Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.
Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.
Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tiga hari berlalu begitu cepat seakan terhitung jari. Hari yang ditakuti Aruna pun akhirnya tiba, pesta musim semi yang diadakan oleh istana kerajaan.
Sejak fajar menyingsing, kediaman keluarga Ashcroft sudah dipenuhi kesibukan yang tak biasa. Para pelayan berlarian mondar-mandir menyiapkan pakaian terbaik, perhiasan yang berkilauan, hingga kereta kuda yang akan membawa keluarga Duke Arthur menuju gerbang istana yang megah.
Aruna berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menatap pantulan sosok dirinya yang mengenakan gaun berwarna biru muda yang lembut, dihiasi sulaman bunga-bunga putih yang halus menyusuri ujung kainnya.
Gaun itu membalut tubuhnya dengan anggun, sementara rambut pirangnya yang bersinar keemasan ditata sederhana, hanya disematkan jepit rambut berbentuk bunga yang menambah kesan manis tanpa berlebihan.
Ia memandangi dirinya sejenak, lalu mengangguk pelan.
"Cukup baik," gumamnya pelan kepada pantulan di cermin. "Setidaknya malam ini aku tak tampak seperti wanita jahat yang kelak akan dicemooh semua orang."
Duchess Helena yang berdiri tak jauh di belakangnya tersenyum lembut melihat putrinya yang kini tampak bersinar begitu indah.
"Kau tampak sangat cantik malam ini, Evelyne."
"Terima kasih, Ibu."
Helena terdiam seketika. Dulu, Evelyne nyaris tak pernah melontarkan kata-kata sopan seperti itu kepadanya. Perubahan kecil yang begitu tulus itu membuat hatinya terasa hangat dan penuh syukur.
Namun Aruna sendiri tak henti-hentinya menyusun rencana di dalam benaknya, menanamkan tekad agar tak melangkah keluar dari batas yang telah ia tetapkan.
[Ingatlah, Evelyne. Jangan mencarinya. Jangan mendekati Putri Isabelle terlalu lama. Jangan menimbulkan masalah sedikit pun. Dan jika memungkinkan, jangan berdansa dengan siapa pun sepanjang malam ini.]
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya.
Tok! Tok!
"Nona Evelyne, Tuan Muda Cedric telah tiba dan menunggu di bawah."
Aruna menghela napas panjang, tak menyangka Cedric akan datang menjemput begitu pagi. Ia pun segera melangkah turun menuju ruang depan.
Di sana, sosok pemuda itu berdiri tegak dengan pakaian resmi berwarna hitam pekat yang dilengkapi jubah panjang yang menjuntai hingga ke pergelangan kakinya. Pakaian itu justru menonjolkan ketegasan wajahnya yang tampan dan memancarkan wibawa yang tak dapat diabaikan.
Aruna terpaku sejenak memandangnya, tak kuasa menahan kekaguman yang melintas seketika di hatinya. [Mengapa ia tampak begitu memukau malam ini?]
Cedric seakan mendengar bisikan yang tak terucap itu. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang nyaris tak tampak.
"Sudah siap? Mari kita berangkat."
"Ya."
Perjalanan menuju istana berlangsung dalam keheningan yang tenang. Namun Aruna tak lepas dari tatapan mata Cedric yang sedari tadi tak pernah berpaling darinya sejenak pun. Tatapan itu begitu dalam seakan ingin memahami setiap jengkal wajah gadis di hadapannya.
"Ada sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya Aruna akhirnya tak kuasa menahan kebingungannya.
"Tidak ada," jawab Cedric singkat sambil memalingkan wajah ke arah jendela kereta yang melintas pemandangan kota.
Sebenarnya hatinya dipenuhi begitu banyak pertanyaan yang belum sempat ia lontarkan. Tentang suara bisikan yang seakan hanya ia yang mampu mendengarnya.
Tentang ketakutan yang terus membayangi hati Evelyne. Tentang masa depan kelam yang sering disebut-sebut gadis itu seakan telah melihatnya sendiri. Namun saat yang tepat untuk bertanya pun belum tiba.
Kereta pun akhirnya tiba di halaman istana yang megah. Begitu melangkah masuk ke dalam aula yang luas, dentingan musik lembut dan riuh rendah percakapan para bangsawan seketika menyambut kehadiran mereka.
Lampu-lampu kristal yang menjuntai dari langit-langit tinggi memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan, sementara bunga-bunga segar bermekaran di setiap sudut ruangan mengisi udara dengan keharuman yang lembut.
Aruna menarik napas panjang guna menenangkan detak jantungnya yang tak menentu. [Tenanglah. Ini hanyalah sebuah pesta. Tak ada yang perlu ditakuti.]
Namun baru beberapa langkah ia melangkah masuk, pandangannya tak sengaja tertuju pada sepasang sosok yang berdiri tak jauh dari sana.
Isabelle berdiri di antara sekelompok pemuda bangsawan, tersenyum manis memikat siapa pun yang memandangnya. Dan tak jauh dari gadis itu... berdiri Putra Mahkota Adrian.
Aruna seketika memalingkan wajah berusaha menyembunyikan diri. [Jangan menatap mereka. Pura-puralah tak melihat apa-apa. Mungkin dengan begitu mereka pun tak akan menyadari keberadaanku di sini.]
Namun niat itu datang terlambat. Adrian telah melihatnya. Dan yang lebih buruk lagi, sang Putra Mahkota pun melangkah mendekat ke arahnya tanpa ragu sedikit pun.
"Selamat malam, Lady Evelyne."
Aruna segera membungkuk memberi hormat dengan sopan.
"Selamat malam, Yang Mulia."
Adrian pun menoleh kepada Cedric yang berdiri di sampingnya.
"Selamat malam, Tuan Muda Ravenwood."
Cedric membungkuk hormat dengan tenang. Setelah itu pandangan Adrian kembali tertuju kepada wajah Aruna yang tampak gugup.
"Apakah kau menikmati suasana pesta malam ini, Nona Evelyne?"
"Ya... sangat menyenangkan, Yang Mulia," jawabnya sopan, meski di dalam hatinya ia justru berteriak sebaliknya. [Sama sekali tidak menyenangkan!]
Adrian nyaris tak kuasa menahan senyum melihat wajah gadis itu yang tampak berusaha tenang. Namun sebelum ia sempat melanjutkan pembicaraan, terdengar suara lembut yang memecah keraguan itu.
"Yang Mulia."
Isabelle melangkah mendekat dengan senyum yang begitu anggun dan menawan. Adrian pun menoleh seketika. Untuk sesaat, suasana itu persis seperti yang tertulis di dalam lembaran cerita yang pernah ia baca.
Isabelle tersenyum menatap sang Pangeran. "Bolehkah aku mengajak Anda berdansa malam ini?"
Hati Aruna seketika melonjak lega. [Inilah saatnya! Ayo, Yang Mulia! Terimalah ajakan itu! Itulah yang seharusnya terjadi malam ini!]