[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[BACA [RDY'S#1] LAA TAHZAN! DULU BIAR PAHAM ALUR DAN KONFLIKNYA!]
[FOLLOW IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU]
Kisah tentang;
"Dia adalah orang yang kerap membuatku merasa perih, tetapi dia juga yang kerap membuatku merasa rindu."
@Anniza Az-Zahra Rulen
Anniza Az-Zahra Rulen. Gadis berhijab dengan akhlak yang mulia, tubuhnya ditutupi kain lebar dengan hijab yang membalut kepalanya. Kesabarannya sudah tidak dapat diragukan lagi saat ia dengan hati yang tabah kembali terjun ke masa empat tahun yang silam.
Verrel Aryanka Radeya. Lelaki tanpa ekspresi yang tengah menjabat sebagai mahasiswa jurusan fotografi, sekaligus pemilik studio pemotretan VR. Terhenyak saat kilatan masa lalu yang terbenam di hatinya kembali muncul kepermukaan.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Destiny 8
"Assalamualaikum, sayang." Itu suara Raihan. Lelaki berkemeja putih itu mengulurkan tangan untuk Sabil saat istrinya mendekat, dan Raihan mencium singkat puncak kepala Sabil yang dibalut hijab hijau daun.
Sabil meraih jas hitam yang ada di tangan Raihan. Wanita itu tersenyum dan melirik ke arah Zahra yang duduk di sofa dengan tangan terlipat. "Adik kita ingin berbicara denganmu, Mas," tuturnya sedikit berbisik.
Raihan tertawa kecil dan mencubit gemas hidung mancung Sabil. Wanita itu melirik sekali lagi ke arah Zahra, dengan niat agar Raihan menghampiri.
Raihan mengangguk. Melihat itu Sabil tersenyum dan berjalan menjauh, wanita itu berjalan ke arah tangga, ingin menunggu Raihan di kamar sembari bermanja-manja dengan sang buah hati.
Yah, Raihan dan Sabil sudah memiliki satu anak. Anak mereka perempuan dan berumur 13 bulan. Raihan memberi nama khumaira, yang artinya perempuan dengan rona merah di pipi. Nama lengkapnya, Nasya khumaira Rulen.
Raihan menghempaskan tubuhnya di sofa dekat Zahra. Lelaki berkemeja putih itu meneliti wajah Zahra yang terlihat sedikit murung.
"Aku udah bilang sama Kak Rai, hari ini Kak Rai harus pulang cepat. Zahra ada yang mau diomongin," tutur Zahra.
Raihan mengerutkan kening. "Kak Rai minta maaf karena terlambat. Tapi apa yang ingin Zahra omongin?" tanyanya tidak mengerti.
Zahra menghela nafas panjang. Bingung sendiri ingin memulai darimana, seharusnya Zahra mengatakan ini sejak lama. Tetapi, ia takut Raihan bersikeras tidak mengijinkannya.
"Aku sudah mengurus surat perpindahanku Kak Rai, dan besok aku akan take off ke Indonesia," ujarnya pelan.
Raihan menegakkan badan, langsung bangkit dari posisi duduk dan mengusap wajah secara kasar. Raihan benar-benar tidak mengerti apa yang ada dipikiran Zahra.
Saat hidup mereka sudah tercukupi, damai, tentram, tanpa satupun musuh yang menganggu. Zahra memilih untuk pergi dari itu semua, Raihan tentu tidak akan membiarkan, sangat berbahaya jika Zahra ke Indonesia seorang diri.
"Kakak tidak mengijinkan!" finalnya.
Mata coklat itu terbuka, tubuhnya ikut bangkit berdiri di samping Raihan. "Apa maksud Kak Rai? Aku hanya ingin kembali kesana. Cuman ingin melanjutkan pendidikan itu saja." Zahra menjelaskan dengan air mata tertahan. Mendengar penolakan mutlak dari mulut Raihan, hati Zahra tercabik, jika keinginannya sampai tidak terpenuhi.
Wajah Raihan berubah merah, kesabarannya kembali terkikis oleh keinginan Zahra yang tidak ingin ia penuhi. Raihan hanya khawatir akan keadaan Zahra nanti, karena sudah tentu Raihan tidak bisa melindungi secara fisik jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
"Ini demi kebaikan kamu. Kembali ke negara itu sama seperti kita menggali kuburan sendiri Zahra." Raihan menyentak keras.
"Mas." Suara itu berasal dari Sabil. Wanita itu berjalan ke arah Zahra dan mengusap lembut kedua bahu gadis itu. "Jangan berbicara kasar pada adikmu," pintanya memohon.
"Astagfirullah al-adzim." Raihan beristighfar beberapa kali. Guna meredakan emosinya yang sempat menguar kepermukaan. Lelaki itu menoleh ke arah Zahra dan tersenyum tipis, ia memegang kedua bahu Zahra. "Dek, kamu tau seberapa besar perjuangan kita hingga bisa seperti sekarang," tuturnya pelan.
"Hiks." Zahra terisak. Zahra sangat tahu seberapa besar perjuangan itu, saat tak ada satupun orang yang dapat membantunya dengan Raihan. Hingga Zahra dan Raihan harus berjanji untuk meninggalkan negara Indonesia dan menetap di negara asing sesuai keinginan pria itu.
Martin mencengkram dagu Zahra, membuat Zahra terpaksa mendongak. "Satu hal lagi yang saya inginkan," kelakarnya.
Zahra mengangguk lesu, matanya terpejam tak mampu melihat Raihan yang sudah terkulai tak sadarkan diri dengan luka di bahu. "Apapun Zahra lakuin. Asal bawa kakak Zahra kerumah sakit sekarang," pintanya memohon.
Martin tersenyum culas. Ia memerintahkan sebagian anak buahnya untuk menuruti permintaan Zahra, yaitu membawa Raihan ke rumah sakit.
"Pindah dari negara ini, dan tinggal menetap di negara Brasil. Saya yang akan mengurus semuanya, saya akan memberi satu perusahaan milik keluarga Rulen yang berdomisili di negara itu. Untuk kamu dan kakakmu kelola nanti."
Hati Zahra rasanya tercabik. Sakit jika ia harus meninggalkan negara ini, negara tempat lahirnya, negara yang menyimpan banyak kenangan untuk dirinya. Lalu, bagaimana dengan Audy, Zahra sudah berjanji untuk meninggalkan Verrel. Tapi, mendengar ucapan menghunus dari Martin membuat Zahra tertampar, ia harus rela meninggalkan semuanya.
Demi Raihan, Kak Rai-nya.
"Zahra ingat, kak."
Raihan menarik Zahra kedalam pelukannya. Mencium sekilas puncak kepala Zahra yang terbalut hijab. Lelaki itu tersenyum tipis ke arah Sabil yang tanpa sengaja ikut meneteskan air mata.
"Tapi tetap, aku akan berangkat besok. Aku tidak akan mengingkari janji, aku hanya ingin menempuh pendidikan disana. Seperti impianku dulu Kak." Zahra melepas pelukan terlebih dahulu. Gadis itu menyeka air mata yang lolos, niatnya untuk berangkat besok ke Indonesia sudah bulat. Lagipula, Zahra hanya ingin menempuh pendidikan. Jika Zahra bertemu dengan dia, itu bukan keinginan Zahra. Tapi takdir.
Raihan menghela nafas, sudah tidak tahu lagi bagaimana ia harus membujuk Zahra agar tetap tinggal disini. Teringat sesuatu, Raihan mengukir senyum tipis.
"Jakarta?"
Zahra mengangguk dua kali. Saat Raihan menanyakan itu pikirannya mendadak kalut, takut Raihan mengijinkan tapi di kota yang berbeda. Zahra tidak ingin ke kota lain, hanya Jakarta yang ia inginkan.
"Boleh, tapi dengan satu syarat," tutur Raihan. Lelaki itu kembali duduk di sofa, dan sedikit tersenyum melihat raut wajah Zahra yang bimbang.
"Apa?" Zahra ikut duduk di samping Raihan. Sedangkan Sabil duduk sendiri di sofa lain.
"Satu minggu yang lalu Kak Rai mengirim fotomu ke Dika. Teman kerja kakak saat di Jakarta, dan apa kamu tau ...." Raihan menggantung ucapannya. Lelaki itu tertawa kecil melihat wajah kebingungan Zahra.
"Apa yang Zahra tau? Kak Rai belum mengatakannya," kesalnya sembari mencebikkan bibir.
"Kafe tempat Kak Rai kerja milik keluarga Radeya. Dan Kak Rai baru mengetahui itu saat Dika menyebut nama lengkap Ver--- Eh, maksud Kak Rai, Dika punya adik yang sholeh, cocok sama kamu, namanya Rangga Al-Ghifari."
🌻
🌻
🌻
ZAHRA DI JODOHIN AJA GIMANA?
3x tetap engk bosen
.. ahahhaha
𝘣𝘤 𝘵𝘳𝘴, 𝘴𝘶𝘬𝘢 bgt👍
ngga kebayang jadi Kesya suruh siapa dia yang keras kepala kerendahan harga diri demi dapetin hati cowo yang dia suka padahal udah di tolak mentah", bukan salah untuk cerita cinta verell dan Zahara yang rumit sampai membawa nama Kesya dan Daniel toh ngga ada yang nyuruh juga dari pihak verell dan Zahara ko mereka hadir dengan sendirinya.
hati Kesya ngga sesakit hati Zahra dengan gampangnya Jessica ngomong kaya gitu ke Zahra. di sini Zahra lah yang paling menderita Jes.
huuuu ..... jadi coment lagi kan padahal tahun udah jadi 2022 untuk coment di cerita thn 2020 🤦
ngga kebayang jadi Reihan dan Zahra terutama Reihan dari umur 5 thn membesarkan adiknya dari umur 3 thn sampai dewasa manusia manah yang kuat anak kecil udah kenal yang namanya bekerja.
kasian juga untuk bunda Aisyah dan ayah Juna belasan tahun di kurung di tempat yang tak layak pakai akibat ulah seseorang yang gila harta dia menyakiti seseorang yang memiliki banyak harta hanya karna merasa iri sampai sebegitu'nya kalau aku jadi Zahra juga ogah sih sama Verrel yang notabenenya anak seorang penjaht yang jelas udah misahin kluarga nyampe belasan tahun.
tapi yah gitu namanya persaan susah untuk di lupakan buat pelajaran mencintai seseorang jangan terlalu dalam 🤣