Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 5
Perjalanan pulang menuju sanggar terasa jauh lebih menyenangkan bagi Anindiya.
Sejak sedan putihnya meninggalkan kawasan kota lama, senyum di wajahnya tidak pernah benar-benar padam. Sesekali matanya melirik ke arah kaca spion tengah, sekadar memastikan kotak penyimpanan berlapis kain putih di bagasi belakang masih tersimpan aman.
Rina yang duduk di kursi penumpang menyandarkan kepalanya, terkekeh geli melihat tingkah atasannya.
"Mbak Anin dari tadi senyum-senyum terus, ih," goda Rina.
Anindiya tertawa kecil, melirik Rina sekilas sebelum kembali fokus pada jalanan. "Kelihatan banget, ya?"
"Bukan kelihatan lagi, Mbak. Kelihatan banget! Lega ya?"
"Lega banget, Rin," aku Anindiya jujur, jemarinya mengetuk-ngetuk setir mengikuti alunan musik radio. "Entah kenapa, perasaan aku yakin banget kalau gaun ini bakal jadi koleksi paling istimewa yang pernah kita punya."
"Aamiin... Semoga beneran bawa hoki ya, Mbak."
"Pasti dong."
Rina tidak langsung menyahut lagi. Tatapannya tertuju keluar jendela, melihat deretan pepohonan yang berganti ruko. Bayangan raut wajah penuh duka milik ibu pemilik butik tadi mendadak melintas kembali di benaknya.
"Mbak..." panggil Rina pelan.
"Kenapa, Rin?"
"Ibu pemilik butik tadi menurutmu rada aneh nggak, sih?"
Anindiya mengernyit halus. "Aneh gimana maksudmu?"
"Ya itu... pas mau melepas gaunnya. Kelihatan berat banget, kayak orang mau kehilangan sesuatu yang berharga banget."
Anindiya tersenyum memaklumi. "Ya wajar lah, Rin. Itu kan gaun mahakarya. Kalau aku yang bikin gaun seindah itu, aku juga pasti bakal berat hati pas harus menjualnya ke orang lain."
Rina mengangguk-angguk kecil, mencoba menerima alasan itu. Tapi ganjalan di hatinya belum sepenuhnya hilang. "Tapi tetap aja... ekspresinya tuh bukan cuma kayak sayang sama barang, Mbak. Kayak ada sesuatu yang ditutup-tutupi."
Anindiya terkekeh menyela, "Ah, kamu kebanyakan nonton film horor sama baca novel misteri nih!"
Rina ikut tertawa membela diri. "Yah, namanya juga firasat, Mbak!"
Suasana di dalam mobil kembali santai dan hangat. Alunan musik pop santai menemani sisa perjalanan mereka. Di sepanjang jalan, keduanya sibuk mengobrolkan jadwal klien minggu depan hingga ide merenovasi sedikit tata letak interior sanggar.
Sekitar empat puluh menit kemudian, sedan putih itu akhirnya berbelok masuk dan berhenti mulus di halaman Anindiya Bridal & Makeup.
"Nah, akhirnya sampai!" Anindiya mematikan mesin mobil dan langsung keluar. "Yuk, Rin, bantu angkat kotak gaunnya."
"Siap, Mbak!"
Rina membuka bagasi belakang dengan hati-hati. Kotak kayu berlapis kain itu masih terbaring rapi. Ketika mereka berdua mengangkatnya bersamaan, Rina sedikit meringis. "Lumayan berat juga ya, Mbak."
"Iya, bahannya kan tebal. Hati-hati langkahnya," peringat Anindiya.
Begitu pintu sanggar didorong terbuka, udara sejuk beraroma lembut langsung menyambut mereka. Anindiya memandu Rina berjalan menuju area ruang koleksi gaun di sisi kanan.
"Aku sudah tahu mau menaruh gaun ini di mana," kata Anindiya antusias.
"Manekinnya juga sudah siap kok, Mbak. Tadi pagi sebelum berangkat kan sudah aku geser ke paling depan," sahut Rina.
Pilihan Rina memang tepat. Sebuah manekin polos berwarna putih berdiri tegak di dekat jendela kaca besar, persis menghadap pintu masuk utama. Siapa pun calon pengantin yang melangkah masuk ke sanggar dipastikan akan langsung tertuju pada titik tersebut.
"Sempurna," puji Anindiya.
Mereka meletakkan kotak besar itu di atas meja kayu. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Anindiya melepas ikatan pita satin cokelat yang mengunci kotak.
Namun, tepat ketika tutup kotak terangkat...
Sret.
Aroma wangi bunga melati yang sangat pekat dan segar mendadak menyeruak, memenuhi udara di sekitar mereka. Aromanya begitu nyata, seolah ada seikat rantai bunga melati basah yang baru saja dipetik dan ditaruh di dekat hidung mereka.
Rina mengernyit, mengendus udara. "Mbak Anin..."
"Kenapa?"
"Mbak habis pakai parfum melati? Kok baunya menyengat banget?"
Anindiya ikut menghirup udara, dahinya berkerut heran. "Nggak, aku kan nggak suka parfum aroma bunga menyengat begini. Kamu kali?"
"Mana ada, aku pakainya wewangian vanilla," sanggah Rina bingung.
"Mungkin... pengawet kain atau wewangian khas dari butik tua tadi kali ya?" terka Anindiya rasional. "Biasanya kan butik-butik tua punya pewangi khas sendiri."
"Oh... iya kali ya," gumam Rina, meski setahunya aroma di butik tadi adalah perpaduan kayu manis dan wangi samar, bukan melati sepekat ini.
Menepis keheranan itu, Anindiya mengangkat gaun putih gading tersebut dengan kedua tangannya. Kainnya terjuntai lembut. Di bawah terpaan sinar matahari sore yang menerobos jendela kaca, gaun itu memancarkan aura yang luar biasa memukau. Payet-payet kecilnya berbinar bagaikan ribuan bintang mikroskopis.
"Masya Allah..." Rina spontan berdecak kagum. "Mbak... kalau dilihat langsung di luar etalase kaca begini, jauh lebih cantik ya!"
Anindiya tersenyum puas, dadanya membuncah bangga. "Aku nggak salah pilih, Rin. Keputusanku tepat."
Dengan telaten, Anindiya mulai memakaikan gaun itu ke tubuh manekin. Gerakannya amat lembut, seolah-olah gaun itu terbuat dari bahan yang amat rapuh. Rina membantu di sisinya, berlutut untuk merapikan bentangan ekor gaun yang menjuntai anggun ke lantai.
Proses itu memakan waktu hampir lima belas menit. Sebagai sentuhan akhir, Anindiya mengeluarkan veil kain tile tipis bertabur renda dari dalam kotak, lalu menyematkannya di bagian belakang kepala manekin.
Setelah selesai, Anindiya dan Rina mundur beberapa langkah untuk menikmati hasilnya.
Ruangan sanggar yang tadinya biasa saja, mendadak terasa berubah total. Aura elegan dan sedikit magis terpancar kuat dari sudut dekat jendela itu.
"Gila sih... ini cantik banget, Mbak," bisik Rina takjub. "Kalau ada calon pengantin yang datang, dijamin mata mereka bakal langsung tertuju ke sini."
"Itu dia yang aku incar, Rin," sahut Anindiya dengan mata berbinar. "Rasa-rasanya, uang belasan juta tadi melayang gitu aja pun aku nggak bakal nyesel."
Anindiya menyilangkan tangan di dada, memiringkan kepala. "Mungkin nanti gaun ini mau aku kasih nama khusus."
"Nama? Boleh juga tuh! Nama apa kira-kira, Mbak?"
"Belum kepikiran sih. Tapi gaun sebagus dan seemosional ini pantas punya namanya sendiri."
Tiba-tiba, bunyi nyaring dari ponsel Anindiya menginterupsi. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari seorang calon pengantin yang mengabarkan ingin datang sore ini untuk melihat-lihat koleksi gaun.
"Wah, pas banget! Rezeki gaun baru!" seru Anindiya gembira. "Rin, yuk beres-beres sebentar. Aku mau ruangan ini kelihatan makin rapi pas klien datang."
Mereka berdua langsung sigap bergerak. Anindiya merapikan meja konsultasi dan mengganti bunga di vas dengan yang baru, sementara Rina menyapu dan memoles kaca etalase depan.
Menjelang pukul empat sore, seluruh pekerjaan beres-beres selesai. Rina menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan majalah. "Aduh, lumayan pegel juga ya!"
Anindiya datang dari balik kulkas kecil sambil membawa dua botol air mineral dingin. "Nih, minum dulu."
"Makasih, Mbak Anin."
Mereka duduk berdampingan, meneguk air mineral sambil menikmati suasana sanggar yang kini nampak jauh lebih segar. Namun, ketika pandangan Rina tanpa sengaja bergulir kembali ke arah manekin di dekat jendela, langkah matanya terhenti.
Alis Rina bertaut rapat. Ia memiringkan kepalanya, mengamati posisi manekin itu dengan cermat.
"Mbak..." panggil Rina pelan, suaranya ragu.
"Kenapa lagi, Rin?"
"Tadi... pas kita pasang gaunnya, posisi tangan kanan manekin itu menekuk di pinggang begini kan?" Rina memperagakan gerakan tangan menekuk di depan dadanya.
Anindiya menoleh, ikut menatap manekin tersebut. Tangan manekin kayu itu tampak lurus terkulai anggun di sisi tubuhnya.
"Nggak ah, dari tadi posisinya emang lurus ke bawah gitu kok," sahut Anindiya santai. "Mana bisa manekin kayu keras begitu berubah posisi sendiri?"
Rina menggaruk tengkuknya yang mendadak terasa agak gatal. "Oh... iya ya. Mungkin aku yang makin merem-melek gara-gara capek."
Anindiya tertawa kecil sambil menepuk bahu temannya. "Makanya, jangan kebanyakan mengkhayal. Istirahat gih."
Mereka kembali mengobrol biasa, membiarkan detik demi detik berlalu. Tidak ada curiga, tidak ada ketakutan yang benar-benar hinggap di pikiran mereka. Di matanya, manekin bertopeng gaun putih gading itu hanyalah sebuah barang inventaris mahal yang baru saja berhasil dimilikinya.
Matahari sore perlahan mulai merambat turun. Sinar jingga keemasan menerobos kaca jendela, membiaskan cahaya temaram yang jatuh tepat menimpa gaun tersebut.
Anindiya melangkah mendekat sekali lagi. Jemarinya mengusap lembut kain renda di bagian lengan gaun itu.
"Selamat datang di rumah barumu," bisiknya pelan dengan senyum kepuasan yang mengembang sempurna.
Ia merasa sangat menang. Di dalam benaknya hanya ada bayangan-bayangan indah: sanggar yang semakin ramai, deretan pujian dari para klien, dan keuntungan yang melonjak tinggi.
Anindiya sama sekali tidak menyadari... bahwa di balik keindahan kain putih yang menyapu lantai itu, ada sebuah janji kelam yang pernah terputus.
Rahasia rahasia tua yang terkubur puluhan tahun kini telah dibawa masuk ke dalam hidupnya. Dan sejak gaun itu menginjakkan kaki di sanggar ini, sesuatu yang seharusnya tetap terlelap... perlahan-lahan mulai membuka matanya kembali.
Tanpa disadari oleh siapa pun di ruangan itu... malam nanti akan menjadi awal dari mimpi buruk yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.