Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hendra Mahendra
Hadi hanya tertawa sinis menanggapi ancaman Arkan. Ia melemparkan sebuah amplop cokelat ke atas meja marmer. "Buka itu, Arkan. Kamu mungkin Singa di dunia bisnis, tapi kamu lupa satu hal, aku adalah ayah biologinya. Dan di dalam sana ada bukti bahwa selama ini kamu menggunakan kekuasaanmu untuk mengintimidasi Zia agar mau menandatangani surat-surat aset."
Arkan tidak menyentuh amplop itu. Ia tahu itu hanya gertakan atau bukti palsu yang sudah disiapkan dengan matang.
"Bawa mereka keluar," perintah Arkan kepada petugas keamanan rumahnya.
"Aku akan kembali dengan polisi besok pagi, Arkan! Siapkan koper putriku!" teriak Hadi saat ia diseret paksa keluar.
Suasana ruang tamu mendadak sunyi, hanya menyisakan deru napas Arkan yang memburu dan isak tangis Zia yang tertahan. Ibu Zia terduduk lemas di sofa, tak menyangka suaminya akan kembali menjadi monster yang lebih menakutkan dari sebelumnya.
Malam itu, Arkan tidak tidur. Ia berada di ruang kerjanya, menatap layar monitor yang menampilkan data keuangan Hadi selama di tempat sembunyi nya.
“Rio, periksa aliran dana 'The Third Hand' lagi,” perintah Arkan melalui sambungan telepon. "Cari tahu siapa yang membiayai kepulangan Hadi. Seorang pecundang judi tidak akan punya uang untuk menyewa pengacara kelas atas seperti yang ia bawa tadi."
“Sudah saya cek, Bos. Ada yang menarik,” suara Rio terdengar tegang. “Dana itu berasal dari sebuah yayasan di Swiss. Pemiliknya adalah nama yang sangat tidak asing bagi Anda. Hendra Mahendra. ”
Arkan tertegun. Kursinya berputar perlahan. Hendra adalah mentornya sendiri, orang yang mengajari Arkan segalanya tentang bisnis sebelum mereka berselisih paham lima tahun lalu.
“Jadi ini bukan soal Sarah atau Hadi,” gumam Arkan. Ini adalah upaya kudeta terhadap seluruh imperiumku.
Keesokan paginya, suasana rumah terasa mencekam. Arkan sudah bersiap untuk membawa Zia ke sebuah rumah aman di luar kota, namun ia menemukan Zia sudah rapi dengan seragam sekolahnya dan sebuah tas kecil.
“Kita tidak ke sekolah, Zia. Kamu harus sembunyi,” ucap Arkan tegas.
Zia menggeleng. Mata yang sembab kini terlihat sangat fokus. "Kalau aku sembunyi, Papa akan terus menyerang Om dengan tuduhan atau intimidasi. Dia ingin aku terlihat sebagai korbanmu, kan?"
Zia berjalan mendekat, lalu mengeluarkan ponselnya. "Tadi malam, aku merekam pembicaraan Papa di depan pintu melalui CCTV tersembunyi yang Om pasang di depan. Papa bilang: 'Terima kasih sudah menjaga putriku dan melunasi hutang-utangku' . Itu bukti bahwa dia secara sadar menyerahkan aku padamu."
Arkan menatap gadis di depannya dengan pandangan baru. Bocil ini mulai berpikir seperti aku, batinnya.
"Tapi itu tidak cukup untuk membatalkan klaim perwaliannya, Zia."
"Maka kita harus membuat sesuatu yang lebih sah," potong Zia cepat. "Di surat perjanjian awal, ada poin yang menyebutkan bahwa jika pernikahan ini berjalan di atas dasar suka sama suka dan dibuktikan dengan kelanjutan hubungan yang sah, maka pihak ketiga tidak mempunyai hak intervensi."
Arkan mengangkat alis. "Apa maksudmu?"
"Kita harus mengadakan resepsi pernikahan besar-besaran. Di depan publik. Kita menunjukkan bahwa aku bukan tawananmu, tapi aku adalah istrimu yang sah secara publik dan emosional. Kita serang balik dia di depan media."
Tiga hari kemudian, sebuah pesta mewah diadakan di hotel bintang lima milik Arkan. Ini adalah langkah paling berisiko yang pernah Arkan ambil. Ia mengundang seluruh rekan bisnis, media, dan tentu saja... Hadi.
Arkan berdiri di atas panggung dengan setelan tuksedo hitam, menggandeng Zia yang tampak mempesona dengan gaun satin putih. Di sudut ruangan, Arkan melihat Hadi masuk dengan wajah merah padam, diikuti oleh beberapa pria asing yang tampak seperti tentara bayaran.
"Selamat malam semuanya," suara Arkan menggema, tenang namun penuh otoritas. "Malam ini bukan hanya soal perayaan, tapi soal pengumuman penting mengenai masa depan Holding."
Tepat pada saat itu, ponsel semua tamu undangan bergetar secara bersamaan. Sebuah notifikasi dari akun berita bisnis utama muncul.
[Berita Terkini: Skandal Pencucian Uang di Balik Kembalinya Pengusaha Hadi—Keterlibatan Yayasan Swiss Terungkap!]
Hadi terbelalak melihat layar ponselnya. Ia menatap Arkan dengan penuh kebencian. "Kamu... kamu sengaja menarikku ke sini!"
Arkan turun dari panggung, melangkah santai ke tempat Hadi, sementara para jurnalis mulai merangkul ayah Zia itu.
"Kamu pikir aku hanya diam menunggumu datang?" bisik Arkan tepat di telinga Hadi. "Setiap langkah yang kamu ambil sejak menginjakkan kaki di bandara sudah dalam pengawasanku. Dan orang yang membiayaimu? Dia baru saja menjualmu untuk menyelamatkan dirinya sendiri."
Namun, di tengah kekacauan itu, seorang pria misterius dengan topi rendah mendekati Zia dari arah belakang, tangannya merogoh ke dalam jaket, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening.
"Tuan Arkan!" teriak Rio dari kejauhan.
Arkan menoleh, namun jaraknya terlalu jauh. Saat pria itu hendak menyiramkan cairan tersebut ke wajah Zia, sebuah tangan lain menepisnya dengan kasar.
Itu adalah Ibu Zia . Wanita yang selama ini terlihat lemah, kini berdiri di depan dengan memecahkannya dengan tajam, memegang tangan pria misterius itu hingga botolnya pecah di lantai,mengeluarkan asap yang membakar karpet.
“Jangan pernah menyentuh anakku lagi, meskipun itu suruhan Hendra!” teriak Ibu Zia.
Arkan terletak. Bagaimana mungkin Ibu Zia tahu nama Hendra Mahendra?
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔