NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Keesokan hari nya...

Sinar matahari pagi menyelusup di antara celah-celah jendela koridor SMA Nusa Bangsa, menimpa deretan ubin bersih yang dipadati langkah kaki para siswa. Hari berganti, namun atmosfer sekolah masih sepenuhnya terkunci pada topik yang sama: *study tour* minggu depan.

Di sepanjang jalan menuju ruang guru, perbincangan antusias menggema dari setiap sudut. Ada yang sibuk membandingkan baju yang akan dibawa, ada yang merencanakan pembagian kamar penginapan, dan tidak sedikit pula yang memegang amplop putih berisikan uang pembayaran yang siap disetorkan. Keriuhan gembira itu terasa begitu hidup, menyelimuti hampir seluruh koridor sekolah.

Di antara arus siswa yang ber lalu lalang, Alya berjalan bersisian dengan Adel dan Jesica. Wajah Alya tampak sedikit lebih pucat dari biasanya. Bayang-bayang kebingungan mengenai biaya *study tour* yang belum ia dapatkan terus berputar menari-nari di kepalanya, membuatnya tak nyenyak tidur semalaman.

"Al, pokoknya nanti pas istirahat kita langsung ke kantin ya, tempat bakso yang kemarin belum sempat kita makan," cerocos Adel bersemangat sembari memeluk folder plastik berisi uang pembayaran miliknya.

"Iya, lagian hari ini gue lega banget karena nyokap langsung ngasih uang *study tour* tadi pagi," timpal Jesica girang. "Gue sama Adel mau sekalian bayar sekarang ke Bu Ani mumpung bel masuk belum bunyi. Biar tenang dan gak kepikiran lagi."

Alya memaksakan sebuah senyuman tipis yang amat lembut. "Baguslah kalau kalian udah bayar duluan. Jadi gak perlu ngantre pas istirahat nanti."

"Lo gimana, Al? Lo bawa uangnya hari ini juga, kan? Biar kita bisa bayar barengan sekalian," tanya Jesica polos, menatap Alya dengan penuh rasa ingin tahu.

Pertanyaan sederhana itu mendadak menghantam dada Alya. Jemari Alya yang memegang tali ranselnya menyatu erat, mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya terasa mencelos, namun dengan cepat ia menata raut wajahnya agar tetap terlihat tenang dan terkendali.

"Aku... belum bawa hari ini," jawab Alya pelan, mengalihkan pandangannya tipis ke arah deretan loker di samping mereka. "Mungkin... besok atau lusa. Uangnya masih disiapin sama Ibu di rumah."

Adel dan Jesica mengangguk-angguk paham tanpa menyimpan curiga sedikit pun. "Oalah, oke deh. Lagian batas pembayarannya kan sampai hari Jumat. Masih ada waktu kok," ujar Adel santai.

Mereka bertiga akhirnya sampai di depan pintu kayu bertuliskan *Ruang Guru Sejarah*. Pintu tersebut terbuka separuh, memperlihatkan suasana bagian dalam kantor yang cukup tenang dengan deretan meja kerja guru yang tertata rapi.

Namun, baru saja Adel hendak mengetuk pintu, langkah mereka terhenti. Melalui celah pintu yang terbuka, terlihat Bu Ani sedang duduk di mejanya. Dan di depan meja Bu Ani, berdiri empat orang siswa berseragam longgar dengan gaya yang sangat mereka kenali.

Devan Narendra beserta gengnya Raka, Bima, dan Reno sudah ada di dalam ruangan tersebut lebih dulu.

"Wah, ada Devan sama gengnya di dalam!" bisik Adel heboh dengan suara sepelan mungkin, matanya membelalak kaget sekaligus kagum. "Ngapain cowok-cowok itu pagi-pagi udah di ruangan Bu Ani?"

"Palingan juga mau bayar *study tour*," tebak Jesica pelan. "Atau gak, mereka kena tegur gara-gara ada tugas sejarah yang belum dikumpul."

Dari luar, Alya bisa melihat sosok Devan yang berdiri tegap di barisan paling depan. Laki-laki itu mengenakan seragam yang rapi berbeda dari biasanya meski kancing paling atasnya masih tetap dibiarkan terbuka. Tatapan mata Devan terlihat fokus mendengarkan penjelasan Bu Ani, memancarkan aura tenang namun berwibawa yang selalu berhasil menyita perhatian siapa saja.

Adel membalikkan badan, menatap Alya dan Jesica bergantian. "Yuk, masuk aja! Mumpung Bu Ani lagi gak ngajar, sekalian kita ngantre di belakang gengnya Devan."

Jesica langsung mengangguk setuju dan sudah bersiap melangkah. Namun, Alya justru melangkah mundur satu tapak. Ia memegang pelan lengan sweater Adel, menahannya.

"Kalian berdua masuk duluan aja," ujar Alya halus, suaranya terdengar ragu namun mantap.

Adel alisnya bertaut bingung. "Lho? Kenapa, Al? Kenapa gak ikut masuk aja? Kan sekalian nemenin kita."

Alya menggeleng pelan, mengulas senyam-senyum kecil untuk menutupi rasa canggung yang mendadak melingkupi dadanya. "Aku kan belum bawa uangnya hari ini, Del, Jes. Gak enak kalau cuma berdiri di dalam tanpa ngapa-ngapain, apalagi Bu Ani lagi ngelayanin murid lain. Aku tunggu di sini aja, di luar."

Alasan itu terasa sangat masuk akal bagi Adel dan Jesica. Mereka tahu betul betapa sungkannya Alya jika harus berada di dalam situasi yang tidak berkepentingan dengannya, apalagi Alya memang tipe gadis yang sangat menjaga tata krama dan harga diri.

"Oh... ya udah deh kalau gitu," ucap Jesica mengerti. "Lo tunggu di bangku kayu dekat jendela itu ya, Al. Kita cuma sebentar kok, cuma mau nyerahin amplop terus minta tanda tangan kuitansi."

"Iya, jangan kemana-mana ya! Nanti kita langsung balik ke kelas barengan," tambah Adel mengingatkan.

Alya mengangguk. "Iya, aku tunggu di sini."

Dengan langkah ringan, Adel dan Jesica mendorong pintu kayu tersebut lebih lebar lalu melangkah masuk ke dalam ruangan Bu Ani. Suara sapaan sopan kedua sahabatnya terdengar samar dari dalam, berbaur dengan gelak tawa kecil dari Bima dan Raka yang menyadari kedatangan siswi lain.

Setelah pintu kembali tertutup rapat, Alya menghembuskan napas panjang yang terasa begitu berat dan tertahan. Senyuman yang baru saja ia tampilkan menghilang seketika, berganti dengan sorot mata yang redup dan dipenuhi beban kebingungan.

Alya membalikkan badan dan melangkah perlahan menuju sebuah bangku kayu panjang yang terletak persis di bawah jendela kaca koridor luar ruang guru. Ia mendudukkan tubuhnya di sana, meletakkan tas ranselnya di atas pangkuan, lalu meremas kedua tangannya sendiri yang terasa dingin.

Dari posisi duduknya, Alya menatap lurus ke arah halaman tengah sekolah yang mulai disirami cahaya matahari pagi. Hatinya kembali berdesir perih. Di saat teman-temannya termasuk Adel, Jesica, dan geng Devan dengan sangat mudah menyerahkan lembaran uang untuk masa depan dan kesenangan mereka, Alya justru harus terisolasi di luar pintu, terhalang oleh sebuah garis ekonomi yang tak kasat mata.

Ia benci perasaan ragu dan cemas ini. Alya tahu, sisa waktu untuk melunasi biaya tersebut hanya tersisa dua hari lagi, hingga hari Jumat. Jika sampai batas waktu itu ia belum menemukan jalan keluar, ia harus memberanikan diri menghadap Bu Ani untuk menyatakan mundur dari kegiatan wajib tersebut sebuah keputusan yang berisiko merusak catatan akademik sempurnanya selama ini.

Alya menundukkan kepala dalam-dalam, menyandarkan dahinya di atas lipatan tangannya yang menumpu di tas ransel. Di koridor luar ruang guru yang relatif sepi itu, gadis pintar yang selalu dipuji karena ketenangannya kini duduk termangu sendirian, tenggelam dalam pusaran pikiran dan perjuangan sunyi yang tak seorang pun di sekolah itu ketahui.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!