NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 — PANGERAN YANG DISUKAI ELIAN

​Pagi hari setelah hujan lebat menyisakan hawa dingin yang menusuk di sekitar Istana Valerian. Udara lembap membawa aroma tanah basah dan dedaunan pinus yang gugur di sepanjang jalan setapak. Bagi Elian, kurungan di dalam Paviliun Barat terasa makin menyiksa setelah pertengkaran tersembunyi antara ibunya dan pria tinggi bermata abu-abu semalam.

​Alena menghabiskan sebagian besar waktunya pagi itu dengan duduk di tepi jendela, tenggelam dalam lamunan yang dalam dan meremas-remas kemeja kecil milik Elian. Melihat ibunya begitu tertekan, Elian memilih bermain di area teras luar yang berbatasan langsung dengan kebun bunga paviliun.

​"Awas jatuh, pangeran kecil!"

​Sebuah suara ceria dan santai mengejutkan Elian yang sedang berjongkok mengamati seekor kumbang hijau di atas batu.

​Seorang pemuda berusia dua puluh empat tahun melangkah santai menyusuri lorong batu. Ia mengenakan kemeja katun melonggar tanpa kain jubah berat, rambut cokelat terangnya sedikit berantakan diterpa angin pagi, dan senyum ramah mengembang di wajahnya yang tampan.

​Pangeran Theodore Valerian—adik kandung Adrian.

​Berbeda dari kakaknya yang dingin, kaku, dan selalu membawa beban takhta di pundaknya, Theo dikenal sebagai Pangeran Kedua yang tidak terlalu peduli pada tata krama kaku istana. Ia lebih sering menghabiskan waktunya di barak prajurit muda atau berkuda di luar benteng daripada menghadiri rapat dewan yang membosankan.

​Elian menegakkan tubuhnya, menatap pemuda itu dengan rasa ingin tahu. "Aku bukan pangeran. Namaku Elian."

​Theo terkekeh pelan, melangkah mendekat lalu ikut berjongkok di samping Elian tanpa memedulikan celana kain mahalnya yang menyentuh tanah basah. "Oh, benarkah? Tapi kau berdiri begitu tegap seperti seorang prajurit kecil. Kau tahu siapa aku?"

​Elian menggelengkan kepalanya polos. "Tidak. Apakah Kakak juga bekerja di istana ini?"

​"Kerja?" Theo tertawa lepas, sebuah tawa jernih yang jarang bergema di lorong-lorong kaku istana ini. "Bisa dibilang begitu. Aku Theo. Pangeran Theodore, kalau kau mau bicara seperti para menteri tua yang membosankan itu. Tapi kau boleh memanggilku Kak Theo."

​Bagi Elian, yang selama tujuh tahun tumbuh di Desa Bellmare dan terbiasa dengan kehangatan warga desa, sikap ramah Theo langsung meluluhkan rasa canggungnya. Tidak ada tekanan berat atau tatapan menuntut seperti yang ia rasakan dari pria berseragam hitam kemarin.

​"Kak Theo..." panggil Elian, matanya berbinar. "Apakah Kak Theo tahu di mana tempat naskah-naskah kuno disimpan? Ibu bilang di istana ada perpustakaan raksasa yang punya buku tentang naga!"

​"Buku tentang naga?" Theo menepuk dadanya penuh kebanggaan. "Kau bertanya pada orang yang tepat! Ayo, kutunjukkan taman luar yang punya patung naga batu raksasa. Tempatnya jauh lebih seru daripada perpustakaan tua yang bau debu."

​Tanpa canggung, Theo mengulurkan tangannya, dan Elian—dengan kepolosan anak-anaknya—langsung menggenggam jemari pangeran muda itu. Bagi Theo, Elian hanyalah seorang anak kecil yang manis dan cerdas. Ia tidak terlalu memedulikan desas-desus politik yang sedang memanas di ruang dewan mengenai identitas asal-usul anak dari selir baru ini.

​Mereka berdua berjalan menuju Taman Barat, tertawa bersama saat Theo memperagakan cara menunggang kuda perang atau memperagakan gaya bertarung para ksatria yang konyol. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Istana Valerian, Elian tertawa lepas tanpa dibayangi ketakutan ibunya.

​Namun, takdir istana memiliki jalannya sendiri.

​Saat mereka tiba di dekat kolam teratai di tengah taman utama, rombongan pengawal berzirah perak melintas. Di depan rombongan itu, melangkah Pangeran Adrian bersama Gareth. Adrian sedang dalam perjalanan menuju ruang latihan pedang, wajahnya tampak kusam dan tegang akibat tidak tidur semalaman.

​Langkah Adrian mendadak terhenti saat matanya menangkap sosok adiknya di tepi kolam.

​Dan di samping adiknya... berdiri Elian.

​"Pangeran Adrian!" teriak Elian spontan.

​Sebelum Theo sempat menahannya, Elian telah melepaskan pegangan tangan Theo dan berlari kecil menghampiri Adrian. Sepatu boot kecilnya menepuk-nepuk jalan berbatu dengan riang.

​Gareth di samping Adrian secara refleks menegang kaku, sementara beberapa pengawal di belakang mereka saling berpandangan canggung.

​Adrian membeku di tempatnya. Ia menatap anak laki-laki berusia tujuh tahun yang berlari menghampirinya tanpa rasa takut sedikit pun. Semua beban kemarahan, keraguan, dan keletihan yang meracuni pikiran Adrian sejak semalam mendadak mencair begitu mata abu-abu Elian mendongak menatapnya.

​"Pangeran Adrian!" panggil Elian lagi setelah berhenti tepat di depan sang Putra Mahkota. "Kak Theo bilang patung di sebelah sana itu patung naga, tapi bentuknya lebih mirip kadal raksasa. Menurut Anda itu naga atau kadal?"

​Theo melangkah mendekat dengan santai, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Wah, Henry... maaf maksudku Adrian. Anak ini lincah sekali. Dia menyeretku sampai ke sini."

​Adrian tidak memedulikan perkataan adiknya. Tatapannya sepenuhnya terkunci pada Elian.

​Untuk pertama kalinya, Adrian tidak lagi berusaha menjaga jarak atau menahan naluri di dalam dadanya. Pria dingin yang ditakuti oleh para menteri dan disegani di medan perang itu perlahan menekuk lututnya. Ia berlutut di atas lantai batu yang dingin, menatap anak itu dari tingkat pandangan yang sejajar.

​"Itu naga perak dari pegunungan utara, Elian," jawab Adrian, suaranya terdengar begitu lembut—sebuah nada suara yang belum pernah didengar oleh Theo maupun Gareth selama bertahun-tahun. "Naga itu tidak punya sayap besar seperti kadal, tapi dia bisa menyemburkan api biru."

​Mata Elian membelalak takjub. "Wah! Api biru?! Apakah Anda pernah melihatnya sendiri?"

​"Pernah. Di dalam naskah sejarah tua kerajaan," jawab Adrian pelan.

​Tanpa ragu-ragu, Adrian mengulurkan kedua tangannya. Dengan gerakan yang teratur namun luapan emosi yang membendung di dadanya, ia mengangkat tubuh mungil Elian ke dalam pelukannya.

​Elian terkejut sekilas, namun refleks anak itu justru melingkarkan kedua tangan kecilnya di leher Adrian untuk menjaga keseimbangan.

​Dada Adrian berdesir hebat saat merasakan bobot tubuh anak itu bersandar padanya. Aroma wangi minyak kayu putih dan gandum yang khas menguar dari tubuh Elian—aroma yang sama persis dengan yang selalu dibawakan Alena. Untuk beberapa detik, Adrian memejamkan matanya rapat-rapat, meresapi detik demi detik saat jantung anak kandungnya berdetak tepat di samping dadanya sendiri.

​Theo yang menyaksikan pemandangan itu terbelalak heran. Ia belum pernah melihat kakaknya menyentuh seorang anak kecil dengan kelembutan seperti itu, apalagi sampai mengangkatnya dan membawanya berjalan.

​"Ayo, kutingkatkan pandanganmu agar kau bisa melihat kepala naganya dari atas," ujar Adrian pelan seraya membimbing Elian berjalan mengelilingi tepi kolam.

​Dari balik sudut pilar koridor Paviliun Barat yang berjarak lima puluh meter dari taman, Alena berdiri membeku.

​Ia baru saja keluar bersama Mira untuk mencari Elian yang menghilang dari teras. Dan pemandangan yang tersaji di hadapannya menghantam dadanya begitu keras hingga air mata menggenang di pelupuk matanya.

​Di tengah kebun mawar yang diterpa sinar matahari pagi, Adrian sedang berjalan pelan sembari menggendong Elian. Anak itu tertawa riang, menunjuk-nunjuk ke arah patung batu, sementara Adrian mendengarkan setiap celotehan kecil itu dengan senyuman tipis dan tatapan penuh perlindungan.

​Pemandangan itu begitu indah. Pemandangan sebuah keluarga yang sempurna.

​Seandainya... batin Alena menjerit dalam kepedihan yang teramat sangat.

​Seandainya tujuh tahun lalu aku tidak dipaksa melarikan diri... Seandainya aku bisa memberitahunya tentang kehamilan ini tanpa ancaman hukuman mati dan racun politik... Mungkindah ini kehidupan yang kami jalani setiap hari?

​Alena membayangkan sebuah kehidupan alternatif di mana ia tidak perlu berbohong, di mana Adrian adalah seorang ayah yang menyambut putranya setiap sore, dan Elian tumbuh dengan kebanggaan membawa nama ayahnya.

​Namun, bisikan kenyataan segera menghancurkan ilusi manis itu.

​Alena melihat dari kejauhan dua orang pengawal berseragam keluarga Ardent melintas di koridor berseberangan, mengamati interaksi Adrian dan Elian dengan tatapan dingin dan penuh catatan.

​Lamunan indah Alena sirna seketika, digantikan oleh kepanikan yang membakar. Pemandangan manis itu bukan sekadar momen hangat; di tempat ini, pemandangan itu adalah pengumuman perang yang akan memancing perhatian musuh-musuh mereka.

​Alena menyapu air matanya kasar, mengepalkan tangannya rapat-rapat, lalu melangkah keluar dari balik bayangan pilar untuk mengambil kembali putranya dari pelukan pria yang paling dicintainya—dan paling ditakutinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!