Seorang gadis harus menerima nasib buruk ketika ibunya telah tiada.
Fiona gadis malang yang di asingkan keluar negeri oleh ayahnya sendiri yang bernama Danu ketika usianya baru beranjak lima tahu.
Setelah beberapa Minggu kepergian ibunya, Danu memutuskan untuk menikah lagi dengan selingkuhannya yang sudah mempunyai anak.
Diluar negeri sendiri, Fiona di urus oleh bibinya bernama Rosa. Rosa sudah bekerja di keluarga Danu semenjak Danu dan Hana menikah. Sekaligus Rosa adalah sahabat dari Hana.
Setiap Hari ingatan Fiona hanya membayangkan kejadian dimana ibunya tewas dibunuh.
Lalu bagaimana dengan kelanjutannya?
Jangan lupa dukung dengan cara like, komen dan Vita❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ༂𝑾𝒊𝒚𝒐𝒍𝒂❦ˢQ͜͡ᵘⁱᵈ༂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8.Flashback
Melihat wajah Hana yang sangat mencintai diri nya, Danu menjadi tidak tega ingin memberitahukan bahwa dirinya sudah menghamili Mirna.
"Kenapa akhir-akhir ini kau sering melamun?ada apa?" Tanya Hana menatap suami nya.
"Tidak apa-apa Hana, ayo makanlah!" Pinta Danu gugup.
Hana mulai merasa aneh pada suami nya, namun ia selalu berpikir positif.
Malam hari nya, Danu pergi ke apartemen Mirna karena ada hal penting yang ingin dia bicarakan. Sesampai nya di apartemen, Danu melihat Mirna yang sedang merokok duduk di meja makan sambil meminum minuman alkohol.
"Mirna hentikan!" Pinta Danu melepas gelas di tangan Mirna.
"Apa kau bodoh, kau sedang mengandung bagaimana mungkin kau minum alkohol. Apakah kau ingin membunuh bayi mu sendiri?" Bentak Danu.
"Apakah kau peduli padaku?" Tanya Mirna tertawa renyah.
Danu memejamkan mata lalu menghela nafas. Perlahan di memberikan sikap lembut dan menasehati Mirna.
"Mirna, aku tahu kau kesal padaku. Tapi aku mohon, jangan seperti ini." Ujar Danu.
"Lalu kapan kau akan menceraikan istri mu dan menikahi ku?" Tanya Mirna.
"Maafkan aku Mirna, aku belum bisa sekarang karena kau juga pasti tahu Hana sedang hamil aku takut mental nya terganggu nanti." Jelas Danu menatap Mirna.
"Maksudmu?" Mirna mengerutkan dahi.
"Iya, mau tidak mau kau harus menunggu sampai Hana melahirkan.Tapi aku janji, setelah itu pasti aku akan menikahi mu." Kata Danu.
"Aku mohon Mirna tunggulah sebentar, pasti nanti aku akan menikahi mu. Untuk sekarang aku akan memberikan mu rumah dan apapun yang kau mau asal kau mau menunggu sebentar saja." Ucap Danu memohon.
Mirna hanya menangis sejadi-jadi nya mendengar permintaan Danu. Dengan terpaksa pun Mirna mengiyakan permintaan orang yang dicintai nya. Danu pun berterimakasih pada Mirna dan memeluk menenangkan nya.
Tujuh bulan kemudian pun berlalu, perut Hana semakin membesar. Hari ini dia berkeinginan untuk pergi membeli perlengkapan bayi. Dia meminta suami nya untuk menemani, tapi Danu berkata dia tidak bisa dan beralasan akan ada meeting padahal dia sedang berada di rumah Mirna.
Dengan supir pribadi nya yang bernama Dimas, Hana pergi tanpa Danu. Sesampai nya di mall, Hana menuju toko perlengkapan bayi dan mulai memilih-milih. Selang beberapa saat setelah selesai berbelanja, Hana berjalan menuju parkiran mobil. Langkah nya terhenti ketika seseorang memanggil nya.
Sejak awal pergerakan Hana selalu di ikuti atau di intai oleh seseorang pria yaitu David. David sendiri adalah pria yang menyukai dan mencintai Hana. Namun cinta nya bertepuk sebelah tangan, karena Hana lebih mencintai Danu. David bahkan sempat melamar Hana tapi Hana menolak nya secara baik-baik.
Kali ini David sengaja menyapa Hana.
"Hana..." Sapa David.
"David?sedang apa kau disini?sudah lama tidak bertemu." Hana sedikit kaget.
"Kau sendiri sedang apa disini?" Tanya David matanya melirik perut Hana yang besar.
"Aku...aku berbelanja.." Jawab Hana.
"Kau sedang Hamil?" Tukas David. "Kau mengandung anak dari bajingan itu?" Tanya David tatapan nya menjadi sinis.
"Tutup mulut mu David!" Pinta Hana menatap suasana sekitar. "Kau tidak tahu apa-apa jadi diam saja." Lontar Hana.
"Kau wanita yang cantik Hana tapi kau mau di bodohi terus. Kau kira aku tidak tahu apa-apa selama ini tentang kau dan bajingan itu?" David menyeringai.
"Apa maksud mu?" Tanya Hana tak paham.
"Lihat saja nanti!" Ucap David tersenyum lalu pergi.
Hana yang kebingungan dan belum mengerti, langsung melanjutkan langkah nya dan bergegas masuk ke dalam mobil.
Di tengah perjalanan pulang, Hana terus saja termenung memikirkan ucapan David yang meninggalkan tanda tanya.
Apa yang sebenarnya di ketahui oleh David?
Hari terus berlalu sampai pada hari dimana Hana sudah lebih dulu melahirkan anak pertamanya di bandingkan dengan Mirna.
Bunyi ponsel berdering, Danu segera keluar dari ruangan untuk mengangkat telepon dari Mirna.
"Ada apa kau menelpon ku, aku sedang di rumah sakit menemani Hana!" Bisik Danu.
"Anak kita sejak tadi menangis terus dan tubuh nya semakin hangat. Sepertinya dia demam!Bagaimana ini cepatlah kemari." Pinta Mirna berbohong.
"Apa?"kaget Danu." Tapi sekarang aku..."
"Aku tidak mau tahu, cepatlah kembali." Tukas Mirna mematikan telepon nya.
"Haduh, bagaimana ini, mustahil aku harus meninggalkan Hana dan anakku!" Ucap Danu kebingungan.
Dari siang sampai sore Mirna menunggu namun Danu tak kunjung datang, membuat diri nya sangat marah. Ia mencoba menghubungi Danu, tapi telepon Danu sedang tidak aktif.
Malam nya Hana sedang terbaring di tempat tidur bersama anak nya karena merasa tidak enak badan. Danu yang masuk kamar melihat Hana dan anak nya, langsung merangkul dan mencium . Lalu pria itu berkesempatan untuk meminta izin kepada Hana.
"Aku pergi dulu ya, sebentar saja karena ada sedikit urusan." Lirih Danu.
"Malam-malam begini kau ingin keluar? kenapa tidak besok saja?" Tanya Hana.
"Sayang, kau beristirahat saja dulu. Aku sudah memerintahkan seluruh pembantu untuk menjagamu tadi dan kalau kenapa-kenapa segera hubungi aku." Jelas Danu mencium kening istri nya lalu pergi begitu saja.
Sesampainya di apartemen Mirna, Danu menghela nafas terlebih dahulu sebelum masuk, karena ia tahu bahwa Mirna akan marah kepadanya.
"Mirna...."sapa Danu pada Mirna yang duduk di sofa.
Mirna sontak berdiri dan langsung menampar Danu.
"Kemana kau? kenapa baru kemari? bukan kah aku menghubungi mu dari tadi?" Tanya Mirna emosi.
"Mirna...tenang lah dulu. Yang penting sekarang aku sudah disini?" Ucap Danu.
"Oh jadi kau lebih mementingkan dia ketimbang diriku?" Tanya Mirna."Kau tahu anak mu sedang demam tinggi tadi!" Ucap Mirna menghela nafas.
Danu yang menghadapi Mirna merasa semakin pusing dan salah satu cara untuk menghadapi sikap Mirna yang egois dan keras kepala adalah Danu harus membujuk nya.
Sejam kemudian, Mirna mulai tenang dan emosi nya sudah memudar. Pria itu sangat pandai dalam situasi ini, cukup berikan janji manis wanita langsung mempercayai nya. Dirinya juga harus pintar-pintar membagi waktu untuk keduanya.
"Sayang, untuk malam ini aku tidak bisa menemanimu dulu. Tapi aku berjanji besok lusa aku akan menghabiskan waktu ku untuk mu." Kata Danu.
"Apakah aku harus mempercayai ucapan mu?" Tanya Mirna yang di peluk dari belakang.
"Tenang saja sayang, kau hanya butuh waktu bersabar untuk mendapatkan segalanya!" Lirih Danu.
"Di saat kau sudah bercerai dengan Hana, aku akan mengambil Erik dari orang tua ku dan kita akan hidup bahagia bersama Erik dan Tasya nanti." Ucap Mirna tersenyum.
"Bagaiman dengan nasib anak ku nanti?" Batin Danu.
Pria itu pun kemudian berpamitan kepada Mirna untuk pulang
Danu pun keluar dari apartemen mirna,dan bergegas masuk ke mobil untuk pulang.
Tanpa Danu sadari David ada di apartemen mirna yang mengamati perselingkuhan mereka.
"Dasar lelaki bajingan, kau bermain api di belakang Hana. Lihat saja aku akan memberitahu kelakuan busuk mu itu nanti!" ujar David.
Beberapa bulan setelah melahirkan, Mereka hidup bagaikan keluarga bahagia yang tidak memiliki masalah sedikitpun. Di tambah lagi dengan kehadiran putri semata wayang yang di beri nama Fiona.
Begitu pula dengan Mirna yang terus menunggu janji dari Danu. Mirna masih berhubungan dengan Danu, anak hasil perselingkuhan mereka di beri nama Tasya.
Di suatu pagi, Hana mendapatkan sebuah panggilan telepon dari nomer yang tidak di kenal. Hana yang merasa bingung pun tidak menghiraukan panggilan telepon tersebut karena ia menghargai suami nya yang sedang sarapan pagi di hadapan nya.
"Siapa? kenapa tidak di angkat?" Tanya Danu.
"Entahlah bukan siapa-siapa, mungkin salah sambung." Jawab Hana.
Danu hanya menatap istri nya lalu melanjutkan sarapan nya.
Selang beberapa saat Danu pun pamit untuk pergi ke kantor.
Baru saja akan masuk ke dalam rumah, ponsel Hana berdering lagi. Hana menghela nafas lalu mengangkat nya.
"Hallo.....siapa kau kenapa dari tadi menelpon ku?" Tanya Hana.
"Apakah kau masih percaya pada suami mu?" Tanya balik David.
"David? kau dapat nomer ku dari mana? dan omong kosong apa yang kau bicarakan itu?" Bisik Hana memandangi suasana sekitar.
"Hana, sudah sering kali aku memberitahu mu bahwa suami mu berselingkuh dari mu. Sampai kapan kau akan di bodohi?" Kata David.
"David, jaga ucapan mu. Jangan ikut campur dan jangan menghubungi ku lagi!" Ucap Hana mematikan sambungan telepon nya.
David yang baru saja bangun dari tidur nya seketika langsung memanas ketika Hana tidak percaya dengan ucapan nya. Dia langsung membanting ponsel nya.
"Agrhhh......Hana sampai kapan kau tidak percaya padaku? lihat saja, sampai kapanpun aku tidak akan rela jika kau masih bersama Danu." Geram David menghembuskan nafas kasar.
Malam hari nya, Hana duduk di ruang keluarga bersama Fiona yang sedang bermain. Dari tadi hanya memandangi jam yang melingkar di tangan, sambil menunggu suaminya pulang.Namun sudah hampir jam setengah delapan, suami nya tak kunjung pulang.
Ponsel nya berdering sontak membuat nya sedikit terkejut. Hana lalu mengangkat telepon nya yang ternyata adalah suami nya.
Danu mengatakan bahwa hari ini dia tidak bisa pulang karena ada beberapa urusan di luar kota. Belum sempat menjawab telepon nya, Danu langsung mengucapkan selamat malam dan ciuman lalu mengakhiri sambungan telepon.
"Kenapa Danu akhir-akhir ini jarang pulang ke rumah dengan alasan ada beberapa urusan?" Batin Hana pikiran nya tertuju pada ucapan David.
"Ah tidak mungkin, Danu adalah sosok yang setia, lagi pula dia sudah punya anak mana mungkin dia seperti itu." Ujar Hana berpikiran positif".
Padahal Danu sedang di dalam perjalanan menuju apartemen Mirna dengan maksud ingin menghabiskan waktu untuk Mirna dan anaknya Tasya tanpa adanya ikatan pernikahan.Tasya sangat suka jika Danu orang yang di panggil nya ayah datang untuk menemui nya.
"Dimana Tasya?" Tanya Danu yang baru saja datang.
"Dia sudah tidur, menunggu kau lama sekali." Jawab Mirna.
"Malam ini aku akan menginap disini." Danu menuangkan bir ke gelas.
"Baguslah, sering-sering lah menginap disini.Tasya pasti akan senang." Tutur Mirna.
Hari makin hari terus berjalan sampai dimana waktu itu Fiona sudah berusia hampir lima tahun. Selama beberapa tahun juga Hana tak pernah mengetahui bahwa suami nya berselingkuh hingga mempunyai seorang anak. Hana merasa keluarga nya baik-baik saja meskipun ia sempat menaruh rasa curiga.
Lama menunggu kepastian dari Danu, membuat Mirna makin murka terhadap nya.
Prak.....! bunyi gelas yang di lempar ke lantai oleh Mirna.
"Mirna apa yang kau lakukan, bagaimana jika sikap mu akan terlihat oleh Tasya?" Tanya Danu.
"Sampai kapan mas, sampai kapan aku hidup di belakang bayangan mu?" Tanya Mirna. "Selama ini aku sudah cukup sabar menunggu, tapi sampai sekarang kau belum juga menceraikan Hana." Gerutu Danu.
Danu menghela nafas sambil memegang kedua kepalanya.
"Aku tahu, beri aku sedikit waktu lagi untuk mencari alasan nya." Ucap Danu.
"Jika kau mencintaiku kau tak butuh alasan untuk bercerai dari nya?" Mirna menatap tajam Danu.
"Kau seorang lelaki, tapi kau lembek. Mengambil keputusan saja tidak bisa." Hina Mirna.
Mendengar perkataan Mirna, mata Danu langsung melebar dan berteriak marah kepada Mirna.
"Mirna......!!" Teriak Danu mendorong Mirna ke sofa.
Danu mendekatkan wajah nya sambil berbisik kepada Mirna.
"Sudah ku bilang bersabar lah dulu maka kau akan mendapatkan segalanya." Lirih Danu, Mirna kaget.
Pria itu kemudian pergi begitu saja meninggalkan Mirna.
Mirna tertawa renyah atas apa yang di lakukan Danu tadi sampai mendorong nya ke sofa. Mata nya mulai berkaca-kaca sambil menahan air mata yang akan tumpah.
"Kau tidak pantas seperti itu Danu. Lihat saja kau pasti akan menyesal nanti." Lirih Mirna lalu beranjak berdiri menuju ke kamar anak nya.
Di kamar ia mendapati Tasya sudah tidur dengan nyenyak. Mirna duduk di samping sambil mengusap kepala anak nya. Tak terasa air mata yang di tahan nya kini jatuh.
"Sabar nak, ibu pasti akan berjuang untuk mu agar kau nanti nya hidup bahagia, berkecukupan dan tumbuh besar dengan keluarga yang lengkap." Kata Mirna mata nya tajam.
Suasana di rumah sekarang sepi karena sudah jam sebelas malam. Hanya Hana yang menunggu kepulangan suami nya.
Di meja makan dia duduk sambil menyeruput secangkir teh hangat.Tak lama kemudian Danu pulang melangkah masuk seperti orang yang sedang banyak pikiran.
"Darimana saja? naru pulang jam segini?" Tanya Hana mengagetkan Danu.
"Haa....Hana kau membuat ku kaget saja. Aku kira siapa tadi." Ujar Danu.
"Kenapa baru pulang jam segini?" Tanya lagi Hana yang mulai curiga.
"Anu...aku aku ah aku tadi di ajak Galih untuk minum sebentar. Aku tidak enak jika menolak karena dia terus memaksa ku." Jawab Danu canggung.
"Benarkah?" Tanya lagi Hana.
"Sayang ini sudah malam, tidurlah. Aku juga ingin mandi dan beristirahat setelah itu!" ujar Danu memalingkan ucapan Hana.
Pria itu tersenyum lalu melangkah pergi menuju kamar.
Dari situlah Hana mulai merasa curiga dengan sikap suami nya.
Besok hari, di siang hari nya, Hana sudah berjanji bertemu dengan Galih. Mereka berjanji bertemu di salah satu cafe yang tak jauh dari kantor suami nya.
"Lama tidak bertemu!bagaimana, apakah ada yang bisa aku bantu untuk mu?" Tanya Galih.
"Aku ingin bertanya, apakah kau pergi minum bersama Danu tadi malam?" Tanya Hana.
"Tidak, aku tadi malam sedang makan bersama dengan kekasihku dan aku terakhir bertemu dengan Danu hanya sore harinya ketika di parkiran. Dia pun terlihat begitu terburu-buru." Jelas Galih.
"Benarkah?" Kedua alis mulai mengerut.
"Aku serius Hana, buat apa juga aku berbohong padamu." Tutur Galih.
"Galih seperti yang kau ketahui, kita sudah cukup lama mengenal satu sama lain. Begitu pula kau juga sudah lama mengenal perilaku suami ku." Ucap Hana.
"Lalu maksudmu?" Tanya Galih tak paham.
"Kau berkerja di perusahaan yang sama dengan Danu, apakah kau menyadari sesuatu tentang Danu akhir-akhir ini?" Tanya Hana serius.
"Danu sama seperti biasanya, tidak ada keanehan pada dirinya." Jawab Galih tersenyum.
"Aku serius, coba lah untuk mengingat lagi? sekarang semua terasa aneh saja bagiku. Danu sering pulang malam ke rumah dengan berbagai macam alasan." Kata Hana.
Galih pun mulai bingung dengan perkataan Hana.
"Han...bagaimana bisa dia pulang malam terus sedangkan selama ini setiap sore dia sudah pulang terlebih dahulu." Kata Galih mengingat dirinya sering berpapasan dengan Danu di parkiran ketika sore hari.
"Kenapa Danu berbohong padaku?" Batin Hana termenung.
Hana lalu pergi dari cafe tersebut, sebelum pulang ke rumah dirinya berniat untuk mampir ke mall sebentar. Di tengah perjalanan mengendarai mobil, Hana menyetir mobil sambil mengingat perkataan Galih tadi.