"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.
Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.
Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.
Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18 — Anak Paling Baik di Dunia
Keheningan panel itu terasa lebih jujur daripada air mata Bu Mawar.
Surya mengingat keheningan itu selama operasi Pak Santoso dipersiapkan. Namun jadwal pasien lain terus berjalan. Dalam beberapa minggu, tindakan, konsultasi, dan pemulihan korban bencana membuat Nilai Pahala naik dari dua puluh lima menjadi sembilan puluh enam persen.
Empat persen terakhir justru datang saat Surya mentraktir tim IGD makan malam.
Rizki mengangkat gelas. "Terima kasih karena untuk sekali ini lo ingat kami juga butuh makan."
Bu Ratna tertawa. Budi membantu membayar makanan staf malam yang tidak bisa meninggalkan rumah sakit. Rasa syukur sederhana dari rekan kerja masuk sedikit demi sedikit.
『Nilai Pahala mencapai 100 persen.』
『Undian tersedia.』
Empat hadiah masuk ke inventaris.
『Super Dopamin ×4 diperoleh.』
『Double Super Dopamin ×1 diperoleh.』
『Botol Energi Sedang ×3 diperoleh.』
『Token Misi Pemicu ×1 diperoleh.』
Inventaris Surya kini berisi dua belas Super Dopamin, dua Double Super Dopamin, empat Botol Energi Sedang, lima Detektor Medis, dua Permen Keberuntungan, dan satu token misi. Tiga puluh tiga Poin Atribut tetap belum dibagikan.
Panel Level 4 tidak terbuka.
『Peningkatan berikutnya membutuhkan Pahala Super. Nilai Pahala 100 persen biasa tidak memenuhi syarat kualitas.』
"Berarti jumlah saja tidak cukup."
『Benar. Inang harus memperoleh rasa terima kasih dengan kemurnian khusus.』
Surya tidak tahu cara mengejar sesuatu yang justru akan menjadi palsu jika dikejar.
Operasi Pak Santoso berlangsung dua hari kemudian. Tumornya besar dan menempel pada jaringan penting. Surya, Pak Hendra, dan tim terkait bekerja selama sepuluh setengah jam untuk memisahkan massa, menjaga pembuluh, dan memastikan batas operasi seaman mungkin.
Tidak ada Botol Energi digunakan. Tim mengatur pergantian mikro, cairan, nutrisi, dan evaluasi kelelahan agar keputusan tetap aman. Surya tidak ingin menjadikan sistem alasan untuk memaksa orang lain mengikuti staminanya.
Ketika operasi selesai, Pak Santoso stabil dan dipindahkan ke ICU.
Bu Mawar langsung memeluk Dona di luar ruang tunggu. Begitu melihat Surya, dia menangis keras.
"Terima kasih, Dokter. Saya akan mengingat kebaikan Dokter seumur hidup."
Nilai Pahala hanya naik lima persen.
『Rasa syukur terdeteksi, tetapi tidak tulus sepenuhnya. Sebagian besar emosi diarahkan pada status keluarga dan hasil sosial.』
Surya menatap angka lima.
Dia tidak marah karena menerima sedikit poin. Yang membuatnya lelah adalah menyadari kata-kata indah tidak selalu memiliki isi yang sama.
"Jangan melihat sistem setiap kali orang berterima kasih," kata Anindya malam itu, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya dia maksud. "Kalau kamu mulai mengukur semua orang, kamu akan kehilangan alasan menjadi dokter."
Surya mengangguk. "Kamu benar."
Keesokan pagi, seorang nenek membawa cucunya ke IGD. Anak laki-laki itu memiliki benjolan kecil meradang di punggung, sebuah kista epidermoid yang perlu tindakan sederhana.
"Biayanya berapa, Dok?" tanya sang nenek sambil menghitung uang lusuh.
BPJS mereka sedang bermasalah karena data kependudukan belum sinkron. Surya meminta petugas sosial membantu perbaikannya. Untuk tindakan hari itu, dia hanya mencatat Rp15.000 biaya anestesi lokal yang memang harus dipertanggungjawabkan, sementara biaya lain ditutup lewat dana sosial yang tersedia.
"Saya tidak mau disuntik," kata anak itu.
"Kalau tidak disuntik, sakitnya lebih terasa. Kalau berani, setelah selesai kamu dapat cokelat."
"Dua."
"Kamu negosiator lebih kejam daripada Pak Hendra. Baik, dua."
Tindakannya hanya berlangsung beberapa menit. Surya membersihkan isi kista, menangani kapsulnya, lalu menutup luka kecil dengan jahitan rapi. Anak itu menerima dua cokelat dan langsung memberikan satu kepada neneknya.
Sebelum pulang, dia kembali berlari ke meja Surya.
"Terima kasih, Dokter! Dokter orang paling baik di dunia!"
Tidak ada pidato. Tidak ada kamera. Anak itu bahkan lebih tertarik pada cokelat kedua daripada nama Surya.
Cahaya memenuhi seluruh panel.
Nilai Pahala lima persen melonjak menjadi seratus dalam satu kedipan.
『Pahala Super diterima.』
『Syarat peningkatan terpenuhi. Sistem Dokter Ilahi Super mencapai Level 4.』
Hadiah baru muncul seperti jam transparan.
『Penghitung Mundur Kehidupan diperoleh. Jumlah penggunaan: 5.』
『Kemampuan menampilkan perkiraan sisa hidup, penyebab kematian utama, dan kemungkinan reversibilitas pada target. Hasil mengikuti jalur saat ini dan dapat berubah.』
Surya memandang lorong IGD. Di atas setiap orang tidak muncul apa pun sampai kemampuan diaktifkan.
Dia memilih seorang pria yang berjalan melewati pintu sambil membawa tas kerja.
『Penghitung Mundur Kehidupan digunakan. Sisa: 4.』
Tanda seru merah muncul di atas kepala pria itu.
23 jam 41 menit.
Penyebab utama: infark miokard akut.
Reversibilitas: tinggi jika intervensi dilakukan segera.
Surya berlari dan menahan lengan pria tersebut.
"Pak, apakah dada terasa tertekan, mual, atau keringat dingin?"
Pria itu mencoba melepaskan diri. "Cuma masuk angin. Saya mau menjenguk orang."
"Saya dokter IGD. Saya tidak bisa memaksa pemeriksaan tanpa dasar, tapi gejala Bapak berisiko serangan jantung. Lima menit untuk EKG. Kalau normal, saya minta maaf."
Pria itu akhirnya setuju.
EKG menunjukkan perubahan iskemik. Troponin meningkat. Tim Kardiologi mengaktifkan jalur sindrom koroner akut dan menemukan sumbatan kritis sebelum infark besar terjadi. Intervensi dilakukan pada hari yang sama.
Prediksi merah menghilang.
Pria itu menemui Surya setelah kondisi stabil. "Bagaimana Dokter tahu? Saya sendiri mengira cuma kelelahan."
Surya tidak dapat menjelaskan jam merah di atas kepala. "Keringat dingin, tekanan dada, mual, dan faktor risiko Bapak cukup untuk meminta pemeriksaan. Yang menyelamatkan Bapak adalah kesediaan berhenti lima menit dan tim Kardiologi yang bergerak cepat."
Jawaban itu tidak bohong, hanya tidak membuka rahasia sistem.
Pak Hendra membaca laporan dan mengingatkan seluruh staf bahwa pasien tidak boleh ditahan hanya berdasarkan firasat. Surya sudah menawarkan pemeriksaan, menjelaskan risiko, dan memperoleh persetujuan. EKG serta troponin kemudian memberi dasar objektif untuk intervensi.
"Kalau kamu berlari menangkap semua orang di lorong, security akan menangkapmu dulu," katanya.
"Berarti saya harus belajar memilih target."
"Kamu harus belajar tidur. Itu target pertama."
Surya menatap empat penggunaan yang tersisa. Kemampuan itu dapat menyelamatkan hidup, tetapi terlalu langka untuk digunakan karena rasa penasaran.
Panel sistem menampilkan peringatan lain.
『Tren kelelahan fisik meningkat. Nilai Stamina masih 6, tetapi pemulihan Inang memburuk. Evaluasi pola kerja dan istirahat.』
Surya menutup panel.
Anindya melihat wajahnya yang pucat dan langsung mengambil alih jadwal malam berikutnya bersama Bayu.
"Kamu pulang," katanya.
"Saya masih bisa bekerja."
"Bisa bukan berarti aman. Kamu baru menghabiskan sepuluh setengah jam di OK, lalu mengejar orang di lorong. Kalau kamu pingsan saat memegang pisau, sistem apa pun tidak akan melindungi pasienmu."
Surya menatapnya. "Kamu tidak tahu soal sistem."
"Saya tahu soal dokter keras kepala. Itu diagnosis klinis."
Rizki mengambil tas Surya dan melemparkannya ke arah pintu. "Pulang. Kami berdua saksi bahwa lo diusir demi keselamatan publik."
Surya akhirnya menyerah. Dia mencatat serah terima, memastikan tidak ada pasien kritis tanpa penanggung jawab, lalu pulang bersama Anindya.
Levelnya naik.
Tubuhnya tetap manusia.