya, aku mohon pikirkan lah dan lakukan pencegahannya. Secepat mungkin, ” ucap Dafa lalu beranjak meninggalkan Risa. Waktu terus berjalan, Dafa tidak mungkin harus tetap diam menunggu di sana.
“Kakak ipar, aku tidak akan menuruti perkataan kakak semudah itu. Aku akan merawatnya agar janin tumbuh dengan cepat di rahimku nanti. Tunggu saja, kejutan menunggu kalian nantinya.” Risa bergumam dengan senyuman penuh kemenangan, ketiga Dafa mendinggalkan restoran tersebut.
Di rumah, Delia yang baru saja selesai mandi kini duduk di atas kasur kamarnya. Biasanya Yessi menyulitkan Delia saat Dafa tidak ada di rumah. Namun, hari itu tiba tiba saja Yessi tidak menyulitkan atau mengatakan apapun pada Delia.
Selesai mengganti pakaian Delia berjalan menuju dapur. Tempat terdekat di kamarnya. Di sana Delia melihat ibu mertuanya, Yessi tengah tersenyum seraya menatap ponselnya.
Delia menyapa ibu mertuanya dengan senyuman ramah. Namun, ketika Yessi menyadarinya, wanita paruh baya itu dengan cepat mematikan ponselnya dan merasa sedikit gugup.
“Aku hanya menonton drama saja tadi. Kenapa kamu mengganguku saja. Hah, Setidaknya bawakan aku teh, seperti yang Risa lakukan padaku. Adikmu bahkan lebih baik dari pada dirimu. Belajarlah darinya. ” Ucap Yessi dengan kolotnya.
Delia merasa bersalah sekaligus bertanya-tanya. ‘memangnya kapan Risa pernah membuatkan teh untuk ibu mertuanya. ’
“Yah, Kamu kan tidak pernah belajar sopan santun. Lihatlah adikmu, dia sekolah dan rajin saat belajar. Bukannya dirimu yang selalu membolos dan keluyuran entah kemana.” dengan sangat jelas, Yessi menghina Delia tanpa berpikir panjang.
“Ya Bu, aku memang membolos saat sekolah. Tapi aku memiliki alasan. Kami hidup berdua tanpa adanya orang tua. Tanpa adanya aku yang berkerja maka tidak ada uang untuk kami membeli makan. Bu, aku memolos demi keluarga dan masa depan ku. Berbicara sopan saja tidak akan membuat perut kenyang.” Dengan menunduk Delia memberanikan diri untuk membalas perkataan ibu mertuanya.
Yessi beranjak dari duduknya dan berdiri menghadapi Delia. “Lihatlah, lihatlah. Lihatlah sikapmu ini. Kamu dan aku memang tidak pernah bisa akur jika tidak ada sopan santun. Dari awal cara bicaramu ini tidak benar dan jika Dafa tau kamu berbicara kasar seperti ini padaku, apa yang akan dia lakukan terhadapmu nantinya? Sebaiknya kamu masak saja sana. Aku ingin makan sesuatu yang enak hari ini. ” Yessi berbicara lantang di hadapan Delia langsung.
“Apa ada alasan di balik sikap ibu yang seperti ini? ” Ucap Delia,dengan bentundukkan kepala dan air mata yang menetes. Suaranya bahkan terdengar bergetar di telinga Yessi
“Apa ada alasan di balik sikap ibu yang seperti ini? ” Ucap Delia,dengan bentundukkan kepala dan air mata yang menetes. Suaranya bahkan terdengar bergetar di telinga Yessi.
“Alasan?”
Yessi mengangkat dagu Delia yang tertunduk dengan tangannya, “Aku punya alasan, sangat mudah jika kamu menebaknya. Aku membencimu Delia.” di depan wajah Delia langsung, tanpa ragu Yessi mengutarakan alasan sikapnya terhadap Delia.
Yessi berbalik dan hendak meninggalkan Delia yang air matanya terus berlinang. Yessi menghentikan langkahnya dan menghadap Delia lagi. “Jika kamu mau bertanya tentang alasan aku membencimu, jawabannya juga ada. Kamu mau mendengarkannya? ”
Delia mengusap air matanya, “Iya, aku ingin mendengarnya. Jika alasannya juga sangat buruk aku juga akan tetap mendengarkannya. Tapi, sekarang aku adalah istri dari anak ibu. Seperti ibu menyayangi Dafa, tidak bisakah ibu menyayangiku juga? ” Ucap Delia dengan penuh tatapan memelas.
Kehidupan Delia yang tidak pernah merasakan kasih sayang, mulai terselimuti ketika bertemu dengan Dafa. Delia masih belum tahu pasti tentang alasan kebencian Yessi terhadapnya. Tapi, satu hal yang ia yakini saat ini adalah, Delia tidak akan pernah merasakan kasih sayang dari orang tua.
“Sikap angkuhmu ini adalah alasannya dan kamu juga telah merebut putraku dari ku. Semenjak Dafa bertemu denganmu, dia selalu saja membantah perkataanku. putraku bahkan hampir tidak pernah mempedulikanku karena dirimu. Ada saatnya di mana kamu juga akan memiliki seorang putra yang akan mengabaikan mu karena wanita lain. Atau, suamimu yang juga seorang lelaki juga akan meninggalkanmu karena wanita lainnya. Kamu akan merasakan bagaimana rasanya di abaikan dan di tinggalkan oleh orang tersayangmu. Maka kamu akan paham dengan sikapku padamu nanti. Tunggu saja saatnya ! ” ucap Yessi dengan suara getarannya.
Mendengar semua itu, gemuruh petir terus saja menyambar benak Delia. Delia merasakan sendiri, seorang mertua yang ada di depannya kini mengutuknya agar terus hidup dalam kesengsaraan.
Delia ingin menampar dirinya sendiri, berharap jika semua ini hanyalah mimpinya belaka.
Menerima perkataan mertuanya sebagai anugrah atau nasib adalah dilema untuk Delia. Seperti memilih jalan buntu atau jalan bercabang yang tidak di ketahui ujungnya.
Yessi kembali masuk ke kamarnya setelah mengambil ponselnya. Tubuh Delia masih mematung dan tidak tahu harus membalas perkataan mertuanya seperti apa. Wanita itu juga tidak tau harus mengeluhkan nasibnya pada siapa.
Malam pun tiba. Delia terus saja merenung dan merasakan sedih yang amat mendalam lantaran perkataan Yessi tadi siang. Dafa yang pulang dari kerjanya, bertanya tentang kondisi Delia yang terus saja mendiamkan diri.
Namun Delia tetap diam, dan justru mengeluarkan linangan air matanya. Dafa bertanya sekali lagi, “Apa kamu baik-baik saja? ”
Jawaban yang sama. Namun kali ini Delia memeluk erat-erat Dafa yang duduk di bibir kasur, tepat di sampingnya.
Dafa menggelus lembut rambut Delia dan di lanjuti dengan ciuman. “Bisakah kamu menjanjikan satu hal untukku, Dafa?” Tanya Delia dengan suaranya yang parau.
Dafa melepas pelukan Delia dan menatapnya, “Janji seperti apa? ”
“Berjanjilah satu hal padaku. Katakan ‘ya’disetiap pertanyaan yang akan aku ajukan. Aku hanya akan mengajukan tiga pertanyaan. Jawab ketiga pertanyaan itu hanya dengan satu jawaban itu. Berjanjilah.” Delia mengulurkan jari kelingkingnya di hadapan Dafa.
Dafa mengangguk dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Delia.
“Dengarkan dengan baik. Apa kamu mencintaiku dengan sangat tulus? Apa kamu akan mencintaiku selamanya? Dan apa kamu akan terus mencintaiku tanpa menghianatiku nanti? ”
Dua pertanyaan yang Delia ajukan membuat Dafa sedikit bingung. Namun, ketika mendengar pertanyaan terakhir dari Delia, membuat Dafa sedikit membelalakkan matanya.
Pria itu berpikir jika Delia sudah curiga dengan hubungan Dafa dan Risa.
“Apa maksud dari pertanyaan mu, aku tidak mengerti sama sekali.” Dafa berusaha sebaik mungkin untuk mengatur ekspresi wajah khawatirnya.
Delia seketika berdiri dari duduknya. “Kamu, kamu berjanji untuk menjawab ketiga pertanyaan itu dengan kata ‘Ya’saja. Bukan malah bertanya kembali. Kamu, tidak bisa menepati janjimu bukan? Padahal baru saja kita mengaitkan janji itu.” Mata Delia memerah penuh dengan kekecewaan. Hatinya cukup hancur karena hinaan mertuanya, dan kali ini juga, suaminya tidak bisa mengerti dirinya sedikit saja.
Janji kecil yang Delia minta hari ini, terlihat dan benar-benar terbaca di wajah Dafa. Jika dirinya memang tidak bisa menepati janji tersebut.
😡😡😡
aku maraton sampai disini.
masa suami udah gak peduli lagi...
😭😭
😡😡😡
Tak hbis pikir sama iblis...
bisa kamu gencet terus nyonya
Aku punya banyak stok..
🔪🔪🔪
..