Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona
Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Broken Focus
Ya, penjual boba tadi memang River.
Setelah kepergian Billby, River sama sekali tidak bisa berhenti memikirkan gadis kecil itu. Entah karena apa, bayangan sepasang mata bulat milik Billby terus menari-nari di benaknya.
"Mirip Mysya," gumam River tanpa sadar.
Mysya. Itu adalah panggilan khusus dari River untuk Jiza. Nama itu diambil dari potongan nama lengkap sang gadis: JizaMY SYAnilla Zloty.
Begitu tersadar dari gumamannya, River terkejut sendiri. "Emang iya, ya?" tanyanya pada diri sendiri.
"Eh, iya loh..." desisnya kemudian saat ingatan tentang mata bulat itu berputar kembali di kepalanya.
Saat Billby melangkah keluar dari kafe boba miliknya tadi, sepasang mata tajam River terus mengawal kepergiannya. Karena itulah, River tahu persis kalau gadis kecil itu sekarang sedang masuk ke barber shop yang berada tepat di ruko sebelah kafenya.
"Samperin ah... tanya umur sama nama aja," batin River.
Dengan langkah ragu, River berjalan mendekati pintu kafenya. Tangannya memegang gagang pintu cukup lama. Setelah berhasil meyakinkan hatinya yang bertalu-talu, ia akhirnya melangkah keluar menuju ruko sebelah.
Namun, langkah kaki River mendadak terkunci begitu ia melihat pemandangan di dalam barber shop.
Deg!
Tiba-tiba, rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya dengan begitu kuat. Kedua kakinya mendadak kaku, seolah tertancap paku di atas lantai aspal.
Di dalam barber shop, Billby tampak sedang meminum bobanya dengan santai. Karena alasan itulah, wajah Billby kini terbebas dari masker.
Tepat di sebelahnya, duduk seorang pria dewasa yang mengenakan masker. Pria itu menatap Billby erat, seolah-olah mereka sedang terlibat obrolan yang hangat. Jarak duduk keduanya yang begitu dekat membuat River yakin bahwa pria itulah yang membawa putrinya pergi hari ini.
Walaupun wajah laki-laki di sebelah Billby tertutup masker, River tidak akan pernah keliru mengenali postur tubuh itu.
"Jack," gumam River lirih dari balik kaca luar.
Pandangannya kemudian beralih, kembali mengunci sosok Billby yang masih asyik dengan minumannya. "Kamu beneran mirip Jiza..." komentarnya dengan suara tercekat di tenggorokan.
Sebenarnya, wajah Billby tidak terlalu mirip dengan Jiza. Hanya sepasang matanya yang kembar identik. Namun, model rambut Billby saat inilah yang membuat kemiripan itu mutlak. Potongan rambut itu persis seperti model rambut Jiza saat berumur tiga belas tahun—waktu terakhir kali River bertatap muka dengannya sebelum badai masa lalu memisahkan mereka.
Di balik kaca jendela barber shop itu, pandangan River terkunci sepenuhnya pada rambut Billby. Gadis kecil itu memiliki potongan rambut hush cut sebahu, dengan layer halus yang membingkai manis wajah belianya.
Bagian ujung rambutnya yang dipotong bertingkat itu bergerak mengikuti gestur tubuh Billby saat ia menyedot bobanya. Di bagian depan, dahi gadis itu ditutupi oleh poni wispy yang tipis dan agak acak, sangat pas untuk anak seusianya.
Model rambut seperti itulah yang persis melekat pada ingatan River tentang Jiza empat belas tahun silam. Tepat di hari terakhir mereka saling bertatap muka, Jiza memiliki gaya rambut yang sama persis saat usianya menginjak tiga belas tahun—potongan rambut yang kini seolah hidup kembali dalam diri putri kecil mereka, menyiram hati River dengan rasa rindu yang kian menyesakkan dada.
Ada dorongan yang luar biasa besar di dalam dada River. Ia ingin sekali masuk ke dalam, mendatangi gadis kecil itu, lalu mendekapnya erat-erat.
Namun, akal sehat menahan tubuhnya. River tahu betul seberapa besar kebencian yang dipendam Jack terhadap dirinya.
Laki-laki itu hanya bisa merapal doa di dalam hati, berharap suatu saat nanti takdir akan mempertemukannya lagi dengan Billby tanpa harus ada sosok Jack di antara mereka.
Waktu berlalu cukup lama, hingga akhirnya tiba giliran Jack untuk mencukur rambut. Dan selama itu pula, River tetap bergeming di luar, terus memandangi Billby dengan tatapan penuh rindu yang mendalam.
Bagaimana mungkin ia tidak rindu? Billby itu anaknya. Darah dagingnya sendiri. Namun, semenjak tangis pertama gadis itu pecah di dunia, River belum pernah sekalipun menyentuhnya, mengelus kepalanya, atau memberikan kasih sayang layaknya seorang ayah.
Bahkan, ini adalah kali pertama bagi River melihat bayang-bayang putrinya yang tahu-tahu sudah beranjak remaja.
Wajah River berubah sendu. Ada rasa bersalah yang teramat besar karena ia telah kehilangan begitu banyak waktu berharga bersama putrinya. Kedua matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata yang mendesak keluar.
Hingga akhirnya, pemandangan indah itu terputus saat tubuh tegap laki-laki yang membawanya ke sini berdiri, menghalangi wajah Billby dari pandangan River.
Jack.
Laki-laki bermasker itu tampaknya menyuruh Billby bersiap untuk pulang. Apakah proses potong rambutnya secepat itu? Tentu saja tidak. Hanya saja pikiran River yang sedari tadi sibuk berkelana ke memori belasan tahun lalu, membuat waktu terasa berjalan begitu cepat.
***
Tiga belas tahun yang lalu...
Hari itu, River mendapatkan kabar mengejutkan dari Jiza melalui sambungan telepon. Jiza mengabarkan bahwa dirinya tengah mengandung, dan bayi itu adalah anak River.
"Aku sekeluarga kemarin check-up karena Kakek baru datang dari Bangladesh yang lagi kena wabah. Eh, tahu-tahu dokter bilang aku hamil. Umurnya udah dua bulan," adu Jiza di seberang telepon sambil terisak hebat.
"Abang marah banget, Aip! Dia bilang bakal ngabisin kamu pake cara sesadis mungkin. Terus Mama juga bilang terserah... Mama bakal usir kamu dari rumah kalau Abang udah puas balas dendam sama kamu. Mending kamu jangan pulang ya? Kamu di sana aja dulu... aku takut kamu diapa-apain," mohon Jiza di sela tangisnya yang semakin histeris.
Saat itu, River memang sedang berada di London untuk mengunjungi sahabat karibnya yang sudah dua tahun pindah ke sana. Bagi Jiza, menetap di London adalah pilihan paling aman bagi River daripada harus pulang ke Indonesia dan menghadapi amukan mengerikan dari kakaknya. Lagipula, sahabat River pasti tidak akan keberatan menampungnya.
Namun, River bukanlah pengecut yang akan lari dari masalah. Menurut prinsip hidupnya, jika ia berani berbuat, maka ia juga harus berani bertanggung jawab.
Alhasil, detik itu juga River membulatkan tekad untuk segera mengurus kepulangan ke Indonesia. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan keluarga Jiza.
Saat panggilan telepon dari Jiza masuk, River sedang mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota London dengan tujuan menjemput sahabatnya di sekolah. Namun, kabar kehamilan Jiza yang mendadak itu benar-benar meremukkan fokusnya. Pikirannya kosong, konsentrasinya terpecah belah.
Hingga saat mobilnya tiba di sebuah persimpangan lampu merah, River sama sekali tidak menyadari sinyal lampu yang menyala. Ia tidak melihat bahwa lampu di depannya berwarna merah, memerintahkan kendaraan untuk berhenti.
Tanpa menurunkan kecepatan, River tetap melajukan mobilnya memotong jalan. Tepat di saat yang sama, sebuah truk gandeng yang memiliki hak jalan melaju kencang dari arah samping.
BUMMM!
Tabrakan keras tak terhindarkan. Kecelakaan tragis hari itu membuat tubuh River hancur dan ia harus terbaring koma selama enam bulan lamanya di rumah sakit London.
Keluarga River dan keluarga Jiza tentu saja mendapatkan kabar kecelakaan mengerikan tersebut. Namun, tidak ada satu orang pun yang datang menjenguknya.
Di Indonesia, Jiza yang mengetahui kondisi kritis River berulang kali mencoba kabur dari rumah untuk terbang ke London. Namun, usahanya selalu gagal total. Ia menangis, bersimpuh, dan memohon berulang kali agar diizinkan melihat River. Namun, jangankan izin, Jiza justru mendapatkan penolakan mentah-mentah dari Jack, lengkap dengan ancaman larangan untuk bertemu River selamanya.
Dulu, hubungan Jiza dan Jack sangatlah erat. Jack adalah sosok abang yang luar biasa menyayangi adiknya. Apa pun yang Jiza inginkan, pasti akan diwujudkan oleh Jack. Namun, kepribadian hangat itu menguap begitu saja sejak tragedi kehamilan ini terungkap. Jack menutup rapat telinga dan hatinya dari segala tangisan adiknya.
Jack berubah total. Ia menjelma menjadi sosok abang yang teramat kasar. Walaupun ia tidak pernah bermain fisik, sikap dingin dan untaian kalimat yang keluar dari mulutnya selalu sukses menusuk jantung Jiza. Jack yang penuh kasih sayang telah mati.
Kini, apa pun permintaan Jiza bukan lagi menjadi hal yang penting bagi Jack. Padahal, Jiza hanya meminta satu hal saja di dunia ini: maafkan River dan jangan sakiti dia. Jiza sudah memohon dengan segala cara yang ia bisa. Namun, Jack sama sekali tidak peduli.
Laki-laki itu telah berubah akibat rasa kekecewaan terdalam yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Jiza, adik kecilnya yang selama ini tampak begitu polos dan suci, kini hamil di luar nikah. Sementara River, cowok yang selama ini ia kenal baik, ramah, dan dewasa, ternyata tega merusak kehormatan adiknya sendiri.
Enam bulan berlalu. Begitu kelopak mata River terbuka dari koma panjangnya, keputusan pertama yang ia ambil adalah kembali ke Indonesia. Persetan dengan kondisi fisiknya yang masih sangat jauh dari kata baik.
Pikiran River hanya dipenuhi oleh satu nama: Jiza. Ia harus bertemu dengan perempuan itu. Harus. Sekarang juga. Secepat yang ia bisa.
Akhirnya, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, River mendarat di Indonesia. Tubuhnya teramat lemah dan kurus kering, jauh berbeda dari kondisinya saat meninggalkan negara ini beberapa bulan lalu. Ia bahkan tidak membawa barang atau pakaian satu pun—semua baju yang ia bawa ke London sengaja ia tinggalkan begitu saja di sana.
Dengan langkah tertatih, River langsung memesan kendaraan menuju rumah Jiza.
Ia sudah bisa membayangkan dengan jelas apa yang akan terjadi padanya begitu ia menginjakkan kaki di rumah itu. Namun, River tidak peduli lagi. Entah siap atau tidak tubuh ringkihnya menanggung bogem mentah, yang jelas ia harus melihat Jiza dengan matanya sendiri.
Dan benar saja, begitu pintu utama rumah mewah itu terbuka, sosok pertama yang menyambut kedatangannya adalah wajah berdarah dingin milik Jack. Wajah killer yang siap menguliti River hidup-hidup.
tp jangan lupa mimpir di karya ku juga
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan.
good story