Sebulan pernikahan sirinya, Jingga harus berhadapan dengan kenyataan baru yang menyakitkan. Aris, suami yang dicintainya menikah resmi dengan perempuan lain.
Menjadi yang pertama tapi serasa yang kedua. Pada akhirnya Jingga menyerah. Perceraian dengan Aris pun tak terelakkan.
Di saat bersamaan Rangga yang merupakan sahabat Aris juga bercerai dengan istrinya. Kesamaan kisah membuat mereka Rangga dan Jingga semakin dekat.
Aris kembali datang dengan kepastian dan perjuangan yang lebih nyata. Membuat Jingga goyah. Kembali pada cinta lama atau memulai cinta yang baru ?
Persahabatan Aris dan Rangga pun di pertanyakan.
Di hati manakah cinta Jingga akan berlabuh ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menikah lagi
Dua minggu ini pernikahan Jingga dan Aris berjalan normal, mereka benar - benar merasakan manisnya pengantin baru dan kehidupan rumah tangga seperti rumah tangga normal lainnya.
Sampai sebuah telepon memaksa Aris untuk kembali ke rumahnya. Mami aris menagih janji Aris untuk kembali ke rumah setelah menghabiskan waktu bersama Jingga. Sudah cukup waktu yang diberikan pada Aris.
Tidak ada pilihan lain bagi Jingga, selain mengijinkan Aris pergi. Sudah bagus Aris bertahan bersamanya dua minggu, dulunya tidak pernah menginap sama sekali.
Jingga tidak tau, kalau kepulangan Aris ke rumah maminya adalah awal dari sakit yang akan dia rasakan, Hari ini, dua jam dari kepulangannya, Aris telah mengucapkan ikrar nikahnya bersama Irma, perempuan pilihan Ibu Laura.
Aris tidak berdaya, semua sudah dipersiapkan. Sampai rumah keadaan sudah ramai, dengan beberapa relasi penting Aris tidak ingin mempermalukan kedua orangtuanya. Tapi munculnya dua surat nikah berisi fotonya dan Irma membuat Aris benar - benar merasa tertipu. Pernikahan keduanya dengan perempuan yang sama sekali tidak dia cintai sah secara agama dan hukum.
Begitu tamu sudah meninggalkan rumahnya, Aris, bu Laura, pak Gunawan dan Irma berkumpul di ruang keluarga.
" Sekarang kamu sudah resmi jadi istrinya Aris, jangan sungkan - sungkan lagi. Semua milik Aris adalah milikmu, kamu berhak sepenuhnya atas diri Aris. Kamu berhak tau kemana Aris pergi. Waktunya harus lebih banyak denganmu " ucap bu Laura, terlihat sangat senang.
" Terserah mami dan papi menyebut Irma apa, mami papi jangan membohongi diri sendiri terus. Siapa yang akan Aris anggap istri kalian juga tau " ucap Aris sinis.
" Jingga hanya istri siri, akan sangat memalukan kalau sampai orang menganggap Jingga adalah orang ketiga dipernikahan resmimu dengan Irma. Semua orang pasti akan menganggap seperti itu. Di mana - mana istri sah lebih berkuasa dan bermartabat " sahut Irma, merasa di atas angin.
" Ceraikan Jingga kalau kamu tidak ingin menghancurkan hidupnya Ris " ancam bu Laura dengan liciknya.
" Kalian semua tidak punya hati. Ingat Irma jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu " Aris meninggalkan drama di ruang keluarganya.
Sampai kamar Aris berteriak sekencang - kencangnya. Hal tergila dan terbodoh baru saja dia lakukan, melepaskan Jingga tentu tidak akan pernah Aris lakukan. Melakukan poligami tidak pernah ada dipikiran Aris.
" Arghhhhhhh .... Fuc* " Aris mengumpat dan melempar semua yang terlihat oleh matanya. Kamarnya berantakan, penuh dengan puing - puing botol parfumnya yang pecah tak beraturan.
" Bodoh kamu Ris....Kamu bodoh " teriak Aris merutuki dirinya sendiri. Hati Aris semakin kalut saat ponselnya bergetar dengan kontak bernama my wife tertera di layarnya. Jangankan berani jujur dan menatap wajah Jingga, saat ini untuk sekedar berbagi kesah dengan Evan atau Rangga saja Aris tidak ada nyali.
Aris mengabaikan pintu kamarnya yang diketuk beberapa kali. Belum juga Aris menemukan alasan kenapa maminya memilih Irma, Aris sudah terjerembab jauh jatuh ke jurang.
Suara ketukan pintu semakin keras, Aris terpaksa membukanya. Rangga dan Evan dengan sengaja dihubungi Irma datang dengan wajah sama sekali tidak bersahabat.
Rangga mendorong pintu yang hanya terbuka sedikit, setelah Evan masuk, Rangga mengunci pintu itu dari dalam.
" Breng*** kamu Ris, sejauh ini kita selalu saling mengingatkan jika ada yang salah. Kali ini, kamu tidak hanya salah Ris. Kamu pengecut, aku malu mengakuimu sebagai sahabat. Kamu pikir kamu nabi ? kamu pikir karena uangmu banyak kamu jadi berhak mempunyai lebih dari satu istri ? Ceraikan Jingga !!!! " Rangga menarik tangan Aris, berusaha menyeret Aris untuk mau berjalan menemui Jingga.
Aris menghempas tangan Rangga keras. " Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan Jingga " teriak Aris tajam.
" Tidak tahu diri, kamu berharap bisa memiliki dua perempuan sekaligus ? membagi tubuhmu untuk dua perempuan ? menjijikkan " kali ini Evan yang berbicara.
" Aku tidak akan menyentuh Irma, tidak akan " sumpah Aris.
Rangga dan Evan tertawa sinis bersamaan. " Jangan konyol Ris, kalian hidup seatap, lama - lama kamu juga akan terbuai. Sebelum kamu menyakiti Jingga terlalu jauh, ceraikan Jingga. Jika kamu memilih Jingga, batalkan pernikahanmu dengan Irma. Tidak mungkin kamu mendapatkan keduanya, Irma tidak akan terluka tapi Jingga ?? " Evan terlihat semakin emosi.
" Bilang saja kamu akan mendekati Jingga begitu aku menceraikannya Van " ucap Aris tak kalah sinis.
" Tentu saja, kenapa tidak ? aku tidak keberatan sama sekali untuk menjadikan Jingga seorang istri. Mamaku juga pasti setuju dan menerima dengan baik. Aku akan ceritakan pada dunia, bagaimana seorang Jingga bisa menjadi Janda. Agar lebih banyak laki - laki baik di luar sana berlomba mendapatkan Jingga dengan lebih pantas " ucap Evan lagi.
Bughhhh...Bughhh.....Dua tonjokan dari Aris tepat mengenai pelipis Evan.
" Berhenti Ris, emosimu tidak akan mengembalikan keadaan " Rangga menahan tangan Aris yang ingin kembali melayangkan tangannya pada Evan.
" Aku harus bagaimana ? " tanya Aris memelas.
" Jujurlah pada Jingga, dia tidak mungkin menerima tapi setidaknya dia tidak perlu mendengar hal ini dengan orang lain. Kamu sudah berenang terlalu jauh Ris, sudah terlalu basah. Dengan tipikal mamimu dan Irma yang sama, mereka tidak akan membiarkanmu kembali pada Jingga begitu saja. Kalau kamu pengen lepas dari Irma dan mamimu, secepat mungkin kamu harus tau alasan kenapa Irma yang dipilih mamimu " ucap Rangga, intonadi suaranya agak turun.
Ponsel Aris kembali berbunyi, Jingga kembali menghubunginya. Aris mengabaikannya, Aris benar - benar tidak sanggup.
" Kita pulang Ngga, males aku di sini. Percuma berbicara dengannya saat ini. Kita lihat saja, cepat atau lambat dia pasti akan hanyut pada istri keduanya. Biarkan dia yang menuai apa yang sudah dilakukan pada Jingga. Batu kali, tetaplah batu kali, dia tidak mempunyai nilai jika sendiri. Berani menyandingkan Jingga dengan Irma itu adalah kebodohan " Evan begitu tidak terima langsung keluar tanpa menunggu Rangga.
" Berusahalah tetap waras disaat pikiranmu belum pasti. Kamu menghadapi dua wanita yang sama - sama tidak polos. Mamimu dan Irma kelihatannya sangat licik. Jangan makan dan minum apapun di rumah ini. Pertahankan kewarasanmu, jangan meniduri Irma jika tidak ingin semua bertambah runyam. Aku tidak bisa membantumu banyak. Inget Ris, tetap waras " Rangga yang tadinya marah, tetap tidak tega melihat kondisi Aris. Bagaimanapun memang ini di luar kendali Aris.
Rangga setengah berlari mengejar Evan. Bayangan wajah Jingga tiba - tiba terlintas di kepalanya. Perempuan yang akhir - akhir ini menjadi temannya karena Aris sering mengajaknya ke kafe untuk sekedar bercengkrama bersama. Menghibur dirinya yang juga sedang tidak jelas hubungan pernikahannya dengan stefanie.
" Mas ini minum dan makan malamnya. Kata mami mas belum makan sejak datang " ucap Irma, membawa nampan dengan memakai pakaian belahan dada rendah bermaksud untuk menggoda.
" Bawa keluar. Aku tidak lapar dan jangan pernah melangkahkan kakimu masuk ke kamar ini " ucap Aris tanpa basa basi.
mereka merasa bersalah pada pria lain tapi sama sekali tidak merasa bersalah pasa suaminya
dan lucu sikap kayak gini dibenarkan oleh novel ini
coba author bayangkan suaki author merasa bersalah pada wanita lain tapi tidak peduli dengan perasaan author yang tidak suka dan cemburu???
saran sebelum mengatang cerita banyak pada diri author dulu itu baik atau tidak
lihat juga dari sudut pandang lain, sudut pandang pemeran utama pria jangan hanya karena author wanita author hanya lihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
coba author menila sesuatu pake penilaian dari diri author baik tidak yang dilakukan jingga hanya karena rasa bersalah dan menjaga perasaan pria lain dia mengabaikan perasaan cemas, sakit hati karena cemburu suaminya sendiri
Gak ada surat nikah juga... kasihan anakmu nanti.